Sunday, April 22, 2018

Drone Merambah untuk Keperluan Domestik


Drone merupakan pesawat terbang  yang secara unik didesain untuk berperasi tanpa seorang pilot dengan sistem platform atau sistem komputer jarak jauh. Drone bukanlah konsep yang sama sekali baru, karena drone telah menjadi tren dalam desain dan penggunaannya sejak Perang Dunia I. Sejak tahun 1930an, desain drone telah dikembangkan dalam bentuk, ukuran, dan dengan tujuan yang berbeda-beda. Meskipun drone utamanya dikembangkan untuk tujuan militer, perubahan tren teknologi, produk yang secara relatif tidak mahal, dan kemudahan lisensi, menjadikan penggunaan drone berkembang untuk masyarakat sipil.

Sejarah penggunaan drone

Di tahun 1935, pakar teknologi kembangkan kendaraan yang dioperasikan secara jauh untuk pertama kalinya (RPV) untuk merespon kehilangan populasi yang signifikan dan tingginya kerusakan yang terjadi selama misi terpur di Perang Dunia I. RPV pertama menunjukkan potensi yang besar dalam aplikasi militer yang sangat beragam. Kemudian para teknolog pesawat militer kembali kembangkan RPV di Perang Dunia II. Untuk mencegah hilangnya nyawa selama misi serangan terhadap musuh, RPV didesain dengan senjata anti-pesawat. Setelah Perang Dunia II, perusahaan swasta mengambil alih pengembangan teknologi drone dan menciptakan model pesawat yang dapat dikontrol jauh. Meskipun model baru dari cukup tidak canggih, militer AS menggunkan pesawat remote control ini dalam misi taktik dalam Perang Vietnam. 

Di tahun 1959, tentara Amerika merencanakan penerbangan tanpa awak pertama di wilayah musuh. Setelah beberapa misi di Uni Soviet selama 1960an, program UAV yang sangat rahasia dikembangkan. Kemudian Amerika secara rutin menyebarkan UAV untuk misi tempur selama perang Vietnam. Sekitar 3434 misi UAV diterbangkan selama perang Vietnam. Sementara mayoritas misi ini sukses, militer mengalami kehilangan terbesar dengan rusaknya 554 UAV. Meskipun kehilangan UAV tersebut signifikan, pimpinan militer manyatakan bahwa penggunaan drone ini positif karena dapat mencegah hilangnya korban jiwa. Setelah dari Perang Vietnam ini, partisipasi Amerika dalam pengembangan drone lambat. Sampai, selama tahun 1960an dan 1970an Amerika berpartisipasi dalam sekitar 34.000 penerbangan pengawasan menggunakan AQM-34 Ryan Firebee. Selain penggunannya di Vietnam, Amerika juga menggunakan UAV untuk misi di China sepanjang 1970an.
Di tahun 1973, Israel dianggap berperan utama dalam pengembangan teknologi drone dengan mengenalkan UAV modern pertama. Israel mempelopori penggunanan UAV untuk pengawasan “real-time, perang dan perangkap elektronik” dengan pengembangan tipe drone predator dan scout. Memperkerjakan drone predator yang dikembangkan sekarang, Israel memusnahkan pertahanan udara Syiria di perang Yom Kippur dan secara serentak mendorong kepentingan global dalam pengembangan teknologi drone.

Selama tahun 1980an dan 1990an, Amerika memperbarui kepentingannya dalam teknologi drone. Di waktu tersebut, drone mulai matang, miniature, dan berkembang dalam berbagai aplikasi potensial. Evolusi dari drone predator dan scout menuju aplikasi baru untuk drone terkait kepentingan militer. Mengenali potensi teknologi drone yang meluas, Departemen Pertahanan Amerika (DOD) menganggarkan lebih dari 3 juta dollar untuk riset UAV selama 1990an. Dengan investasi ini, DOD mengharapkan pembuatan drone untuk pengawasan yang efisien, imaging, dan serangan udara. Selama konflik Kosovo di tahun 1999, penggunaan militer dengan UAV berkembang. Lebih dari satu lusin drone tanpa henti digunakan untuk operasi pengawasan. Mengikuti konflik Kosovo, penggunaan drone AS meningkat pesat. Sebagai bagian perang dan terror Amerika, drone menjadi alat umum untuk pengintaian, serangan jarak jauh, dan targeting di Iran, Afganistan, dan Pakistan.

Pengembangan Teknologi Drone

UAV saat ini secara luas dikenal sebagai alat militer yang efisien dan terjangkau karena kesuksesannya di perang Vietnam, Yom Kippur, dan perang atas terror. Dengan kesuksesannya dalam militer, para pengembang teknologi drone fokus pada peluasan kemampuan drone untuk digunkan dalam berbagai fungsi. Konsekuensinya, UAV sekarang digunakan dalam berbagai ukuran, mulai dari sangat kecil nano drone sampai ukuran besar yang masing-masingnya berarti untuk tujuan spesifik, seperti pengintaian atau pengawasan. Teknologi drone berkembang dalam berbagai tujuan area yang berbeda yang mencakup penginderaan jauh, pengawasan udara, transportasi, riset ilmiah, persenjataan, dan search and rescue. Banyaknya kemampuan drone mendorong ketertarikan dalam penggunaan drone secara domestik.

1.       Penginderaan jauh (remote sensing)

Penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam pengembangan teknologi drone karena digunakan baik untuk kepentingan militer atau sipil. Sensor jauh dapat mendeteksi faktor-faktor biologis, kimia, dan fisik tertentu dalam suatu wilayah spesifik dari jarak yang sangat jauh. Tipe yang spesifik dari remote sensor ini mencakup sensor spectrum elektromagnetik, sensor gamma ray, sensor biologis, dan sensor kimia. Menggunakan satu dan beragai  metode dari deteksi penyensoran, drone penginderaan jauh dapat melihat perubahan cahaya dalam spectrum visual, mengambil gambar menggunakan infrared atau kamera dekat infrared, mengidentifikasi mikroorganisme terbang dan faktor-faktor biologis, dan mendeteksi perubahan kimia atmosfer.

2.       Pengawasan Udara dan Transportasi
Pengawasa udara merupakan fungsi penting dari drone baik untuk operasi militer maupun sipil. Oleh karena itu, pengembangan teknologi pengawasan udara adalah fokus utama. Fitur pengawasan drone mencakup teknologi seperti deteksi objek otomatis, GPS surveillance. Kamera gigapixel, dan resolusi yang tingkatkan kualitas gambar. Berkat keefektifan harga yang relatif, drone untuk pengawasan udara secara cepat menjadi alat yang paling efisien untuk memantau pergerakan ternak, pemetaan habitat hewan liar, menjaga kemanan properti, patrol jalan, dan memberantas pembajakan, dan lainnya. Drone pengawasan udara juga secara umum dapat mengantarkan objek. Konfigurasi dan ukuran drone ini menentukan ukuran objek yang dapat diantar. Banyak model drone membolehkan transportasi objek-objek menyertakan item dalam ruangan kecil di drone, membawa suatu objek untuk kerangka, atau melewati suatu lampiran eksternal dari pod aerodinamik.

3.       Senjata
Drone awal mulanya mencakup untuk menyediakan alat militer yang murah yang mengizinkan eliminasi yang mudah dari target militer tanpa menghilangkan nyawa. Pengembangan persenjataan mampu menjangkau tujuan ini menjadi suatu fokus krusial. Drone persenjataan militer yang paling dikenal adalah MQ-1 Predatpr. Drone ini dilengkapi dengan missile baik untuk misi aerial atau ground-based. Membangun pada aplikasi yang sukses dari penggunaan misil dengan model MQ-1 Predator, para pengembang teknologi ini telah kembangkan senjata drone untuk pertempuran jarak dekat sebagai senjata, sel pemegang gas air mata, peluru karet, dan laser. Drone dilengkapi dengan senjata pertempuran jarak dekat mengizinkan pengendalian massa, pencegahan kerusuhan, dan keamanan. Drone senjata merupakan alat militer yang sidukai untuk operasi antar negara, karena banyak modifikasi persenjataan yang dapat diperkerjakan. Dalam hanya sepuluh tahun, Pentagon menaikkan armada kapal dari drone militer dari kurang dari 50 menjadi 7000.

4.       Search and Rescue (SAR)
UAV saat ini menjadi alat yang popular untuk operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), karena UAV dapat dilengkap dengan sensor optic, kamera infra merah, radar bukaan sintetik, sensor cuaca, kamera, radar laser (LADAR), pembaca piringan/pelat, dan perangkat GPS. UAV secara unik dapat mempenetrasi wilayah-wilayah yang terlalu bahaya untuk pesawat berpilot atau dilewati orang. Atas alasan ini, UAV ideal untuk operasi SAR seperti di lautan, badai yang sangat ekstrim, dan  di hutan belatara/gurun.

Penggunanan Drone Domestik

Banyak utilitas dan biaya yang rendah dari drone yang menyebabkan Pemerintah federal, negaram dan departemen lokal menyatakan ketertarikannya dalam menggunakan drone lokal. Dalam enam tahun lalu, DHS menghabiskan 250 juta dollar membeli 10 surveillance Predator secara spesifik dilengkapi dengan kamera video, kamera infra merah, sensor, dan radar. Drone ini akan dugunakan untuk operasi patrol di perbatasan Amerika dan untuk untuk mencegah penyelundupan internasional.
Badan lain yang mengikuti DHS yang membeli drone untuk operasi agensi. FBI, DOD, Immigrations and Customs Enforcement (ICE) dan United States Secret Service, dan EPA semua mengenalkan proposal untuk drone untuk diintegrasikan ke dalam operasi keagenan.

Banyak departemen negara dan kantor penegakan hukum lokal juga membeli atau membiayai drone untuk berbagai keperluan. Sebagai contoh, departemen negara bagian di Virginia dan Florida menunjukkan ketertarikan dalam membeli drone kecil untuk misi pengawasan. Sebagai tambahan, kantor penegakan hukum lokal di Montgomery, Texas, Seatlle, Washington, dan Gadsden, Alabama, telah mengimplementasikan drone dalam berbagai macam operasi. Meskipun mayoritas departemen kepolisian berniat untuk menggunakan drone untuk misi pengawasan dan pengintaian saja, satu departemen kepolisian di North Dakota telah menaikkan bar dengan menggunakan drone untuk membantu penangkapan. Sebagai tambahan, beberapa departemen polisi menujukkan ketertarikan untuk menggunakan drone untuk operasi SAR dan pemetaan kemacetan. Drone pastinya opsi yang terjangkau untuk departemen ini karena drone lebih murah, lebih mudah untuk dibeli dan mudah untuk dirawat dari ada helicopter yang biasa digunakan.

Penggunaan drone domestik tidak dibatasi untuk ruang publik semata. Banyak peusahaan swasta telah gunakan atau menunjukkan ketertarikannya dalam menggunakan drone untuk keamanan, pencegahan kerugian, dan tujuan lainnya. Sebagai contoh, Google akhir-akhir ini menggunakan drone untuk mendapatkan data peta, membangun database GPS, dan kembangkan peta jalan internet-based. Berbagai media juga mencoba menggunakan drone untuk mengumpulkan informasi pribadi, gambar video, dan gambar untuk selebritis. Lembaga detektif pribadi, lawyer, bail bondsman, perusahaan asuransi, dan kelompok media seperti National Geographic, mengklaim turut mengembangkan teknologi drone yang terjangkau. Ini berkat kapabilitas peningkatan gambar, opsi pengawasan yang terjangkau, pelacakan GPS, dan targeting drone, yang akkan mengikuti pengumpulan informasi yang bermanfaat untuk perdagangan ini dalam suatu jalan yang relatif tidak menarik perhatian.

Namun saat ini, penggunaan drone domestik dilihat tidak bertalian karena teknologi yang cukup tidak familiar dan tidak biasa digunakan, penggunaan drone domestik diperkirakan secara drastic meningkat di beberapa tahun mendatang. Industri drone merupakan industri 6 milyar dolar dan diprediksi meningkat dua kali lipat di 10 tahun mendatang. Di februari 2012, Congress mengesahkan FAA Modernization and Reform Act, yang secara spesifik memanggil untuk percepatan dan integrasi drone di ruang udara Amerika pada 2015. Sebagai hasil inisiasi FAA dibawah Act dan dorongan utama dari lembaga federal dan negate untuk menggunakan drone secara domestic, FAA diprediksi mendekati 30.000 lisensi untuk operasi drone domestic pada 2020.    

Sumber : Schlag, Chirs. The New Privacy Battle : How the Expanding Use of Drone Continues to Erode Our Concept of Privacy and Privacy Rights, Journal of Technology Law & Policy, Volume XIII-Spring 2013 (open-access)

Saturday, April 21, 2018

Sejarah Evolusi UAVdari Awal sampai 70an


Keinginan manusia untuk terbang telah dilakukan sejak waktu yang lama (Dedak dan Icar), baru kemudian untuk projek sains fundamental (Leonardo da Vinsi 1452-1519, Montgolfier 1783). Impian terbang tidak berhenti di sini, namun berlanjut dengan mesin ringan yang dapat terbang lebih ringan dibandingkan dengan udara (Santos-Dumont 1899, Zeppelin 1900-1909), kemudian mesin yang lebih berat (Otto Lilienthal, 1890-1896), baru kemudian berlanjut di Perang Dunia I dan Peran Dunia II.
Evolusi mesin tak berawak sama dengan  sesuatu di bawah komando manusia, dan konflik militer membuktikan yang paling efisien untuk mendorong terciptanya inovasi di bidang ini. Teknologi dan evolusi desain mempengaruhi pengembangan mesin tak berawak, kemudian menjangkau suatu desain yang kompleks selama bertahun-tahun.

Sistem pesawat tak bepilot dikenal dengan banyak nama dan akronim seperti halnya : drone, RPV (Remotely Piloted vehicle) UAV (Unmanned Aerial Vehicle), UCAV (Uninhabited Combat Aerial Vehicle), FVO (Organic Aerial Vehicle), UCAV/S (Unhibited Combat Aircraft Vehicle/System), RPA (Remotely Piloted Aircraft), RPH (Remotely Piloted Helicopter), Aerial Robotics, MAV (Micro Aerial Vehicle), dan yang lain. 

Dalam sejarahnya, UAVmengalami evolusi khususnya dalam sistemnya. Dalam projek pertama, kontribusi utamanya pada penemuan mekanisme otonom yang terjadi selama Phytagoras dan dikaitkan dengan Archytas dari Tarantas (Italia Selatan). Dalam UAV ini, diimplementasikan satu bagian dari konsep geometri kemudian baru diciptakan di tahun 425 BC yang disebut sebagai UAV pertama. Sebagai burung mekanis yang dapat terbang dengan mekanisme yang diletakkan dalam perut. 

Di tahun 400 BC China mendokumentasikan ide dari suatu perangkat yang menjangkau penerbangan vertikal. Leonardo Da Vinci di tahun 1483, mendesain suatu pesawat yang dapat naik vertikal, didasarkan atas penemuan ahli terdahulu (ancestor) terkait helicopter. Juga di tahun 1508 Da Vinci mendesain suatu burung mekanik yang berisi mekanisme engkol ganda yang turun bersama sebuah kabel. 

Kemudian di tahun 1754, Mikhail Lomonosov mendesain impeller aksial dan di tahun 1783 Bienvenue Launoy mendesain sebuah propeller model kontra (counter-model), yang didasarkan pada ide orang Cina. George Cayley mendesain sebuah carriage convertiplane yang masi pada tahap ide terkait besarnya sistem propulsi yang pada waktu itu satu-satunya yang dapat untuk lokomotif uap.
Di tahun 1840, Horatio Philips mendesain suatu mesin yang dapat terbang secara vertikal. Teknologi ini berisi suatu ketel miniatur untuk menggerakkan uap dan di tahun 1860, Ponton d’Amecourt menerbangkan model helicopter yang digerakkan oleh uap. 

Pertama kalinya Penggunaan Mesin Drone

Di tahun 1849 pertama kalinya digunakan suatu kendaraan udara tempur yang tidak berawak ketika orang Austria menyerang kota Venice Italia dengan 200 balon tak berawak yang dibebani bom dipasang dengan perangkat waktu. Di tahun 1900 Nikola Tesla (1856-1943) menyajikan konsep kontrol wireless balon dan di tahun 1915 digambarkan sebuah armada dari kendaan udara tak berawak dalam pertempuran udara.

Dalam Perang Dunia I, di tahun 1916, terjadi uji coba pertama menggunakan kendaraan udara tak berawak yang disebut “target udara” oleh Archibald Montgomery Low (1888-1956), pesawat target dikontrol dari darat secara otomatis, Hewitt-Sperry menyebutnya “bom terbang” yang diintergrasikan dalam kontrol sebuah giroskop (1917). Di tahun 1917 November, pesawat Kettering Bug yang disebut “torpedo udara”, terbang  dalam mode otomatis untuk perwakilan militer Amerika, meskipun tidak siap untuk terbang di perang.

Di tahun 1935 dikembangkan suatu seri RPV. Projek ini dipimpin oleh Reginald Denny (1891-1967). Di tahun 1939, Reginald Denny juga kenalkan sebuah pesawat RC berbiaya rendah untuk latihan para penembak AA. Di tahun yang sama, dia mendemonstrasikan prototipe lain untuk tentara Amerika : RP-RP-3 dan 4.

Di Perang Dunia II, pada Juni 1944 Jerman menggunakan Fi-103 (V1) selama PD II yang dikenal rudal jelajah (cruise missile). Pada Oktober 1944, misi tempur pertama dan penggunaan dari sebuah UAV dibuat di Pulau Balla. Jepang dibom 10 bom oleh UAV TDR-1 yang dibuat oleh Interstate Aircraft Company di Los Angeles milik tentara Amerika. Juga di tahun 1944 diadakan projek Aphrodite, suatu program yang mengkonversi US B-17 dan PBY-4Y ke dalam drone yang membawa bom. Drone ini digunakan kemudian untuk uji nuklir di misi “kotor” klasik.

Pasca PD II, di bulan April 1946 pesawat pertama yang terbang tanpa awak adalah Northrop hasil riset: Northrop P-61 Black Widow yang memiliki tugas mengumpulkan data cuaca untuk Biro Cuaca Amerika (US Wather Bureau). Di tahun 1951, mesin jet pertama digunakan (Teledyne Ryan Firebee tipe I). Di tahun 1955 terdapat penerbangan pertama dari pesawat tanpa awak untuk pengintaian (Northrop radioplane SD-1 Falconer/Observer) yang selanjutnya digunakan oleh militer Amerika dan perusahaan Inggris Beechcraft. Baru kemudian memasuki permainan dengan model 1001 yang digunakan oleh tentara Amerika.

Di tahun 1959 lahir penerbangan tak awak dengan RPV/UAV, ketika USAF fokus pada hilangnya pilot Amerika di wilayah musuh dalam waktu itu. Di tahun 1960, peluncurkan program UAV dikodekan “Red Wagon”, ketika U-2 yang diterbangkan Francis Gary Powers ditembak jatuh oleh Uni Soviet dan di bulan Agustus pada waktu yang sama terdapat penerbangan pertama dari helicopter tak berawak Gyrodine QH-50A di Maryland. 

Di bulan Agustus 1964, di Gulf Tonkin Amerika digunakan UAV dalam konflik antara tentara Amerika dan tentara Vietnam Utara. Sejak 1964 sampai jatuhnya Saingon pada tahun 1975, USAF Strategic Reconnaissance Wing 100 3435 meluncurkan drone Ryan untuk pengintaian sepanjang Viertnam Utara di mana mereka kehilangan pesawat tanpa awak 554 buah. Di tahun 1966 diinisasi projek Lone Eagle (kemudian disebut Compass Arrow) untuk desain UAV cukup untuk misi pengintaian di Cina, sehingga muncul D-21 yang diluncurkan oleh tentara Amerika kemudian diikuti oleh North America Ryan Aeronautical. Tujuannya adalah untuk menyajikan foto dari misi pengintaian di dataran tinggi.

Di tahun 1976, pengenalan utilitas pesawat dikenalkan di Vietnam. Ini merupakan tahapan pertama untuk digunakan dalam pertempuran UAV baik di laut maupun darat.

Epilog

Pengujian UAV dan vektor-vektor fungsional telah dikembangkan baik dalam konsep rotary wing maupun fixed-wing (lebih berat dari udara) dan sayap tiup (lebih ringan dari udara). Pengembangan UAV di lapangan menghasilkan suatu perubahan konsep arsitektural melalui pengembangan dan operasi UAV berkenaan dengan fitur-fitur dan kapabilitas-kapabilitas yang secara terus menggerakkan tipe-tipe konstruksi di satu sisi dan di sisi lainnya wilayah penggunaannya.

Sistem pesawat udara tak berawak terus dikembangkan, khususnya untuk kepentingan utama : kemampuan mengoperasikan lingkungan berbahaya tanpa risiko manusia. Pengembangan UAV ini menghasilkan suatu perubahan dalam konsep terkait arsitektur dan operasi melalui evolusi terkait karakteristik dan kapabilitasnya.

Tantangan sekarang yaitu kebutuhan akan kontrol jaringan terbang dan monitoring. Komponen ini memiliki dampak yang signifikan untuk menyajikan pengembangan kelebihan beban udara jauh dari batasan manusia. Berkenaan dengan desain, terdapat keuntungan yang jelas jika dibandingkan dengan pesawat berpilot. UAV dapat didesain dalam berbagai ukuran begantung pada misi yang akan dilakukan, mulai dari misi taktik sampai dengan operasi strategis.


Sitasi : Prisacariun, Vasile. (2017). The History and The Evolution of UAV’s From The Beginning Till The 70s, Journal of Defense Resources Management Vol. 8, Issue 1 (14)/2017

Friday, April 20, 2018

Menggaet Keintiman Kostumer


Berbeda dengan paper kebanyakan yang lebih teoretik, artikel yang ditulis Michael Treacy dan Fred Wiersema di Harvard Business Review (HBR) pada 1993 ini lebih banyak sajikan contoh dari berbagai perusahaan besar. Bagaimana perusahaan-perusahaan ini dapat menggaet kostumer yang memiliki keloyalan lebih pada produk. Dell Computer, Home Depot, dan Nike mendefinisikan ulang nilai untuk kostumer dalam market masing-masing. Kedua, mereka membangun sistem bisnis yang powerful dan kohesif yang dapat mengirimkan lebih dari nilai tersebut dibandingkan dengan kompetitornya. Ketiga, dengan melakukan hal demikian mereka menaikkan ekspektasi kostumer di luar jangkauan kompetisi.

Apa yang baru dari ide Treacy dan Wiersema ini bagaimana para kostumer mendefinisikan nilai dalam banyak market. Di masa lalu, kostumer menilai nilai suatu produk atau jasa pada basis dari beberapa kombinasi  dari kualitas dan harga. Kostumer sekarang, secara kontras, memiliki konsep perluasan dari nilai yang mencakup kenyamanan dari pembelian, jasa after-sale, keteguhan (dependability), dan lainnya. Seorang mungkin mengasumsikan kemudian bahwa untuk berkompetisi sekarang, perusahaan harus menemukan ekspektasi kostumer yang berbeda ini.

Perusahaan yang ambil posisi kepemimpinan dalam perusahaannya dalam dekade akhir secara khusus telah menyelesaikan dengan memperkecil fokus bisnisnya, tidak meluaskannya. Mereka fokus pada satu dari tiga disiplin nilai – keunggulan operasional, keintiman kostumer, atau kepemimpinan produk. Mereka menjadi pemenang dalam satu dari ketiga disiplin ini. Jika para pemimpin market biasanya unggul di satu disiplin nilai, sedikit perusahaan modern (maverick) melaju lebih jauh dengan menguasai dua nilai. Dalam mengerjakan demikian, mereka menyelesaikan ketegangan yang melekat di antara model operasi yang masing-masing  permintaan disiplin nilainya.

Kesempatan-kesempatan yang para pemenang besar dari masa depan akan mengusai dua nilai. Dengan keunggulan operasional, kita artikan menyediakan para kostumer dengan produk atau jasa yang reliabel pada harga yang kompetitif dan disampaikan dengan kesulitan minimal atau gangguan. Dell, contohnya, terdepan dari keunggulan operasional. Keintiman kostumer, disiplin nilai kedua, bermakna segmentasi dan targeting market secara tepat dan kemudian menjahit penawaran-penawaran untuk mencocokkan secara pas permintaan dari niche tersebut. Perusahaan yang unggul dalam keintiman kostumer mengkombinasikan pengetahuan kostumer dengan fleksibilitas operasional sehingga mereka dapat merespon secara cepat ke berbagai kebutuhan, dari kostumisasi produk untuk memenuhi permintaan khusus. Konsekuensinya, perusahaan ini menimbulkan loyalitas kostumer yang sangat besar.

Keunggulan Operasional

Istilah “keunggulan operasional” mendeskripsikan suatu pendekatan strategis yang spesifik pada produksi dan pengantaran produk dan jasa. Tujuan suatu perusahaan mengikuti strategi ini adalah untuk mengarahkan industrinya dalam harga dan kenyamanan. Perusahaan mengejar keunggulan operasional tidak kenal lelah dalam mencari cara-cara untuk menimimumkan biaya pengeluaran tambahan, untuk menghilangkan tahapan produksi menengah, untuk menurunkan transaksi dan biaya “friksi” lainnya, dan untuk mengoptimalkan proses bisnis terkait batasan fungsional dan organisasional. Mereka fokus pada pengantaran produk atau jasa mereka pada kostumer pada harga yang kompetitif dan dengan gangguan yang minimal. Karena mereka membangun keseluruhan bisnis mereka di sekitar tujuan-tujuan ini, organisasi ini tidak melihat atau beroperasi seperti perusahaan lain mengejar disiplin nilai lainnya.

Sebagai contoh, dalam pertengahan tahun 1980an, ketika Compaq konsentrasi pada pembuatan PC dengan harga lebih murah dan lebih cepat dibandingkan IBM, seorang mahasiswa Michael Dell melihat kesempatan untuk mengalahkan kedua perusahaan tersebut dengan fokus tidak pada produk melainkan pada sistem delivery. Di luar asramanya di Austin, Texas, Dell memecahkan dengan suatu secara radikal berbeda dan jauh lebih efisien mengoperasikan model untuk keunggulan operasional. Dell merealisasikan bahwa strategi marketing Compaq dengan menjual PC melalui dealer pada orang baru dapat diunggulkan dengan suatu model yang dapat memangkas dealer di luar proses distribusi secara bersamaan. Dengan menjual pada kostumer secara langsung, membangun pada permintaan dibandingkan dengan inventory, akan menciptakan suatu kultur disiplin berbiaya murah. Dell akhirnya mampu mengalahkan Compaq dan para pembuat PC lainnya dalam harga namun menyediakan produk dan jasa dengan kualitas yang tinggi. Dell berhasil menaikkan revenue hingga $ 1.7 milyar lebih kecil dalam kurang dari 10 tahun sedangkan Compaq dipaksa untuk memotong harga dan pengeluaran tambahan.

Keintiman Kostumer

Sementara perusahaan mengejar keunggulan operasional konsentrasi pada pembuatan operasionalnya ramping dan efisien, pengejaran strategi terkait keintiman kostumer secara berlanjut menjahit dan membentuk produk dan jasa untuk menyesuaikan pada suatu definisi baik yang meningkat dari kostumer. Ini menjadi mahal, namun perusahaan yang intim pada kostumer mau untuk menyisihkan saat ini untuk membangun loyalitas kostumer untuk waktu yang panjang. Mereka secara khusus melihat nilai lifetime kostumer pada perusahaan, bukan nilai dari transaksi tunggal. Ini adalah mengapa employee dalam perusahaan-perusahaan ini akan melakukan hampir semuanya – dengan sedikit perhatian pada biaya awal – untuk memastikan bahwa setiap kostumer mendapatkan  secara tepat apa yang dia inginkan.

Perusahaan lain yang merangkul suatu strategi dari keintiman kostumer mencakup Staples dalam riset supply office, Ciba-Geigy dalam farmasi, dan Kraft dan Frito-Lay dalam barang yang dikemas kostumer. Perusahaan ini telah mendesain model operasional yang mengikuti mereka untuk mengatasi setiap kostumer atau subbagian yang kecil dari marketnya secara individual, sebanyak untuk menyelamatkan keuntungan perusahaan sebagaimana untuk kepuasan pelanggan. Infrastruktur mereka memfasilitasi berbagai mode produksi dan delivery produk atau jasa. Mereka secara senang membagi kue ketika segmentasi sebuah pasar. Satu prinsip yang seperti halnya perusahaan fahami dengan baik adalah perbedaan antara profit dan kerugian pada suatu transaksi tunggal dan profit terkait lifetime hubungannya dengan sebuah kostumer tunggal. Suatu perusahaan makelar keuangan, sebagai contoh, tahu bahwa tidak semua kostumer memerlukan tingkatan yang sama dari jasa atau akan mendorong revenue yang sama. Keuntungan perusahaan kemudian bergantung pada bagian pemeliharaan suatu sistem yang dapat membedakan secara cepat dan akurat di antara kostumer di dasarkan pada tingkatan jasa yang mereka perlukan dan revenue perlindungannya mungkin untuk hasilkan.

Kepemimpinan Produk

Perusahaan yang mengejar disiplin ketiga, kepemimpinan produk, bersaha keras untuk memproduksi aliran state of the art produksi dan jasa. Ada tiga cara yang mereka jangkau. Pertama, mereka harus kreatif. Lebih dari yang lain, menjadi kreatif berarti mengenali dan merangkul ide-ide yang biasanya berasal dari luar perusahaan. Kedua, perusahaan inovatif harus mengkomersialisasikan idenya secara cepat. Untuk melakukan ini, semua proses bisnis dan manajemen harus direkayasa untuk cepat. Ketiga dan paling penting, pemimpin produk harus tanpa henti mengejar solusi baru terkait persoalan yang produk terbaru dan jasanya baru saja diselesaikan. Jika setiap orang akan memberikan keusangan teknologinya, mereka lebih suka melakukannya sendiri. Para pemimpin produk tidak berhenti  untuk menyelamatkan diri ; mereka terlalu sibuk menaikkan bar.

Para pemimpin produk memiliki kepentingan pribadi dalam memproteksi lingkungan entrepreneurial yang mereka ciptakan. Para pemimpin adalah para kompetitor yang ganas. Mereka secara kontinyu melewati perbatasan, kemudian memecahkan lebih banyak lahan baru. Mereka harus mahir dalam berikan keuangan produk dan jasa yang mereka telah buat karena mereka merealisasikan bahwa jika mereka tidak kembangkan suatu suksesor, perusahaan lain akan lakukan. J&J sebagai contoh dan inovator lainnya ingin ambil pandangan yang panjang terkait keuntungan, mengenali bahwa apakah mereka mengekstraksi potensi profit secara menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang ada kurang penting terhadap masa depan perusahaan dari pada mempertahankan edge kepemimpinan produk dan momentum. Perusahaan ini tidak pernah dibutakan dengan kesuksesan mereka sendiri. Satu poin akhir dari pemimpin produk : mereka juga memiliki sistem infrastruktur dan manajemen yang dibutuhkan untuk mengatur risiko secara baik.

Mempertahankan Keunggulan

Ketika suatu perusahaan memilih untuk fokus pada satu disiplin nilai, ia dalam waktu yang sama memilih katagori kostumer yang akan ia layani. Faktanya, pemilihan disiplin bisnis dan katagori kostumer adalah pilihan tunggal. Satu bagian dari kostumer potensial mendefinikan nilai dalam suatu matriks harga, kenyamanan, dan kualitas dengan harga sebagai faktor dominan. Kostumer ini kurang khusus terkait apa yang mereka beli dibandingkan mereka mendapatkannya pada harga yang mungkin paling murah dan dengan paling tidak mungkin merepotkan. Mereka tidak mau untuk mengorbankan harga yang rendah atau kenyamanan yang tinggi untuk memperoleh suatu produk dengan suatu label tertentu atau untuk dapatkan suatu pelayanan premium. Apakah mereka kostumer atau pembeli, mereka menginginkan barang dan jasa yang berkualitas, namun lebih banyak, mereka menginginkan untuk memberikan mereka harga yang murah dan kemudahan atau keduanya.

Bagian kedua dari kostumer lebih menekankan dengan mendapatkan secara tepat apa yang mereka inginkan atau butuhkan. Mereka mau untuk membuat beberapa pengorbanan – dalam harga atau waktu antar – jika pengorbanan membantu mereka mendapatkan sesuatu yang menemukan persyaratan  unik mereka. Karakteristik spesifik dari produk atau cara jasa diantarkan jauh lebih penting bagi mereka dibandingkan dengan berbagai harga yang beralasan baik premium atau pembelian menyusahkan mereka mungkin terjadi. Katagori ketiga terkait kostumer, produk yang baru, berbedam dan tidak biasa paling banyak dipertimbangkan. Yaitu kostumer yang, sebagai pembeli pakaian, utamanya tertarik dengan fashion dan tren. Dalam sebuah konteks industri, mereka adalah para pembeli menilai produk state-of-the-art atau komponen karena permintaan kostumer sendiri teknologi terkini dari mereka. Jika mereka perusahaan jasa, mereka menginginkan supplier yang membantu mereka merebut kesempatan terobosan dalam market mereka sendiri. Untuk suatu perusahaan sukses dalam melayani kostumer ini, ia harus fokus pada kepemimpinan produk.

Banyak perusahaan menganggap secara mudah karena mereka kehilangan pandangan terkait disiplin nilai mereka. Bereaksi pada marketplace dan tekanan yang kompetitif, mereka mengejar inisiatif-insiatif yang memiliki kepatutan terkait kepemilikan mereka namun tidak konsisten dengan disiplin nilai perusahaan. Perusahan-perusahaan ini seringkali tampak agresif merespon untuk berubah. Realitanya, bagaimanapun, mereka mengalihkan energi dan sumber daya jauh dari mendahulukan model operasionalnya.

Kunci untuk mendapatkan dan mempertahankan kepemimpinan nilai adalah fokus, namun manajemen dari suatu perusahaan yang merupakan suatu pemimpin nilai harus tetap waspada. Model yang beroperasi meningkatkan suatu perusahaan pada kepemimpinan nilai – model Compaq, sebagai contoh – superior dan pantas mengekploitasi hanya sampai satu-satunya terbaik – model distribusi Dell, katakan – datang.

Perusahaan yang dapat mempertahankan kepemimpinan nilai dalam perusahaanya akan dijalankan dengan eksekutif yang tidak hanya memahami pentingnya untuk memfokuskan bisnis dalam disiplin nilainya, namun juga mendorong tanpa henti untuk memajukan model operasi organisasi. Mereka akan secara personal mendorong perusahaan untuk kembangkan kapabilitas dan mengubah kebiasaan kerja yang sudah ada, proses, dan sikap yang mencegah mereka dari memperoleh keunggulan dalam disiplin yang mereka pilih. Dengan mengutamakan usaha untuk mentrasformasi organisasi mereka, para individu ini akan menyiapkan perusahaannya untuk menentukan standar industri baru, untuk mendefinisikan apa yang mungkin, dan untuk perubahan yang selamanya jangka waktu persaingan.


Sitasi : Treacy, Michael and Wiersema, Fred. (1993). Costumer Intimacy and Other Value Disciplines, Harvard Business Review https://hbr.org/1993/01/customer-intimacy-and-other-value-disciplines (open-access)

Thursday, April 19, 2018

Lebih sekedar Komersialisasi Hasil Riset

Paper yang ditulis David B. Audretsch pada 2012 dengan judul “From the Entrepreneurial University to the University for the Entrepreneurial Society” ini menarik. Dia mem-propose satu konsep universitas yang tak hanya fokus pada aktivitas entrepreneurial tapi diperluas dengan mendorong entrepreneurship dan memfasilitasi terciptanya kesejahteraan masyarakat. David mengusulkan bahwasanya peran universitas seharausnya mencakup secara luas sepanjang waktu. Semenjak Perang Dunia II, universitas berasal dari suatu mandat dan perannya dicirikan sebagai model Humboldt, dengan utamanya menekankan pada kebebasan dan kemandirian atas scholarly inquiry dan “pengetahuan untuk dirinya sendiri” untuk menjadi suatu sumber pengetahuan yaitu kebutuhan untuk pertumbuhan ekonomi dan suatu performa ekonomi yang kuat.

Munculnya entrepreneurial university memberikan universitas dua mandat yaitu universitas di samping memproduksi pengetahuan baru, juga untuk mengubah aktivitas dan nilainya sedemikian rupa sebagaimana memfasilitasi efek transfer teknologi dan pengetahuan. Dalam masyarakat entrepreneurial, insititusi diciptakan dan diubah untuk memfasilitasi aktivitas entrepreneurship yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Dalam paper ini disimpulkan bahwa peran dari universitas dalam masyarakat entrepreneurial jauh lebih luas dan lebar dibandingkan dengan entrepreneurial university.



Jika di universitas yang menganut tradisi Humboldt, universitas dikuatkan berdasarkan ekonomi Solow (1956) yang menekankan pada aspek modal fisik dan buruh tidak terampil (unskilled labor) sebagai dua faktor utama dalam membentuk performa ekonomi. Meskipun kontribusi terbesar universitas pada nilai sosial dan politik, namun di aspek ekonomi tidak terlalu tinggi. Tiba akhirnya gagasan Romer (1986), Lucas (1988) dan lainnya yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah faktor kunci dari produksi, yang bersama dengan faktor-faktor tradisional seperti modal fisik dan buruh, memiliki dampak penting dalam pertumbuhan ekonomi. Pengetahuan didasarkan pada sangat kuatnya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi karena kecenderungan yang inheren untuk merembet dari perusahaan atau universitas yang menciptakan pengetahuan tersebut ke perusahaan atau individual yang akan mengimplementasikan pengetahuan tersebut dan berdampak pada bertambahnya produktivitasnya.

David membedakan peranan yang berbeda dalam dua corak universitas ini. Entrepreneurial university perannya adalah untuk menciptakan bisnis baru, ventura dan komersialisasi di mana sebelumnya tidak ada, atau setidaknya untuk meningkatkan jumlah transfer teknologi dari universitas ke sektor privat dan perusahaan non-profit dan juga organisasi. Sementara dalam universitas di entrepreneurial society dikatakan lebih luas dari sekedar untuk menghasilkan transfer teknologi dalam bentuk paten, kesunyian, dan startup, namun untuk berkontribusi dan menyediakan kepemimpinan untuk penciptaan pemikiran entrepreneurial, aksi-aksi, insititusi-institusi, dan apa yang Audretsch et.al. (2006) sebut sebagai modal entrepreneurship.

Sitasi : Audretsch, David B. (2012). From the entrepreneurial university to the university for the entrepreneurial society, Published online : 6 december 2012, Springer Science+Business Media New York 2012 (open-access)