22 August 2016

Punya Akun Instagram

Akhirnya diri ini tergoda juga untuk membuat akun instagram. Saya mikirnya asyik juga sharing foto-foto pengalaman ke khalayak. Dulunya sih tidak minat karena khawatir buang-buang waktu, facebook dan twitter cukuplah. Ditambah lagi dengan WhatsApp yang sekarang sudah mencapai lebih dari 30 grup (estimasi). Itu bagi saya menghabiskan waktu banget. Tapi itu semua tergantung orangnya kok, kalo bisa kendalikan diri kan tidak masalah ? Hehe

Kemarin (21/8), sembari nonton anak muda main bola di sebuah lapangan kompleks Taman Fitness Teuku Umar Bandung, saya unduh aplikasi instagram di Playstore. Di sana tersedia wifi gratis dari Pemkot Bandung. Setelah instalasi, saya buat akun. Postingan pertama adalah gambar anak-anak muda main bola. Saya gunakan tagar #anakmuda #sepakbola #tarkam. Beberapa pengguna instagram like dan komen. Yang pertamakali komen adalah Julia dari UPI. Dia malah nanyain keadaan saya, bukan foto. hehe. Disusul dengan PM dari adik saya yang isinya "ngeledek" saya pake IG baru. Disusul komentar dari Andre "AKS". Adapun yang nge-like foto saya beberapa orang. Nah, ternyata saya posting dulu baru ganti profil. Saya pilih foto jepretan Mila yg gambarnya saya sedang merentangkan tangan ke atas dengan mimik muka bebas menikmati keindahan alam di Camp pendakian Gunung Sumbing. Saya beri judul foto saya itu "Me and Freedom".

Di awal pembuatan akun ini, saya follow secara random dengan mengikuti step yang sudah "template" oleh admin IG. Awalnya lebih dari 600 akun saya ikuti trus sekarang tinggal 500-an karena beberapa saya unfollow. Saya tidak tahu kok bisa sebanyak itu saya "following". Sampai tulisan ini diturunkan ada 96 follower saya. Saya tidak terlalu memperdulikannya sih, hehe. Toh, intinya akun ini untuk bersenang-senang saja :). Nah, pas nungguin antrian costumer service Plaza Telkom Supratman tadi, saya sempat posting lagi. Kali ini isinya tentang film "The Man Who Knew Infinity" yang saya tonton semalam. Ada sekitar 8 orang yang nge-like. Finally, will you be selegram ? I hope not.

21 August 2016

[RESENSI FILM] The Man Who Knew Infinity

Barusan sekali saya selesai nonton film briografis yang menceritakan perjalanan intelektual matematikawan India, Srinivasa Ramanunjan. Judul lengkap film ini adalah "The Man Who Knew Infinity” dan bisa Anda secara online di link http://layarkaca21.tv/man-knew-infinity-2016/. Kecerdasan Ramanujan (dalam film diperankan Dev Patel) terlihat saat Ia menjadi seorang pegawai sebagai juru hitung di sebuah departemen milik kolonial Inggris. Di sana ada seorang India yang melihat kecerdasan Ramanunjan. Hasil kerjaan Ramanunjan dikirimkannya ke Trinity College, Cambridge, kepada seorang matematikawan terkemuka G.H. Hardy. Surat balasan Hardy diterima Ramanunjan yang isinya mempersilahkan matematikawan otodidak India ini untuk bergabung di sana.

Sesampai di Trinity, Ramanunjan disuruh oleh Hardy untuk membuktikan teorema yang berhasil dipecahkannya. Ramanunjan kesal dengan anjuran Hardy pada awalnya. Ia berdalih bahwa rumus-rumus matematika yang dipecahkannya adalah hasil kontempelasi yang tak harus dibuktikan. Ia seperti seni. Hardy yang berlatarbelakang matematika pun tidak puas dengan sikap Ramanunjan sampai terjadi perdebatan hebat pada suatu malam. Ramanunjan pasca kejadian ini justru membuktikan teoremanya dengan apik sampai Hardy dibuat terpukau. Satu teorema hebat yang dipecahkan Ramanunjan adalah teori tentang partisi. Ramanunjan pergi ke Cambridge tujuan awalnya adalah untuk publikasi. Secara diam-diam, Hardy mempublikasikan karya Ramanunjan dengan bantuannya yakni di hal pembuktian. Selanjutnya Ramanunjan dapat membuktikan sendiri (teori partisi) dan ini satu hal yang menjadikannya diterima sebagai fellow Royal Society.

Penemuan hebat Ramanunjan terjadi selain karena peran G.H. Hardy juga Littlewood dan MacMahon (ahli kobinatorika di Trinity College). Namun sayang sekali setahun setelah Ramanunjan menjadi anggota Royal Society, Ia meninggal dunia. Saat itu matematikawan India ini berusia 32 Tahun. Pelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa ilmu pengetahuan datang dari aneka macam orang, baik yang yang mengenyam pendidikan akademik di kampus maupun tidak. Ramanunjan adalah salah satu contoh seorang matematikawan yang tidak berpendidikan formal. Biarpun begitu, Ia sejajar dengan Bethoven, sang mahaguru di bidang musik klasik. Hardy dalam film menjajarkan nama Ramanunjan dengan Isaac Newton. Karya Ramanunjan yang dipajang di Trinity College pada 100 tahun kemudian dipakai untuk menganalisis lubang hitam (black hole). 

*) sumber gambar geeknewsnetwork.net

[RESENSI] Meng-IDEAL-kan Manusia ITB

Saya seolah dibawah ke ranah mahasiswa ITB 70-an dimana orang-orangnya penuh dengan ambisi dan gairah menjadi individu yang unggul di bidangnya masing-masing. Buku biru karangan Cardiyan H.I.S ini sedikit banyak gambarkan kondisi ITB saat itu. Orang-orang ITB baik mahasiswa maupun alumninya dikenal Percaya Diri yang tak ketulungan (baca : sombong). Ini tercermin di setiap penyambutan mahasiswa baru dengan spanduk “Selamat Datang Putera Puteri Indonesia Terbaik”. Selain itu, masyarakat ITB umumnya adalah lulusan terbaik dari SMA-SMA-nya. Di samping itu, di ITB sendiri dosennya juga banyak memberikan sentilan “Terbaik” kepada para mahasiswa. Atas dasar inilah, banyak dari mahasiswa ITB saat itu lantang berbicara di depan umum untuk sekedar demonstrasi dan sejenisnya. Tak jarang, mahasiswa ITB memimpin aneka aksi yang dilakukan mahasiswa Indonesia.

Buku ini selain menyingkap kondisi ITB saat itu juga memberikan alternatif rekomendasi bagaimana manusia ITB seharusnya. Menurut penulis, manusia ITB seharusnya memiliki watak wirausaha (entrepreneurship kalo sekarang) yang dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi. Untuk mencapainya dibututuhkan iklim pendidikan yang pas seperti halnya menjalin kerjasama yang solid dengan industri-industri dengan melibatkan mahasiswa selama aktif kuliah. Dalam ranah yang lebih luas, dibutuhkan duplikasi ITB di daerah-daerah lain agar distribusi kualitas pendidikan tinggi di bidang iptek merata. Harapannya ke depan, Indonesia memiliki banyak pengusaha di bidang industri strategis, tdk sekadar UKM yang tidak memiliki akar pengetahuan yg solid.

Kritik akan Isi Buku

Buku ini terlalu mengasumsikan pendidikan ITB sudah sangat ideal. Saya kira penulis terlalu bias ITB. Penulis juga kurang begitu menggali seberapa jauh kontribusi ITB (termasuk alumninya) terhadap pengembangan Iptek di tanah air disamping disajikan posisi ITB dan alumni-alumninya. Selain itu, buku ini kurang menjawab tantangan-tantangan mendasar yang akan dihadapi manusia ITB di abad 21. Saya kira mungkin karena buku ini ditulis sebelum milenium jadi kurang bisa menerka apa yang akan terjadi di abad tersebut. Terakhir, penulis terlalu optimis bahwa Indonesia kedepan (2045) akan maju dan kontribusi ITB atas hal ini sangat besar. Di sini, penulis kurang menyadari bahwa struktur industri dan iklim usaha di Indonesia kurang begitu memperhatikan pengembangan Iptek. Penulis juga seringkali mengambil sampel perusahaan top Amerika dan Jepang (umumnya IT dan elektronika), padahal jika memakai sampel Indonesia industri yang relevan justru di bidang kelautan dan pertanian.

20 August 2016

[MOMEN] Lomba Masak Agustusan 2016

Malam ini begitu spesial bagi warga  RW 15 Sekeloa Selatan Kelurahan Lebak Gede Coblong Bandung. Pasalnya diadakan lomba masak untuk peringati Hari Kemerdekaan RI tahun ini. Istilahnya kalo di kampung saya, "Agustusan". Lomba ini menjadi menarik karena setiap RT mengirimkan 1-2 wakilnya di lomba ini biarpun RT saya, RT 04, berdasarkan penuturan Ibu kostan tidak ada perwakilannya. Terhitung ada 10 tim di lomba ini dengan 2 ibu-ibu per tim.

Lomba ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan Agustusan RW setempat yang beberapa lombanya sudah dimulai dari 14 Agustus lalu. Acara ini sendiri dipanitiai oleh anak-anak muda setempat sekitar 20-an orang yang pada malam ini berseragam kaos biru. Rata-rata mereka berusia SMP/SMA. Acara ini diadakan di depan Pos Kamling RW 15 yang letaknya tepat di depan kostan saya. Sementara itu, menu masakan dipilih oleh panitia yaitu nasi goreng. Sampai tulisan ini saya tulis saat ini, ada dua tim yg menyerahkan hasil masakannya di meja dewan juri. Saya lihat ada 5 orang dewan juri yang salah satunya adalah Bapak DKM yang biasanya mengimami sholat.

Bentar lagi waktu lomba akan habis. Musik keroncong yang dinyanyikan oleh Bapak-Bapak berusia sekitar 50-an tahun menjadikan suasana semakin ramai. Anak-anak kecil memaksa masuk lokasi perlombaan yang semula dibatasi oleh tali rafia. Bentar lagi waktu lomba akan habis. Terlihat 7 tim sudah menyerahkan hasil masakan. Semakin lama semakin ramai. Tua-muda mengeluarkan kamera handphone mereka untuk mendomentasikan acara. Menurut pembawa acara, penilaian akan segera dimulai. Pemenang akan dihadiahi Trophy dan bingkisan entah apa isinya (katanya sih sembako). Hihihi. Sekarang, giliran Bu Iis yang memandu dengan lagu dangdut. "Digoyang.. digoyang..". Ada satu lagi warga yang nyanyi sekarang. Kata Ibu kost dari Lamongan katanya. "Joged Maaang ...".

Menjelang pengumuman pemenang, suasana semakin ramai. Warga berkumpul di sekitar meja juri yang di sana berjajaran hasil masakan dari para peserta. Saya kira tak ada dag-dig-dug, wong hampir di sepanjang acara diiringi aneka musik yang dibawakan bergantian dari perwakilan RT. Hehehe. Tiba saatnya dewan juri mengumumkan hasil perlombaan. Bapak DKM mengambil microphone dan menyampaikan hasil penilaian dari kelima juri. Jreeeng, Juara 3 menjadi milik Tim 6, Juara 2 Tim 8, dan Juara 1 Tim 10 dari RT 6 yang berhak mendapatkan Trophy bergilir dari panitia. Secara berturut-turut piala dan hadiah dibagikan oleh perwakilan Juri. Ini menjadi pertanda bahwa acara lomba masak nasgor berakhir. Sementara warga setempat berhamburan meninggalkan lokasi, di saat itulah panitia menyerbu nasgor yang dibuat oleh para peserta. "Asiik.. goyang.. Janji.. Janji..Pilih-pilih saja.. Asiik.. goyang Maang.. ", karaokean dangdut masih berlanjut sampai berita ini ditulis :) 

19 August 2016

ITB Financial Industries Days 2016

Hari ini saya mengikuti acara ITB Financial Industries Days 2016 di Auditorium Ipteks lantai dasar CC Timur ITB. Acara ini yang diselenggarakan oleh KK Industri Keuangan Matematika ITB ini cukup menyedot antusiasme warga. Hari ini adalah hari kedua acara dan agendanya adalah workshop investasi pasar saham. Perwakilan dari BEI dan RHB Securities bertindak sebagai pembicara acara.

Acara seharian (8-17) hari ini cukup menyedot energi bagi saya. Jedahnya sekitar sejam barengan dengan waktu ibadah jum'at. Biarpun demikian itu sebanding dg materi yg dibawakan juga dengan fasilitas yang disediakan panitia. Saya hanya bayar 25 ribu ke panitia, namun dapat makan siang, snack, sertifikat dan juga materi tentunya. Ini jelas murah sekali. Moga acara ini bisa berlanjut di waktu-waktu selanjutnya. Saya dukung rencana Bu Rieske untuk buat semacam kerjasama (lebih erat) antara Industri Keuangan dengan ITB di kemudian hari dalam bentuk sertifikasi manajer keuangan  salah satu contohnya.

Investasi menurut Pak Berlian dari RHB Securities adalah bergerak bersama perusahaan. Artinya seorang yang bertindak sebagai investor memiliki implikasi atas maju/mundurnya perusahaan. Tujuan investasi sendiri adalah untuk mengatasi inflasi. Menurutnya inflasi riil jauh lebih besar dibandingkan dg data statistik yg diberikan pemerintah. Beliau mencontohkan Indomie. Dulu indomie harganya sekitar Rp 300 dan kini Rp 2000. Ini menujukkan telah terjadi kenaikan/inflasi sekitar 700 persen. Maka dari situlah investasi kudunya mengikuti angka ini.

Sementara itu, Bapak perwakilan dari BEI mencontohkan Warrent Buffet sbg investor yang berhasil. Di Indonesia juga ada ternyata yaitu Lo Kheng Hong. Menurutnya dua orang ini jeli dalam memilih saham mana yg memiliki prospek bagus. Lo membaca lebih dari 40 buku Buffet dan kemudian menerapkannya. Ia tekun dalam membaca laporan keuangan perusahaan. Saham-saham IPO (Initial Public Offering) dibeli (tentunya yg prospeknya positif) dan diendapkan beberapa tahun. Dalam tahap awal sebelum berinvestasi, Baffet bahkan sampai datang ke perusahaan dan ngobrol dengan pegawainya. Ini tak lain untuk melihat kinerja perusahaan secara lebih dekat agar tidak 'memilih kucing dalam karung'. Akhirnya, selamat berinvestasi di pasar saham :)

17 August 2016

[OPINI] Merdeka dan Berdaulat di Ranah Iptek ?

Hari ini tepat 71 tahun yang lalu Indonesia resmi sebagai negara yang merdeka. Ini artinya sejak 17 Agustus 1945, negara ini memiliki hak penuh untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan kepentingannya. Mulai sejak itu, para pejuang kemerdekaan yang masih hidup bisa bernafas lega karena pemikiran mereka dapat diaktualisasikan dalam tindakan nyata. Bung Karno tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, didaulat sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Banyak kebijakan pembangunan yang dicetuskan Bung Karno, salah satunya adalah melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1949, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1959, dan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1963 adalah bukti keseriusan Bung Karno kembangkan Iptek.

Di tahap awal membangun ini, pengembangan Iptek berjalan kurang begitu mulus karena ketidakstabilan politik Indonesia saat itu. Biarpun demikian, pada masa Bung Karno kita dapati banyak sekali ilmuwan dan teknolog yang memiliki dedikasi tinggi untuk pengembangan Iptek. Sebut saja contohnya Semaun Samandikun yang gigih kembangkan semikonduktor pasca studi dari Stanford University. Kiprah dan semangat Semaun kini dilanjutkan oleh murid-muridnya di ITB Bandung. Panggung politik yang membesarkan nama Bung Karno juga ternyata melengserkannya di kemudian hari. Bung Karno digantikan oleh Jenderal Soeharto dan di masa itu dikenal new order (orde Baru).

Pada masa kepemimpinan Jenderal Soeharto, orientasi kebijakan nasional di arahkan ke pembangunan ekonomi. Di masa ini, iptek seolah tidak bergairah. Jika ada intelektual yang dikenal public umumnya mereka berlatar belakang ilmu ekonomi dan humaniora yang terjun menjadi birokrat. Sebagai contoh Sumitro Djojohadikusumo. Beliau dikenal luas sebagai Begawan ekonomi Indonesia di masa Orde Baru. Berbagai posisi penting di Kabinet pernah direngkuhnya seperti Menteri Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, dan bahkan Menteri Negara Riset. Baru pada Pembangunan Lima Tahun (Pelita) VI (1994-1999), Iptek mulai diseriusi oleh Presiden Soeharto dimana diharapkan Indonesia masuk tahap lepas landas. Iptek digarap secara serius dengan menempatkan BJ. Habibie sebagai orang kepercayaan. Pada masa ini, berbagai industri strategis telah berdiri seperti IPTN, PT Inti, PT Pindad, PT PAL, dan masih banyak yang lainnya. Momen sebagai penanda keseriusan Orde Baru kembangkan teknologi pada masa ini adalah terbangnya pesawat buatan anak negeri, N250 Gatot Kaca, pada 10 Agustus 1995. Tanggal itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas).

Orde baru runtuh pada 1998 dan di saat itu pula Iptek juga turut mundur. Beberapa industri strategis seperti IPTN (PT Dirgantara Indonesia) harus gulung tikar. Indonesia memasuki babak baru pembangunan. Terpilihnya BJ Habibie di masa reformasi tidak mampu mengangkat Iptek sebagai spirit kemajuan bangsa. Karena Indonesia ditempa krisis yang mahahebat, beliau memilih untuk memulihkannya. Stabilitas politik dan ekonomi menjadi kefokusan di periode sekitar dua tahun menjabat. Setelah itu berturut-turut kepala negara dijabat oleh Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan kini Joko Widodo. Di masa itu, Iptek tetap tidak disentuh secara serius. Pembangunan hanya difokuskan pada tataran ekonomi, sama dengan Orde Baru di masa-masa awal. Pada masa sekarang memang kita dapati banyak sekali anak negeri yang ahli di bidang tertentu. Reputasinya bahkan diakui secara internasional, namun ternyata di Indonesia mereka tidak terpakai. Sementara itu, kampus-kampus milik Pemerintah seolah kehilangan orientasi. Petinggi Lembaga Pendidikan ini umumnya hanya disibukkan dengan sesuatu yang sifatnya administratif saja. Jika ada civitas akademika yang memiliki dedikasi tinggi akan ilmu pengetahuan, tak ada panggung dan pentas tambahan melainkan hanya ucapan “Terima Kasih” yang didapat.
 
Pesawat N250 simbol kebangkitan Iptek nasional (dok. finance.detik.com)
Dunia bergerak sangat dinamis, termasuk pula perkembangan Iptek. Namun, itu tidak disikapi serius oleh Pemerintah dengan penyiapan sumber daya manusia yang berkeahlian spesifik. Di saat sekarang memang digelontorkan kemudahan akses pendidikan dengan aneka beasiswa bahkan sampai S3, namun itu belum mampu mendongkrak pemanfaatan Iptek dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak sekali anak bangsa yang merantau ke Luar Negeri belajar aneka ilmu pengetahuan, namun setelah pulang ke Indonesia tak ada tempat yang mampu menampung mereka. Jikapun ada, mereka harus berkorban karena justru di sini yang diurusi umumnya masalah administratif yang justru kontraproduktif. Ini adalah pertanda bahwa Iptek sampai saat ini dipersepsikan tidak sebagai pilar utama dari pembangunan. Akhirnya, semoga dengan turutnya kita memperingati kemerdekaan Republik ke-71 pada hari ini, kita bisa merenungkan itu semua.  

15 August 2016

Managing Successful Universities

This book was created by Michael Shattock. It tells about management of university in generally. In the beginning of the book, the author brings you to the criteria of successful university. Then, in the next chapters, you will know about financial management, recruitment, etc. University of Oxford, Cambridge, Warwick, and other big campuses are reference of his research. You will know about comparation of selected university according to budget of research, income, etc. From here, we know that each campus has its character.

I think this book is good only for you who want to know about how big universities like I mentioned before manage them selves. In the last of the book, author explains little about entrepreneurial university. For him, entrepreneurial is like habit/character that must be implemented in all aspects, including staff, scholar, management, etc.

Posted on 3:11 PM | Categories:

12 August 2016

Ideologi Saya Adalah Pramis

Saya baru menyelesaikan membaca buku ini tadi siang sekitar jam 14 dari kemarin jika tidak salah. Judul lengkap buku ini adalah "Ideologi Saya Adalah Pramis : Sosok, Pemikiran, dan Tindakan Pramoedya Ananta Toer" dan ditulis oleh penggemar Pram, Muhidin Dahlan. Buku ini seperti judulnya menggambarkan Pram dari interaksinya dengan penulis, kerabat, maupun dari keluarga terdekat. Pemikiran Pram digambarkan dari karya-karyanya terkhusus sembilan karya yang bagi penulis terbaik. Secara umum buku ini subjektif (opini) penulis terkait Pram. Dari sinilah sukar ditemukan pernyataan yang bernada kritik atas  diri maupun pemikiran Pram.

Membaca buku ini, Anda akan diperkenalkan dengan beberapa pandangan penulis atas karya-karya Pram, terkhusus yang monumental (dikenal luas publik). Juga perjalanan Pram dalam dunia kepenulisan dan sebagai tahanan politik. Tak ketinggalan terkait proses kematian Pram yang ditulis secara esklusif oleh penulis dalam rentang tiga hari menjelang penulis besar ini wafat. Penulis juga menyinggung sikap politik Pram di dunia kesastraan. Semuanya ini disampaikan penulis dalam bentuk kumpulan essay pendek. Maka jangan harap, Anda akan dapatkan penjelasan yang tuntas.

Mengenang Pram

Sebagai pengagum Pram, buku ini seolah menjadi pengingat saya akan karya-karya Pram yang sudah lama saya baca. Saya dibawa kembali oleh penulis untuk meraba-raba sosok Minke, Gadis Pantai, Midah, Ontosoroh, dan seterusnya. Otak saya terpacu untuk merangkai puzzle akan sosok-sosok yang digambarkan dalam bukunya. Ini semacam nostalgia bagi saya atas buku-buku karya Pram yang pernah saya baca. Mengingat Pram adalah salah satu penulis favorit saya, buku ini merangsang saya untuk kembali menelusuri dan menjejaji serta mengumpulkan (baca : membeli) karya-karya Pram yang dulu pernah saya lakukan.

Buku ini bagi saya adalah buku ringan jika dibandingkan saat membaca karya Pram dimana saat itu saya kudu mengernyitkan dahi mencari jawaban atas beberapa istilah atau paragraf yang ditulis Pram dalam bukunya. Biarpun demikian, saya mendapatkan satu pelajaran berharga setelah membacanya, yaitu "Menulis, menulis, dan menulis". Saya seolah diingatkan Pram bahwa tiada karya kepenulisan yang jelek. Menulis adalah proses pembiasaan. Seperti yang umum dikutip oleh banyak orang, "Menulis adalah bekerja untuk keabadian".

11 August 2016

[OPINI] Momen Harteknas : di ITB yang Katanya Kampus Teknologi

10 Agustus ditetapkan setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harteknas). Tanggal ini konon dipilih untuk mengenang kesuksesan Pesawat N250 yang digagas BJ. Habibie terbang mengitari langit Bandung dan sekitarnya. Pesawat ini konon adalah pesawat asli buatan anak bangsa yang pertama. Dicanangkan Harteknas oleh Pemerintah salah satu harapannya adalah untuk memberikan spirit ke generasi penerus bahwa Indonesia dapat sejajar dengan negara dan bangsa lain untuk menguasai teknologi. Harteknas ini juga semacam klaim bahwa Pemerintah memberikan ruang yang besar bagi anak bangsa untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Realitanya sudah sekitar 20 tahun sejak puncak Harteknas pada 10 Agustus 1995, perkembangan sains dan teknologi di Indonesia mandeg. Saya yang sudah 7 tahun berada di kampus teknik tertua di Indonesia saja tidak begitu faham arah riset yang dilakukan oleh ilmuwan dan teknolog yang berada di lingkungan kampus ITB. Apalagi dari institusi lain seperti LIPI, BPPT, LAPAN, dan juga kampus-kampus lain. Mungkin Anda akan menyangkal, "Salah kamu sendiri tidak blusukan dengan lab-lab yang ada di ITB, di sana kan dikembangkan aneka keilmuan. Hasilnya bahwa diakui internasional seperti misalnya dipublikasi di jurnal internasional". Jika ada yang mengatakan demikian, saya akan balik tanya, "Dapatkan Anda menceritakan seberapa jauh progress dari penelitian yang telah dilakukan ? Apakah output dari penelitian sekedar publikasi ke jurnal ilmiah internasional yang terindeks scopus misalnya ?". Jika demikian kiranya, ini hanya sekedar routiney fool yang tidak memiliki orientasi yang riil. Dari sini saya bertanya, "What is science and technology for ?". Saya yakin hadirnya saintek adalah memudahkan meraih tujuan yang telah kita sepakati. Dalam konteks negara bangsa, maka saintek adalah merealisasikan tujuan negara yang tertera dalam Pancasila dan mukaddimah UUD 1945.

Saya tidak habis pikir setiap tahun Harteknas diperingati tentunya dengan biaya yang tidak murah. Padahal kita tidak melihat adanya hubungan iptek untuk kemajuan bangsa dan negara. Buktinya sederhana, teknologi dan industri hubungannya erat sekali (tak dapat dilepaskan), namun di kita ilmu-ilmu engineering di kampus tak dapat dipakai di dunia industri. Maka, jika industri meminta kampus untuk membantu maka tak lebih dari reverse engineering atau benerin mesin-mesin agar usianya lebih lama. Padahal di kampus dipelajari termodinamika dan beberapa konsep dasar lainnya yang keluarannya adalah membuat alat dan sebagainya. Industri kita nyatanya membeli peralatan mesin dari luar negeri, sementara para pekerjanya tinggal pakai. Dari sini tak kaget bahwa lulusan Perguruan Tinggi hanya mampu menjadi pekerja industri secara keadaan tidak memungkinkan mereka untuk membangun industri. Jika ada yang membuat perusahaan, maka itu masih dalam tataran perusahaan dengan skala mikro dan menengah dimana didalamnya tak ketat menggunakan basis keilmuan. 

Di ITB yang Sepi

Sejauh ini kampus ITB mengembangkan dirinya dengan konsep multikampus. Saat ini ITB berlokasi tak hanya di Jalan Ganesa Bandung, melainkan merembet ke Jatinangor dan yang paling baru Cirebon. Pengembangan ini sepintas menunjukkan bahwa gairah belajar Iptek setidaknya di Jawa Barat cukup besar, namun disini saya memandang lain. Pengembangan Iptek tak bisa tidak pasti dibutuhkan lokasi (lokus) yang didalamnya terdapat aktivitas dan komunitas yang solid terkait dengan itu. Tegasnya melalui interaksi yang intens di antara komunitas pengembang ipteks memunculkan budaya. Budaya ini menjadi corak dan tak mudah diduplikasi di wilayah lain. Kampus ITB Jatinangor dan Cirebon menurut saya tidak dapat disamakan budayanya dengan kampus ITB Ganesa karena selain usianya belum lama juga interaksi antarakademisi belum intens terbentuk. Apalagi dosen-dosen yang mengajar di kampus itu (kampus ITB Cirebon saya belum tahu) mengajar juga di kampus ITB Ganesa. Artinya mereka mbajak dari Bandung-Jatinagor PP. Saya lebih setuju jika ITB membuka cabang baik di Jatinangor maupun Cirebon atau tidak menutup kemungkinan di daerah lain maka dosen dan pengurus kampus itu (rektor dan turunannya) harus terpisah dari manajemen kampus ITB Ganesa. Pedoman saya, kultur (budaya) itu selaras dengan lingkungan (geografis). 

Pembukaan cabang ITB di kota-kota lain ini menjadikan kampus ini tak lebih sekedar jualan, tidak berbeda dengan kampus yang ada di Indonesia pada umumnya. Bukannya kualitas penelitian yang dipacu, melainkan jumlah lulusannya. Jika ini terus digalakkan, maka jangan kaget jika suatu saat ijazah lulusan ITB berharga murah karena sukarnya membedakan lulusan ITB dengan kampus lain. Artinya apa, karakter lulusan ITB tidak jelas. Saya akui, memang saya bukan lulusan ITB yang qualified secara keilmuan saya dulu di Matematika. Buktinya saya sekarang membelot ke Studi Pembangunan. Namun, saya khawatir dengan masa depan kampus ini jika tanda-tanda dugaan saya itu semakin mengarah ke kenyataan. Saya melihat tanda-tandanya sebagai contoh, jam malam di ITB digalakkan, di sini kampus tidak terbuka 24 jam bagi para mahasiswa ITB untuk beraktivitas. Kedua, dari dulu saya masuk ITB (2009) sampai sekarang, forum ilmiah sukar diadakan di kalangan mahasiswa. Kaderisasi dan acara-acara non-akademik yang justru ramai, di sini saya bertanya, "Halo, ini kampus atau Event Organizer ?". Ketiga, di kampus ini ilmuwan dan teknolog yang karyanya diakui di dunia akademik tidak seterkenal artis dan tokoh politik. Jadi di obrolan warung kopi, yang dibahas bukan "Si dosen A menemukan ini lo", tapi "Yuk kita buat event itu biar dapet projek dari Pak itu".

Kondisi-kondisi inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa pengembangan keilmuan yang riil di kampus ITB hanya dilakukan oleh beberapa orang atau kelompok saja. Sebagian besar dari civitas akademika melakukannya untuk jangka pendek saja. Apakah ini salah ? sulit untuk dijawab, mengingat Pemerintah yang memiliki saham terbesar akan masa depan ITB nyatanya tidak punya visi yang jelas dalam pengembangan Iptek. Maka dari sini tidaklah mengherankan bahwa momen Harteknas di kampus ini tidak seramai hari ulang tahun kampus. 10 Agustus tak lebih dari sekedar tanggal seperti tanggal-tanggal lain. 

Resensi Buku : Studi Strategi

Judul lengkap buku ini adalah Studi Strategi : Logika Ketahanan dan Pembangunan Nasional. Buku ini ditulis oleh Daoed Joesoef dan diterbitkan Penerbit Kompas. Tebal buku ini adalah 222 halaman. Buku ini berisi pandangan-pandangan Daoed Joesoef terkait persoalan bangsa dan negara, lebih spesifik lagi adalah kritik dan rekomendasi atas praktik pembangunan yang ada di Indonesia saat ini.

**

Indonesia dianugerasi dengan wilayah yang 2/3 adalah laut. Atas dasar geografis inilah, Indonesia kudunya menempatkan laut sebagai halaman depan rumah. Kebijakan-kebijakan militer juga pembangunan harus ditempatkan dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan. Faktor geografis inilah yang menjadi sentral untuk merencanakan pembangunan negara. Dari sinilah akan muncul konsep-konsep ; geopolitik, geostrategi, geoekonomi, geokultural, geopendidikan, dan geodiplomasi.

Pembangunan ini sendiri merupakan kajian multisiplin maka tidak dapat ditumpu hanya dalam satu parameter seperti pertumbuhan ekonomi. Daoed Joesoef seringkali mengulangi pandangannya bahwa arah pembangunan dari Orba sampai sekarang tdk berubah, tetap bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Atas dasar inilah, pembangunan diartikan dalam definisi yang sempit. Cabang ilmu ekonomika dan turunannya menjadi seolah cabang keilmuan primadona yang seolah dengan permainan statistik dapat mengubah keadaan suatu rakyat. Daoed menyoroti bahwa ekonomika memiliki keterbatasan dalam ranah menyingkap realitas human yang kompleks. Ekonomika menjadikan realitas geografis abstrak dan cenderung direduksi. Pandangan ini membuat munculnya kebijakan sembrono seperti halnya penumpasan RRI dan Permesta dengan militer. Para pemberontak dianggap separatis, padahal bisa jadi mereka melakukannya karena merasa tidak "diwongke" oleh Pemerintah Pusat.

Pembangunan harusnya dilakukan secara menyeluruh yang meliputi banyak dimensi, tidak sekedar ekonomik. Menurut Daoed, fungsi pembangunan adalah justru untuk mewujudkan wadah, "kemerdekaan" yang harus diisi, mentransformasikan "proklamasi kemerdekaan" menjadi "kemerdekaan riil" yang dinikmati bersama. Disinilah pembangunan tak sekedar mengandalkan angka-angka statistik, namun dengan juga melihat akar budaya masyarakat yang dipegangteguh jauh sebelum Indonesia merdeka.

Oleh karenanya, tak sekedar teknokratik an sich yang diperlukan, melainkan teknokratis filosofis yang memahami realitas pembangunan secara utuh.

09 August 2016

#OpiniHarteknas : Komersialisasi Riset di Perguruan Tinggi Kita

Setidaknya ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari tulisan Fajri Siregar di SELASAR (5/8/2016) yang berjudul “Memberdayakan Riset”. Pertama, perlunya menyelaraskan riset dengan kebutuhan sehingga hasil riset akan dapat termanfaatkan secara langsung. Kedua, perlu dijembatani antara hasil riset dengan pengguna riset. Dua poin ini mengantarkan saya pada satu istilah yang umum bagi pegiat inovasi yaitu komersialisasi riset.

Komersialisasi riset sederhananya berarti memanfatkan hasil riset untuk kepentingan ekonomik. Sebagai contoh hasil riset dimanfaatkan oleh perusahaan. Implikasinya terdapat hubungan yang cukup erat (harmoni) antara pelaku riset dengan pelaku usaha (industri). Industri biasanya memberikan dana riset kepada pelaku riset (peneliti). Setelah riset telah selesai dan berhasil, hasil (produk) riset akan dimanfaatkan industri. Pola ini bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, dimana peneliti diuntungkan dengan insentif dan peluang untuk riset, sedangkan perusahaan diuntungkan dengan produk riset yang kompetitif.

Komersialisasi Riset : Baik atau Buruk ?

Pertanyaan ini seringkali muncul khususnya dari kalangan akademisi Perguruan Tinggi. Mereka dapat dikelompokkan dalam dua aliran (mahzab). Mahzab satu mengatakan bahwa komersialisasi riset itu baik karena hasil riset akan langsung termanfaatkan sehingga tidak mubazir. Ada yang menyebut hal ini sebagai bentuk dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabidan kepada masyarakat. Mahzab satunya lagi mengatakan bahwa komersialisasi riset berarti kapitalisasi pengetahuan dimana ini bertentangan dengan jatidiri universitas sebagai lembaga pendidikan yang jauh dari unsur bisnis (komersial). Dua mahzab ini seringkali bertikai dan tak ada ujungnya. Tak hanya di Indonesia, di negara-negara Barat yang kampusnya bisa dikatakan mapan juga mengalami hal serupa. Ini tak lain disebabkan karena latar belakang berdirinya universitas di berbagai negara berbeda.



Sebagai contoh berdirinya kampus-kampus di Amerika Serikat tak dapat dilepaskan dengan golongan pedagang Eropa yang ingin mengembangkan bisnisnya. Posisi kampus-kampus saat itu bisa dikatakan sebagai pelayan industri/perusahaan. Berbeda halnya dengan kampus-kampus di Eropa yang berdirinya tak dapat dilepaskan dari golongan kaum bangsawan seperti kalangan kerajaan serta pemuka agama. Aktivitas komersialisasi riset mulai masif digalakkan di masa berdirinya kampus-kampus di Amerika tersebut. Silicon Valley adalah bukti betapa suksesnya hubungan Perguruan Tinggi (Stanford University) dengan dunia usaha yang berbasis di California ini. Satu poin penting dari sini adalah berdirinya suatu kampus bertujuan untuk menjawab kemauan investor kampus itu. Jika dilihat dalam konteks Amerika Serikat, maka dunia usaha adalah investornya.

Namun, jika melihat konteks Indonesia, sungguh sangat pelik. Ambil contoh saja Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdirinya kampus ini pada 1920 adalah untuk men-supply tenaga kerja terdidik dari kaum pribumi untuk nanti bekerja pada Belanda. Tujuan awal tersebut bergeser ketika Indonesia merdeka, sampai tiba tenaga pengajar dari Amerika Serikat (Kentucky Contract Team) menggantikan pada dosen dari Belanda. Saat itu, hal-hal peninggalan Belanda diganti dan konon buku-buku peninggalannya dibakar. Pada masa Belanda, metode pengajaran di ITB lebih ditekankan aspek pemahaman secara mendalam atas teori yang diajarkan. Pada masa itu peragaan di kelas menjadi hal biasa dan ujian dilaksanakan secara lisan. Budaya akademis semacam itu diganti dengan budaya baru dari Amerika. Pada masa itu, buku ajar (textbook) mulai diperkenalkan metode tanya jawab, juga multiple choise pada saat ujian. Biarpun metode ajar sudah mengikuti metode Amerika, dosen-dosen ITB yang pernah diajar akademisi Belanda masih cukup banyak dan berpengaruh di ITB. Warna mereka masih sangat terasa di ITB, apalagi setelah ditambah dengan banyaknya dosen yang studi lanjut ke Eropa dan Jepang. Karena heterogenitas dosen ITB sangat tinggi ditambah dengan arahan Pemerintah yang tidak jelas dalam hal riset, para akademisi ITB seoalah bergerak sendiri-sendiri baik dalam hal riset maupun aktivitas lainnya. Komersialisasi riset yang ada di ITB pun pada akhirnya dilakukan atas inisiatif dosen tertentu, bukan dari ITB secara institusi,

Dari sejarahnya, komersialisasi riset dilakukan karena interaksi yang kuat antara dunia usaha (industri) dan Perguruan Tinggi. Ini bisa dikatakan sukses dijalankan di Amerika Serikat. Jika ditarik ke wilayah Indonesia, hal ini menjadi kurang begitu relevan. Hal ini dikarenakan tujuan awal didirikannya kampus bukan untuk itu. Hubungan kampus-kampus kita dengan industri pun tidak kuat. Umumnya kampus kita masih bergerak di tataran pengajaran (teaching) dan menghasilkan lulusan yang siap kerja, bukan siap mendirikan usaha. Munculnya beberapa dosen dan juga mahasiswa yang melakukan komersialisasi riset menjadi hal yang tidak bisa dilarang.

Menselaraskan dengan Visi

Pada masa Pemerintahan Jokowi, Kementerian pendidikan tinggi dipisah dengan pendidikan dasar yang bernama Kemenristekdikti. Harapan dibentuknya kementerian baru salah satunya adalah untuk memperbaiki kualitas riset kita secara signifikan. Realitanya ternyata tak jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Kampus-kampus kita secara kualitas ternyata masih jauh jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain di Luar Negeri (Tulisan Fuad Rakhman di Jakarta Post (7/12/2013) http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/07/ri-universities-cannot-compete-internationally.htmlmasih relevan). Celakanya, Pemerintah juga tidak memberikan ‘arah’ riset bagi kampus-kampus khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Publikasi internasional seakan-akan satu-satunya parameter kemajuan riset. Padahal, kemajuan riset ini ditopang dengan aneka variabel yang kompleks, tidak bisa parsial.

Karena Pemerintah tak dapat diharapkan, satu-satunya harapan adalah visi Perguruan Tinggi dalam rentang satu periode rektor. Terkait komersialisasi riset, sebenarnya sangat selaras dengan visi yang dibawa rektor ITB saat ini, Kadarsah Suryadi. Dalam lima tahun kedepan sejak 2014, Kadarsah mengusung entrepreneurial university sebagai upaya memajukan ITB. Ekspektasi dari hadirnya ide ini adalah para dosen dan juga mahasiswa yang mampu menangkap peluang bisnis dari apa yang dipelajari (komersialisasi riset) diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk berkembang. Namun ternyata, realitanya tidak demikian. Kampus tidak peduli dengan aktivitas bisnis yang dilakukan baik dosen maupun mahasiswa. Kampus hanya memonitoring hal-hal rutin seperti pengumpulan nilai dan berkas akademik lain. Ini saya kira kerugian bagi kampus itu sendiri. Padahal jika ditengok dari kalangan mahasiswa ITB saja untuk angkatan 2008 lulusannya 6 persen terjun di dunia usaha sedangkan angkatan 2007 dengan 7.05 persen (Tracer Study ITB). Fakta ini menunjukkan gap terkait komersialisasi riset dalam tataran ide dan praktik. Nah, apakah dengan adanya momentum Harteknas yang diperingati tiap 10 Agustus dapat menangkap fenomena ini ? Entahlah. 

*) sumber gambar research.fsu.edu

08 August 2016

Dimensi Manusia dalam Pembangunan


Apa yang saya pikirkan sekarang terkait posisi teknologi dalam pembangunan ternyata telah ditulis oleh seorang intelektual bernama Soedjatmoko dalam tulisannya berjudul "Teknologi, Pembangunan, dan Kebudayaan". Tulisan ini pertama kali Ia tulis di tahun 1972 dan diterbitkan pertama kali oleh LP3ES pada 1984 berjudul "Dimensi Manusia dalam Pembangunan".
***
Teknologi adalah sebuah sarana untuk menyelesaikan persoalan. Dalam konteks Indonesia sbg negara berkembang, teknologi diarahkan pada penciptaan lapangan kerja dalam bidang-bidang industri dan pertanian, dan harus kembangkan teknologi2 "menengah" (intermediate technology) yang sesuai dengan basis sumber-sumber. Konsekuensi dari ini adalah perlunya sistem pendidikan yang mengarah ke sana.
Dalam mewujudkan hal ini, Indonesia tak harus mengisolasi diri namun tetap berinteraksi aktif dengan negara-negara yg dikenal maju dalam bidang teknologi modern. Di sini para teknolog dituntut untuk mampu mengadopsi jenis teknologi yg sesuai dengan visi-misi negara. Artinya disini tidak ikut-ikutan dengan teknolog-teknolog Barat. Ide ini saya sebut sebagai "kemandirian berilmu pengetahuan".
Kemandirian ini akan mendorong kita sebagai sebuah bangsa yg berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dg negara-negara lain. Kita tak sekedar sbg objek negara2 lain (Soedjatmoko menyebutnya sbg konsumen belaka), melainkan mampu memproduksi sesuatu.
Dalam tulisannya, Soedjatmoko tak pernah katakan "Mengejar ketertinggalan negara-negara maju", namun Ia tekankan bahwa teknologi harus dapat menjawab kebutuhan bangsa. Karena Indonesia dianugerahi kekayaan alam didalamnya, maka sederhananya itu semua dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa Indonesia sendiri.

*) diambil dari status facebook saya tanggal 24 Juli 2016

07 August 2016

Malam Minggu di Cartil

Sampai tulisan ini saya buat, posisi saya masih di Caringin Tilu (Cartil). Lokasi ini menjadi destinasi malam minggu setelah saya membaca postingan dari Pak Thomas Jamaludin dari LAPAN. Menurut beliau, malam ini adalah malam antariksa dimana bintang-bintang di angkasa terlihat jelas. Lantas apa yang menjadi alasan malam 6 Agustus 2016 sebagai hari spesial dibanding dengan malam-malam lain? Entahlah, saya belum cermati lebih dalam.

Rencana awal ke Cartil ini adalah nongkrong sembari melihat bintang-bintang. Dari sana 'bisi' saya bisa mencipta satu puisi romantis atau inspirasi lain. Setibanya di Cartil, kami nongkrong di sebuah warung paling pojokan diantara warung-warung kecil. Warung ini bisa dikatakan paling luas. Di sana kami disambut dengan teman-teman satu pendakian yang lain seperti Restu, Icha, dan tiga temennya. Terlebih dahulu sebelumnya dengan Yoga. Kami sendiri ke sini berlima ; saya sendiri, Tami, Abul, Abduh, dan Ferdy. Kita boncengan dengan 3 motor.

Dari ketinggian ini terlihat sekali pemandangan kota Bandung di malam hari. Lampu-lampu rumah, jalan, gedung, dan tempat-tempat publik memendarkan cahaya pengganti bintang-bintang di langit. Ya, malam ini awan tebal menutupi benda-benda langit seperti bintang dan galaksi. Dari Cartil, tak satupun bintang terlihat. Langit seperti roti tawar tanpa teroles 'ceres' dan selai. Saya kecewa, tak satupun kalimat puisi tergubah. Biarpun demikian, obrolan ngalor-ngidul semalam cukup mengobati rasa kesendirian di malam minggu. Kami mengobrolkan banyak hal seperti halnya pengalaman pendakian, rencana traveling, dan juga tema-tema lain.

06 August 2016

Bu Popong

Ketika perut lapar dan di saat itu masih pagi, maka tidak berfikir panjang saya menuju ke warung kecil berukuran sekitar 2 x 10 m2. Anda mungkin akan bertanya, kok lebarnya cuma 2 meter ?. Warung ini bisa dikatakan ilegal (duh terlalu kasar bahasanya) karena memakai lahan parit. Ya, warung ini terletak tepat di atas parit. Jadi parit yang tertutup oleh beton dialihfungsikan sebagai sebuah warung. Biarpun demikian, tidak ada warga yang complain dan menuntut warung ini tutup. Mengingat eksistensi warung ini sudah bertahun-tahun (dari 2010 saja sudah 6 tahun kan, padahal warung ini berdiri jauh sebelum itu), maka disini secara de facto legal. Kok berat banget ya bahasannya, hehe. Mari kita lanjutkan ceritanya :)

Lokasi warung ini di kompleks perumahan Tubagus Ismail, tepat di samping barat Dago's Hill dan beberapa meter dari Sekolah Salman Alfarisi. Pelanggan biasanya di warung ini selain mahasiswa adalah para pekerja kasar, karyawan, dan warga penduduk sekitar. Saya sendiri, pertama kali ke sini ketika saya tingkat 2-3 dimana saat itu saya berasrama tak jauh dari warung ini. Dengan teman-teman asrama, bersama-sama kita ke sini. Bahkan ketika ada kegiatan yang mengandung 'kuliner', kami meminta Bu Popong, pemilik warung, untuk memasak. Paling ingat, saat kegiatan Leadership Talk tahun 2011 nasi kotak yang diberikan ke peserta seminar adalah buatan Bu Popong.

Adapun menu masakan di sini macam-macam ; ayam goreng, lele, patin, dadar, tongkol potong balado, jeroan, ikan kembung, ikan asin, juga sayuran seperti tumis buncis, tumis labu, tumis kangkung, atau juga sayuran.berkuah seperti sayur asem dan sayur sop. Ada juga lalapan seperti leenca dan jengkol. Nah, yang jadi favorit di sini adalah sambelnya. Biasanya ada dua jenis yaitu sambel terasi dan sambel hejo. Pada pagi ini, lauk saya cukup dengan tongkol potong balado dengan tumis buncis. Ditambah dengan dua jenis sambal tadi serta gorengan yang baru di-'entas' dari wajan, masih anget. Sementara minumnya dengan teh tawar cukup. Disini bagi saya tidak hanya karenanya menunya yang umumnya masih hangat, tapi suasananya. Ngeblog setelah sarapan adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi saya, hehe.

Jika Anda melewati kompleks Perumahan Tubagus, saya rekomendasikan untuk ke sini. Khususnya bagi Anda yg ingin makan porsi kuli. Hehe. Namun, jangan kaget ya jika ke sini ada gerombolan anak muda yang pakai jaket hitam berlogo PPSDMS. Bagi sebagian besar anak-anak asrama ini, Bu Popong adalah ibu. Iya, sulit rasanya memisahkan Bu Popong dari kehidupan anak-anak asrama khususnya yang pernah tinggal di Tubagus Ismail VIII no.68. O iya, Bu Popong ini punya anak cewek angkatan 2011, kuliah di Jurusan Teknik Industri Unisba. Saya infoin aja, hehe

05 August 2016

Lotek

Seorang nenek tua usianya 70-an tahun 'mengulek' cengek, kencur, trasi, kacang, garam,kacang halus, kentang telanjang, dan juruk nipis dalam satu 'cowek'. Tangannya menggoyang-goyangkan 'mutu' dengan penuh dedikasi. Setelah bumbu tercampur sempurna, bahan-bahan dicampurkan seperti halnya sayur dan tahu. Bumbu pun dicampur secara sempurna dengan aneka bahan-bahan yang ada. Setelah tercampur, baru kemudian 'lotek' siap dihidangkan dalam sebuah daun pisang dibalut dengan kertas minyak.

"Berapa Bu?", "8 ribu". Ya, segitu harganya murah kan?. Ini yang tidak pake lontong/nasi. Kalo pake itu jadinya 10 ribu. Anyway, lapak lotek nenek tua ini letaknya di sepanjang 'kompleks' PKL Haur Pancuh, jalan menuju Haur Mekar dan Sekeloa. Tepatnya jika pembaca sekalian dari Dipatiukur,  ada pangkalan Damri (yg ke Leuwipanjang) dan didekat sana ada Jalan Haur Pancuh (jalannya aspal ya), itu Anda masuk. Di sana ada pangkalan ojek dan deretan PKL di trotoar sebelah kiri jalan. Nah, letak lapak lotek nenek ini di ujung tapi tidak paling ujung. Saya tadi tidak sempat memotret gerobak (tp tidak ada rodanya sih) karena keburu salaman ama mantan istri imam masjid kosan lama. Moga nanti kalo ke sana lagi saya sempatkan foto :)

Bicara terkait rasa, gurih kacangnya kerasa dan agak manis juga. Karena saya tadi mintanya pedas jadi terasa cengeknya. Ada sekitar 6 biji cengek tadi. Pas saya makan dengan nasi, pedasnya kerasa sekali. Sampai saya terhenti di fase-fase terakhir makan, keringat saya bercucuran. Saya stop dan nyicil nulis blog ini. Biasanya saya diberi dua plastik krupuk, tapi sekarang cuman satu. Jadinya pas di tengah jalan, krupuk sudah habis. Overall, saya puas. Tidak sarapan tadi pagi terbayarkan sudah. Kenyang, alhamdulillah. 

04 August 2016

Susu Murni Dingin

Cuaca Bandung seharian ini cerah. Siang tadi bahkan cukup panas. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan kewajiban saya membaca literaturn untuk thesis. Saya tadi baca sejarah universitas. Ini merupakan lanjutan dari halaman yang kubaca beberapa waktu lalu.

Inti dari apa yang saya baca tadi begini. Ada masa dimana jabatan akademis yakni profesor menjadi semacam gelar kehormatan di lingkungan masyarakat. Di beberapa negara Eropa di masa lalu adopsi ini. Implikasi dari hal ini yaitu beberapa profesor menjadi tokoh politik seperti halnya Presiden Universitas Harvard (lupa namanya) yang juga profesor di bidang hukum dan politik terpilih menjadi Presiden Amerika.

Bagian menarik lain yang ingin saya ceritakan yaitu Pengaruh Jerman (Prussia saat itu) di berbagai belahan dunia seperti Amerika Utara dan Amerika Selatan sangat terlihat. Pola pembelajaran kampus di Kanada misalnya gunakan sistem adopsi dari Jerman. Amerika Serikat juga demikian. Nah, saat Nazi berkuasa di Jerman banyak ilmuwan Jerman yang pindah ke AS dan kembangkan keilmuan di sana. Einstein adalah contohnya dg mengajar dan riset di Princeton University.

Kopmil DU

Saya penasaran dengan satu mobil van putih yang biasa parkir dan jualan di pertigaan Teuku Umar Bandung. Penasaran saya ini sudah lama dan belum sempat bagi saya untuk sekedar mampir. Nah, malam ini saya mampir. Ternyata van putih ini jualan susu murni, sachet, dan juga roti bakar. Brand yang dipakai adalah Kopmil DU. Saya tidak filosofi dari nama itu karena saya tidak ngobrol dengan pemiliknya. Di sini pengunjungnya ramai dengan dominasi anak muda seusia saya.

Saya pesan susu murni original dingin. Harganya satu cup 7 ribu rupiah. Dari aneka susu murni modifikasi (rasa macem-macem), ini paling murah. Namanya juga susu murni, tingkat kemanisannya rendah. Apalagi ditambah es jadi kemurnian susu murninya berkurang (saya ngomong apa sih?). Yang penting bagi saya berkunjung dan nongkrong beberapa saat di sini. Biarpun sendirian saja, tapi saya merasa asik aja lihat pengamen lalu lalang ke sini. Juga ngelihat anak2 muda saling bercengkerama.