Thursday, February 16, 2017

Hoax dan Demokrasi

Kemarin (15/2) merupakan hari Pilkada serentak lebih dari 100 kabupaten/kota/provinsi di Indonesia. Namun, tetaplah DKI Jakarta sebagai magnet pemberitaan media baik mainstream mapun sosial. Saya tidak ingin membahas Pilkada dalam tulisan ini melainkan terkait berita hoax yang tengah melanda di media sosial khususnya. Tulisan ini merupakan hasil obrolan dengan dosen dan teman senior jurusan kemarin sore sampai malam.

Berita hoax tengah tersebar secara masif di media sosial (medsos) apalagi ditambah dengan fenomena Pilkada DKI Jakarta yang bisa dibilang sangat panas. Orang-orang dengan cukup klik "like" dan "share", berita hoax tersebar dengan gampangnya. Celakanya banyak orang tidak sadar dan sukar memilih dan memilah mana berita yang benar dan salah (hoax). Ada yang mengatakan bahwa tersebarnya berita hoax adalah karena budaya literasi orang Indonesia rendah. Saya kira pendapat ini kurang relevan karena lompat.

Keran demokrasi bebas (liberal) terbuka di era reformasi. Sejak era tersebut, orang dibebaskan untuk berpendapat di muka publik. Niat awalnya sangat positif karena orang tak perlu takut untuk mengkritik, beropini, dan sebagainya terhadap Pemerintah yang di era Orde Baru tidak mungkin bisa dilakukan. Namun sayangnya itu tidak diimbangi dengan perangkat yang cukup. Orang-orangpun semakin liar untuk berpendapat apalagi setelah terfasilitasi oleh medsos. 

Koneksi dengan Dunia Riil

Fenomena hoax seperti saya ceritakan secara sepintas di atas menjadi persoalan publik ketika itu berkembang di dunia maya melalui medium sosmed khususnya. Yang menjadi meresahkan dari hoax ini adalah karena sifat dari berita ini yang tak hanya bohong melainkan digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik. Berita ini mewujud ke dalam aneka situs/website/portal berita/blog yang seolah-olah progresif dengan menampilkan fakta di luar media mainstream (saya tidak menyebut semua media mainstream jujur). Melalui media-media tersebut digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk melancarkan misinya seperti halnya menjatuhkan lawan politik, menghancurkan kredibilitas figur tertentu, dan sebagainya. Ini jelas kejam tentunya bagi yang secara sadar membuat sumber berita di atas. Di sini saya sungguh kasihan bagi mereka yang karena fanatik buta (baca taklid) pada tokoh/faham tertentu menyebarkan tanpa klarifikasi (mungkun mereka tidak tahu caranya klarifikasi berita) berita-berita di atas. Bayangkan jika orang jenis demikian sungguh banyak, maka dapat dipastikan berita-berita yang tersebar di medsos (juga tentunya WhatsApp dan sejenisnya) adalah berita bohong alias hoax.

Jangan lebih jauh ingin berbicara solusi atas hal ini, mari kita plototin apa itu dunia maya yang menjadi ekosistem berita hoax saat-saat ini. Saya berpandangan bahwa dunia maya itu memiliki koneksi dengan dunia nyata. Koneksinya terletak pada sebjek yang menggunakan dunia maya melalui medsos misalnya adalah individu yang hidup di dunia riil di mana mereka beriteraksi dengan individu lain, dan sebagainya. Maka, kelakukan mereka di medsos sangat dimungkinkan dengan apa yang mereka lakukan di dunia riil. Jika seseorang terbiasa menyebarkan berita hoax di medsos, maka orang ini berpeluang besar di dunia nyatanya suka beropini dengan serabutan comot data entah dari mana sumbernya. Jika diagregat dengan masifnya persebaran berita hoax, maka sangat dimungkinkan di dunia nyata berita hoax juga tersebar dengan sangat masif. Ini bisa melalui obrolan-obrolan warung kopi, ceramah-ceramah, obrolan public figure di televisi, dan sebagainya. Celakanya memang di dunia nyata tidak ada upaya untuk dilakukan antisipasi atau recovery. Lembaga pendidikan formal yang menjadi tempat berkumpulnya insan akademis ternyata kurang begitu mampu menghadirkan solusi penyelesaian berita hoax.

Kombinasi Rill-Maya

Kesalingterhubungan antara kehidupan riil dan maya, maka solusi penyelesaian berita hoax ini tak terbatas pada pembuatan kebijakan di ranah alam maya seperti UU ITE dan sejenisnya, melainkan dengan memberikan regulasi pada hal-hal yang memungkinkan berita hoax terjadi, misalkan regulasi pada siapa yang berhak bekomentar di media televisi dan di ruang publik lainnya. Kini di alam demokrasi liberal, orang dengan sangat mudah ditokohkan dan dijuluki pakar. Sebagai contoh orang banyak bicara seputar hukum (padahal dia politisi) di-blow-up oleh media mainstream sebagai pakar hukum. Ini kan bisa celaka. 

Saya kira dengan mindset rill-maya demikian membuat kita tidak ujug-ujung menyimpulkan bahwa fenomena berita hoax hanya dapat diselesaikan dengan satu cara, literasi contohnya. Melainkan kita dapat telusuri secara lengkap fenomena ini sehingga pada ujungnya kita mendapatkan gambaran yang lengkap. 


*) gambar oleh DatDut.Com

Monday, February 13, 2017

Begadang

Kata Bang Haji Rhoma Irama dalam lirik lagunya "Begadang jangan begadang.. kalau tiada artinya.. begadang boleh saja.. kalo ada perlunya". Kata begadang bagi saya sudah tidak asing, namun sangat asing jika dalam tahapan pelaksanaan. Itu tandanya saya adalah seorang yang jarang sekali begadang biarpun tetap juga seringkali bangun kesiangan (harap maklum anak kos, hehe). Namun beda halnya dengan malam ini, saya sukses begadang dan ini tidak di kosan tapi di sebuah kafe tak jauh dari kosan. Dari dulu saya berniat ngelakuin tindakan ini, namun hanya sebatas wacana saja. Entah apa yang membuat kaki saya ke sini tadi, bisa jadi karena semangat saya untuk merampungkan buku tesis lagi tinggi. 

Ternyata begadang di kafe itu lebih mengasyikkan di bandingkan dengan di kosan. Mungkin karena nggak ada teman yang menemani sehingga suasana sepi kayak kuburan. Berbeda dengan di kafe (Coffindo) ini, di jam segini masih ada sekumpulan mahasiswa (nampaknya S1 dan dari Unpad) yang masi ngobrol ramai, entah mereka ngerjain PR atau apa. Jadinya saya yang dari tadi membaca jurnal ada yang nemeni setidaknya suara mereka yang riuh menjadi salah satu faktor saya tidak ngantuk sampai detik ini. Selain di sini relatif ramai (dengan suara), kopi Sulawesi yang aku pesan tadi bisa jadi cuma efek biarpun kurang signifikan. Terkadang saya ngopi di malam hari, tapi tetap saja bisa tidur dengan pulas. 

Selain dua faktor di atas, distraksi sebab salah install program menjadi faktor lain. Tadi saya coba install program google translate namun ternyata program tersebut fake, mungkin saya salah download, bisa jadi. Entah tiba-tiba setelah install program tersebut, terinstall tiga program lain dan sialnya ada dua program yang tidak bisa di-uninstall. Windows defender di laptop sempat mati tiba-tiba dan terpaksa saya restart setelah unistall Avast, program antivirus yang tetiba muncul di layar. Saya khawatir sekali jika malware alias virus menyerang laptop. Bisa jadi kerjaan dan tetek bengek saya di laptop ini hilang. Distraksi lain selain itu ya apalagi selain media sosial (medsos). Sejak zaman medsos, satu keahlian yang tiba-tiba saya jago, "kepo", ya betul. Keahlian ini otomatis. Saat buka facebook atau twitter atau juga Instagram, penasaran dikit "klik", buka profil orang, dan lain-lain. Lebay sih terkadang saya ngrasanya. Hal ini semakin terlatih saat saya pegang media kampus dulu, di mana "rating" media menjadi tujuan biarpun gagal terus untuk diuangkan. 

Selain hari ini, semalam saya juga begadang, tapi tidak selama hari ini. Tujuannya juga beda, jika semalam refreshing, hari ini baca jurnal. Sebelum saya tutup tulisan ini, begadang itu ada asiknya ketika kita merasa asik. Tiba-tiba teringat lirik dangdut koplo, "Asik-asik, jos". Eh bukan lirik, tapi sejenis yel-yel. 


Thursday, February 09, 2017

Ketika Semua Orang Berbicara Politik

Nggak di kampung halaman, nggak di kampus. Semua orang membicarakan politik. Jika kita melihat apa yang berkembang di linimasa pastinya isu politiklah yang menjadi topik bahasan. Jika kita ambil timeline hari ini, maka isu Pilkada Jakarta-lah yang paling santer diberitakan orang. Hari ini saya membaca baik di grup WhatsApp ataupun postingan teman bahwa Ikatan Alumni (IA) ITB mengklarifikasi bahwa telah mendukung pasangan calon nomor 1 AHY-Sylviana Murni. Surat klarifikasi itu tertanda ketua IA, entah beneran atau hoax kabar itu telah tersebar di dunia maya.

Saya kok tidak habis fikir, mengapa setiap orang dari lapisan bawah, menengah, dan atas membicarakan politik ? Okelah jika golongan menengah bahas politik sampai harus gontok-gontokan dengan temannya sendiri secara mereka secara ekonomi sudah cukup, tapi kalo golongan bawah yang notabene untuk hidup aja sulit ?. Terlepas ada yang menyebut ini ideologis, namun saya berpendapat bahwa golongan menengah berdialektika seputar politik adalah untuk bersenang-senang sedangkan golongan bawah adalah untuk menyambung hidup. Maksudnya bersenang-senang ini adalah karena dengan berpihak pada identitas politik tertentu maka dia akan eksis yang ujungnya adalah popularitas. Seperti halnya dengan penulisan status untuk menanggapi sikap politisi A dengan menggunakan gagasan yang rasional dan akademis yang saya yakin itu penuh dengan tendensi. Sedangkan maksud menyambung hidup itu jika mendukung secara terang-terangan calon X misalkan Ia akan dapat rupiah, sesederhana itu.
Setiap orang ingin jadi politisi ? Mungkin. (sumber : BetaNews online)

Bagaimana dengan politik yang dibungkus dengan agama ? Ini sebenarnya isu lama. Jika menengok sejarah republik golongan Islam dan nasionalis cenderung berebut pengaruh. Sebut saja dalam Piagam Jakarta yang merevisi bunyi sila pertama Pancasila adalah bukti bahwa terjadinya tarik-ulur kepentingan antara dua golongan ini. Fenomena Pilkada DKI saya kira kebangetan bagi dua golongan ini. Pertama, golongan Islam mencurigai bahwa telah terjadi proses komunisasi di tubuh Pemerintah. Sampai saat ini saya tidak melihat fakta yang memperlihatkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) akan kembali berdiri. Kedua, golongan nasionalis mencurigai bahwa golongan Islam akan merusak Kebhinnekaan. Artinya saling curiga inilah yang kemudian menjadi isu yang berkembang. Perkembangannya seperti virus apalagi setelah ditiup setiap hari oleh media sosial juga media massa mainstream.

Saya terkadang berfikir pragmatis begini, apakah politik itu bisa dimakan ? Okelah jika kita berbicara politik adalah untuk melihat fenomena secara utuh, tapi jika untuk saling sinis dengan "Like" dan "Share" itu bagaimana ? Saya melihat fakta ini terjadi tak hanya terjadi pada teman facebook saya yang notabene saya kenal kurang begitu pintar, namun juga pada mantan dosen dari kampus bergengsi yang katanya mengajar filsafat. Apa artinya ini ? Pendidikan tidak menjawab fenomena ini. Kesinisan telah mengubah tabiat orang dari lapisan manapun. Padahal jika kita dapat melihat dunia secara lebih utuh banyak hal yang dapat kita lakukan. Apalagi negara kita tidak sedang berkonflik seperti Suriah, Irak, dan Afganistan yang disana penduduknya sukar untuk bercita-cita. Kita di negara demokratis ini bebas untuk bercita-cita menjadi apapun, namun mengapa bukan itu jalan yang kita pilih ? Entahlah.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah refleksi bagi kita semua bahwa isu yang berkembang di masyarakat khususnya di era medsos seperti ini sepatutnya tidak menjadikan kita menjadi pribadi yang tidak merdeka. Sebagai manusia kita diberi akal untuk berfikir, biarpun juga diberikan nafsu. Jangan sampai nafsu mendominasi gerak-langkah kita. Mari kita memerdekakan pikiran, mari kita mengurai belenggu-belenggu yang ditimbulkan dari kekacauan berfikir. 
Posted on Thursday, February 09, 2017 | Categories: ,

Monday, December 19, 2016

26 Tahun, Masih Muda Sih Tapi

Tepat 26 tahun lalu aku dilahirkan di dunia ini. Artinya usiaku sudah seperempat abad lebih setahun. Memang sih terlihat masih muda, secara aku belum sampai kepala tiga. Tapi apa sih arti dari umur jika keberadaan kita di dunia ala kadarnya. Sebelum aku cerita apa yang telah dilakukan di usia 25 tahun, saat aku menulis ini aku tidak betul-betul fit. Aku terserang pilek dari semalam. Ingus bening seringkali keluar di saat aku berposisi ingin kerjakan sesuatu. Bahkan saat aku sholat Dzuhur berjamaah di masjid tadi siang, aku tidak enak dengan jamaah di samping kanan dan kiri aku. Aku batuk-batuk dan tentunya disertai dengan keluar ingus biarpun dikit. Aku jauh dari fokus tunaikan ibadah.  Dalam hari kecil aku, “Kapan ya sholat ini segera selesai ?”,  jauh dari khusyuk memang.

Saat ini aku sebenarnya berencana melengkapi bahan tesis yang akan aku presentasikan kamis besok. Baru baca-baca satu bab di buku Triple Helix Etzkowitz tapi mau menuliskan di laporan tesis dan powerpoint masih sulit. Bersin-bersin dan ingus seringkali keluar. Tissue satu wadah pun tinggal setengah. Aku coba istirahat tadi sebelum dzuhur, juga ambil makan pagi dan siang dengan lauk tongkol dan ayam dari Ibu kos. Buah pisang tak ketinggalan sama apel New Zealand yang aku beli kemarin masih ada dua biji. Di samping kasur, air putih dan air teh manis menemani saat-saatku menulis cerita ini. O iya, aku tadi install aplikasi NIKE + dipakai untuk ukur jarak lari. Moga aja sore nanti bisa aku pakai, moga-moga saja pilek aku menjadi agak mendingan.

Tidak semuanya perlu dibuktikan, enjoy aja
Jika melihat taget “25 tahun usia emas” yang aku tuliskan di cermin kaca dimana aku sering lihat wajah itemku, jelas jauh dari tercapai. Di usia ini aku seringkali buang waktu atau istilahnya “wasting time”. Lihat aku sampai sekarang aku belum pratesis apalagi sidang, ditambah dengan tulisan yang jarang-jarang, publikasi  boro-boro, atau pacar. Jauh betul kalo poin terakhir mah. Aku justru sering bertarung dengan pikiranku sendiri. Ini mungkin akibat negatif dari berfikir kalkulatif ala matematika, “Jika A maka B”. Nah, target-target yang kubuat juga terkesan dengan unsur kalkulatif yang kuat. Akhirnya aku jauh dari realistik. Yang aku targetkan jauh dari unsur kegembiraan. Ini menjadikan hari-hariku dipenuhi target-target yang menjemukan alih-alih menyenangkan. Saat naik gunung di Papandayan pada April 2016 lalu, pikiranku ada pada ujian Matematika Keuangan Internasional (MKI) yang aku ambil di Jurusan Matematika ITB. Saat aku liburan lebaran di rumah selama 2 minggu, aku kepikiran dengan tesis yang harus segera diselesaikan. Saat kerjakan tesis, aku kepikiran dengan pekerjaan pasca tesis. Ini artinya aku sulit fokus. Indikasi apa yang membuatku demikian, adalah karena kurang piknik.

Selama kuliah mengambil konsentrasi di bidang Ilmu Sosial yang masih nyrempet-nyrempet dengan ilmu keteknikan, aku semakin tahu banyak bahwa persoalan bangsa ini kompleks. Saking kompleksnya jadiin aku bingung setengah mati. Apalagi aku punya background “aktivis”.
Bayangkan saja, ketika ngelihat pejabat di Jakarta sana yang gak becus benerin kementerian, aku gak bisa apa-apa selain mengutuk lewan lisan dan jika ada waktu aku tulis lewat tulisan. Ini kan menyakitkan bagi aku. Jadinya penyelesaian persoalan secara langsung hanya bisa aku lihat dari Televisi atau media massa lainnya. Jelas ini menyakitkan. Mungkin aku telah terjangkiti sindrom “intelektual” yang mikirin persoalan tanpa diajak berembug untuk selesaikan persoalan. Maka, bisanya cuma bisa “maki-maki” di tulisan, bukan status FB, celetukan di twitter, dan medsos lain. Padahal buat satu tulisan saja, energinya gede banget. Aku pernah merasakan itu. Aku pernah dicritai salah seorang dosen muda jika satu dosen di FSRD biasa nulis sebelum subuh saat orang-orang pada tidur dengan menghabiskan waktu beberapa jam. Gila memang.

Sebenarnya menulis itu menyenangkan bagiku. Seringkali kadang dalam satu hari dua essay 800-an kata kubuat. Ya, nggak kayak dosen FSRD yang ambil waktu saat pra subuh. Aku sih normal-normal saja di pagi dan siang hari atau tidak terlalu malam. Tulisanku juga seringkali mengalir begitu saja biarpun ambil beberapa referensi. Jika ditanya, “Berat ya tulisanmu?”, bisa jadi sih. Tapi aku akui minimnya bacaan dan pengalaman membuat analisis di tulisanku kurang begitu tajam. Aku kira ini diakibatkan oleh kebosananku di ranah akademik. Aku memandang lingkungan akademik terkadang menjemukan. Aku seringkali melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri dosen-dosen administratif yang hanya kejar KUM alih-alih kembangkan keilmuan. Yang dipikirkan bukannya hal-hal terkait perbaikan melainkan projek. Ini kan menjengkelkan. Tapi di sana aku mulai menyadari bahwa dunia akademik seperti di kampusku masih jauh dari sifat egaliter yang diadopsi umumnya oleh  para intelektual. Aku masih harus hormat karena senioritas, bukan karena keilmuannya. Jengkel sih tapi apa boleh buat.

Nah, kondisi ketidakidealan ini seringkali terfikirkan dan jadikan aku stres. Mungkin karena pandanganku hitam-putih. Tapi untungnya aku menemukan hobi baru yaitu lari. Sudah lebih dari sebulan aku lari hampir setiap hari. Awalnya hanya lari 6 putaran, trus 6 putaran plus fitness, dan sekarang biasanya lebih dari 6 putaran. Aku semacam menemukan kedamaian di saat lari. Awalnya sih target-target saja tapi akhirnya nikmat juga. Aku juga lihat perubahan dalam postur tubuh dimana saat jalan terlihat agak gagah. Mungkin beberapa bulan lagi aku akan punya dada seperti Iko Uwais (hahaha, ngarep). Tapi intinya, lari membuatku asik. Apalagi saat beberapa minggu lalu aku dapetin buku Murakami dari Kineruku tentang memoir larinya, jadi lebih semangat lagi aku dalam berlari. Memang belum sih aku lari marathon kayak dia, tapi setidaknya lari beberapa putaran keliling lapangan fitness Teuku Umar bisa menyenangkan. Itu jauh lebih cukup aku kira.

Akhirnya (karena aku harus ngerjain yang lain), tulisan ini harus aku cukupi. Intinya di usia 26 nanti insyaAllah aku akan lulus S2 di bulan Januari 2017 dan setelah itu aku akan kerja dan mungkin akan dapat jodoh (yang terakhir ini menarik dibahas kapan-kapan). Aku belum ada bayangan ngambil S3 dalam waktu dekat, tapi yang paling penting adalah aku pengen tidak lagi di Bandung (juga Jakarta). Aku pengen muter-muter daerah lain (mungkin juga Luar Negeri). But your English must be improved. Gambar ditulisan ini aku pakai Nash-Alicia di film Beautiful Mind di saat mereka berdua pacaran. Menarik bagi aku karena Alicia jelaskan apa itu cinta. Aku kasih gambarannya sedikit : Cinta itu seperti alam semesta, tidak dapat dibuktikan hanya bisa dilihat tanda-tandanya saja.

Bandung, 19 Desember 2016

Wednesday, December 07, 2016

Sehat Tidak Perlu Mahal

Beruntung saya mengekos di kawasan perkampungan warga tengah-tengah kota Bandung, tepatnya di Sekeloa Selatan. Tak jauh dari lokasi saya terdapat pasar pagi di beberapa titik. Di situ saya seringkali beli buah, kadang apel hijau, apel merah, salak, jeruk, dan anggur merah. Harganya bisa dikatakan lebih murah dibandingkan di toko semacam Ind*maret atau Alf*mart. Sebagai contoh tadi pagi saya beli apel merah washington setengah kilo hanya 10 ribu rupiah. Lumayan dapat empat butir. Salak pondoh malah lebih murah, senin lalu (5/12) beli setengah kilo hanya 2.5 ribu. Tak hanya itu, terkadang saya minta sama penjualnya untuk cicip sebutir anggur merah, beliau pun mengizinkan. 

Selain pasar, kosan saya dekat dengan tempat olahraga umum. Salah satunya taman fitness yang lokasi di Jalan Teuku Umar di belakang Unpad Dipatiukur. Hampir setiap hari saya ke sana untuk lari minimal 6 putaran dan tentunya mencoba alat-alat fitness. Hampir dua bulan saya melakukan olahraga rutin di sana, awalnya hanya lari terus ketagihan coba alat-alat fitness. Taman ini awalnya kurang terawat namun kini sudah direnovasi, biarpun ada 2 dari alat fitness yang entah ke mana sekarang. Saking seringnya ke sini, saya hafal siapa-siapa yang berolahraga rutin di sini. Saya juga kenal preman dan penjual nasi kuning di sini. Terkadang pas olahraga saya dapat bonus dengan melihat perempuan cantik yang berolahraga juga. Ini semacam punya daya magis tersendiri untuk berolahraga lebih lama (hehe). Tapi biarpun demikian tidak sekalipun saya berani berkenalan mereka.
Track Jogging di taman Fitness 
Selain makan buah dan olahraga rutin (yang keduanya murah), beruntung Ibu kosan saya membuka warung dengan masakan semi Jawa. Masakannya cocok dengan lidah saya dan murah. Sebagai contoh ayam goreng sayur nasi hanya 10 ribu. Tak hanya itu terkadang Ibu kos membuat soto dan gado-gado yang rasanya enak juga. Selain makan di Ibu kos, saya juga sering beli lotek di kawasan PKL Haur Pancuh, seporsi hanya 10 ribu. Saya sudah kenal lama dengan nenek penjual lotek ini dan juga cucunya yang masih berusia SD. Lucu sekali cucunya, dia panggil saya "Om", wah terlihat tua sekali saya. Pas malam, selain makan nasi goreng di Pak Kumis di belokan Jalan Haurmekar, juga makan di warung cenghar dekat kosan saya dengan menu favorit soto. Terkadang pula makan di warung Tegal (warteg) di pengkolan jalan menuju jalan Titimplik di sebelah timur Monumen Perjuangan. Di sana seporsi urap, tempe orek, telor bulat, dan pisang hanya 10 ribu, murah sekali.

Artinya saya beruntung kosan di kawasan sekeloa selatan jika ditinjau dari asupan untuk hidup sehat. Bahwa saya tidak harus pergi ke gym, beli buah di supermarket, atau makan di restoran yang jelas tidak akan dipenuhi budget saya. Pelajaran ini semua adalah bersyukur atas apa itu jauh lebih penting dari pada harus menyesal dan meratapi nasib. Bersyukur itu diwujudkan dengan menuntaskan segala kewajiban yang dipunya, tidak menunda. 

Sebagai info tambahan, dari kemarin saya menikmati lagu Padi dan Rhoma Irama. Biar tidak populer di kalangan anak muda sekarang, saya senang saja karena lagu-lagunya penuh pelajaran hidup. 

Thursday, November 03, 2016

[OPINI] Berlomba-Lomba World Class University

Tidak asing bagi kalangan kampus akan istilah World Class University (WCU) yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Universitas Kelas Dunia. Banyak kalangan khususnya petinggi Perguruan Tinggi ternama di Indonesia mengangkat istilah itu sebagai label kampus yang dipimpinnya. Dari sinilah saya kemudian bertanya apa itu WCU ?. Beberapa tahun terakhir saya amati khususnya di kampus saya, Institut Teknologi Bandung, dimana saya telah belajar selama 7 tahun di sini, bahwa WCU dimaknai hanya sebatas peringkat kampus di beberapa instansi pemeringkat dunia seperti webometrics, akreditasi internasional untuk Program Studi, dan publikasi internasional. Artinya ini hanya masuk dalam tataran administratif. Sementara iklim pembelajaran di kampus tidak banyak berubah. Di sini timbul satu pertanyaan lagi, apakah dengan melakukan internasionalisasi lembaga (peringkat, akreditasi, dan publikasi) menjadikan suatu universitas patut disebut universitas kelas dunia ? Saya kira tidak semudah itu. 
 
Institut Teknologi Bandung (dok. Majalah Ganesha ITB)
Saya kira WCU tidak jauh berbeda dengan label lain yang seringkali kita dengar seperti Research University (RU) dan Entrepreneurial University (EU). Label-label ini seringkali dipakai universitas-universitas kita untuk mendongkrak pamornya di masyarakat. Harapannya banyak masyarakat yang kemudian tertarik masuk dan menjadi mahasiswa suatu universitas. Cara ini bagi kampus yang sudah punya nama seperti ITB, UI, dan UGM tidak banyak pengaruhnya karena tanpa promosi pun kampus-kampus ini kebanjiran calon mahasiswa di setiap tahunnya. Biarpun label itu tidak dibutuhkan dalam konteks promosi, namun realitanya kampus-kampus ini tetap menamai dirinya dengan label tersebut. Sebagai contoh ITB dalam periode kepengurusan Kadarsah Suryadi (2014-2019) melabeli ITB dengan Entrepreneurial University setelah sebelumnya di era Akhmaloka (2010-2014) dengan World Class University (WCU).

Akui Saja Teaching University

Nama WCU, RU, maupun EU merepresentasikan visi dan misi universitas, kemana univeritas ini akan dibawa. Setiap nama di atas memiliki filosofi masing-masing, jadi tidak ujug-ujug dengan memakai label itu langsung menjadikan pola kehidupan di universitas menjadi berubah. EU konon pertama kali dikenal di universitas-univeristas Amerika di awal abad-20 dimana universitas adalah partner strategis dari berbagai industri. Stanford University adalah mitra terdepan Silicon Valley yang melahirkan aneka perusahaan IT dunia seperti Microsoft dan Hewlett-Packard (HP). Baru kemudian setelah perang dingin, universitas-universitas di Amerika mengubah citranya dari EU menjadi RU. Pada masa ini, universitas berlomba-lomba melakukan riset dasar untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri. Investor terbesar riset tak lagi dunia industri melainkan pemerintah. Di masa ini, kita dapat melihat perkembangan keilmuan fundamental sangat masif seperti riset terkait atom. Sementara itu WCU hadir setelah EU dan RU hadir sebelumnya. Kampus-kampus luar negeri khususnya Barat yang telah settle dengan dunia riset baik yang orientasinya untuk industri maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri lambat laun entah melebeli dirinya sendiri atau dilabeli dengan sebutan World Class University (WCU). Artinya kampus-kampus tersebut tidak sibuk dengan promosi WCU dimana-mana, namun cukup dengan melakukan riset yang masif, dunia akan mengakui dengan sendirinya.

Lantas bagaimana dengan universitas di Indonesia ?. Riset (penelitian) dalam universitas kita belum menjadi suatu budaya. Artinya riset belum menyatu dalam diri civitas akademika khususnya dosen bahwa kegiatan pengajaran dan riset adalah satu kesatuan profesi dosen. Dosen tidak bisa mengajar saja melainkan harus juga melakukan riset. Definisi riset terbaru yang saya dapatkan datang dari salah dosen ITB bahwa riset dan publikasi adalah kesatuan yang utuh. Artinya di sini tidak boleh hanya meriset bertahun-tahun namun nihil publikasi. Biarpun saya masih bertanya-tanya apakah definisi riset dengan mengkaitkan dengan publikasi itu cocok karena bisa jadi ada dosen yang meneliti suatu objek/fenomena bertahun-tahun tanpa publikasi satu pun, lantas itu tidak dikatakan suatu riset ?. Nampaknya jika kita membahas ini, tulisan ini akan menjadi lebih panjang. Asumsikan kita sekarang memakai definisi riset ala dosen ITB itu, maka publikasi adalah parameter masif atau tidaknya riset suatu perguruan tinggi. Data scopus per 1 Agustus 2016 memperlihatkan bahwa jumlah publikasi 5 besar kampus penyumbang publikasi terbanyak di Indonesia (ITB,  UI, UGM, IPB, ITS) jika dijumlahkan seluruhnya masih kalah dengan satu universitas di Malaysia yaitu Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) (18537 : 24633). Dari data itu kita harus akui bahwa riset kita memang tidak masif.

Jadi jika tidak ada aktivitas riset secara masif, apa yang dilakukan universitas kita ? Tak lain adalah pengajaran. Pandangan masyarakat akan dosen umumnya pada tataran bahwa dosen itu tugasnya mengajar mahasiswa dari tidak bisa menjadi bisa, titik. Kita harus akui bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini univeristas kita tak banyak mengalami perubahan sebagai univeristas pengajaran (teaching university). Dengan mengakui identitas ini, baru kemudian kita dapat berfikir bagaimana universitas kita diarahkan menjadi RU, EU, atau bahkan WCU.

Pelan-Pelan Tapi Pasti

Semua orang menginginkan perubahan tak terkecuali dunia universitas. Setelah mengakui bahwa sejatinya universitas kita masih TU dan untuk  melangkah ke RU, EU, apalagi WCU harus menjadikan riset sebagai budaya, maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan dengan tepat riset itu apa, tidak sesederhana yang diungkapkan dosen ITB di atas. Definisi riset dijelaskan secara apik oleh Johanes Eka Priyatma di kolom Opini Kompas (27/9/2016) dimana Ia menawarkan gagasan jejaring aktor yang diambil dari Teori Jejaring Aktor (Actor-Network Theory/ANT). Melalalui teori ini dapat dijelaskan bahwa riset adalah masalah yang kompleks yang disana melibatkan aneka aktor baik manusia maupun benda yang dalam bahasa ANT disebut artifak. Dalam konteks riset di Perguruan Tinggi perlu diidentifikasi artifak-artifak penyusunnya seperti halnya siapa yang memanfaatkan riset, siapa yang mendanai riset, riset itu sendiri di bidang apa, pelaku riset, dan sebagainya.

Publikasi riset di jurnal internasional adalah satu sisi dari riset, maka jika hanya satu sisi yang diperhatikan tidak akan menciptakan budaya riset yang masif. Maka disini diperlukan sisi-sisi lain. Merujuk pada sejarah berbagai universitas di dunia bahwa sisi-sisi lain yang dimaksud adalah pengguna hasil riset (industri, masyarakat), pemberi dana riset (pemerintah, industri), pelaku riset (selain universitas lainnya juga periset dari lembaga lain serta mencakup juga kapabilitas pelaku riset), dan sebagainya. Sisi-sisi itu harus ditengok dan dijalin secara kontinyu sehingga dihasilkan hubungan yang harmonis. Dalam hal ini Kemenristekdikti diperlukan untuk menjalin sisi-sisi itu dengan pihak kampus. Jika dilihat dalam tataran makro, usaha ke arah ke sana jelas sangat berat karena dibutuhkan lintas institusi dan lintas kementerian, namun jika tidak segera dimulai harapan untuk menjadikan universitas kita menjadi RU, EU, atau bahkan WCU hanya akan tinggal harapan dan mimpi. Artinya di sini budaya riset di kampus kita selamanya tidak akan terjadi dan kampus kita akan selamanya sebagai kampus pengajaran.

Uruqul Nadhif Dzakiy, mahasiswa Magister Studi Pembangunan ITB

Saturday, October 01, 2016

[PUISI] Menulislah dalam Kesendirianmu


Akan tiba suatu masa di mana kita hanya ditemani laptop dan segelas kopi
Tiada tawa canda atau bahkan pertikaian kecil
Yang ada hanyalah sendiri dan menyediri
Dunia yang luas seolah hanya sebuah kamar kostan ukuran 1.5 x 3
Lamunan dan perandaian nyatanya justru membuat diri semakin jauh dari realita

Bunuhlah mimpi dan angan-anganmu !
Kutegapkan badan dan keluar melihat aneka macam orang
Ada dari mereka yang berjibaku mengais sampah untuk dapat hidup di hari itu
Ada juga SPG yang menawarkan rokok dengan tampilan seksi ala artis ibukota
Ada juga seorang anak muda yang mendiskusikan kebobrokan negara di sebuah kafe
Ada juga sekumpulan orang yang tanpa lelah menegakkan moral suatu kampung
Mengacalah pada mereka !

Aku yang terkungkung dalam lingkungan akademik kemudian merenung
Apakah aku hanya diam ?
Tak lama setelah perenunganku, ada pesan masuk
Hai Bung, menulislah ..  itulah bentuk perjuanganmu..
Pesan itu seolah tamparan di tengah pikiran kacau yang lama sekali pulih
Aku hidupkan jaringan internet, membuka blog dan sejenisnya
Aku lihat tulisanku di berbagai macam jenis media, sebagian sampah sebagian serius
Aku tersenyum-senyum sendiri

Semilir angin maghrib mengingatkanku pada sastrawan besar, Pramoedya namanya
Teringat pernyataannya, "Tulisanku adalah anak kandungku"
Aku membuka Microsoft Word dan memulai menulis
Menulislah dalam kesendirianmu
Bandung, 1 Oktober 2016  

Thursday, September 29, 2016

[MOMEN] Belajar Kehidupan dari Prau (2565 mdpl)

Berfoto bersama satu tim pendakian di Puncak Prau (dok. @made_adyatmika )
Selepas menghadiri akad dan resepsi salah satu teman saya, Hasti Asfarina, di Wonosobo pada sabtu (24/9), saya berserta tiga orang teman ; Ugun, Sofi, dan Made menuju kawasan pegunungan Prau di Dieng Wonosobo. Kami berangkat dari guest house pernikahan Hasti sekitar jam 15.00 WIB kemudian menuju jalan raya untuk naik angkot ke arah Dieng Wonosobo. Perjalanan dari Argopeni ke Dieng memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sepanjang perjalanan, hujan cukup deras turun dari langit.

Kami akhirnya tiba di pos pendakian ke Gunung Prau di Patak Banteng. Di sana, kami lakukan registrasi dan packing. Setelah barang-barang terkemas di carier dan daypack, kami keluar pos lakukan pemanasan dan berdoa. Selanjutnya memulai tracking menuju puncak Prau. Kami mendaki sekitar pukul 17.45 WIB dan di saat itu langit mendung dan suara azan maghrib bersautan. Hujan belum turun namun kami memakai rain coat untuk bejaga-jaga.

Menuju pos-1, kami melewati tangga beton yang juga merupakan jalan rumah warga sekitar. Kemudian melewati jalan berbatu kali yang tersusun rapi. Kami melihat hamparan kebun yang segar khas di daerah pegunungan. Tiba di pos-1, Ugun menyerahkan karcis registrasi dan di sana dicek oleh tiga orang petugas. Setelah clear, kami melanjutkan pendakian menuju pos-2. Jalan menanjak dengan anak tangga dari tanah yang dibatasi dengan pagar bambu dan juga kabel tebal sebagai pegangan para pendaki. Di sepanjang track kami dapati banyak warung yang menjajakan aneka makanan seperti gorengan, snack, minuman, dan juga tempat peminjaman alat pendakian seperti sleeping bag. Kami saat mampir di salah satu warung hanya numpang duduk saja.

Sebelum melewati pos-3, hujan mulai turun dengan deras. Kami melewati tanjakan yang cukup licin yang menerobos hutan yang tidak cukup lebat. Setelah melewati pos-3, kami melewati track tercuram. Kami harus jeli menancapkan alas kaki pada serabut akar yang kasar agar tidak terpeleset. Pada waktu itu saya sendiri tidak membawa alat penerangan seperti senter atau headlamp. Saya mengandalkan cahaya dari headlamp yang dibawa Sofi dan juga bergantian alat penerangan seperi saat saya memakai senter handphone tahan air punya Ugun dan juga headlamp milik Sofi. Bisa dikatakan perjalanan melewati tanjakan demi tanjakan untuk menuju puncak Prau sukses. Total waktu yang kami habiskan sepanjang perjalanan kurang lebih 2 jam 15 menit.

Tiba di puncak Prau, kami mendirikan tenda. Saat itu hujan masih turun namun tidak cukup deras. Ada dua tenda yang kami bangun ; tenda untuk 3 orang (Ugun, Made, dan saya), dan tenda khusus Sofi. Pendirian tenda tidak mengalami kendala, kecuali ada kendala kecil saat mendirikan tenda kapasitas satu orang untuk Sofi. Tenda ini bentuknya unik seperti prisma segi enam dengan tinggi yang tidak rata. Setelah tenda terbangun, kami makan malam bersama, kemudian lakukan sholat Isya, dan tidur. Tidur saya pada malam itu bisa dikatakan kurang begitu nyenyak. Sleeping bag bagian kaki saya basah. Ternyata biarpun sleeping bag sudah saya balut dengan plastik, nyatanya air tetap bisa tembus. Saya tebangun berkali-kali dan sempat mengubah posisi tidur.

Belajar Kehidupan

Esok harinya (25/9) sekitar jam 04.45 WIB, saya bangun. Ugun dan Made duluan duduk tegap. Tak lama setelah itu saya lakukan sholat subuh dan keluar tenda untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit (sunrise). Kami menuju suatu lapang luas di kawasan puncak Prau. Di sana ratusan orang berkumpul. Menurut petugas di Pos-1, pengunjung Prau di akhir pekan ini menurun tajam hanya 200-an orang. Biasanya 1000-an orang. Biarpun demikian tetap saja terlihat ramai. Kami mengambil gambar mulai foto personal, selfie, sampai wefie. Tak ketinggalan, beberapa dari kami juga ambil video. Dari puncak Prau kami dapat melihat pemandangan berjejaran tujuh gunung ; Ungaran, Slamet, Lawu, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro. Sembari ambil gambar dan menikmati udara segar pagi, kami menyaksikan matahari terbit.
Pemandangan dari Puncak Prau, saya bisa lihat 7 puncak gunung di sekitaran gunung ini (dok. @shaffiati)
Setelah puas melihat pemandangan puncak Prau di pagi yang sejuk, kami menuju tenda dan bersiap untuk membuat sarapan pagi. Kami memanaskan air terlebih dahulu untuk membuat kopi dan energen. Bagi saya, menyeruput kopi pada pagi hari di gunung adalah suatu kenikmatan. Suasana gunung yang alami dan sejuk ditambah perjuangan menuju lokasi camp adalah poin plus kenikmatan menyeruput segelas kopi. Sembari menunggu tanaknya nasi, kami pun ngobrol-ngobrol. Topiknya random, ngalor-ngidul, namun ini justru poinnya. Saya mendengarkan paparan cerita salah satu teman saya yang telah berpengalaman menjalin hubungan cinta selama lebih dari 2 tahun. Setiap detail yang terucap dari mulutnya, saya refleksikan dalam pengalaman yang pernah saya lampaui. Melalui mengobrol, saya mendapatkan ilmu tentang kehidupan dan ini yang membuat saya rindu untuk kembali menjejakan kaki ke gunung-gunung lainnya.

Sekitar jam 9.30 WIB, kami turun menuju pos registrasi dengan melewati track yang sama dengan saat mendaki. Dari pos-4 ke pos-3 kami harus bersabar karena banyaknya pendaki yang turun juga. Lebar track yang tidak terlalu luas menjadikan antrean menjadi panjang. Biarpun begitu, kami lewati dengan lancar. Kami tidak pernah berhenti untuk sekedar istirahat. Saat itu cuaca cerah. Saya hanya memakai bawahan rain coat untuk melapisi celana pendek yang saya kenakan. Sementara di bagian atasan, saya hanya memakai kaos oblong. Perjalanan turun memakan waktu kurang lebih 1, 5 jam. Dalam perjalanan turun, ada satu istilah yang muncul dari salah satu dari kami “air kehangatan”. Istilah ini menjadi pelengkap istilah “puncak kenikmatan” yang dipopulerkan oleh Ucup (anggota AKS) :p

Tetiba di pos registrasi, kami istirahat, mandi air hangat, membeli oleh-oleh ‘carica’, makan siang, packing, dan sekitar jam 15.00 WIB kurang menuju terminal Wonosobo untuk melakukan perjalanan panjang menuju Bandung. Sembari menunggu keberangkatan bus Sinar Jaya, kami bertemu Ita (anggota AKS) yang juga akan menuju ke Bandung dengan bus yang sama.  Bus berangkat sekitar pukul 18.00 WIB dari terminal. Akhirnya,  Sayonara Prau, Sayonara Wonosobo…

Bandung, 26 September 2016

Thursday, September 15, 2016

[OPINI] Perspektif Anak Muda

Semalam saya mendapatkan masukan yang sangat berarti dari Bu Teti Argo, dosen Teknik Planologi ITB. Pembahasan awalnya terkait Forum Group Discussion (FGD) yang akan kami adakan di jurusan, namun kemudian obrolan melebar. Bu Teti ceritakan pengalamanannya sebagai delegasi Indonesia di sustainable urbanization forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beliau terkagum dengan delegasi Amerika yang sangat detail dan rinci dalam kasus tertentu yang dibahas. Forum ini memberikan pelajaran yang luar biasa besar pada Bu Teti khususnya perihal diplomasi. Aspek ini jelas sangat penting dalam upaya menjalin pergaulan internasional.


Ada satu hal yang sangat penting dalam obrolan semalam yaitu posisi anak muda dalam persoalan nasional. Seringkali anak muda dalam menanggapi persoalan tidak pada perspektifnya. Ada bahkan pendapatnya seolah mewakili golongan tua. Sebagai contoh kasus Arcandra Tahar. Jika persoalan ini ditengok dalam perspektif anak muda, maka hal yang perlu diangkat adalah ketidakkonsistenan penegakan hukum di Indonesia. Kasus Arcandra memperlihatkan hilangnya komitmen Pemerintah atas Undang-Undang yang menjadi landasan menggerakkan roda pemerintahan. Indonesia tidak mengenal status kewarganegaraan ganda. Penegakan hukum yang pilih-pilih ini dampaknya jangka panjang. Bayangkan jika generasi muda sekarang menempati posisi orang-orang tua sekarang, Undang-Undang dengan gampang disingkirkan dalam penegakan hukum. Lantas negara ini mau dibawa ke mana ?

Adil

Adil secara sederhana berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam menanggapi persoalan kebangsaan, suara anak muda mengarah ke perjuangan kepentingannya. Kepentingan anak muda jelas yang memiliki implikasi dalam proses hidupnya. Bisa dalam wujud ekonomi, sosial-budaya, keamanan, dan sebagainya. Jangan berlagak bijak dengan seolah tidak berpihak pada manapun. Nantinya anak muda akan dikorbankan. Jika demikian yang terjadi, pada masa dimana anak muda berusia sama dengan orang tua sekarang tidak bisa apa-apa, rapuh. Sistem sudah menjadi hancur, kemampuan untuk mengubah bagi anak muda tidak ada. Ini kan berabe.

Tulisan ini adalah pengingat bagi saya khususnya dan anak muda pada umumnya bahwa dalam menanggapi persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, perlu mengangkat kepentingan anak muda di dalamnya. Dengan begitu solusi yang ditawarkan akan jelas, tidak sensasional, dan tepat sasaran. Selamat bergagas anak muda ! 

*) gambar diambil di www.kompasiana.com
Posted on Thursday, September 15, 2016 | Categories: ,

Friday, September 02, 2016

[OPINI] Menyoal Kenaikan Tarif Parkir ITB

Kamis kemarin (1/9/2016), saya membaca dari akun facebook beberapa mahasiswa ITB bahwa per 1 September 2016 tarif parkir ITB naik. Kenaikan tarif ini disertai dengan pergantian pengelola parkir yang semula ISS kini ganti. Kenaikan tarif ini menjadi persoalan karena kebijakan baru tersebut timbulkan penolakan dari sebagian mahasiswa, biarpun ada juga yang mendukung dan juga abstain. Persoalan ini saya kira masuk dalam domain ilmu studi pembangunan karena menimbulkan  implikasi yang tidak sederhana. Dalam tulisan ini saya akan mesoroti tiga hal ; gambaran persoalan, konsekuensi persoalan, dan rekomendasi. Harapannya tulisan ini menjadi bahan pembelajaran untuk mensikapi persoalan yang tengah berkembang di ITB ini.

Gambaran Persoalan

Sejak 1 September 2016 kemarin, penerapan kenaikan tarif parkir di lahan parkir kompleks kampus ITB Ganesha 10 diberlakukan. Lahan parkir yang dimaksud adalah kompleks parkiran Seni Rupa (SR) dan Teknik Sipil. Dari dua lahan parkir ini, costumer terbesarnya adalah kendaraan jenis motor atau roda dua. Pergantian tarif parkir ini diberlakukan oleh manajemen baru, bukan lagi ISS melainkan Auto Parking. Dari hasil potretan tarif yang dilaporkan salah satu mahasiswa, harga tarif motor per jamnya adalah Rp 1.000 dengan tarif maksimum Rp 5.000 sedangkan mobil adalah Rp 3.000 per jam dengan tarif maksimum Rp. 10.000 dengan masa perhitungan tarif dari jam 07.00-21.00 WIB. Di luar jam itu dikenakan tambahan tarif menginap di mana motor Rp 10.000 sementara mobil Rp 20.000.
Karcis baru manajemen Auto Parking (dok, teman)
Misalkan seorang mahasiswa  A memarkir motornya di parkiran tersebut pada jam 06.30 WIB dan pulang pada pukul 17.30 WIB, maka waktu parkir si A adalah 11 jam dengan 30 menit kena tarif menginap dan 10,5 jam kena tarif operasi. Implikasinya mahasiswa ini harus meembayar tarif parkir sebesar Rp 10.000 + Rp 5.000 = Rp 15.000. Tarif senilai itu juga akan dialami mahasiswa yang yang memarkirkan motornya jam 16.00 WIB dan pulang jam 21.30 WIB. Sementara itu, tarif dengan nilai yang lebih besar akan dialami mahasiswa yang menggunakan mobil.

Tarif parkir yang diatur sedemikian rinci ini nyatanya menimbulkan persoalan baik dari kalangan mahasiswa aktif ITB (khususnya S1) atau kalangan lain. Banyak kalangan yang merasa dirugikan atas kebijakan ini, biarpun ada juga yang bersikap mendukung juga abstain. Dari ketiga jenis kelompok penganggap persoalan ini yang menarik untuk disajikan dalam tulisan ini adalah kelompok yang kontra dengan kebijakan. Alasan yang dapat saya tangkap dari mereka yang kontra adalah : 1. Tarif motor yang baru dipandang terlalu besar, 2. Kekhawatiran dan konspirasi dibalik kenaikan tarif ini. Dari dua hal ini yang bagi saya manarik untuk dibahas adalah poin pertama bahwa tarif parkir di ITB terlalu besar.
Tarif parkir baru ITB yang menjadi viral di medsos
Sesuatu  disebut besar/kecil jika setidaknya ada yang diperbandingkan. Misalkan si X lebih besar badannya dibandingkan si Y. Faktanya memang si X massa badannya 80 kg, sementara si Y 79,875 kg. Artinya disini ada ukuran/parameter yang disepakati oleh publik. Dalam persoalan tarif parkir, di zaman ISS tarif parkir motor flat Rp 2.000 per hari, sedangkan pasca ISS (periode Auto Parking) bisa mencapai Rp. 15.000 per hari jika diasumsikan memakai perhitungan jam yang sama. Ini artinya pasca ISS tarif parkir ITB mengalami kenaikan 7,5 kali lipat. Jika memakai data historik, sebelum ISS tarif parkir ITB pernah menyentuh angka Rp 1.000 per sekali parkir. Jadi jika dipakai barisan berhingga dapat ditulis 1000, 2000, 15000. Dari kondisi pertama (1000) ke kondisi kedua (2000) kenaikannya dua kali, sedangkan dari kondisi kedua ke kondisi ketiga (15000) kenaikannya 7.5 kali. Faktor pengali (rasio) yang tidak fix (misal rasio = 2 kali) menjadikan barisan tersebut bukan merupakan barisan geometri. Saya menyebutnya barisan ini  tidak linear saja. Maka, ketidaklinearan kenaikan tarif ini sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa tarif baru ini relatif besar[1].

Konsekuensi persoalan

Tarif parkir baru yang relatif besar ini ternyata menimbulkan konsekuensi riil bagi orang yang tahu atas persoalan ini. Konsekuensi yang dapat kita lihat dengan jelas baik di dunia nyata maupun maya adalah penolakan. Penolakan dalam dunia nyata berwujud protes beberapa mahasiswa di gerbang depan ITB hari ini (2/9/2016). Mereka memarkir motornya tepat di gerbang depan. Ini disebut protes karena parkir di gerbang depan sejatinya tidak dibolehkan oleh satpam ITB. Sementara protes di dunia maya diwakili oleh beberapa mahasiswa dengan membuat meme, status, dan komentar di media sosial.
Mahasiswa parkir 'paksa' motor mereka di depan gerbang ITB (kiriman dari salah satu grup WA)
Karena adanya penolakan, maka atas dasar kemaslahatan bersama, kebijakan kenaikan tarif parkir sudah sepatutnya dikaji ulang. Peninjauan ulang ini akan menghasilkan setidaknya dua scenario : 1. Pihak ITB tetap memberlakukan kebijakan kenaikan tarif parkir, 2. Kebijakan kenaikan tarif parkir dibatalkan. Adapun untuk mencapai dua skenario ini pastinya akan melalui beberapa proses yang cukup kompleks seperti penolakan (demonstrasi) langsung seperti pada hari ini, audiensi beberapa mahasiswa dengan pihak rektorat, atau pertentengan-pertentangan opini di media sosial. Proses-proses yang ada ini akan meredam jika sudah muncul pernyataan fix dan mengikat dari pihak rektorat terkait kebijakan ini.

Menarik untuk digambarkan lebih jelas terkait dua skenario yang muncul nantinya. Pertama, pihak ITB tetap memberlakukan kebijakan kenaikan tarif. Ada beberapa implikasi atas skenario ini ; 1. Jumlah pemarkir baik mobil/motor di lahan parkir ITB bisa tetap atau bahkan berubah (naik/turun), 2. Munculnya alternatif-alternatif parkiran di sekitar ITB seperti parkir liar di Jalan Ganesha, Gelapnyawang, dlsb., 3. Banyak mahasiswa yang ke kampus dengan berkendara angkot/jalan kaki, 4. Konsekuensi intangible seperti semakin sepinya mahasiswa yang beraktivitas di unit/himpunan, malas kuliah, kongkalikong dengan satpam untuk bisa masukkan motor/mobil ke dalam kampus, dlsb. Kedua, kebijakan kenaikan tarif parkir dibatalkan. Implikasi dari skenario ini setidaknya ada beberapa hal : 1. Pola parkir mahasiswa dan elemen-elemen lain di lingkungan lTB tetap , 2. Spot-spot parkir liar di lingkungan ITB tetap bahkan meluas (fakta : jumlah keluarga besar ITB naik setiap tahunnya), 3. Lain-lain seperti poin 3 dan 4 pada skenario pertama. Dari beberapa konsekuensi dari dua skenario di atas, irisan yang patut disoroti adalah poin satu dan dua yakni : jumlah pemarkir mobil/motor di parkiran ITB dan fenomena parkir liar. Mengapa ? Fenomena ini riil, mudah dibuktikan dengan melihat langsung di lapangan.

Rekomendasi Kebijakan

Mempertahankan/merevisi kebijkan tarif parkir di lingkungan ITB Ganesha akan tetap menghasilkan implikasi seperti saya sebutkan di atas. Saya belum pernah mendengar dari pihak rektorat ITB terkait alasan pemberlakuan kebijakan ini. Jika pun saya mendengar, beberapa alasan seperti penurunan jumlah kendaran bermotor di lingkungan iTB dan juga agar ITB go green dengan naik angkot dan jalan kaki menjadi keinginan beberapa pihak (spesifiknya saya tidak tahu) agar ITB menjadi kampus yang lebih nyaman. Namun, sampai saat ini saya belum pernah membaca dokumen bagaimana mencapai dua alasan tersebut. Saya pernah mendengar desas-desus bahwa akan dibangun tempat parkir baru dengan sistem bertingkat dan juga terowongan (basement) di beberapa spot di ITB namun nyatanya sampai sekarang belum ada.

Atas dasar itulah saya merekomendasikan kepada pihak rektorat ITB selaku pengambil kebijakan untuk melakukan studi menyeluruh terkait persoalan parkir ini. Saya sarankan beberapa cara berikut : 1. Adakan riset yang dibiayai oleh LPPM atau pihak lain seperti LPDP/Dikti terkait persoalan parkir ini seperti memberikan mandat pada studi pembangunan ITB untuk mengkaji dengan pendekatan sistem/jaringan aktor atau dengan matematika ITB untuk menganalisis fenomena ini dengan pendekatan optimisasi dan statistik atau bahkan dengan SBM/Arsitektur/FSRD melalui pendekatan inovasi yang inklusif. Studi yang dilakukan ini adalah untuk menunjukkan implikasi-implikasi yang mungkin muncul  dari skenario yang saya jelaskan di atas, 2. Jika sudah ada kajian yang dipandang menyeluruh dari pihak rektorat jangan sungkan untuk menjelaskan kepada khalayak ITB untuk selanjutnya diberikan masukan. Kajian yang dimaksud bukan suatu yang final melainkan ada potensi perubahan. Langkah ini tak lain sebagai wujud pembelajaran bersama di lingkungan ITB sehingga persoalan konflik seperti ini tidak terjadi.

Sampai sekarang saya belum mendengar dan melihat bahwa telah ada dua hal seperti saya sarankan di atas. Persoalan parkiran dari sejak saya masuk ITB (2009) sampai sekarang nyatanya belum selesai. Ini artinya ITB belum berhasil mengatasi manajemen parkir yang menurut beberapa pihak merupakan masalah ringan (padahal nyatanya kompleks betul). Atas dasar itulah, saya sarankan kepada pihak Rektorat ITB untuk mempertimbangkan kembali kebijakan kenaikan tarif parkir tersebut demi kemaslahatan bersama dan juga melakukan  upaya penyelesaian yang serius atas persoalan parkir ini. Semoga kita tetap terbuka untuk memandang masalah secara jernih dan tuntas. Salam Ganesha !



[1] Saya berpotensi menghilangkan setidaknya dua faktor ; Pertama, jangka waktu dari suku pertama barisan ke suku kedua dan kemudian dari suku kedua ke suku ketiga bisa jadi tidak tetap (misal 3 tahun). Kedua, saya mengabaikan parameter inflasi di mana bisa jadi nilai rill uang tidak terwakili dalam nominal yang tertera dalam uang tersebut. 

Catatan : Tulisan serupa saya publikasikan di https://medium.com/@uruqulnadhif/menyoal-kenaikan-tarif-parkir-itb-45ab5309836a#.9ycmdvrtx

Sunday, August 28, 2016

[OPINI] Anak Muda dan Tantangan di Era Medsos

Source : www.atozsearch.info
Jum'at lalu (26/8) dalam diskusi Diskursus Salman dibahas terkait kondisi manusia Indonesia hari ini, zaman informasi. Diskusi dipandu oleh Kang Pay dari FSRD ITB. Dalam paparannya, umumnya orang Indonesia gunakan internet untuk bermedsos, sementara beberapa negara Asia Tenggara lain seperti Singapura dan Malaysia gunakan internet pertama untuk buka email. Temuan ini menjadi pertanda bahwa media sosial (medsos) merupakan hal yang cukup melekat dalam kehidupan orang Indonesia, khususnya anak muda. Dalam survey yang disajikan Kang Pay umumnya pengguna internet Indonesia adalah anak muda usia 25 tahun ke bawah. 

Atas dasar temuan di atas, banyak pihak khususnya para penjaga nilai (sebagai contoh pemikir kebudayaan) merasa resah atas kondisi anak muda yang seolah terhanyut dengan medsos ini. Banyak anak muda yang tidak memiliki determinasi (floating), pintas (instan) dalam bertindak, sulit fokus, dan kurang percaya diri. Jika diperas lagi, anak muda kehilangan nilai (value) dan mudah terseret akan arus. Dalam konteks individu anak muda ini mungkin tidak akan terasa karena Ia merasa senang ketika foto hasil unggahannya di Instagram, Path, dan Facebook misalnya dapat 'like' sekian ratus orang. Atau beberapa postingannya mendapat 'like' and 'share' dari banyak orang. Anak muda seperti itu seolah mendapatkan justifikasi bahwa apa yang dia lakukan benar, sementara para 'likers' dan 'sharer' juga mendapat kebenaran dari orang yang dianggapnya memberikan suatu pendapat atas suatu persoalan. Di sini, kebenaran seolah bergeser dari kaum cendekia (yang umumnya karyanya berupa buku-buku) ke kaum populis yang terkenal bukan karena track record karya fenomenalnya yang diakui oleh sangat banyak lapisan masyarakat.

Sampai saat ini belum ada kaum cendekia Indonesia yang mengulas secara detail perihal kondisi di atas dengan menawarkan strategi kebudayaan yang kontekstual. Beberapa waktu lalu Pak Yasraf mengatakan bahwa kita kudu buat satu karya yang menjelaskan manusia Indonesia hari ini. Buku "Manusia Indonesia" yang dibuat Mohtar Lubis dan juga di era sebelumnya Koetjaningrat relevan pada zamannya namun bukan saat ini. Saya kira apa yang dikatakan Pak Yasraf betul. Namun perlu dilihat juga, para pemikir kebudayaan sekarang umumnya masih menggunakan paradigma lama sehingga apa yang diwejangkan kurang begitu menyentuh jantung realitas.Sebagai contoh banyak pemikir kebudayaan yang hanya menyajikan teori-teori sosial kebudayaan Barat namun kurang berfikir independen dengan menyingkap realitas kebangsaan yang utuh. Saya kira ini PR besar bagi Pak Yasraf dan kawan-kawan.

Tren Startup

Pada hari kemerdekaan lalu (17/8/2016), saat makan di warung Jawa tak jauh dari FKG Unpad, saya lihat paparan menarik dari budayawan Radhar Panca Dahana. Beliau katakan bahwa tantangan anak muda hari ini jauh lebih berat dibandingkan anak muda pada zamannya. Mereka saat ini dihadapkan pada dunia yang penuh dengan kuasa kaum tua di berbagai sektor kehidupan. Para orang tua ini umumnya telah menutup kantong kreativitas anak muda sehingga tidak bisa berkutik. Satu celah yang belum terlalu disentuh oleh orang tua adalah dunia maya (internet). Ditarik di sini ekonomi adalah bisnis startup. Hari ini seolah hanya dunia tersebut yang mampu memberikan ruang lebih bagi anak muda untuk berkreativitas lebih jauh. Kita hari ini bisa melihat hasil dari kretivitas mereka seperti munculnya Aplikasi android. Dunia startup ini perlu ditelusuri apakah sejatinya itu merupakan dunia yang kokoh untuk pengembangan usaha ?.

Di Indonesia jika saya amati, perkembangan banyak startup di bidang IT kurang dilandasi dengan visi yang solid. Banyak anak muda yang membuat bisnis jenis itu karena ikut-ikutan. Munculnya Go-Jek disusul dengan munculnya aplikasi yang serupa. Artinya di sini, kreativitas yang ada pada anak muda tidak original, tidak dengan landasan pengetahuan yang kokoh. Dosen saya pada semalam (27/8) katakan bahwa para anak muda yang bergelut di situ hanya mengisi batas luar (periphery) dari pengembangan pengetahuan (dalam hal ini IT). Mereka tidak menusuk pada jantung terdalam dalam pengembangan IT. Jika benar-benar dalam pengembangan IT, maka level permainannya tidak sekedar aplikasi android melainkan operating system atau sekarang seperti Artificial Intelligence (AI) yang sedang dikembangkan Barat. Artinya disini bisnis yang padat pengetahuan. Jika ditarik lagi, bisnis yang menjembatani pengetahuan yang diajarkan di kampus. Contoh selain IT yang saya tahu yakni teknologi membran yang sedang dikembangkan I Gede Wenten. Saya tidak kontra dengan mereka yang bergelut di dunia startup, namun justru sangat berbangga kepada teman-teman saya yang mengisi bidang itu. Bangganya saya, mereka dapat maju di tengah infrastruktur yang kurang memandai di Indonesia. Bagi saya mereka pejuang (hero) di era saat ini. Tinggal tunggu waktu, kapan kita dapat kembangkan IT yang mengarah ke jantung landasan dasarnya. Semoga saja tidak lama. 

Monday, August 22, 2016

Punya Akun Instagram

Akhirnya diri ini tergoda juga untuk membuat akun instagram. Saya mikirnya asyik juga sharing foto-foto pengalaman ke khalayak. Dulunya sih tidak minat karena khawatir buang-buang waktu, facebook dan twitter cukuplah. Ditambah lagi dengan WhatsApp yang sekarang sudah mencapai lebih dari 30 grup (estimasi). Itu bagi saya menghabiskan waktu banget. Tapi itu semua tergantung orangnya kok, kalo bisa kendalikan diri kan tidak masalah ? Hehe

Kemarin (21/8), sembari nonton anak muda main bola di sebuah lapangan kompleks Taman Fitness Teuku Umar Bandung, saya unduh aplikasi instagram di Playstore. Di sana tersedia wifi gratis dari Pemkot Bandung. Setelah instalasi, saya buat akun. Postingan pertama adalah gambar anak-anak muda main bola. Saya gunakan tagar #anakmuda #sepakbola #tarkam. Beberapa pengguna instagram like dan komen. Yang pertamakali komen adalah Julia dari UPI. Dia malah nanyain keadaan saya, bukan foto. hehe. Disusul dengan PM dari adik saya yang isinya "ngeledek" saya pake IG baru. Disusul komentar dari Andre "AKS". Adapun yang nge-like foto saya beberapa orang. Nah, ternyata saya posting dulu baru ganti profil. Saya pilih foto jepretan Mila yg gambarnya saya sedang merentangkan tangan ke atas dengan mimik muka bebas menikmati keindahan alam di Camp pendakian Gunung Sumbing. Saya beri judul foto saya itu "Me and Freedom".

Di awal pembuatan akun ini, saya follow secara random dengan mengikuti step yang sudah "template" oleh admin IG. Awalnya lebih dari 600 akun saya ikuti trus sekarang tinggal 500-an karena beberapa saya unfollow. Saya tidak tahu kok bisa sebanyak itu saya "following". Sampai tulisan ini diturunkan ada 96 follower saya. Saya tidak terlalu memperdulikannya sih, hehe. Toh, intinya akun ini untuk bersenang-senang saja :). Nah, pas nungguin antrian costumer service Plaza Telkom Supratman tadi, saya sempat posting lagi. Kali ini isinya tentang film "The Man Who Knew Infinity" yang saya tonton semalam. Ada sekitar 8 orang yang nge-like. Finally, will you be selegram ? I hope not.

Sunday, August 21, 2016

[RESENSI FILM] The Man Who Knew Infinity

Barusan sekali saya selesai nonton film briografis yang menceritakan perjalanan intelektual matematikawan India, Srinivasa Ramanunjan. Judul lengkap film ini adalah "The Man Who Knew Infinity” dan bisa Anda secara online di link http://layarkaca21.tv/man-knew-infinity-2016/. Kecerdasan Ramanujan (dalam film diperankan Dev Patel) terlihat saat Ia menjadi seorang pegawai sebagai juru hitung di sebuah departemen milik kolonial Inggris. Di sana ada seorang India yang melihat kecerdasan Ramanunjan. Hasil kerjaan Ramanunjan dikirimkannya ke Trinity College, Cambridge, kepada seorang matematikawan terkemuka G.H. Hardy. Surat balasan Hardy diterima Ramanunjan yang isinya mempersilahkan matematikawan otodidak India ini untuk bergabung di sana.

Sesampai di Trinity, Ramanunjan disuruh oleh Hardy untuk membuktikan teorema yang berhasil dipecahkannya. Ramanunjan kesal dengan anjuran Hardy pada awalnya. Ia berdalih bahwa rumus-rumus matematika yang dipecahkannya adalah hasil kontempelasi yang tak harus dibuktikan. Ia seperti seni. Hardy yang berlatarbelakang matematika pun tidak puas dengan sikap Ramanunjan sampai terjadi perdebatan hebat pada suatu malam. Ramanunjan pasca kejadian ini justru membuktikan teoremanya dengan apik sampai Hardy dibuat terpukau. Satu teorema hebat yang dipecahkan Ramanunjan adalah teori tentang partisi. Ramanunjan pergi ke Cambridge tujuan awalnya adalah untuk publikasi. Secara diam-diam, Hardy mempublikasikan karya Ramanunjan dengan bantuannya yakni di hal pembuktian. Selanjutnya Ramanunjan dapat membuktikan sendiri (teori partisi) dan ini satu hal yang menjadikannya diterima sebagai fellow Royal Society.

Penemuan hebat Ramanunjan terjadi selain karena peran G.H. Hardy juga Littlewood dan MacMahon (ahli kobinatorika di Trinity College). Namun sayang sekali setahun setelah Ramanunjan menjadi anggota Royal Society, Ia meninggal dunia. Saat itu matematikawan India ini berusia 32 Tahun. Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa ilmu pengetahuan datang dari aneka macam orang, baik yang yang mengenyam pendidikan akademik di kampus maupun tidak. Ramanunjan adalah salah satu contoh seorang matematikawan yang tidak berpendidikan formal. Biarpun begitu, Ia sejajar dengan Bethoven, sang mahaguru di bidang musik klasik. Hardy dalam film menjajarkan nama Ramanunjan dengan Isaac Newton. Karya Ramanunjan yang dipajang di Trinity College pada 100 tahun kemudian dipakai untuk menganalisis lubang hitam (black hole). 

*) sumber gambar geeknewsnetwork.net

[RESENSI] Meng-IDEAL-kan Manusia ITB

Saya seolah dibawah ke ranah mahasiswa ITB 70-an dimana orang-orangnya penuh dengan ambisi dan gairah menjadi individu yang unggul di bidangnya masing-masing. Buku biru karangan Cardiyan H.I.S ini sedikit banyak gambarkan kondisi ITB saat itu. Orang-orang ITB baik mahasiswa maupun alumninya dikenal Percaya Diri yang tak ketulungan (baca : sombong). Ini tercermin di setiap penyambutan mahasiswa baru dengan spanduk “Selamat Datang Putera Puteri Indonesia Terbaik”. Selain itu, masyarakat ITB umumnya adalah lulusan terbaik dari SMA-SMA-nya. Di samping itu, di ITB sendiri dosennya juga banyak memberikan sentilan “Terbaik” kepada para mahasiswa. Atas dasar inilah, banyak dari mahasiswa ITB saat itu lantang berbicara di depan umum untuk sekedar demonstrasi dan sejenisnya. Tak jarang, mahasiswa ITB memimpin aneka aksi yang dilakukan mahasiswa Indonesia.

Buku ini selain menyingkap kondisi ITB saat itu juga memberikan alternatif rekomendasi bagaimana manusia ITB seharusnya. Menurut penulis, manusia ITB seharusnya memiliki watak wirausaha (entrepreneurship kalo sekarang) yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Untuk mencapainya dibututuhkan iklim pendidikan yang pas seperti halnya menjalin kerjasama yang solid dengan industri-industri dengan melibatkan mahasiswa selama aktif kuliah. Dalam ranah yang lebih luas, dibutuhkan duplikasi ITB di daerah-daerah lain agar distribusi kualitas pendidikan tinggi di bidang iptek merata. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki banyak pengusaha di bidang industri strategis, tdk sekadar UKM yang tidak memiliki akar pengetahuan yg solid.

Kritik akan Isi Buku

Buku ini terlalu mengasumsikan pendidikan ITB sudah sangat ideal. Saya kira penulis terlalu bias ITB. Penulis juga kurang begitu menggali seberapa jauh kontribusi ITB (termasuk alumninya) terhadap pengembangan Iptek di tanah air disamping disajikan posisi ITB dan alumni-alumninya. Selain itu, buku ini kurang menjawab tantangan-tantangan mendasar yang akan dihadapi manusia ITB di abad 21. Saya kira mungkin karena buku ini ditulis sebelum milenium jadi kurang bisa menerka apa yang akan terjadi di abad tersebut. Terakhir, penulis terlalu optimis bahwa Indonesia kedepan (2045) akan maju dan kontribusi ITB atas hal ini sangat besar. Di sini, penulis kurang menyadari bahwa struktur industri dan iklim usaha di Indonesia kurang begitu memperhatikan pengembangan Iptek. Penulis juga seringkali mengambil sampel perusahaan top Amerika dan Jepang (umumnya IT dan elektronika), padahal jika memakai sampel Indonesia industri yang relevan justru di bidang kelautan dan pertanian.

Saturday, August 20, 2016

[MOMEN] Lomba Masak Agustusan 2016

Malam ini begitu spesial bagi warga  RW 15 Sekeloa Selatan Kelurahan Lebak Gede Coblong Bandung. Pasalnya diadakan lomba masak untuk peringati Hari Kemerdekaan RI tahun ini. Istilahnya kalo di kampung saya, "Agustusan". Lomba ini menjadi menarik karena setiap RT mengirimkan 1-2 wakilnya di lomba ini biarpun RT saya, RT 04, berdasarkan penuturan Ibu kostan tidak ada perwakilannya. Terhitung ada 10 tim di lomba ini dengan 2 ibu-ibu per tim.

Lomba ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Agustusan RW setempat yang beberapa lombanya sudah dimulai dari 14 Agustus lalu. Acara ini sendiri dipanitiai oleh anak-anak muda setempat sekitar 20-an orang yang pada malam ini berseragam kaos biru. Rata-rata mereka berusia SMP/SMA. Acara ini diadakan di depan Pos Kamling RW 15 yang letaknya tepat di depan kostan saya. Sementara itu, menu masakan dipilih oleh panitia yaitu nasi goreng. Sampai tulisan ini saya tulis saat ini, ada dua tim yg menyerahkan hasil masakannya di meja dewan juri. Saya lihat ada 5 orang dewan juri yang salah satunya adalah Bapak DKM yang biasanya mengimami sholat.

Bentar lagi waktu lomba akan habis. Musik keroncong yang dinyanyikan oleh Bapak-Bapak berusia sekitar 50-an tahun menjadikan suasana semakin ramai. Anak-anak kecil memaksa masuk lokasi perlombaan yang semula dibatasi oleh tali rafia. Bentar lagi waktu lomba akan habis. Terlihat 7 tim sudah menyerahkan hasil masakan. Semakin lama semakin ramai. Tua-muda mengeluarkan kamera handphone mereka untuk mendomentasikan acara. Menurut pembawa acara, penilaian akan segera dimulai. Pemenang akan dihadiahi Trophy dan bingkisan entah apa isinya (katanya sih sembako). Hihihi. Sekarang, giliran Bu Iis yang memandu dengan lagu dangdut. "Digoyang.. digoyang..". Ada satu lagi warga yang nyanyi sekarang. Kata Ibu kost dari Lamongan katanya. "Joged Maaang ...".

Menjelang pengumuman pemenang, suasana semakin ramai. Warga berkumpul di sekitar meja juri yang di sana berjajaran hasil masakan dari para peserta. Saya kira tak ada dag-dig-dug, wong hampir di sepanjang acara diiringi aneka musik yang dibawakan bergantian dari perwakilan RT. Hehehe. Tiba saatnya dewan juri mengumumkan hasil perlombaan. Bapak DKM mengambil microphone dan menyampaikan hasil penilaian dari kelima juri. Jreeeng, Juara 3 menjadi milik Tim 6, Juara 2 Tim 8, dan Juara 1 Tim 10 dari RT 6 yang berhak mendapatkan Trophy bergilir dari panitia. Secara berturut-turut piala dan hadiah dibagikan oleh perwakilan Juri. Ini menjadi pertanda bahwa acara lomba masak nasgor berakhir. Sementara warga setempat berhamburan meninggalkan lokasi, di saat itulah panitia menyerbu nasgor yang dibuat oleh para peserta. "Asiik.. goyang.. Janji.. Janji..Pilih-pilih saja.. Asiik.. goyang Maang.. ", karaokean dangdut masih berlanjut sampai berita ini ditulis :)