Saturday, November 17, 2018

Satu tahap lagi "Informatif"

PPID ITB (WRAAK) menerima penghargaan dari Komisi Informasi

Tidak terasa ternyata saya sudah lebih dari 1.5 tahun bekerja untuk PPID ITB. Awalnya saya tidak merencanakan untuk bekerja di sana selama ini. Awalnya saya pengen fokus riset untuk persiapan S3 saya, namun ternyata realitanya secara paralel saya lakukan, bekerja untuk PPID dan juga meriset di SBM. Di tahun pertama saya berasa berat soalnya di kedua pekerjaan tersebut saya adalah orang intinya. Tapi di tahun kedua, saya merasa biasa saja. Dua hal ini bisa saya lakukan dengan optimal. Target responden untuk 2 riset terpenuhi dengan masing-masing sekitar 130an dosen. Di tulisan ini saya tidak akan berbicara terkait pengalaman riset, saya akan menceritakan pengalaman saya di PPID.

Merencanakan Rencana

PPID adalah barang baru buat saya, namun tidak baru-baru amat karena pas S2 saya pernah ikut kelas Sekolah Politik Anggaran (Sepola) di FE Unpad. Salah satu misi dari sekolah ini adalah agar kami-kami kritis akan informasi publik yang seharusnya disediakan oleh badan publik. Pernah suatu ketika kita diminta untuk meminta data ke Pemkot Bandung, panjang juga prosesnya. Jika kita (pemohon) tidak bersabar pasti data tidak akan pernah kita dapatkan. Ok, I think this class will only become knowledge for me. Tak lama setelah mengikuti kelas, saya diminta salah satu direktur di Rektorat untuk kerjakan buku laporan. Sebulan setelah saya lulus S2, saya diminta kembali menangani PPID.

Dulu saya didorong untuk kritis pada badan publik di mana PPID yang paling bertanggung jawab di sana, namun sekarang saya harus menangani PPID itu sendiri supaya badan publik tersebut menjadi transparan khususnya terkait informasinya. Saya pun menyusun rencana, memlototi parameter informatif versi Komisi Informasi, studi banding ke UI dan Unpad, dan pada akhirnya mengisi Self Assesment Questionnaire (SAQ) dari Komisi Informasi. Di tahap-tahap awal ini saya dibantu oleh dua mahasiswa.

Banyak hal yang kami buat di tahap awal ini termasuk website dan pengumpulan sejumlah data. Proses penilaian dari Komisi Informasi pun kami jalani, semua menurut kami lengkap. Bahkan untuk persiapan visitasi, ruangan Information Centre kami pugar agar mencerminkan sebagai penyedia layanan informasi terstandar. Hasilnya sangat tidak terduga, kami percaya diri ITB dapat masuk tiga besar dalam pemeringkatan nasional oleh Komisi Informasi, namun ternyata menurun satu peringkat dari tahun sebelumnya biarpun secara poin naik. Saat itu (2017), ITB menduduki peringkat 9 dengan katagori "kurang informatif".

Belajar dari Pengalaman

Tak lama setelah pemeringkatan, kita coba kirimkan surat ke Komisi Informasi untuk memperlihatkan detail  penilaian. Namun sayang data yang diberikan tidak cukup memberikan penjelasan dari mana kami harus berbenah. Akhirnya kami utak-atik sendiri. Tahap awal yang dilakukan yaitu mengadakan uji konsekuensi untuk penentuan Daftar Informasi Publik dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIP-DIK) yang melibatkan lebih dari 30 perwakilan unit dan fakultas di ITB. Setelah enam kali rapat berantai, dokumen itu disahkan oleh PPID (WRAAK) beberapa hari sebelum deadline pengumpulan SAQ tahun 2018. Kriteria penilaian di tahun ini ternyata berbeda dengan tahun lalu di mana kami harus membuat media sosial dan juga aplikasi mobile. Website juga diperhatikan betul dan tidak ada visit di mana diganti dengan presentasi di Jakarta. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini jelas jauh lebih ribet dan ketat.

Saya meminta pimpinan untuk merekrut orang arsip, alhamdulillah dikabulkan. Ada lima aplikan dan semuanya dari UGM. Dari lima orang itu diambil satu. Di samping itu saya ingin libatkan mahasiswa untuk tergabung dengan tim PPID. Ada sekitar 22 pendaftar di mana hanya 10 orang yang diambil. Seleksi didasarkan pada portofolio dan wawancara. Kesepuluh mahasiswa tersebut diminta untuk mengerjakan pekerjaan spesifik seperti halnya penulisan konten, videografis, infografis, web development, dan app development. Sebagian pekerjaan mahasiswa magang tersebut tidak terkait langsung dengan PPID seperti pengembangan portal satu layanan dan portal LLH, namun itu semua  pendukung PPID.

Saya selalu berfikir "from the whole to the part" mengutip ungkapan Pak Widyo di kelas. Saya selalu berfikir apa yang kita kerjaan ini memberikan benefit apa buat ITB. Saya tidak mau kita kerja keras kerjakan ternyata tidak memberikan manfaat yang berarti bagi institusi. Memang pada akhirnya ketika kita mengerjakan big thing-nya, pekerjaan kita tidak simpel lagi, bahkan sangat kompleks. Bagaimana tidak saya harus meyakinkan beberapa pimpinan di atas saya terkait rencana kami ini. Belum lagi ditambah dengan koordinasi dengan unit lain dan juga sisfo fakultas. Persetujuan pimpinan pun tidak cukup, kita butuh berkali-kali berkomunikasi dengan mereka untuk mem-follow up . Namun itulah seninya, kerja akan tidak menarik kalo tidak ada tantangan.

Senin, 5 November 2018, adalah hari penentuan untuk kerja keras kami selama beberapa bulan terakhir. Beberapa minggu sebelumnya saya mendampingi pimpinan untuk presentasi di depan penilai dari Komisi Informasi di Jakarta terkait proses assesment ini. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan, ITB menempati katagori "menuju informatif" satu kluster dengan kampus langganan tiga besar seperti UI dan UB. Hanya satu kampus yaitu IPB yang menempati katagori "informatif". Hasil ini menjadi bukti bahwa apa yang kita kerjakan on the right track. Tinggal langkah selanjutnya, yaitu bagaimana ITB menjadi kampus informatif. Berita terkait capaian ini dimuat di web official ITB [1].

"Informatif"

Tidak sesederhana kita memlototi kriteria dari Komisi Informasi lalu kita akan mendapatkan predikat "informatif" karena sangat mungkin itu dikerjakan perguruan tinggi lain. Yang lebih penting lagi, apa untungnya kita mendapat predikat tersebut namun civitas akademika ITB tidak mendapatkan manfaat dari predikat tersebut ? Maka yang selalu kami fikirkan adalah apa yang kita kembangkan haruslah memberikan benefit bagi internal ITB. Terkait "informatif" ini, setidaknya ada empat parameter yang setiap tahun menilai. Dalam lingkup internasional, webometrics akan selalu menilai kita, sementara di lingkup nasional selain Komisi Informasi, ada dua lagi lembaga yaitu Kemenristekdikti dan Kominfo. Lagi-lagi saya harus berfikir keras bagaimana memahami setiap parameter dari semuanya. Terkait hal ini kami sudah memulai di pertemuan dengan sisfo se-ITB kamis lalu (15/11), tinggal bagaimana follow up selanjutnya.

Secara pribadi, saya sangat yakin ide-ide yang kami rencanakan akan terlaksana di masa depan. Keyakinan tersebut yang membuat kami akan selalu bersemangat. Semoga di tahun 2019 nanti, ITB mendapatkan predikat "informatif" dengan berbagai inovasi penyajian data dan informasi di dalamnya.




[1] https://www.itb.ac.id/news/read/56874/home/itb-raih-penghargaan-keterbukaan-informasi-publik-sebagai-ptn-menuju-informatif


Sunday, October 07, 2018

Buku Perdana

Lebih dari setahun saya ngerjain buku ini, tepatnya sejak Mei 2017 dan baru kelar cetak perdana 21 September 2018. Artinya 1 tahun 4 bulan. Lama pisan ! Bukan perkara memakai data-data di tesis magister trus menyajikannya dalam bahasa populer, namun saya harus ambil data lagi. Soalnya di tesis data yang saya ambil terbatas pada 2000-2003 dan untuk buku sampai 2018. Maka di sini saya harus bolak-balik ke hangar UAVINDO Nusantara, perusahaan yang saya riset untuk wawancara dengan direktur perusahaan, karyawan, dan engineer-nya. Juga pastinya ambil gambar. Belum lagi ditambah saya harus wawancara Pak Djoko, pendiri perusahaan, berkali-kali di kantornya di jurusan Aeronotika Astronotika ITB.

Dikatakan berat, berat banget pastinya soalnya ini adalah pengalaman perdana. Tapi semua itu terbayarkan setelah buku tercetak. Jerih payah selama ini terbayar lunas. Awalnya memang rencananya pembuatan buku ini hanya satu semester, akhir 2017 selesai dan di awal 2018 launching. Namun realitanya ternyata sulit. Pengerjaan buku ini di sisa waktu yang saya punya. Karena siang sebagaian besar waktu saya untuk meneliti dan kerja lain yang formal, biasanya saya kerjakan buku ini sore hari sampai malam di kedai kopi langganan saya. Selain waktu, saya harus spending uang yang cukup besar untuk proses penulisan buku ini.

Konten Buku

Buku ini menceritakan proses bertahan (survival) perusahaan UAV/drone yang didirikan oleh dosen Teknik Penerbangan, Pak Djoko Sardjadi. Nah, untuk menggambarkannya saya bagi dalam empat bab. Bab pertama bercerita tentang perusahaan startup teknologi itu apa sih. Di sini saya coba angkat definisi-definisi dari berbagai pegiat startup baik dari buku atau artikel yang mereka tulis. Bab kedua saya coba menceritakan tentang sejarah UAV di dunia termasuk di dalamnya saya singgung tentang pemanfaatannya di sipil/militer. Bab ketiga saya baru menceritakan terkait inti buku ini yakni cerita proses UAVINDO Nusantara, perusahaan yang saya angkat di buku ini, bertahan selama 18 tahun sebagai perusahaan teknologi. Bab keempat, terakhir, saya coba angkat lesson-learned dari apa yang terjadi pada UAVINDO. Ada dua titik tekannya, pertama  pelajaran bagi startup dan kedua pelajaran inovasi.


Pada awal penyusunan saya dipusingkan dengan alur buku ini. Karena bingung, saya seringkali ganti. Sampai pada akhirnya ketemu formula yang pas. Tidak dengan itu otomatis saya mudah menuliskannya karena banyak bahan-bahan tulisan baru yang harus saya baca, highlight, dan menuliskannya dalam draft. Sampai akhirnya draft jadi, saya kemudian sampaikan ke Pak Sonny dan Pak Djoko untuk diberikan masukan. Inipun beberapa kali saya menemui beliau-beliau. Sampai judul pun saya berkonsultasi dengan mereka berdua, pada akhirnya kemudian disetujui "STARTUP TEKNOLOGI : Lintasan yang Harus Ditempuh, Menarik Pelajaran dari PT UAVINDO Nusantara". Saya suka dengan judul ini.

Finishing

Jika proses pengerjaan konten pusingnya setengah mati, belum lagi ditambah dengan proses pengerjaan tata letak buku. Saya kerjakan buku dengan MS Word, lalu setelah draft saya rasa cukup saya pdf-kan. Selanjutnya saya bagikan ke beberapa tokoh untuk diberi testimoni dan kata pengantar. Untuk testimoni saya dapatkan dari orang-orang yang saya kenal seperti halnya Kang Gibran dari eFishery, Pak Wawan dari SBM, dan Ghozali EL09. Tambahan, saya meminta ketua unit robotika untuk memberikan testimoni juga. Saya sebenarnya meminta kata pengantar dari seorang pegiat industri kreatif, awalnya beliau menyetujui untuk memberi kata pengantar, setelah saya follow-up terus selama sebulan lebih, belia tak juga mengirimkan kata pengantar. Walhasil, buku saya terbit tanpa kata pengantar.

Proses layouting juga pusing sekali. Saya meminta kenalan yang dulu pernah kerja bareng di proses pengerjaan buku sebelumnya. Saya meminta dia layout trus ada yang keliru, saya betulkan dan begitu terus dan ini memakan waktu tiga bulanan bahkan mungkin lebih. Saya bahkan sudah tak terhitung bertemu dia sudah berapa kali. Ternyata teknologi Whatsapp dan Snipping Tool tidak cukup membantu, terpaksa manual datang langsung harus dipilih. Setelah pemberian nomor halaman rampung, saya baru berikan draft buku versi pdf ke penerbit ITB Press. Tak lama setelah cetak dummy, buku dicetak terbatas sejumlah 70 eksemplar.

Saturday, August 18, 2018

FISH : Perkuat Keilmuan Baru Buka Prodi

Gedung Studi Pembangunan ITB

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi hadirnya ilmu sosial di ITB. Pada 1993 silam berdiri Magister Studi Pembangunan ITB yang salah satu tujuannya adalah mengkaji pembangunan tidak semata ekonomik namun penegasan posisi iptek dalam pembangunan. Hadirnya jurusan ini membuat nuansa ITB tidak melulu membahas aspek teknik, namun ITB dapat menelaah aspek politik yang tengah berkembang. Pendiri jurusan ini yang saya tahu adalah para "pewarna" ITB yakni dosen-dosen yang sering mengkampanyekan urgensi iptek dalam berbagai forum. Satu orang yang saya tahu adalah Prof. Saswinadi Sasmojo (Pak Sas).

Era reformasi membuka peluang bagi ITB untuk lebih berani membuka pakem keilmuan baru di bidang sosial dengan hadirnya Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM). Fakultas ini didirikan pada 2003 dengan salah satu tokohnya adalah senior jurusan Teknik Industri, Prof. Kuntoro Mangkusubroto (Pak Kuntoro). Lahirnya fakultas ini sejalan dengan visi Rektor ITB saat itu, Dr. Kusmayanto Kadiman (Pak KK) yang mengadopsi prinsip entrepreneurship dalam memimpin ITB. Fakultas ini kemudian berkembang cukup pesat dan menjadi favorit baru baru lulusan SMA jurusan IPS di seluruh Indonesia.

Belajar dari Dua Pengalaman

Sebelum jurusan Studi Pembangunan lahir, terlebih dahulu ITB memiliki Pusat Penelitian Teknologi (PPT) pada 1973 yang salah satu fokusnya adalah memkampanyekan teknologi tepat guna pada masyarakat (lebih lanjut bisa baca tulisan lama saya). Artinya telah ada semangat dari segenap civitas akademika ITB lintas jurusan untuk menggapai kebermanfaatan dengan masyarakat melalui teknologi. Lahirnya jurusan ini sebagai langkah pemformalan ide yang sudah ada akan dapat terus dikembangkan.

Lahirnya SBM saya kira tak berbeda jauh dengan jurusan tersebut. Namun bedanya para tokoh SBM di awal-awal didominasi oleh para senior dari Teknik Industri sehingga nuansanya tidak cukup merepresentasikan ITB secara keseluruhan. Biarpun demikian, cikal bakalnya landasan fakultas ini diantaranya adalah visi Rektor ITB saat itu. Biarpun terdapat perbedaan signifikan dalam segi aktor : jurusan studi pembangunan cenderung grass-root dan SBM top-down namun kedua jurusan/fakultas ini lahir dari urgensi yang menjadi kebutuhan ITB saat itu.

FISH : Langkah Awal Seperti Apa ?

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH) beberapa tahun terakhir menjadi pembahasan yang cukup intens di kalangan ITB bahkan masyarakat umum. Saya pernah mendapatkan cerita terkait pembahasan fakultas ini di Senat yang cukup alot. Biarpun sudah beberapa tahun dibahas, namun fakultas ini masih belum juga didirikan. Saya belum tahu persis apa yang menjadi alasan belum disepakatinya pendirian fakultas ini.

Berkaca dari jurusan Studi Pembangunan dan SBM, ada dua hal yang perlu dilakukan : 1) akar  keilmuan harus kuat, dan 2) dukungan top executive ITB dengan jejaring yang lengkap. Untuk kasus FISH saya kira langkah kedua memiliki korelasi kuat dengan langkah pertama. SBM bisa melakukan langkah kedua karena potensi uang jurusan ini besar dan sesuai dengan market Indonesia. Banyak orang yang tertarik dengan manajemen yang menjadi core keilmuan jurusan ini. Sedangkan FISH, potensi uangnya saya kira tidak sebanding dengan SBM. Satu-satunya yang dapat dijual adalah keilmuannya itu sendiri di mana dapat menjadi alternatif bagi pembelajar ilmu sosial seperti ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

Maka, menurut hemat saya pembahasan FISH di-suspend dulu, cukup dibahas saja jurusan baru seperti Ekonomi Pembangunan untuk S1 dan jika memungkinkan S3 untuk Studi Pembangunan. Kedua jurusan ini sudah ada akarnya yaitu Studi Pembangunan yang telah berdiri lebih dari 20 tahun. Jauh lebih penting lagi, perlunya dibuat knowledge milieu di bidang keilmuan sosial seperti kuliah umum, diskusi intens, jurnal ilmiah terakreditasi, dan sebagainya yang menjangkau seluruh civitas akademika ITB sehingga nantinya akan didapatkan cirikhas keilmuan sosial yang akan dikembangkan ITB. Jika yang dipikirkan sekedar berdirinya fakultas, saya tidak yakin keilmuan sosial akan terwarnai dengan hadirnya fakultas baru ini.

Tuesday, July 31, 2018

Ke Balikpapan Pertama Kali

Maskapai Lion membawa saya dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Bandara Balikpapan, Sultan Aji Muhammad Sulaiman (10/7). Kala itu take-off dari Bandung jam 9.30 WIB dan sampai di Balikpapan sekitar jam 12.30 WITA. Saya yang berangkat bersama atasan setibanya di Bandara langsung menuju ke hotel tempat dilangsungkannya acara. Nama hotel di mana saya tinggal adalah Swiss-Belhotel di pusat kota Balikpapan. Setelah makan siang dan registrasi, saya sempatkan untuk mandi dan sholat lalu baru masuk ke ruangan acara di sebuah ballroom untuk mengikuti pembukaan.

Ini adalah acara workshop dari Kemenristekdikti untuk reformasi birokrasi. Hari pertama kami hanya mendengarkan paparan dari pihak Kemenristekdikti. Besoknya dari Kemenpan-RB dengan disertai dengan pengenalan aplikasi yang harus kami isi sekembaliknya di Bandung. Sebagaimana jadwal, acara berlangsung selama tiga hari sampai kamis (12/7), namun dipadatkan sampai Rabu sore (11/7). Saya pun memanfaatkan waktu kosong ini untuk eksplorasi kota Balikpapan.

Pantai Melawai

Dengan Go-Jek saya manfaatkan rabu sore dengan menelusuri Pantai Melawai. Lokasinya sekitar tiga kilometer dari hotel. Di sekitaran pantai didapati banyak pedagang, saat malam lebih ramai lagi. Saya coba singgah di satu pedagang dan memesan kelapa muda seharga 15 ribu. Sore yang panas membuat rasa degan (sebutan kelapa muda di kampung saya) menjadi nikmat. Ditambah lagi pemandangan pantai tepat di depan muka saya. Saya mencoba buka laptop sebentar untuk update materi buku dosen dan berjalan menuju barisan pedagang lain. Niatnya supaya bisa mengambil spot baik untuk dipotret. Selain warga sekitar, tidak ada pengunjung yang duduk-duduk atau bermain pasir di tepian pantai, namun yang ada di dekat jalan raya, tepatnya trotoar jalan.

Sunset di pantai Melawai
Saya kembali pesan secangkir kopi di warung lain dan turun ke tepian pantai. Saya duduk di karang dan mulai mengambil gambar sunset. Juga berbagai kapal pengangkut minyak di sekitaran pantai tak luput dari bidikan kamera saya. Namun tetap, sunset sore itu sebagai targetan utama. Setelah mendapat puluhan gambar, saya menepi dan menuju masjid untuk tunaikan sholat maghrib. Lokasi masjid tepat di tepi pantai dan jalan raya, sangat dekat dengan tempat saya membeli segelas kopi.

Secara tak terduga, Pak Jaka, teman satu kamar sholat di masjid ini juga. Maka, setelah sholat kami makan malam bersama-sama di satu warung lesehan sekitar 600 meter dari masjid. Suasana ombak pantai menambah nikmatnya makan malam kali ini. Saya pesan ikan bakar (Kerapu jika tidak salah) dan teh hangat. Ditambah lagi Pak Jaka yang traktir, alhamdulillah.

Pasar Kebun Sayur

Seperti hari pertama dan kedua, hari terakhir kembali saya ditemani mas Taufik, teman satu asrama dulu. Kali ini ke Pasar Sayur. Lokasinya ternyata cukup jauh. Dengan motor, kami harus melewati pantai Melawai, naik bukit di tanah milik Pertamina. Di sini saya melihat banyak kilang milik perusahaan minyak nasional ini. Tak sama setelah itu kami sampai di Pasar Sayur. Ini adalah tempat pelancong untuk beli oleh-oleh. Saya sendiri beli pesanan atasan yang pulang duluan kemarin yaitu gelang batu. Harga satuannya 25 ribu namun karena beli 10 didiskon menjadi 200 ribu. Pasar Kebun Sayur adalah tempat beli cinderamata. Tak hanya gelang batu, ada juga akik, kalung, kaos, dan sebagainya. Pokoknya khas Balikpapan.
Pasar Kebun Sayur
Saya menyempatkan untuk sholat Duhur-Ashar (jamak) di masjid kompleks pasar. Selanjutnya mas Taufik ngajak untuk menikmati Soto Banjar. Lokasinya tak jauh dari Mal terbesar Balikpapan, di mana saya ngopi semalam. Satu porsi soto ditambah sate ayam nikmat sekali. Saya sulit deskripsikan bedanya soto ini dengan soto jenis lain seperti Soto Lamongan dan Soto Betawi, intinya beda saja. Mungkin karena lapar, makan siang ini sungguh terasa nikmat.

Tuesday, July 24, 2018

Dosen-Dosen Radikal ITB

Aula Barat ITB, simbol keradikalan "civitas akademika" ITB

Sekitar bulan puasa lalu, media massa banyak  mengangkat laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait perguruan tinggi besar tanah air yang terpapar radikalisme. Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satunya. Memang sih kampus ini radikal, saya akan ceritakan dalam tulisan ini. 

Pengalaman saya selama kuliah di ITB dari 2009-2017 (lama betul) saya merasakan aura keradikalan kampus ini. Sumber keradikalan itu salah satunya adalah dosen. Iya, kampus ini dihuni banyak dosen yang radikal. Banyak di antara mereka tidak hanya mengajar dan meneliti lalu pulang, tapi di benak mereka fikiran-fikiran besar yang membuat saya sebagai mahasiswa kala itu langsung menjadikan mereka sebagai idola.

Latar belakang saya dulu adalah wartawan kampus. Jadi saya tidak hanya kenal satu jenis dosen dari jurusan saya dulu di Matematika, namun banyak jurusan. Hampir semua jurusan pernah saya singgahi untuk sekedar menemui dosen dan saya wawancarai. Selain jurnalis yang kerjaannya turun ke lapangan, saya juga megang unit yang nyawanya saat itu adalah website dan media sosial. Akibatnya saya seringkali “ngepoi” dosen-dosen terlebih yang “radikal”. 

Nama-Nama

Siapa saja dosen radikal versi saya ? Pertama, Budi Rahardjo. Saya kenal nama Pak Budi kalo nggak salah sejak tingkat satu kuliah di ITB. Dia dikenal pakar IT. Semakin tua saya di kampus, semakin dalam mengenal beliau sampai pernah wawancara langsung beliau di rumahnya. Tahun lalu bahkan saya projekan bareng sama beliau. Radikalnya beliau adalah tidak kenal lelahnya beliau untuk mendorong anak-anak muda Bandung untuk buat startup. Tak hanya mendorong bahkan beliau ada pelaku startup itu sendiri. Perusahaannya berdiri, mati, berdiri, mati, dst. Bahkan belum lama ini beliau mendirikan perusahaan Internet of Things (IoT). Radikal !

Nama kedua adalah Djoko Sardjadi. Beliau saya kenal pertama kali saat saya menjadi peserta Technopreneuship Orientation Program (TOP) yang dibuat oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirasusahaan (LPIK) ITB. Kala itu yang pertama. Pak Djoko saat itu memberikan wawasan ke kami terkait bisnis teknologi. Kesempatan yang lebih panjang dengan beliau saat saya melakukan studi perusahaan yang didirikan beliau yaitu UAVINDO untuk keperluan tesis. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan buku yang mengulas perusahaan beliau dan perusahaan “anak cucu” beliau. Edannya Pak Djoko ini adalah totalilitasnya beliau dalam berindustri. Beliau pernah ketipu investor lalu perusahaannya jatuh, namun bangkit lagi. Tak hanya itu, melalui perusahaan yang dibangunnya, beliau adalah inspirator bagi karyawannya untuk mendirikan perusahaan lain. Terbukti ada sekitar lima perusahaan terkait teknologi drone yang dibangun karyawannya. Radikal !

Orang ketiga adalah Pak Adi Indrayanto. Saya baru kenal beliau tahun lalu saat diajakin projek ama senior. Pak Adi kala itu adalah ketua projek. Saat itu kita sedang ngerancang buku terkait bagaimana ngebangun industri perangkat Indonesia. Gairah Pak Adi saat bahas kebijakan industri sangat besar. Bahkan ketika Forum Group Discussion (FGD) dengan beberapa Dirjen dan perwakilan perusahaan, Pak Adi bisa dijuluki “singapodium”. Bayangkan dari pagi-sore, beliau mengendalikan forum. Energi beliau tak habis-habis. Radikal !

Selanjutnya adalah dosen pembimbing saya, Pak Sonny Yuliar. Awalnya saya anggap beliau ini dosen biasa saja. Namun, persepsi saya berubah 180 derajat setelah saya dibimbing tesis dengan beliau. Kala itu kami sering bimbingan di warung bakso Mandep. Pak Sonny jika membimbing tidak kenal waktu dan jelas “free of charge”. Pernah saya dibimbing sendirian 6 jam non-stop. Tak hanya itu, beliau anytime dapat dihubungi atau menghubungi. Pernah mendekati jam 12 malam, beliau kontak saya untuk sekedar menanyakan progres tesis. Beliau ini dosen yang benar-benar senang akan ilmu. Totalitas beliau ini yang membuat saya salut. Radikal !

Sampel terakhir yang akan saya angkat adalah Pak Mikrajuddin Abdullah. Sejak S1 saya kenal beliau, namun baru pertama kali ngobrol panjang dengan beliau saat wawancara tahun lalu. Beliau ini dah publikasi internasional lebih dari 100 jurnal, nulis sudah puluhan buku. Tapi beliau selalu katakan “biasa saja”. Beliau tidak pernah gembar-gemborkan reputasi mengkilapnya ini. Ya biasa aja menulis jurnal toh itu kan kewajiban dosen, jadi tidak ada yang spesial. Begitu kira-kira pelajaran yang saya ambil dari beliau. Radikal !

Ada lagi dosen-dosen lain seperti Pak Mubyar Purwasasmita (alm), Pak I Gede Wenten, Pak Hendra Gunawan, Pak Iwan Pranoto, Pak Yasraf Amir Piliang, Pak Acep Iwan Saidi, Pak Mohamad Tasrif, Pak Indra Budiman Syamwil, Pak Tisna Sanjaya, Pak Eko Mursito Budi, Bu Heni Rachmawati, Pak Widyo Nugroho Sulasdi, dan masih banyak lagi.

Menjaga “Keradikalan” 

Dari dosen-dosen radikal ini, secara pribadi saya merasa keradikalan kampus ITB ini. Mereka adalah contoh bagi saya untuk selalu menjaga “keradikalan” dalam berkarya. Tidak perlu khawatir akan masa depan selama niat kita baik untuk membangun bangsa. Melalui mereka ITB menjadi besar  dan akan tetap besar selama terus muncul dosen-dosen radikal dari kampus ini. 

Terakhir, saya ucapkan terima kasih banyak kepada dosen-dosen radikal ini karena berkat mereka wawasan saya menjadi lebih luas dari pada saat saya pertama kalinya menjejakkan kaki di kampus ganesha ini.

Sunday, June 03, 2018

Tidak Enakan



"Pernahkah kalian merasa tidak enak menyapa orang padahal pernah kenal ?"

Seolah sederhana menyampaikan sapaan ke orang yang pernah kita kenal sebelumnya. Tapi di realitanya tidak sesederhana itu. Ada banyak alasan mengapa kita kok tidak jadi nyapa. Misalkan karena lupa nama atau bukan teman dekat atau malu. Idealnya sapaan awal dengan menyebut nama orang yang kita sapa. Tapi seringkali kita lupa misal baru sekali interaksi atau lama banget tidak ketemu atau kita sedang banyak pikiran sehingga harus buka list kontak di hape siapa nama orang yang kita temui barusan. Dari pada manggil "Hei" terus dikacangin mendingan tidak panggil nama sekalian dan pura-pura kita tidak tahu.

Alasan kedua karena orang yang kira sapa bukan teman dekat. Seiring bertambahnya usia banyak dari kita justru pergaulannya terbatas, misal dalam lingkup tempat kerja saja. Apalagi saat itu kerjaan semakin padat, interaksi harian kita banyakan oleh rekan sesama kerjaan. Grup-grup WA dan mikro blogging lain dari teman lama sepi, dipenuhi orang itu-itu saja dengan bahasan yang tidak nyantai. Karena sebagian besar waktu kita habis dengan interaksi dengan teman kantor, kita pun jarang ketemu dengan teman lama. Suatu kita tak sengaja ketemu dengan teman lama yang tentunya tidak dekat-dekat amat, kita memilih menghindar. Dari pada ngobrolin kerjaan yang mungkin kita tidak seberuntung dia dalam mendapatkan pekerjaan, lebih baik woles sambil dengerin musik dari hape atau scroll news feed medsos biar seolah-olah tidak pernah melihat.

Ketiga adalah malu. Misalkan ketemu dengan dosen atau orang yang kita segani atau cewek yang pernah kita tembak dan gagal. Pikiran kita sudah menjustifikasi dulu, "anggap aja tidak ketemu orang itu". Ini kejadian bisa karena kita pernah berpengalaman buruk dengan dia, misalkan dosen ini pernah ngingetin kita pas kita salah, jadinya malu jika dia ingetin masa lalu kita dulu. Atau kita kecewa dengan orang itu karena pernah menggoreskan sejarah "buruk" dalam hidup kita. Kita buat alasan-alasan yang dibuat-dibuat. Akibatnya kita terperangkap pada kehidupan sempit, dengan lingkaran di mana kita ada saat ini misalkan lingkungan kerja seperti yang telah saya singgung di muka.

Interaksi sebagai Fitrah

Banyak dalil yang mengatakan bahwa silaturrahmi itu memperpanjang rizki. Kemudian orang bisnis beberapa mengatakan networking bisa membuat bisnis tambah besar. Itu tidak salah, beda perspektif saja. Bagi saya interaksi antar sesama (human interaction) adalah satu hal yang alamiah. Jadi menyapa orang terlebih yang pernah kita kenal adalah satu fitrah manusia, maka dalam perspektif ini jadi aneh orang yang tidak melakukan hal ini. Banyak saat ini orang mengkapitalisasi hubungan, orang mau interaksi karena ada benefit material. Mungkin mereka dipengaruhi pandangan bisnis seperti halnya facebook. Media sosial ini mampu mendapatkan keuntungan finansial dari hubungan pertemanan di platform yang ia kembangkan. Jika dikaitkan dengan perspektif yang saya angkat, tentunya ini tidak sesuai.

Nah, bagaimana dengan kita yang sudah cukup terbiasa dengan tidak enakan menyapa karena tiga alasan yang saya sebut di muka ?. Jika kita tahu hal itu tidak mengenakkan diri kita, berarti kita sudah sadar bahwa sikap kita itu tidak tepat. Maka satu-satunya cara untuk keluar dari perasaan ini adalah dengan melatih diri untuk menyapa orang khususnya orang yang pernah kita kenal, baik yang dekat atau jauh. Mungkin kita akan dikacangin, punya perasaan bersalah, atau malu berat. Tapi jika kita punya niatan kuat, kita pasti akan menganggap itu biasa. Oleh kerenanya kita butuh banyak latihan dan latihan. Kita akan berteman dengan banyak orang, bagaimanapun latar belakangnya. Kita tidak akan punya lawan, bagi kita satu-satunya lawan/musuh adalah diri kita, ego kita yang besar.


*) Gambar diambil dari kaskus.co.id

Wednesday, May 16, 2018

Pengalaman Perusahaan – AT&T Universal Card Services (Chapter 5)


Perusahaan yang unggul secara operasional AT&T Universal Card Services bergantung pada kesuksesan mereka dalam proses yang diasah untuk menberikann tingkatan yang tinggi pada harga yang rendah. Proses ini mencakup ; mengeluarkan kartu, mengubah alamat, atau mengkoreksi kesalahan penagihan (billing). SOP, yang dipraktikkan lagi dan lagi dan kemudian diuji secara ketat untuk mengisolasi gangguan, menjaga harga dari setiap prosedur ini turun. Catat bahwa perusahaan seperti AT&T Universal Card Services tidak meminta orang-orang mereka untuk membuat peraturan baru sebagaimana mereka ikut serta menyampaikan pelayanan terbaik. Perusahaan-perusahaan yang mendapatkan kesuksesan dari keunggulan operasional hidup atau mati dengan perbaikan proses, diatur secara umum oleh prinsip-prinsip dari manajemen kualitas yang total.

Kesuksesan AT&T Universal Card Service dipengaruhi oleh teknologi informasi. Secara real-time, pelayanan tanpa gangguan dalam dunia hari ini datang hanya melalui kecepatan dan integrasi dari komputer dan database. Tidak hanya AT&T Universal Card Service yang sangat otomatis. Sistem komputer secara esensial mendefinisikan pekerjaan orang – mereka memprosedurkannya. Efeknya, sistem mengatur proses.

Aset yang besar lainnya dari AT&T Card Services adalah suatu kekuatan kerja yang termotivasi. Ia membuat sikap yang membuat semangat orang-orang yang mengerjakan pekerjaan rutin. Pendekatannya dengan mampu meng-hire orang-orang yang bersemangat dengan potensi yang banyak, melatih mereka untuk memperlihatkan pelayanan unggul sebagai rutinitas, dan menghimpun mereka dalam tim untuk menyelesaikan persoalan yang mengarahkan ke perbaikan yang terus-menerus.

Perusahaan yang mendaki puncak keunggulan operasional ke sana dengan fokus pada detail-detail. Mereka harus memastikan bahwa tidak hanya strategi mereka, namun eksekusinya – masalah tugas-tugas kecil yang tidak selesai – berbatasan dengan kesempurnaan. Cara satu-satunya untuk bergelut pada hal kecil yaitu tugas yang penting pada tempat yang sesuainya adalah untuk melacaknya, mengukurnya, dan menghargai orang-orang di sekelilingnya. Universal Card Services mengkompilasi ratusan statistik untuk tetap menjaga biaya.

Dengan mendengarkan kostumer, kita sebenarnya mendapatkan suatu poin di mana kita tahu hal yang kostumer inginkan dalam sebuah kartu kredit. Kita punya pertimbangan sehingga kita tahu dengan berat apa yang penting : harga, pelayanan, kemudahan pada titik penjualan, kepercayaan perusahaan, dan lainnya.

Sekarang, AT&T menarik sekitar 300 ribu akun baru tiap bulan, dan mendapatkan kepercayaan dari pemegang kartu tidak hanya dari sisi penjualan asli. Ia datang dari sebuah operasi yang secara baik sesuai – dari teknologi yang mempercepat performa dan memegang repetisi telepon dengan alat-alat terdepan ; dari praktik-praktik yang terus terbaiki yang dapat menurunkan biaya dan membuang proses-proses perusahaan ; dari bagian jauh dari ukuran-ukuran yang menyilahkan para manajer memonitor performa dan membandingkannya dengan para kompetitor ; dari sebuah bagian komprehensif dari program yang memastikan para rekanan dan manajer tahu apa yang para kostumer inginkan ; dari seorang tenaga kerja yang yang di-hire, dilatih, dan dihargai untuk permulaan diri, performa yang heroik.

Sitasi : Treacy, Michael & Fred Wiersema. (1995). The Discipline of Market Leaders, Choose your costumers, narrow your focus, dominate your market, Addison-Wesley Publishing Company

Sunday, May 13, 2018

Disiplin Keunggulan Operasional (Chapter 4)


Ketika perusahaan-perusahaan yang unggul secara operasional membanggakan biaya total paling rendah, mereka boleh, bagaimananpun, menekankan produk pada keandalan dan durabilitasnya yang menurunkan biaya masa depan kostumer dari kepemilikan. Elemen lain dari biaya yang secara operasional penekanan perusahaan yang unggul adalah nyaman – tidak adanya biaya yang berwujud maupun tidak ada yang berasal dari gangguan dan kejengkelan.

Hari ini, aset-aset yang terstandarisasi dan prosedur-prosedur yang beroperasi secara efisien  adalah tulang punggung dari setiap perusahaan yang secara operasional unggul. Karena mereka tidak dapat menjadi segala hal pada semua kostumer, secara operasional perusahaan yang unggul bekerja pada pembentukan ekspektasi kostumernya. Jika harga adalah poin kuatnya, harga adalah apa yang mereka tekankan, dan mereka membuat kebaikan dari batasan yang tampak.

Henry Ford mempertahankan kontrol yang ketat dan tersentral sebagaimana bisnisnya tumbuh, karena dia ditetapkan untuk menangkap manfaat dari prosedur-prosedur yang terstandar dan economy of scale. Sistem kontrolnya didasarkan pada ukuran-ukuran yang rinci dari setiap elemen dari operasinya. Ford bekerja keras pada detail-detail, dan sistem manajemennya memperlihatkannya.
Jika Henry Ford menjalankan perusahaan yang unggul secara operasional sekarang, dia harus meng-update prinsip-prinsipnya sedikit. Untuk semua tambahan dari model operasinya, dia sekarang akan harus mengambil pegawai yang terecerahkan sekarang, transaksi yang efisien, teknologi informasi, dan kerja intensif pelayanan. 

Manajemen Orang

Secara operasional, perusahaan menjalankan dirinya seperti Korp Marinir : Tim adalah kelompok bukan inidividu. Setiap orang tahu rencana pertempuran dan aturan, dan ketika ada suara buzzer, setiap orang tahu secara detail dia harus berbuat apa. Oleh karena itu, pahlawan dalam jenis ini dalam suatu organisasi adalah orang-orang yang cocok, yang muncul melalui barisan ini.

Dalam kebanyakan perusahaan yang unggul secara operasional, yang penting bukan siapa kamu melainkan apa yang perusahaan mengerti terkait kamu.

Transaksi yang Efisien

Saat-saat ini, bagaimanapun, perusahaan telah temukan cara untuk meraih keefisienan yang lebih besar – tidak dengan secara vertikal terintegrasi, namun secara virtual terintegrasi. Hari ini, perusahaan yang secara operasional unggul menggambarkan diri dan supplier serta distributornya berlainan, entitas yang bersekutu, namun semua anggota dari satu produk yang membekali tim. Mempersingkat koneksi antara anggota tim mengeliminasi duplikasi, delay, dan juga komplikasi pembayaran yang datang dari pelepasan panjang lengan.

Seperti halnya Wal-Mart, perusahaan yang secara operasional unggul lainnya telah mendesain ulang proses transaksi antara dirinya dan suppliernya. Wal-Mart, pioneer dalam menciptakan hubungan pemotongan biaya, sekarang menggunakan sistem pertukaran data elektronik untuk mengirimkan data penjualan harian pada supplier. Lagi, Wal-Mart menawarkan sebuah contoh mengagumkan. Ia kembangkan sebuah sistem mengait menyilang di mana dua bagian dari truk – satu datang dari perusahaan supplier dan yang lain menetapkan tujuan untuk perusahaan – datang secara serentak pada dok pemuatan perusahaan. Para pekerja menggerakkan produk dari bagian pertama dari truk ke dalam bagian kedua, mencegah secara lama penyimpanan gudang (warehouse) secara bersamaan. Produk kemudian beralih ke tujuan akhir dengan tidak ada tempat istirahat yang berbiaya sepanjang jalan. Konsep ini diketahui sebagai flow-through atau one-stop logistics.

Apa yang membuat keunggulan operasional penting adalah kompetisi baru. Apa yang membuat ia mungkin adalah sistem dan jaringan informasi komputer yang memainkan peran vital dalam pembuatan proses yang unggul secara operasional. Perusahaan menggunakan teknologi berbiaya rendah namun memiliki performa tinggi untuk meningkatkan koordinasi dan kontrol sepanjang seluruh sistemnya dan untuk mempercepat dan mempersingkat tugas-tugas individu. Sistem informasi telah menjadi tidak hanya sistem saraf namun juga tulang punggung operasinya.

Teknologi Informasi

Sistem- dan database terkait serta aplikasi – adalah yang sangat terotomasi di mana mereka tidak hanya melacak proses, namun mereka mencakup dan menjalankannya. Namun, tanpa kedisiplinan organisasi atau struktur yang tersentralisasi, teratur, dan terstandar, sistem komputer state-of-the-art tidak akan memberikan kesuksesan perusahaan yang sebanding.

Informasi terdiri atas sistem komputer yang terintegrasi adalah bermanfaat tidak hanya dalam proses operasi intinya. Perusahaan yang secara operasional unggul bergairah pada pengukuran dan monitoring untuk memastikan kualitas yang ketat dan kontrol harga. Mereka menghasilkan data yang detail dengan membuat keputusan manajemen.

Pelayanan Kostumer

Perusahaan yang unggul secara operasional telah merevolusi bisnisnya dalam dimenasi lain yang Henry Ford belum pernah bayangkan – pelayanan kostumer (costumer service). Pelayanan yang rendah dalam menambah secara substansial pada biaya total kostumer melalui habiskan waktu dan eror berkali-kali. Perusahaan yang secara operasional unggul mengembalikan waktu hilangnya pada kostumer. Peran untuk perusahaan yang secara operasional unggul adalah : Jika kamu benar-benar ingin untuk memiliki biaya total yang paling rendah, pastikan pelayananmu mudah, sempurna, dan seketika.

Untuk melakukan ini, perusahaan yang secara operasional unggul mendesain ulang siklus pelayanan kostumernya, secara agresif mempersingkat penseleksian, permintaan, penerimaan, pembayaran, dan mempertahankan dari sebuah produk.

Satu dari kunci utama untuk memperoleh keunggulan operasional dalam pelayanan kostumer adalah sama dengan manufacturing : Lakukan satu-satunya cara. Di sini lagi, banyak pilihan akan membunuh keefisienan. Kunci lainnya adalah mendapatkan kostumer untuk mengadaptasi cara perusahaan yang secara operasional ungguh dalam mengerjakan bisnis.

Mengapa perusahaan yang secara operasional unggul secara unik memenuhi syarat untuk memberikan pelayanan dasar secara superior ? Karena mereka menikmati tiga hal. Pertama adalah fokus, membuat pelayanan dasar bebas repot sebuah bagian kunci dari proposisi nilai yang tidak sesuai. Kedua, model operasinya mendukung keefisienan, pelayanan bebas cacat. Praktik dari perusahaan yang secara operasional unggul adalah bagian dari peraturan pelayanan tanpa cacat. Ketiga, mereka secara efektif mengeksploitasi teknologi informasi untuk mendesain ulang tugas-tugas pelayanan dasar. Teknologi informasi telah membuat pelayanan dapat di mana saja dan kapanpun. Ia adalah katalis dari revolusi pelayanan.

Mengekploitasi Keunggulan Kepemimpinan Value

Sebagai perusahaan yang secara operasional unggul menciptakan proposisi value yang tidak sesuai dari biaya total terbaik, pertanyaan kemudian datang : Apa yang ada di dalamnya untuk mereka ? Hanya ada satu jawaban – pertumbuhan. Para pemimpin market lainnya dapat menaikkan harga untuk mengekploitasi keunggulan produknya, namun seperti sebuah taktik yang membalikkan strategi keunggulan operasionalnya.

Perusahaan yang secara operasional unggul mendapatkan pertumbuhannya dalam tiga cara yang terkoordinasi. Mereka bekerja untuk memastikan suatu volume yang konstan dan tetap sehingga dapat menjaga asetnya secara kontinyu bekerja, mereka menemukan cara-cara baru untuk menggunakan aset yang ada saat ini; dan mereka mengganti formula mereka di market lainnya. 

Formula ! Formula ! Formula !

Apa yang kemudian membedakan keunggulan operasional dari kompetensi operasional ? Pilihan sulit : jenis produk yang sedikit ; memiliki keberanian untuk tidak menyilahkan setiap kostumer ; penempaan perusahaan yang menyeluruh, tidak hanya manufacturing dan distibusi, ke dalam suatu instrumen tunggal yang difokuskan. Perusahaan yang unggul secara operasional akan menghindar dari panggilan yang sulit – dan membayar harga.

Tenunan cerdik dari know-how yang tidak terhubungm aplikasi teknologi, dan manajemen yang ketat – yaitu apa yang membuat seorang pemimpin dalam keunggulan operasionalnya. Rahasia dari suksesnya disiplin value ini dirangkum dalam satu kata : formula. Formula seringkali berkonotasi negatif, namun bagi perusahaan yang secara operasional unggul, ia adalah fondasi untuk perusahaan yang agresif dan sangat sukses.


Sitasi : Treacy, Michael & Fred Wiersema. (1995). The Discipline of Market Leaders, Choose your costumers, narrow your focus, dominate your market, Addison-Wesley Publishing Company