Friday, January 19, 2018

Kelihatan Sibuk = Bekerja ?

Ada benernya apa yang dikatakan Fahri Hamzah di ILC beberapa waktu lalu bahwa kita dalam bernegara tidak mencoba benar-benar menyesuaikan persoalan. Jauh sebelum Fahri, Cak Nun (Emha Ainun Najib) mengingatkan dalam sebuah wawancara dengan TV lokal di Jawa Tengah bahwa persoalan mendasar bangsa ini terletak pada salah pikir yang konsekuensinya organisasi negara/Pemerintah menjadi sukar dibedakan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memang telah dibentuk tapi hadirnya instansi tersebut tidak menjadikan korupsi di negeri ini habis karena akar korupsi tidak benar-benar diberantas.

Konteks yang lebih sempit seperti halnya organisasi sebuah Pendidikan Tinggi juga tak berbeda dengan kondisi di tingkat negara. Pimpinan kampus sibuk diundang di mana-mana : seminar, Pemerintah, Pemda, dan sebagainya tapi persoalan dasar kampus seperti halnya pelayanan pada masyarakat tak juga digarap dengan benar. Di persoalan akademik, tidak pernah dipikirkan nilai guna dari sebuah penelitian selain hanya meningkatkan kredit bagi dosen melalui publikasi. Kampus ibarat kapal besar yang padat akan penumpang tapi tak jelas mau berlayar ke mana. Terkait ini masalah mahzab yang diadopsi civitas khususnya pimpinan kampus tapi kembali ke hakikat didirikannya kampus adalah sebagai bagian untuk berkontribusi pada pembangunan fisik dan non-fisik sebuah negara dan tak terbatas pada lulusannya semata.

Bekerja itu Menyelesaikan Persoalan

Persoalan itu tingkat kesulitannya tentunya bermacam-macam namun tetap memiliki waktu standar untuk diselesaikan, makanya di sana ada istilah jam kerja dan idealnya atas hal tersebut kita dibayar. Persoalan ini juga unik makanya ada profesi macam-macam. Tidak mungkin saya seorang yang pernah studi di bidang pembangunan dan kebijakan harus memberi resep bagi orang yang sakit gigi !

Nah persoalan yang terjadi seringkali orang bekerja tidak jelas akan menyelesaikan persoalan apa. Semuanya dikerjakan sampai Ia juga bingung apa capaian dari sekian lama Ia bekerja. Atau Ia mengerjakan hal yang sebenarnya tidak harus dikerjakan. Padahal dalam bekerja kita dibatasi waktu. Kondisi demikian seringkali ada di lingkungan kita. Karena ini menjadi jamak jadi biasa saja kita memandangnya.

Pesan yang saya sampaikan di sini adalah bahwa bekerja perlu kita tempatkan dalam upaya menyelesaikan persoalan. Tak peduli waktu menjadi lebih singkat asal persoalan tuntas. Jika jam waktu bekerja dalam sehari adalah 8 jam dan kita selesaikan persoalan perusahaan/instansi kita bekerja hanya 5 jam, maka 3 jam sisa kita bisa gunakan untuk bermain/istirahat. Kondisi demikian bisa jadi tidak terjadi dalam pekerjaan servis/administratif yang datangnya persoalan seringkali tiba-tiba. Tapi logika demikian masi bisa diterapkan kan?

Friday, January 05, 2018

Jalan-Jalan ke Malang

Tak hanya Malang sebenarnya kota wisata tapi juga Batu, bahkan di kota tersebut objek wisata utama yang kami kunjungi. Bermula dari malam kemarin (3/1), sekitar jam 23, kami (saya, adik, kakak dan suami kakak) menuju ke Alon-Alon Batu dari penginapan di suatu Guest House di kawasan Soekarno Hatta kota Malang. Di sana, kami menikmati kuliner khas. Saya cicipi ketan susu durian dan wedang legenda. Konon kedai yang menjual ini sangat terkenal dan sudah dikenal sejak 1960an. Namanya Ketan Legenda, tolong dicatat kalo sedang di Batu !
Ketan dan wedang legenda
Pecel Kawi
Esok harinya kami menuju kawasan jalan Kawi untuk menikmati pecel Kawi yang juga legenda. Pecelnya cukup manis tapi kombinasi di menunya pas, apalagi ditambah dengan bergedel tempe. Minuman dengan teh manis hangat sudah pas, rasanya serupa dengan teh di Jogja. Setelah perut keisi langsung menuju Jatim Park 2 di kota Batu. Ternyata Jatim Park di Batu ada tiga, Jatim Park 3 paling baru - belum sepenuhnya jadi tapi sudah dibuka ke publik. Jatim Park 2 lebih pas disebut wahana binatang di mana selain di sana ada museum satwa juga ada kebun binatang (Batu Secret Zoo).
Berfoto dengan burung
Setelah tiket kebeli, saya jalan-jalan ama adik sementara kakak sama suaminya. Kesan pertama pas masuk museum satwa, kami terlalu tua untuk berkunjung ke tempat ini. Wahana ini rasanya cocok buat anak-anak untuk edukasi (lalu saya bayangin anterin anak sendiri ke sana sama istri yang entah siapa). Anda pasti bisa membayangkan di museum satwa koleksinya apa saja, saya kasi spoiler : mamalia, reptil, ikan, burung berbagai jenis dan negara. Satu fosil yang cukup berkesan (setidaknya yang saya jadikan tulisan di sini) adalah fosil paus. Itu diletakin di katagori ikan, "Masak burung?". Selebihnya menurut saya biasa saja.

Setelah menunggu kakak yang tak juga keluar dari museum karena berduaan foto-foto, aku ama adik menuju Batu Secret Zoo. Di sini ternyata lebih menarik karena hewannya hidup. Koleksinya lumayan untuk sekelas mini kebon binatang. Tapi tetap paling pas untuk berkunjung ke sini anak-anak dengan didampingi ortunya. Setidaknya ada tiga hewan yang paling saya ingat : monyet mini yang katanya terkecil di dunia, burung kakaktua (nampaknya sih itu) yang sama mereka kami foto, dan jerapah (adik sempat kasi makan sang jerapah 9 tahun). Di spot harimau merah dan putih kami sempat lihat mereka dikasi makan ama pengunjung dan juga di spot kudanil.
wefie di bagian depan Jatim Park 2
Ada yang menarik saat perjalanan di kawasan zoo ini ini adalah bertemunya saya dengan The Last Mohicans zaman now. Pas lagi istirahat minum, ada pertunjukan dari orang Bolivia (kata mbak yang jual marchandise) dengan lagu khas daerah mereka. Saat memberikan lagu the last of the mohicans tertuju memori saya ke tesis. Judul lagu tersebut rencananya akan menjadi judul tesis saya dulu tapi akhirnya tidak jadi. Selanjutnya kami lanjutkan perjalanan sampai tiba di pintu exit kami ke toilet lalu mushola.
Tahu campur Pak De Bola
Kala itu hujan turun tapi tidak nampak deras. Kami menunggu kakak yang masi di dalam wahana. Setelah ketemu mereka tak lama kami lakukan foto di depan tempat wisata dan pulang. Kami tidak langsung pulang tapi ke Pak De Bola yang jualan Tahu Campur di jalan kaliurang. Kami menyantap semangkuk tahu campur rasa bayar alias gratis, mantab bener. Selanjutnya kami menuju pasar lawang untuk oleh-oleh dan pulang ke Lamongan. Di jalan, masi di Malang, kami nyantap durian. Tadi di Lawang juga beli durian disamping apel dan alpukat. Kakak beli ubi (entah cilembu atau jenis lain, warnanya coklat cerah) dan juga petai.
Suasana Pasar Lawang
Mungkin karena mabok durian, di rest area kebomas kami rehat sejenak sekitar sejam kemudian langsung cau ke Lamongan. Lumayan, kali ini kami bisa liburan bareng di posisi kakak sedang hamil empat bulan. Sebenarnya saya ama adik pengen ke pantai Selatan Malang (pantai tiga warna bagus !) tapi kakak lebih suka ke Batu mungkin karena lebih deket. Nggak bagus berdebat dengan Ibu hamil nanti kualat, hehe.


Monday, January 01, 2018

Tahun Baru yang Biasa Saja

Saya menyengaja liburan tahun ini pulang ke kampung halaman. Sudah saya tahu di kampung saya tidak ada penyambutan istimewa untuk tahun yang baru tersebut. Pengajian jamaah masjid sudah sangat cukup. Semalam pengajian sampai sekitar jam 22, kemudian ngobrol santai dengan pemuda masjid sampai sekitar jam 22.30, baru kemudian pulang dan tidur. Ternyata bangun-bangun sudah tanggal 1 Januari 2018, tanggal dan tahun baru.

Justru suasana kesantaian tanpa kembang api dan segalanya membuat aku bisa menulis seperti ini, sebuah tulisan yang ditulis di-bungalow belakang rumah dekat kandang ayam dan kolam ikan lele. Aku melihat suasana di kampung halaman masih sama dengan saat aku kecil dulu, udara pagi yang tetap sejuk dengan suara cuitan beberapa burung dan suara riang hewan-hewan lain. Tepat di depan saya, Bapak yang sedang kasi pakan ikan lele dan pastinya ikan-ikan tersebut dengan riang menyantap pelet yang dilemparkan secara pas oleh Bapak. Kedamaian seperti ini teryata terjadi di rumah, di kampung halaman, tempat di mana waktu kecil saya dihabiskan.

Biasa Saja

"Biasa saja" di sini berbeda arti dengan "biasa saja" dengan penganggapan tidak spesial dari suatu momen/keadaan. Ungkapan itu bagi saya punya kesan yang dalam yaitu wujud natural dari suatu kondisi yang itu sukar dirasakan oleh masyarakat urban seperti saya sekarang. Seperti pagi ini, saya melihat hehijauan pohon-pohon ditambah kolam ikan dan kandang ayam, dan tetap merasakan WiFi rumah sehingga tetap bisa online, tinggal buat kopi yang belum, itu adalah suasana yang sukar dan harus berjuang jika ingin mendapatkan hal serupa di kota Bandung. Jelas suasana yang 'biasa saja' dengan harmoni alam ini sangatlah mahal bagi saya.

Kebiasaan saja ini adalah upaya tanpa perlu menguras dompet, sebuah upaya untuk membersatukan dengan alam. Kealamiahan ini adalah wujud kebiasasajaan yang hakiki. Di sana kita dapat tetap produktif tanpa harus membuat pikiran jadi penat.

Karena sudah 2018 dan tepatnya tanggal 1 saya tidak ingin menyampaikan target-target, sudah saya tulis di cendela depan meja kerjaku di kosan, tapi saya hanya ingin merasakan susasana seperti ini lagi nanti saat di Bandung. Jika suasana di sana tetap tidak dapat menggantikan suasana di kampung halaman, mungkin agenda pulang ke rumah orang tua akan lebih sering dibandingkan dengan tahun 2017. 

Thursday, December 28, 2017

Belajar Nilai dari Onno W. Purbo

Di perayaan ulang tahun Mastel ke-24 jumat lalu (15/12), untuk pertama kalinya saya melihat secara langsung Onno W. Purbo. Saya mengenal nama beliau sejak lama, entah dari sejak kapan saya lupa. Dia dikenal sebagai Bapak Open Source Indonesia yang tentunya di Indonesia sangat terkenal. Ternyata di malam itu Pak Onno mendapatkan penghargaan dari Mastel. Di video yang diputar di layar besar setelah pembacaan beliau sebagai penerima penghargaan oleh MC, ditayangkan kiprah Pak Onno yang turut serta berdayakan (empowering) masyarakat Indonesia lewat pendidikan gratis perihal IT. Setelah acara malam itu, saya kepoin akun twitterPak Onno dan saya dapati gambaran terkait beliau.

Ternyata Pak Onno tak hanya jago IT (baca programming atau otak-atik perangkat), tapi beliau ini adalah campaigner agar masyarakat melek IT. Beliau suka akan mengajar masyarakat yang belum terlalu 'ngeh' dengan IT. Jika Anda mampu bayangkan betapa sulitnya mengajari orang, Anda akan mengangkat topi pada sosok bernama Pak Onno ini. Kesudian beliau untuk mengangkat harkat masyarakat melalui IT inilah yang menjadikan energi beliau untuk berkarya dan terus berkarya. Mungkin dengan melakukan hal tersebut, kehidupan Pak Onno justru semakin punya makna. Perlu diketahui, Pak Onno pernah sempat menjadi dosen ITB tapi beliau memilih keluar dan fokus pada aktivitisnya seperti yang saya singgung di muka.

Nilai

Saya kira sungguh keliru jika penghargaan adalah tujuan utama Pak Onno dalam berkarya berdayakan masyarakat melalui IT. Bagi Pak Onno itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan melihat orang yang buta akan IT menjadi melek IT sehingga dapat manfaat secara finansial maupun non-finansial dari sana. Itu semua adalah masalah pengejaran nilai kehidupan, bagaimana dengan melakukan banyak hal positif di situlah kita mendapatkan arti dari pada hidup. Belajar pada Pak Onno, kita akan malu jika kita banyak mengeluh dalam hidup, apalagi kita masih terlalu muda dibandingkan dengan beliau. Keluar dan berkaryalah sobat !

Ayat-Ayat Cinta 2 : Sosok Sempurna itu Bernama Fahri

Niatnya mau kerjakan paper sore itu (22/12), tapi apa daya Jogja tetap sebagai tempat liburan melepas penat dari kesibukan di Bandung. Jumat siang pasca Jumatan, saya bergegas dari Grand Aston menuju sebuah hostel baru di daerah tak jauh dari Malioboro untuk memindahkan barang. Ternyata di hostel ini saya orang kedua yang masuk tempat ini. Segera setelah masukkan barang di loker, saya ganti baju dan keluar. Targetan pertama adalah ke Gudeng Yu Jum yang legendaris di daerah dekat alun-alun utara. Saya penasaran sekali dengan gudeg ini karena banyak orang yang ngomongin dan saya sekalipun belum pernah mencoba. Setelah perut keisi, dengan diantar mas Gojek, saya menuju Ambarrukmo Plaza di daerah jalan Solo untuk nonton melepas penat. Ragu antara mau monton Jumanji atau Ayat-Ayat Cinta  (AAC) 2. Akhirnya saya putuskan untuk nonton AAC 2 dan saya kala itu sendiri, “Biarin !”.

Aku coba ingat-ingat apa ending di AAC 1, "lupa, sial !". Di awal film, Aisha berada di daerah konflik Gaza Palestina dengan bombardir bom dari tentara Israel. Aisha jatuh dan alur film pun berpindah ke daerah damai di Inggris Raya. Di sana ada sosok Fahri (yang diperankan oleh Fedi Nuril) yang sedang introduksi mengajar di Edinburg University, kala itu ia masih sebatas dosen pengganti. Biarpun demikian, bukan Fahri kalo tidak membuat wanita jatuh hati. Banyak mahasiswinya dibuat kagum satu per satu. Kata kunci Fahri saat itu : ganteng dan pintar. Di luar kelas, Fahri hidup di lingkungan yang sangat hetegoren di mana di sana penduduknya beda latar belakang agama dan kehidupan : ada Yahudi tulen, wanita pemabuk, dan sosok muda yang tuna karya. Sebagian besar mereka benci Fahri karena dipandang seorang muslim teroris. Intimidasi pada Fahri sering diberikan seperti mobilnya yang beberapa kali kena vandalisme. Tapi itu disikapinya dengan lapang dada, bahkan Fahri tak canggung untuk menawarkan bantuan pada tetangga-tetangganya itu.

Suatu ketika, saat Fahri duduk-duduk di taman kota, ada wanita cadaran-pengemis yang sedang diburu oleh polisi. Fahri pun menyelamatkan wanita itu dan ditampung di rumahnya dan kemudian dijadikan pembantu rumah tangga. Latar belakang wanita tidak satupun dari satu rumah ini yang tahu kecuali satu orang tetangganya yang seorang Yahudi. Aktivitas Fahri yang padat yaitu sebagai dosen dan juga pengusaha (Fahri punya minimarket di pusat kota) tidak membuatnya terlarut dalam pekerjaan saja namun Ia tetap membantu orang-orang yang membutuhkan, dan ini Ia lakukan secara totalitas. Satu demi satu wanita menghampiri Fahri dengan memberikan hadiah, makanan, bantuan, atau perasaan sukanya padanya secara langsung dengan kode-kode khas. Semua wanita yang mendekat pada Fahri cantik semua, tak ada yang cacat. Satu wanita yang hampir tidak pernah absen dalam kehidupan Fahri adalah Hulya, sepupu Aisha istri Fahri yang hilang entah kemana pasca konflik Gaza.

Ending yang Indah

Hulya (yang diperankan Tjajana Saphira) ini cantiknya kebangetan dibandingkan dengan Aisha (Dewi Sandra). Namun film ini jelas sudah diset untuk Fahri hidup dengan Aisha kembali. Mungkin karena keseringan ketemu, Fahri pun menaruh tanggung jawabnya pada Hulya dan segeralah mereka menikah. Fahri setelah diingatkan sahabatnya Misbah (Arie Untung) untuk segera move on. Pasca menikah mereka hidup bahagia dan tak lama mereka akan mendapatkan seorang anak lelaki.

Di sebuah POM bensin, saat Hulya dan Sabina (nama samara Aisha di film) mau ke toilet, mereka ketemu dengan Bahadur, seorang penjahat yang pernah ditemui Aisha di Mesir. Jika tidak salah Bahadur ini yang pernah menyiksa Maria yang dibela sama Aisha. Aisha sontak menyebut “Bahadur !”, penjahat ini kemudian memelototin Aisha dan segera mengeluarkan pisau dari celananya. Terjadilah perkelahian yang tidak seimbang. Pisau Bahadur mengenai perut Hulya yang hamil tua, pendarahan hebat pun terjadi. Perkelahian selesai pasca polisi mendor Bahadur.

Dalam perjalanan menuju Ruang Gawat Darurat rumah sakit, Hulya menyebut Sabina dengan panggilan Aisha. Sontak Fahri jadi kaget. Setelah Hulya masuk di ruangan operasi, Sabina dan Fahri tatap-tatapan dan mereka saling sedih dan marah, campuraduk. Tapi endingnya mereka pelukan. Singkat kata, Hulya meninggal dunia namun tidak dengan anaknya. Diam-diam Hulya berwasiat pada Aisha. Segera setelah meninggal wajah cantik Hulya dipindah ke wajah Sabina yang cacat. Sabina pun utuh menjadi seorang Aisha-Hulya sekaligus. Endingnya, Fahri dan Sabina hidup bahagia dengan satu anak. Gambaran ini setidaknya yang terlihat secara zahir, secara batin saya tidak tahu soalnya tidak mungkin Sabina akan punya anak dari Fahri karena kelaminnya telah dirusaknya saat akan diperkosa oleh oknum tentara Israel. 

Hikmah

Saya pernah menuliskan review film ini secara singkat di blog saya satunya. Saya katakan di sana bahwa menjadi sosok Fahri bisa dikatakan mustahil. Namun saya katakan di sini bukannya tidak mungkin. Dalam teori kehidupan, peluang sekecil mungkin adalah kemungkinan (possibility). Pelajaran yang mungkin diambil adalah menjadi sosok yang cukup secara keilmuan dan amal itu penting. Belajar segiat mungkin sehingga kita mendapatkan ilmu yang luas dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan. Ada satu pepatah arab mengatakan “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah”. Menjadi Fahri itu bukan tujuan, tapi menjadi diri yang terus belajar adalah hakikat sempurna dari seorang manusia.


Tuesday, December 26, 2017

Nonton Konser Sheila on 7

Saya kenal Sheila on 7 sejak duduk di Sekolah Dasar terutama pas kelas 6. Saya teringat saat itu saya menyenangi seorang teman dan di bangku saya nyanyi sendiri "Seberapa Pantas". Tiba setelah 15 tahun saya dapat melihat konser band ini di tanah  kelahirannya, Yogyakarta. Peluang untuk nonton konser sebenarnya sangat terbuka , saya dulu SMP-SMA tinggal di kota Yogyakarta dan dilanjut kuliah di kota Bandung. Pastinya band ini malang-melintang di kota besar. Tapi ketertarikan untuk menonton langsung kurang begitu. Mendengarkan format MP3 atau Youtube sudah dirasa cukup.

Di tahun kesembilan saya tinggal di Bandung, saya kok tetiba ingin nonton konser secara langsung. Awal mula konser yang saya tonton yaitu Jazz Aula Barat beberapa minggu lalu yang hadirkan  Salamender band, Tulus dan Yura Yunita. Kok rasanya beda menonton langsung dengan hanya via media seperti streaming makanya jadi pengen nonton konser lain khususnya band yang saya suka. Sheila on 7 adalah salah satunya. Saat ditugaskan dinas di Yogyakarta, saya cek instagram band ini dan ternyata di akhir pekan (23/12) akan manggung di Lapangan Parkir Mandala Krida. Saya segera kontak contact person di acara FARMASI CUP UGM yang menyelenggarakan acara konser ini. Tak lama CP merespon cepat dan segera proses traksaksi saya lakukan. Harga tiket 75k, saya beli dua. 

Akhirnya sabtu malam pun datang, saya datang sore untuk tukar tiket. Karena waktu konser agak lama saya ke shopping center dulu untuk beli buku. Malamnya saya nonton dengan teman dari Lamongan yang baru kenal kamis malam. 

Sheila on 7 manggung  ketiga setelah Batiga dan Payung Teduh. Tapi itu tak membuat keriuhan berkurang, justru malah bisa dikatakan klimaks dalam konser ini. Satu demi satu lahu hits sheila dimainkan, termasuk "Sahabat Sejatiku", salah satu lagu favorit. Menirukan intonasi lagu dan arah gerak tangan Duta, saya turut jingkrak-jingkrak tapi tidak bisa bebas karena di tangan kiri ada 2 buku yang saya 'tasin' di plastik putih. 

Nonton konser ini setidaknya mengingatkan saya masa-masa kecil dan remaja saya dulu, saat turut nyanyi "Seberapa pantas" saya teringat perempuan yang pertama saya sukai. Ya, semacam nostalgia gitu.

" Kau harus bisa-bisa berlapang dada 
   Kau harus bisa-bisa ambil hikmahnya 
   Karena semua-semua tak lagi sama
   Walaupun dia pun merasakannya " - Lapang Dada 

Wednesday, December 20, 2017

Harusnya Indonesia punya Cloud Server Sendiri

Pernah dikatakan oleh sebuah pelaku startup bahwa dia belum butuhkan bantuan regulasi dari Pemerintah. Soalnya mereka dapat survive sampai sejauh ini tanpa campur tangan regulator atau Pemerintah. Selama ada demand mereka bisa hidup meskipun itu sekedar projek pembuatan aplikasi dimana nilai pengembangannya (development) tidak ada. Sementara itu, Pemerintah lewat Kominfo terus menggenjot tumbuhnya startup digital dengan harapan Indonesia turut serta menikmati potensi ekonomi yang besar di era digital saat ini.

Beberapa waktu lalu saya ngopi bersama teman satu jurusan Matematika dulu. Dia sekarang bagian dari Tim startup di Bandung. Katanya dia dan kawan-kawannya akan masuk ke Fintech di mana saat ini sedang kerjakan projek seperti pembuatan aplikasi. Aku katakan ke dia hasil usulan Mastel terkait Internet of Things (IoT) biarpun doi secara langsung belum masuk ke sana bahwa pengaturannya akan dilakukan secara sektoral. Sebagai contoh IoT di bidang pertanian maka Kementan akan buat regulasinya bukan satu atap seperti Kominfo.

Saat kutanya apa yang seharusnya Pemerintah dorong, ia katakan cloud server. Indonesia harus punya cloud sendiri, karena untungnya gede kalo punya. Umumnya saat ini startup pake yang udah ada seperti AWS, Google, Dan sebagainya. Kalo Indonesia punya sendiri cloud server bakalan nguntungin dalam hal privasi data sebagai contoh. Kata doi, cloud server Pemerintah perlu sediakan segera.

Di buku yang sedang direview Mastel, kami tulis juga, jika tak salah, terkait pengadaan cloud server ini. Moga-moga aja Pemerintah ke depan benar-benar nyiapin ini.

Tuesday, December 19, 2017

Tanpa Ucapan Selamat Ulang Tahun

Tanpa ucapan selamat ulang tahun, tanpa tiupan lilin, atau lainnya, saya memulai hari di hari ulang tahun dengan bangun lebih pagi dari sebelumnya tapi sudah terlewat azan subuh. Betapa sulitnya bangun subuh bagi saya. Saat itu kondisi saya tidak sedang fit, ada sesuatu yang menganggu tenggorokan dan rongga hidung saya. Habis sholat, saya kembali tidur sampai saya dibangunkan oleh gerimis dan sinar matahari. Pecel pical Padang sebagai sarapan saya pagi itu kemudian dilanjutkan dengan menyeduh teh manis hangat di warung Medan tak jauh dari lokasi sarapan. Kindle hitam mengiringi seruputan teh pagi itu, aku membuka buku Technological State in Indonesia buatan senior yang bekerja di Singapura.

**

Aku tetap melakukan langkah yang tolol di selang usia 26 tahun. Aku bahkan melogiskan hal yang tidak logis dan sering kali berfikir mengawang di atas langit. Hal itu membuat kegalauan seringkali muncul tanpa diundang, di mana diri terhanyut ke dalamnya. Kompleksitas hidup membuat diri sukar mencari benang merah dan kemudian meragukan pegangan. Usia 26 adalah pertarungan antara prinsip dan realitas, antara pegangan dan hasrat.

Aku merindukan sosok dan suasana yang bisa diajak berdialog dan berkontempelasi namun itu tak kunjung tiba karena diri sungkan untuk menjemput takdir. Kesendirian yang menjadi pilihan seorang periset seringkali dijadikan kambing hitam untuk mengatakan bahwa itu bukan dunia yang ideal. Hidup di alam pemikiran merasuk dalam pola hubungan dengan sesama manusia, akibatnya diri terlalu sering fokus pada persoalan, bukan pada solusi.

**

Tertulis di candela kamar tepat di depan meja kerjaku di kosan target-target fisikal di tahun 2018, di usiaku ke-27. Saya kira itu tidaklah menarik jika ditulis di sini. Kunci dari semua targetku yaitu satu “Percaya Diri” sebagai seorang lelaki. Membangun kepercayaan diri aku kira tidak mudah, butuh alasan mendasar “Mengapa aku harus Percaya Diri ?”. Jawabannya adalah masalah prinsip dan prinsip itu sifatnya adalah non-fisikal. Semakin tua, aku harus mampu menjadi pribadi yang percaya bahwa aku adalah seorang manusia hidup yang diberi pikiran dan hati. Aku harus membuang jauh rasa takut ditolak, dikacangin, atau bahkan disingkirkan selama aku berpijak pada kebenaran dan cita-cita.

**

Terima kasih Allah SWT yang masih memberi kesempatan pada saya untuk hidup. Aku berniat di usia yang baru ini untuk memperkuat pegangan sehingga tidak terombang-ambing oleh gebyarnya dunia.

Bandung, 19 Desember 2017

Saturday, December 09, 2017

Kopi dan Petikan Gitar

Mendung sore ini sangat pas untuk nongkrong. Dan Los Tjihapit adalah tempat yang cocok untuk itu. Kedai ini letaknya di dalam pasar Cihapit. Ada yang tidak biasa dari kedai ini karena tak hanya kopi dan teh tubruk yang dapat kita nikmati di sini melainkan juga obrolan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dan juga petikan gitar klasik. Juga pemandangan orang bermain catur dan tentu juga orang-orang berjualan di pasar.

Saya yang mungkin cenderung introvert memandang suasana sore ini jelas sangat berbeda. Mulut saya coba turut menyaut di irama petikan gitar yang dimainkan Bapak yang mungkin usianya lebih dari setengah abad. Beberapa lagu yang dimainkan saya kenal tapi kebanyakan tidak. Ini mungkin karena kamus musik saya tidak banyak. Sementara itu, tepat di sisi kanan saya duduk, teman sedang kerjakan tugas yang deadline-nya besok. Ada satu Bapak sambil aktif bermain hape menghisap rokok yang nampaknya tidak juga berhenti dari tadi.

Kedai sebagai komunitas

Sifat kedai ini sangat kekeluargaan. Saya kenal kedai ini setelah diajak temen kemudian dimasukkan dalam grup WhatsApp. Ternyata di grup tersebut banyak pegiat budaya, film, musik, buku, kota, dan sebagainya. Kedai ini semacam hub bagi orang-orang dengan latar belakang kesukaan berkumpul. Makanya di kedai ini seringkali diadakan diskusi atau nonton film bareng. Satu diskusi yang pernah saya ikuti di sini yakni terkait hoax di medsos yang dibawakan Dina Sulaiman.

Bagi orang yang terlalu sibuk dengan kerjaan dan cukup ansos seperti saya mungkin sekali-kali bisa berkunjung di kedai ini. Mungkin diawali dengan menyeruput kopi/teh dulu baru kemudian merasakan sisi komunitas dari kedai ini. Hari semakin sore menjelang maghrib dan gitar tetap berlanjut dipetik, saya coba sudahi tulisan ini sembari fokus nikmati alunan petikan gitar.

Saturday, November 25, 2017

Logika dan Hati

Melogikakan perasaan (hati) atau menghatikan logika adalah dua cara yang jelas tidak adil. Perasaan itu tidak logis artinya tidak dapat dibuktikan dengan eksperimen metode ilmiah. Namun ia hanya membutuhkan keyakinan (belief). Untuk mengarah ke yakin masih butuh tanda-tanda yang mendukung jadi tidaklah sembarangan. Ini persis dengan keyakinan pada Tuhan, Anda tidak mungkin bisa membuktikan fisik Tuhan melainkan hanya melihat tanda-tandanya seperti adanya alam semesta, ciptaannya yang sempurna seperti manusia, dan sebagainya. Dalam konteks perasaan, seorang mencintai seorang yang lain maka secara sukarela Ia akan rela berkorban seperti memberikan barang cuma-cuma, membantu menyelesaikan persoalannya, dan sebagainya. Itu adalah tanda-tanda yang sifatnya relatif, antara satu orang dengan orang lain bisa jadi berbeda. Jadi seorang mencintai seorang yang lain lebih dari sekedar melihat satu sisi orang saja, melainkan melihat keseluruhan bagian (whole part) dari orang itu sehingga menjadi lebih lengkap, tidak parsial.

Sementara logika diletakkan dalam proses mencari kebenaran (to seek the truth) yang ini ditempatkan dalam kerangka menyelesaikan persoalan tertentu yang fix. Sebagai contoh, seorang ingin tahu solusi orang malas berangkat kerja jam 7 pagi maka bisa didekati dengan pemikiran yang logis dan gunakan metode ilmiah yang baku yakni pendekatan yang rigid (rigorus). Misalkan didekati dalam perspektif psikologi. Karena cuma didekati dalam satu aspek sangat mungkin ada celah dan sangat memungkinkan jika didekati dalam perspektif lain bisa berbeda hasilnya. Namun asalkan telah memenuhi kaidah ilmiah dan proses penelitian dilakukan secara jujur, kesimpulan tidak bisa disebut salah. 

Tercampuraduk

Secara konsep sangat mudah kita dapat bedakan, namun berbeda dalam segi praktikal. Seorang pria menyukai wanita bisa juga dirasuki logika yang menjadikan Ia sukar bersikap adil pada perasaan. Misal saat si cowo A berdebar-debar saat bercakap dengan si cewe B, si A kemudian merasionalisasi bahwa sikap debar-debarnya itu menunjukkan perasaan sukanya pada si B, dia mensitasi pemikiran seseorang di luar sana yang pernah mengatakan demikian. Padahal kan belum tentu, bisa jadi proses debar-debarnya hanya karena Ia terkagum pada wanita yang dirasa cantik dengan spesifikasi : putih, pintar, bodi proporsional, dan lain-lain dan itu berlaku pada umumnya wanita cantik, sementara pada wanita yang tidak cantik tidak. Nah, penyimpulan untuk memberikan perasaan pada wanita cantik dengan keputusan "suka" tidaklah cukup. Namun, mendekati wanita cantik bisa jadi entry point untuk menuju ke ranah perasaan yang sesungguhnya yang sifatnya sangat irasional.

Merasa untuk mencintai seseorang itu natural, namun ketidakalamiahan seringkali muncul karena derasnya informasi yang masuk dalam pikiran. Sebagai contoh saja, model yang aduhai menjadi benchmark calon wanita idaman, jadi saat ada seorang wanita yang dekat (secara jarak atau motif) sudah ada rasa penolakan. Ia jadinya akan pilih-pilih siapa wanita yang Ia bolehkan untuk mendekat. Padahal jika banyak dekat dengan wanita berpotensi menjadi teman hidup akan semakin besar. Atau setidaknya punya teman wanita yang banyak bisa menjadi poin plus untuk memperluas silaturahmi dan rizki. Pikiran yang tercampuraduk dengan logika pengennya langsung tujuan "teman hidup" jadi ia akan men-skip tahapan teman, teman main, dan seterusnya sehingga selamanya ia tidak akan enjoy saat berhadapan dengan wanita. 

Thursday, November 23, 2017

Jazz Ternyata Asik

Pertama kalinya malam ini saya menonton pertunjukan jazz dan pertama kali juga yang diadakan oleh ITB Jazz dan humas ITB. Beruntungnya lagi tiketnya gratis. Konon tiket yg harganya 25k ada yang ngejual sampai 750k. Mungkin karena ada Tulus dan Yura Yunita yang jadi bintang tamu kali ya. Pertunjukan yang dimulai agak molor dari jam awal 19.30 WIB ini dibawakan oleh grup Salamander dengan tajuk "a tribute to Riza Arshad". Banyak alumni ITB yang tergabung dalam band tersebut dengan salah satu pentolan Pak Pras. Kata Tulus beliau ini berjasa banget dalam beberapa lagu hits-nya.

Sepanjang nonton tadi aku coba nikmati aransemen musiknya jadi aku paksa nggak buka hape. Aku coba fokus dan coba terhanyut dalam suasana jazzy biarpun secara umum aku gak pernah denger lagu-lagunya. Kecuali lagu James Bond kayak Spectre dan Skyfall (ini dibawain Yura) yang lumayan familier, lagu terakhir Starwars juga. Tadi Yura bawa juga lagu Sunda judulnya "Kataji" yang artinya kalo tidak salah terpesona. Sementara Tulus bawa dua lagu juga sama seperti Yura. Satu lagu yang dinyanyiin dia judulnya "Monokrom" yang hits itu.

Habis nonton trus bisa ngeblog kayak gini berarti konser tadi bisa ngobati kesuntukan kerjaan. Nampaknya perlu diagendakan nonton-nonton lagi. "Sama siapa ya?". Nah mikirin pertanyaan itu bisa jadi gak berangkat. Kalo tadi kan ada temannya, Ega ama Aven. Bisa jadi agenda nonton selanjutnya bisa sama mereka lagi atau juga sendiri atau sama yang lain. Kembali ke jazz. Menurutku jazz itu musikalitasnya tinggi, jadi maen musiknya gak asal "genjreng" kayak aku biasanya gitaran. Dekat ama klasik aku kira. Aransemen musiknya ditentuin ama arranger-nya. Nah ke depan moga ada kombinasi aliran jazz dan orkes dangdut, lagu goyang erika OSD HMT di-jazz-in kayaknya asik. Hahaha

Sunday, November 12, 2017

Serba Mendadak Tapi Pas

Untuk pertama kalinya saya ke Jakarta hanya mampir beberapa jam. Jumat malam (10/11) sekitar jam 22 kurang saya sudah riweuh untuk siap-siap kejar tiket jam 22.30 ke Gambir. Walhasil jam 22.15 saya baru dapat Gojek. Saat itu hujan gerimis, saya katakan ke Mang Gojeknya "Tidak usah pakai jas hujan". Sampai di perempatan Pasoepati Dago, saya buka hape dan jam nunjukin pukul 22.20. Saat itu biar dah malam dan gerimis, Bandung tetap lumayan macet. "Sial kata saya". Sesampai di stasiun, saya langsung lari dan cetak boarding pass. Setelah itu langsung menuju Argo Parahyangan yang mau berangkat. Saking hectic-nya satpam yang bertugas ngecek tiket cuma minta tiket terus di-scan, identitas tidak diminta. Saya berhasil masuk bordes gerbong kelas eksekutif "Alhamdulillah". Saya kemudian berjalan menuju Ekonomi-1 melewati beberapa kelas.

Setiba di tempat duduk, saya langsung ambil masker di kantong celana belakang dan langsung pakai. Tak lama saya berposisi tidur. Saya benar-benar kecapean hari itu. Pas bangun kalo tidak salah kereta sudah sampai Jatinegara, beberapa menit lagu akan sampai Gambir. Kereta sampai Gambir telat beberapa menit, setibanya di sana saya nongkrong di CFC untuk nunggu kereta dari Surabaya yg anter adik. Di CFC saya hanya pesen teh anget dan kemudian ngeleptop untuk bikin outline presentasi dan baca e-book di kindle. Kereta Sembrani yg bawa adik ternyata telat hampir sejam. Harusnya jam 4.15 sampai, nyatanya kereta sampai sekitar jam 5. Tak lama setelah datang, sholat subuh dan menuju ke stasiun Gondangdia sengaja Go-Car. Ternyata kartu KRL saya dah expired dan terpaksa beli lagi, 1 untuk saya dan 1 untuk adik. Harganya @13 ribu dg 10 ribu sbg jaminan.

Kami naik eskalator menuju jalur kereta ke Depok. Ternyata jadwal keberangkatan KRL ke Depok beda dg yg ada di Gmap. Perjalanan ke stasiun UI habiskan waktu sekitar 45 menit. Di perjalanan ngobrol panjang dg adik yg mau tes masuk S2 di UI. Di gerbong kereta ramai dengan orang padahal hari libur, di stasiun UI pun juga. Nampaknya ada agenda kampus di sabtu itu. Lalu lalang mobil motor jadikan kami sulit untuk sekedar menyeberang jalan. Sembari nunggu jemputan dari teman adik, kami coba puter sekitar kampus untuk cari sarapan tapi sayang tak kunjung dapat. Lebih dari sejam nunggu, ternyata motor temen adik mogok dan pesenlah Go-Jek.
Berfoto bersama adik di depan Stasiun UI

Kami harus menuju ke bundaran FH untuk sekedar nyamperin driver Go-Jek. Hal itu dikarenakan pas tepat di depan stasiun berjejer ojek pangkalan. Setibanya driver, saya harus berpisah dengan adik. Besok dia harus jalani tes tulis. Segera setelah itu saya menuju stasiun dan coba masuk tapi gagal. Saldo kartu saya habis, "Sial", kata saya dalam hati. Terpaksa saya harus ngantri di mesin pengisi saldo kartu. Bentuk mesin seperti finding machine untuk minuman, harus memencet beberapa menu di screen dan masukin uang kertas. Praktis ini memakan waktu 1 menitan tiap orang. Saya yang harus kejar waktu terpaksa harus bersabar nunggu antrian. Karena baru pertama pakai, saya minta petugas untuk bantu. Jam sudah tunjukkan jam 8 lebih, saya bergegas masuk stasiun dan segera menuju jalur 2 untuk menuju Jakarta kota.

Di kereta saya tidak bisa lepas dari Gmap dan Go-Jek. Saya yang awalnya mau turun di Gondangdia setelah itung-itung harus turun di Manggarai. Stasiun demi stasiun dibacakan oleh mesin speaker kereta, saya harus ancang-ancang untuk pesen Go-Jek. Kereta sampai stasiun Tebet dan segera saya pencet "Order" di apps Go-Jek. Tak lama saya langsung dapet driver dan hape saya berdering ditelpon ama driver tersebut. Saya katakan ketemu di depan stasiun dg saya pakai jaket merah. Dia tidak tahu bahwa saya masih di dalam kereta. Setibanya di Gondangdia saya langsung menuju pintu keluar dan kontak driver untuk dijemput di depan kantor polisi tepat di depan stasiun. Tak lama driver nyamperin dan ada insiden kecil. Ternyata daerah itu merupakan area ojek pangkalan, mereka (para ojek pangkalan) marah-marah ke driver. Ini adalah pengalaman pertama saya di stasiun Manggarai jadi saya tidak tahu bakal ada kondisi seperti itu sebelumnya.

Saya naek Go-Jek dengan deg-degan karena harus kejar kereta. Dari Manggarai sampai stasiun senen ternyata lumayan jauh, terjebak macet pula di perempatan. Sesampainya di Senen, saya lihat hape dan menunjukkan jam 9.10, 5 menit lagi kereta akan berangkat. Saya tanya orang setibanya di sini di mana letak mesin pencetak boarding pass. Dengan hectic, saya buka Gmail dan ketik kode booking. Tiket tercetak dan saya menuju pintu masuk stasiun setelah bertanya orang. Satpam katakan "Saluyu-Saluyu", saya dengan tergopoh-gopoh "Saya Pak". Biar waktu tinggal beberapa menit saya, petugas kereta meminta ID saya. Setelah beres, saya menuju gerbong kereta. "Alhamdulillah", kata saya dalam hati. Di kereta, orang-orangnya asikeun jadi saya banyak ngobrol.

Kereta datang di Kiaracondong telat tapi tidak banyak. Segera setelah tiba saya sholat terus ganti baju dengan batik. Setelah siap, saya segera order Go-Jek untuk anter ke Puri Cipaganti hadiri nikahan Mas Ojan, teman di MSP. Sepanjang jalan macet parah, untungnya mamang Go-Jek bisa pilih jalan. Itupun tetap saja makan waktu lebih dari setengah jam. Walhasil saya sampai di lokasi pernikahan mas Ojan sekitar jam 14 .15 alias telat. Untungnya mas Ojan masih ada di lokasi, segera setelah itu saya sampaikan ucapan selamat dan mohon maaf telat datang. Saat itu aksesoris pernikahan sedang diambili oleh EO, namun untungnya ada mas Taufik, Brili, dan Opik (ketiganya ITB 08) yang masih stay di sana. Jadi ada temen ngobrol.


Saturday, October 28, 2017

Obrolan seputar IT dan Kehidupan

Secara kebetulan dalam obrolan santai dengan teman2 MA09 di kawasan Sarinah tadi, kami membahas fenomena baru yang sekarang kita hadapi. Berawal dari ngobrol seputar valuasi market yg menjadi sebab top 3 apps di Indonesia : Gojek, Traveloka, Tokopedia mendapat gelontoran data sekian Trilyun dari investor asing. Juga obrolan terkait mengapa Pemerintah tidak investasi ke 3 perusahaan tersebut serta statement Ridwan Kamil terkait kendaraan online.

Biarpun terkesan random, obrolan ini jelas tidak sembarangan. Tadi juga diceritakan teman yang studi di bidang sekuriti terkait standardisasi ISO juga pelaku e-commerce terkait data. Kita saat ini berada di kondisi di mana ICT menjadi tumpuan ekonomi. Google dan Facebook menjadi perusahaan top dunia adalah bukti bahwa industri di bidang IT tidak main-main luar biasa besar pengaruhnya.

Regulasi dan Teknologi

Tadi ditanyakan teman, mengapa Pemerintah tidak turut campur dalam 'bisnis' di dunia IT ini. Umumnya Pemerintah sulit mengimbangi pertumbuhan teknologi yang luar biasa cepat. Regulasi yang dibuat bisa jadi tidak relevan dengan keadaan sehingga out of date. Sifat regulasi juga seringkali juga berimbas pada pembatasan Industri dalam negeri untuk tumbuh biarpun niatnya adalah sebaliknya. Apa peran negara terhadap semakin dinamisnya perkembangan teknologi informasi? Bukannya mekanisme pasar cukup ? Dunia cenderung menjadi one world karena teknologi informasi, betulkah? Itu adalah beberapa pertanyaan yang pada akhirnya muncul.

Indonesia potensi marketnya besar dimana itu tidak dibarengi dengan kemampuan produksi. Turut serta berperan dalam kontestasi perkembangan teknologi IT adalah pilihan. Tapi di zaman dengan dinamika yang amat cepat, dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan pastinya stakeholders. Ini harus di-create tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar. Dengan menyadari hal ini mindset kita perlu diubah, dari semangat pengen menang sendiri menjadi berbagi. Makanya sering kita mendengar istilah seperti sharing economy.

Sunday, October 15, 2017

Novel Penyeimbang Oktober yang Sibuk

Oktober ini saya nampaknya bakal 5 kali ke Jakarta. Yang sudah baru dua kali tepatnya tanggal 1 oktober pas nikahan Hakiki, teman SMA, dan 5 Oktober pas Forum Group Duscussion (FGD) IoT Mastel. Selasa besok (17 Oktober) saya kemungkinan akan ke Jakarta kembali untuk ikut serta seminar IoT perwakilan dari tim kajian Mastel, disusul dengan tanggal 23 Oktober untuk presentasi penelitian di IPTEKIN LIPI. Jadwal terakhir ke Jakarta kemungkinan di tanggal 28 Oktober dengan menghadiri nikahan Tomy, teman seangkatan Matematika. Di samping agenda ke Jakarta, agenda lain yang baru saja selesai 10-13 Oktober lalu saat presentasi hasil penelitian awal dengan tim SBM di Kuala Lumpur tepatnya di International Conference on Human Capital and Knowledge Management (IC-HCKM).

Selain agenda di beberapa tempat di luar Bandung, kegiatan di Bandung tetap begitu padat. Saya harus mempersiapkan banyak hal untuk agenda-agenda tadi juga agenda kerjaaan lain seperti halnya proses finishing sistem info publik ITB, pembuatan paper untuk publikasi jurnal internasional dengan tim SBM, buku hasil kajian Tim Mastel yang akan rilis awal Desember, dan juga proses pembuatan buku terkait startup yang sudah saya mulai beberapa bulan lalu. Praktis ini akan menyedot waktu sekali. Saya hampir tidak punya waktu yang benar-benar kosong. Namanya juga projek, proses kontrolnya ya di bagaimana selesainya, jadi saya harus bisa atur-atur waktu.  


Novel

Pekerjaan yang padat itu sesekali munculkan kemalasan yang amat diakibatkan perasaan stres. Perasaaan ini muncul saat diri ingin segera selesaikan kerjaan tapi apa daya diri tidak bisa. Upaya pemaksaan diri untuk bekerja itulah yang munculkan perasaan stres. Wujudnya bisa macam-macam yang dalam pengalaman saya ini negatif. Saya tidak akan cerita di sini nanti jadi demotivasi. Keadaan stres ini jelas setiap orang ingin menjauhi, terkadang juga sulit. Jika saat stres melakukan tindakan negatif, tindakan ini akan terpikir di saat diri ingin melakukan lebih baik. Ada perasaan guilty feeling atau menyesal entah karena rugi materi atau moriil. Nah, ada satu teori yang mengatakan untuk tidak stres pergi ke kafe dan ngopi di sana. Teori ini tidak guna bagi saya, tetap saja stres ya stres. Hari ini saya dapatkan rumusan baru : Baca Novel !

Ini adalah kesenangan saya dulu biarpun novel-novel yang saya baca terkesan biasa saja, tapi saya nikmat dengan membaca. Imajinasi saya mengarah ke hal-hal idealisasi yang dibuat oleh penulis novel dan itu positif bagi kepedean saya, hi hi. Saya sedang memulai membaca novel "Golak Ganesha" yang menceritakan kondisi ITB pada 1970an ketika kampus sedang diduduki tentara. Moga novel ini bisa menemani masa-masa sibuk bulan Oktober. 

Wednesday, September 13, 2017

Link and Match Universitas-Industri

Istilah "link and match" bukanlah hal yang tabu di beberapa universitas besar di Amerika, namun tidak dengan Indonesia. Ada budayawan yang menganggap bahwa ide ini yang tak lain akan menciptakan lulusan universitas yang hanya sekedar menjadi sekrup industri. Bagi mereka sekrup industri berstigma negatif dan hanyalah kaum intelektual cerdik pandai yang dapat mereproduksi idelah idealnya seorang lulusan universitas. Namun ada beberapa pula yang mendukung ide ini karena percuma kuliah susah di Perguruan Tinggi namun harus sukar mencari pekerjaan saat lulus. Kedua golongan ini terlihat jelas berseberangan menanggapi istilah tersebut. Itu tidak salah mengingat latar belakang mereka pastinya berbeda.

Sebelum membahas lebih jauh maksud dari istilah tersebut, sedikit flash back bahwa di zaman orde baru istilah tersebut sempat didengungkan jadi pastinya itu bukanlah kosa kata baru dalam literatur akademik. Hanya saja semakin ke sini saya kira penafisiran istilah itu dapat diperlebar. Link and match mengandung makna hubungan erat, keterikatan. Sementara universitas adalah lembaga yang mereproduksi pengetahuan dan industri adalah lembaga yang menciptakan produk untuk dijual. Irisan universitas dan industri adalah terletak pada riset dan pengembangan (R&D). Biasanya industri yang sudah settle punya R&D sendiri dan seringkali lebih canggih dibandingkan yang dimiliki universitas. Karena keterikatan antara dua elemen itu suatu kolaborasi aktif maka keduanya saling bekerjasama dalam lingkup core-nya masing-masing.

Industri suatu ketika akan melihat bahwa melakukan R&D di perusahaannya sendiri akan costly maka skema yang bisa dilakukan dengan melakukan investasi ke universitas yang melakukan riset terkait bidang yang sedang dikembangkan oleh industri. Langkah ini dilakukan oleh Roll Royce kepada Oxford University. Jadi di sini beberapa topik riset universitas digiring ke kebutuhan industri. Apakah universitas dirugikan ? Tidak, karena tetap bisa menjaga indepensinya sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Hasil riset kerjasama ini juga tetap bernilai keilmuan sangat tinggi. 

Term riset untuk kebutuhan industri mengandung pertanyaan jika dibawa ke Indonesia. Adakah industri Indonesia yang telah tegak dalam R&D sehingga membutuhkan peran-serta aktif universitas untuk membantunya ? Ada tapi kuantitas dan kualitasnya mungkin jauh jika dibandingkan apa yang sudah ada di Barat. Nah, kondisi ini yang terkadang para periset di universitas tidak "ngeh" sehingga tetap saja melakukan riset advance yang ujungnya tidak lebih dari paper ilmiah. Apakah itu salah ?Tidak, namun dalam konteks pembangunanan itu investasi yang mubazir. 

Jadi istilah link and match universitas-industri melalui riset berlaku jika ditempatkan pada konteks pembangunan, tidak sekedar ekonomi. Pengembangan industri menjadi pintu masuk pengembangan iptek seperti yang pernah dilakukan Orde Baru. Melihat kondisi zaman yang cepat sekali berubahnya, istilah link and match demikian niscaya untuk kembali didengungkan oleh para developmentalist.

Friday, August 18, 2017

Mubiar Purwasasmita : Landasan Entrepreneuring itu Memberi Manfaat

Saya mengenal beliau dari Dosen AE, Pak Djoko Sardjadi. Ketika itu saya sedang kumpulkan data untuk kepentingan revisi tesis. Saat itu Pak Djoko memberikan rekomendasi pada saya untuk mewawancarai Pak Mubiar terkait bagaimana proses LPM (kini LPPM) yang dipimpin beliau memberikan dukungan pada perkembangan rintisan industri Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dijalani Pak Djoko. Pada 27 Januari 2017 saya bertemu Pak Mubiar di kantornya, Labtek Biru Gedung Teknik Kimia. Percakapan saya dengan beliau berlangsung selama 3 jam 33 menit 9 detik dengan  topik pembicaraan tidak terbatas pada tema tesis saya namun melebar ke berbagai hal.

Pengalaman sebagai Basis Keilmuan

Pak Mubiar adalah orang mampu belajar dari lapangan. Di saat ITB dipimpin oleh  Pak Wiranto Arismunandar, Pak Mubiar dipercaya menjadi pembantu Rektor di bidang Perencanaan dan Pengembangan. Di masa itu, beliau dengan pimpinan ITB lain memikirkan bagaimana ITB dapat memiliki gedung baru yang dapat menampung lebih banyak mahasiswa. Terlintaslah ide untuk mencari soft loan dari Jepang. Dibuatlah strategi untuk meyakinkan Jepang bahwa alumni-alumni ITB punya kekuatan yang besar di Pemerintahan  maupun industri. Bargain position ini berhasil membuat Jepang  investasi SDM Indonesia melalui ITB. Hasil dari negosiasi ini, dibangunlah 11 gedung di ITB termasuk lapangan Saraga dan 4 Labtek kembar. Dalam proses membangunnya, Pak Mubiar dan jajaran pimpinan ITB lainnya seperti Rektor Wiranto Arismunandar turun langsung menjadi “mandor” pembangunan gedung ini dengan “desentralisasi komando”-nya.

Di masa Rektor Lilik Hendrajaya, Pak Mubiar dipercaya memimpin Lembaga Pengabdian Masyarakat (kini LPPM) pada 1997-2000. Pada masa itu, para dosen dimudahkan untuk mendapatkan pinjaman dana dari LPPM untuk jalani projek. Lembaga ini seperti Bank dengan perputaran uang yang cukup dinamis. Perputaran uang di LPPM mencapai ratusan milyar di tahun kedua kepemimpinan beliau. Saat itu, LPPM menyalip PT LAPI sebagai sumber terbesar pendapatan ITB dari unit usaha yang dimilikinya. Kebijakan lain yang diterapkan LPPM pada masa Pak Mubiar adalah konsep asrama ITB mandiri dengan dukungan unit bisnis yang dimotori LPPM seperti sawah 4 hektar dengan kolam ikan di dalamnya dan juga peternakan sapi di Pangandaran. Unit bisnis ini dijalankan oleh para dosen dengan dibantu mahasiswa dan alumni. Dalam pengakuan Pak Mubiar, hasil usaha ini tak hanya dinikmati oleh para penghuni asrama namun kemanfaatannya juga dirasakan oleh civitas akademika lain seperti para dosen.

Ide lain selama menjabat ketua LPPM adalah konsep teknologi tepat guna. Pak Mubiar sebagai ketua LPM seringkali berbeda pendapat dengan Pemerintah, yang digawangi oleh BJ. Habibie, dalam hal teknologi seperti apa yang cocok dikembangkan di Indonesia. Seperti halnya ketika Pak Mubiar mendukung PTTA yang dikembangkan oleh dosen Penerbangan seperti Pak Djoko Sardjadi dengan turut serta promosi ke klien dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jauh sebelum beliau menjabat sebagai ketua LPPM, ketika mahasiswa Pak Mubiar pernah berbeda pendapat dengan Pak Habibie dalam hal pendirian pabrik pupuk di atas kapal laut atas dasar hindari kelangkaan gas dengan menulis di buletin Himatek. Ide-ide pengembangan teknologi Pak Mubiar di LPPM bisa dikatakan sederhana, disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Sebagai contoh perahu cepat untuk para nelayan di Pangandaran.
 
Mubiar Purwasasmita (dok. @DpkltsIndonesia)
Pasca menjadi ketua LPPM, Pak Mubiar turut serta menekan pemberontakan masyarakat Jawa Barat selama masa krisis ekonomi Indonesia dengan mengomandoi pemanfaatan lahan projek-projek Propertis yang tidak jalan dengan bantuan Kodam setempat. Lahan-lahan nganggur dimanfaatkan untuk ditanami Palagung (Padi, Kedelai, Jagung) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Dalam proses maintenance-nya, disebarlah dosen-dosen ITB dengan diberi pangkat yang lebih tinggi dari peleton TNI yang bertugas sehingga koordinasi dapat dilakukan dengan lancar. Usaha ini berhasil dengan tiadanya pemberontakan yang berarti di bumi Jawa Barat.

Berdagang itu Memberi Manfaat

Spesialisasi keilmuan Pak Mubiar adalah transport fenomena perpindahan. Di sini Ia terlatih untuk berfikir mendasar atas objek yang ditelitinya. Beliau memfokuskan penelitiannya pada tanaman. Beliau sempat berujar tanaman tidak bergerak seperti halnya hewan, mengapa kebutuhan nutrisinya selalu terpenuhi ?. Berarti ada sesuatu yang istimewa dari tanaman .

“Nutrisi masuk tanaman pake air. Kuncinya bagaimana tanaman bisa memasukkan air sebanyak-banyaknya dalam pipa kapiler. Itu gak bisa tanaman direndam. Didorong oleh udara, oleh tegangan permukaaan. Di tanah itu harus ada udara dan air. Saya sudah mengatakan jangan hidroponik, karena tidak mungkin capai laju air paling besar. Tetap aja tani yang baik itu menggunakan kompos dan tanah. Kompos untuk simpen air, tanah untuk udara. Sesederhana itu. Jadi air itu hanya bisa disimpen di dalam  pipa kapiler. Tanah nggak nyimpen air. Tanaman itu butuh penting air tapi bukan jumlah air. Pertanian itu nggak butuh bendungan. Sekarang nomenklaturnya ilmiahnya itu micro irrigation. Bukan selokan itu tapi pipa kapiler. Ternyata air yang diperlukan itu tetesan saja”, ungkap Pak Mubiar.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana unsur ini tersedia di tanaman yang kita tanam di berbagai medium seperti halnya pot. Ini jelas dibutuhkan pemahaman atas perilaku tanaman. Pak Mubiar memakai pemahaman dasar atas tanaman ini untuk pertanian padi organik. Ia adalah penggagas System of Rice Intensification (SRI) untuk penamanan padi organik di Indonesia.

Pemahaman beliau atas tanaman menjadi landasan filosofisnya memandang bagaimana sistem perekonomian bekerja. Sistem perekonomian yang baik memuat pandangan prinsipil sebuah tanaman yang tumbuh secara natural. Dua hal yang dicontohkan Pak Mubiar adalah terkait investasi dan perdagangan. Investasi seperti halnya tanaman tumbuh dan berkembang secara natural tanpa merusak tanaman itu sendiri sehingga kebermanfaatannya dirasakan dalam waktu panjang. Sedangkan berdagang tujuan utamaanya adalam memberi kebermanfaatan. Orang yang membeli dagangan kita berarti menerima manfaat dari barang atau jasa yang kita jual. Pemahamannya ini dipakai untuk turut serta membangun jurusan Ekonomi Islam di Universitas Airlangga Surabaya. Pak Mubiar lebih memilih nomenklatur Ekonomi Islam dibandingkan Ekonomi Syariah. Menurutnya yang syariah belum tentu Islami, yang islami adalah yang ikut Qur’an.

Selamat jalan Pak Mubiar, semoga pemikiran Bapak selalu melekat pada orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Bapak baik langsung maupun tidak langsung …