Monday, May 08, 2017

Akhirnya Punya Kalender 2017

Hampir bisa dikatakan seharian saya berada di lingkungan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Ya, sejak bulan lalu saya tegabung riset di sana. Saat ini saya sedang mengerjakan riset tentang employee engagement. Nah, tadi pagi sekitar setengah 10 (harusnya jam 9 sih, saya telat), saya tiba di kantor Pak Hary (dosen yang ajak saja riset) dan tak lama setelah itu presentasi progres. Proyektor pun dinyalakan dan Pak Hary mengedit secara interaktif paper awal penelitian yang saya buat. Saat diskusi, saya dapat kenalan baru dari jurusan Magister Manajemen SBM, namanya Widi kalo gak salah. Dia sekarang masuk dalam jajaran karyawan Kemenkeu. Menariknya diskusi tadi, saya jadi tahu posisi konsep employee engagement (EE) dilihat dalam level attachment seseorang pada organisasi. Diatasnya EE ada value (meaning making) dan happiness. Atau istilahnya SAY - STAY - STRIVE. Anda cari sendiri maksud dari istilah-istilah tersebut.


Kantor Pak Hary ternyata tidak sepi dari orang-orang SBM khususnya dosen dan asisten riset muda. Ada Dani dan Dema yang paling sering berada di kantor. Siang tadi tepatnya jam 14 ada rapat dengan pihak rektorat (WRSO) terkait penelitian ini. Ternyata penelitiannya cukup besar dengan Pak Jann (senior SBM) sebagai ketuanya. Penelitian EE adalah bagian dari penelitian besar ini, makanya saya ikut (kalo tidak disuruh mungkin tidak hadir sih, hehe). Sayang sekali setibanya di lantai 3 Gedung Annex, kursi tidak mencukupi dan terpaksa saya, Dema, Dani,  Mila, dan satu lagi Aria duduk di luar. Untungnya saya dapet temen ngobrol yang asikeun, Aria. Dia calon dosen di SBM dengan telah sandang status master dari salah satu universitas di Australia setelah kelar dari SBM (doi angkatan 2007). Dia cerita kalo pernah masuk dalam berbagai pekerjaan, sampai sekarang akhirnya milih kembali ke jatidirinya sebagai pengajar. Di samping beraktivitas di SBM, dia juga berbisnis di kopi dengan memiliki coffee shop di kompleks kantin Tamansari seberang Gedung SBM. Dia cerita banyak terkait bisnis kopinya ini. Karena saya juga penyuka kopi, obrolan pun jadi lama. Dia saranin kalo ngopi enak di Caffeto sekitar Sekeloa dan juga Coffeeq di Jalan Moh Toha, selain juga pastinnya memintaku untuk cicipi kedainya, Someday-lah gue kesana.

Beberapa hari mualees ngerjain paper teobati dengan aktivitas hari ini dengan kolega di SBM. Bismillah, kembali ke jalur produktif. O iya, dapet oleh-oleh kalender dari Pak Hary setelah saya bilang saya tidak tahu kalo kamis besok adalah tanggal merah :p

Saturday, May 06, 2017

Konsistensi Itu Ternyata Sulit

Sudah ada lebih dari sebulan saya tidak menulis di blog ini, ya karena kesibukan atau yang lainnya. Saat ini selain saya jalani dua projek riset, juga kerjakan projek lain seperti projek IT yang sudah jalan lebih dari dua bulan. Selain itu projek lain yang juga ongoing yaitu manajemen informasi di kampus dan pembuatan buku. Ada juga sih projek pribadi seperti menulis di blog ini hehe. Biarpun kedengarannya padet banget aktivitas saya namun tidak sebanding dengan banyak orang di kampus. Tadi saya membaca artikel Pak Budi yang judulnya https://rahard.wordpress.com/2017/04/24/serius-dalam-mengajar-dan-membimbing/ dan seoalah saya tertampar. Saya mengenal Pak Budi sejak kuliah S1 dan sempat beberapa kali mendapat pelatihan dan wawancara langsung dengan beliau. Saya mengenal beliau sangat sibuk, kalibernya sudah nasional bahkan internasional namun beliau tetap memprioritaskan aktivitas mengajar dan membimbing mahasiswa. 

Saya yang tidak apa-apanya dengan Pak Budi saja beberapa kali frustasi akbatnya deadline jadi tersendat bahkan juga seringkali hilang fokus. Malah yang dikerjakan hal yang tidak penting. Mungkin ke depan saya harus meminimalisasi kegiatan yang kurang begitu penting (seperti kepoin orang di medsos) dan kembali ke pakem kesukaan "menulis di blog". Saya bisa menulis setiap hari di blog dengan bahasa mengalir, namun bedanya saya dengan Pak Budi, jika saya lakukan ini hampir dipastikan kerjaan utama saya tidak bakalan selesai. Saya bisa multitasking tapi tidak 'segila' Pak Budi hehe. Saya sekarang masih dalam tahapan mencari jatidiri hidup. Ke mana arah hidup akan saya arahkan. Masa pencarian saya targetkan selama dua tahun. Tapi biarpun demikian, ada satu hal yang saya suka : lingkungan akademik.

Maka dari situ, dari cukup banyaknya aktivitas, saya tetap memprioritaskan penelitian. Tahun ini saya akan meneliti terkait "employee engagement" dosen ITB dengan tim dari SBM. Nah itu jadi prioritas saya. Maka di situ konsistensi dibutuhkan seperti dengan review dan menulis paper. Maka, tiap minggu (dua kali dalam seminggu) saya harus laporan ke Pak Hary, dosen SBM yang menjadi team leader penelitian. Nah, yang saya khawatirkan adalah saya hilang semangat. Semoga saja tidak (amiin). Tapi semoga saja akhir tahun saya dapat mencicipi buah kesuksesan di bidang penelitian yang akan saya jalani : 1. Publikasi internasional untuk penelitian "employee engagement", 2. Publikasi di jurnal Pappiptek LIPI untuk penelitian tesis, dan 3. Buku kolaborasi antara saya dengan Pak Djoko Sardjadi dan Pak Sonny dapat terbit. Doakan saya bisa menjalani ini semua ya :)

Sunday, April 02, 2017

Wisuda Kedua di ITB

Tak terasa hampir 8 tahun aku beraktivitas di kampus teknik tertua milik negera ini, Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama itulah aku tempuh dua jurusan yang berbeda ; Matematika untuk S1 dan Studi Pembangunan untuk S2. Selain jalani rutinitas akademik seperti kuliah dan kerjakan tugas, aku juga sempat bekerja part time, beorganisasi, dan lainnya. Aktivitas-aktivitas itulah yang membentukku sebagai pribadi sekarang. Dalam tulisan ini aku tidak akan terlalu menyinggung terkait apa yang aku dapatkan di ITB, namun lebih kepada rencana apa yang akan aku lakukan di masa mendatang. Tulisan ini tidak ada maksudnya untuk membanggakan diri, namun hanya sekedar motivasi bagi aku pribadi.

Aku berpedoman pada prinsip yang kuyakini benar yakni ajaran agama Islam. Terlepas dari seringkalinya malas beribadah, aku yakin bahwa Islam ajarkan aku untuk menjadi pribadi yang kuat. Definisi kuat aku artikan sebagai pribadi yang tak takut dengan kondisi apapun yang akan menimpa. Nah, sebagai wujud riilnya peran yang ingin aku wujudkan adalah menciptakan "knowledge hub". Aku suka akan pengetahuan tak terbatas pada lingkungan akademik formal melainkan juga hasil kreativitas manusia seperti musik, film, buku, dan sebagainya. Mimpiku adalah integrasi di antara para pelaku pengetahuan sehingga tercipta lingkungan kondusif (milieau).

Ini tak sekedar hanya semacam lembaga dengan sekretariat dan program tertentu namun juga melingkupi unit-unit bisnis sebagai penyokongnya. Juga tercakup orang-orang yang memilih jalur di dunia startup yang padat pengetahuan. Harapannya orang-orang ini saling bekerjasama dan berbagi tentunya dengan cara kerja profesional. Cara ini sebagai upaya untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability). Melalui hub ini, keterjalinan lulusan Perguruan Tinggi (PT) dengan dunia rill terkait bidangnya kuat.

Untuk mewujudkan mimpiku ini tidaklah mudah. Pertama kali yang harus aku lawan adalah diriku sendiri. Aku harus membiasakan diri dengan kerja produktif dan melakukannya dengan senang. Juga selalu menjaga emosi dan silaturrahmi dengan orang-orang khususnya keluarga dan teman. Kedua, aku harus menjalani amanah dengan totalitas dan tuntas. Tanpa hal itu aku tidak akan belajar karena pekerjaan akan dilakukan setengah-setengah. Ketiga, melakukan segala hal secara profesional biarpun sifatnya hanya sekedar janji dengan teman. Ini untuk menumbuhkan jiwa bertanggung jawab meskipun pada hal kecil. Keempat, menjadi hati dengan dekat kepada-Nya dan raga dengan secara rutin berolahraga seperti jogging. Aku kira hal-hal ini butuh waktu untuk dapat dilaksanakan secara paripurna. Teringat ungkapan Rancho dalam film 3 Idiots "All iz well".

Monday, March 27, 2017

Lagi-Lagi Generasi Muda

Muhammad Farid dalam Media Indonesia (23/3) mengutarakan kekhawatirannya pada generasi muda di tahun bonus demografi 2030an. Ia berpijak pada beberapa kejadian kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kerja-kerja produktiflah yang diperlukan oleh generasi ini untuk dapat memanfaatkan momentum. Pada akhirnya Ia menyarankan pada semua pihak untuk turut serta memikirkan nasib generasi ini.

Tulisan Farid ini bukanlah hal baru. Saya sendiri juga pernah menulis di 2014 dengan judul "Jalan Terjal Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka". Isinya pun tak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya tulis tempo lalu. Saya menyadari bahwa pemikiran saya dulu sebatas melihat realitas makro seperti yang disajikan Farid dalam tulisannya. Saya menyoroti satu hal yang bolak-balik diulas "Kerja Produktif". Maksudnya apa ini? Banyak akademisi senior menganggap ini sebagai kunci pembangunan (fisik), namun sedikit sekali yang memberikan gambaran gamblang maksud dari istilah ini. Maka, karena hal ini kita lantas akan bertanya "Lalu apa?".

Dalam tulisan singkat ini, saya akan memberikan pandangan terkait kerja produktif ini. Saya tidak setuju dengan kerja produktif dimaknai hanya sekedar bekerja tidak menganggur, namun produktif ini kerja yang menciptakan pembelajaran pada si pekerja sehingga produk yang dibuat bernilai tambah semakin tinggi. Tegasnya kerja ini padat akan pengetahuan. Ada yang mengatakan sama dengan kerja kreatif namun saya kira kerja produktif tidak terbatas pada itu. Ini kerja yang membutuhkan jauh lebih besar otak dibandingkan otot yang tujuannya tidak sekedar akumulasi kapital melainkan mengejar gagasan yang lebih besar masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).

Dalam masa sekarang, kerja produktif ada dalam startup IT atau yang masuk domain Internet of Things (IoT). Namun tidak lantas domainnya hanya IT saja. Ada domain lain yang juga memiliki prospek tinggi seperti pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, dan kelautan. Karena kerja produktif ini ciri utamanya adalah padat pengetahuan, maka dalam pelaksanaanya tidak dengan cara konvensional. Jika pertanian konvensional menggunakan pupuk kimia yang menjadikan destruksi pada tanah, pertanian padat pengetahuan mempelajari aspek sosiologi tanaman.

Maka, di akhir tulisan ini saya ingin merekomendasikan pada para akademisi yang "peduli" pada nasib generasi muda untuk tidak sekedar menyampaikan gagasan normatif yang diulang-ulang. Perlu dielaborasi lebih dalam terkait kondisi generasi tersebut. Saya pernah membaca satu ulasan budayawan tentang generasi muda sekarang yang amat sulit kondisinya. Saya tidak akan mengulaskan. Intinya, kepada para akademisi senior untuk turut menyumbang solusi yang praktikal dg berpijak pada pemahaman yang utuh pada realitas. Bukannya tugas akademisi itu terus-menerus mengungkapkan realitas bukan?.

Wednesday, March 22, 2017

Pesimisme Pegiat Literasi

Beberapa kali saya ngobrol santai maupun secara resmi di sebuah diskusi, para pegiat buku, film, sastra, dan segala hal terkait kebudayaan mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia yang kurang membaca (illiterate). Mereka membandingkan dengan negara-negara di Barat sana seperti Finlandia dengan jumlah produksi dan warga yang seneng baca buku jauh lebih besar. Sementara itu, mereka menganggap bahwa orang Indonesia ini lebih suka hal-hal yang sifatnya konsumtif di bandingkan produktif seperti membaca. Orang rela antre beli gadget yang harganya jutaan dibandingkan dengan membeli buku 50 ribuan. Toko-toko buku sepi, sementara coffee shop premier seperti Starbucks ramai pengunjung. Dalam pandangan mereka, berpengetahuan melalui budaya membaca merupakan hal yang penting. Saya menangkapnya, mereka ini ingin bahwa di Indonesia ini orang-orangnya berbudaya 'secara hakiki' melalui kecintaannya pada dunia pengetahuan.

Saya menganggap mereka tidak salah berfikiran demikian, namun terkadang terlalu menghakimi dari sudut pandang mereka sendiri. Jika tujuannya tercipta masyarakat yang berbudaya apakah harus memaksakan orang-orang di luar mereka (yang tidak ngeh dengan dunia perbukuan misalnya) untuk mengikuti gaya mereka ; rajin membaca, membedah film, kajian filsafat, diskusi musik, dll ?. Saya kira nggak harus begitu. Mereka yang memaksakan dan menyalahkan orang-orang yang belum suka dengan budaya berpengetahuan saya kira ter-mindset dengan cara orang-orang Barat mendorong literasi warganya. Mereka tidak sadar bahwa Indonesia ini beda budayanya dengan orang-orang sana, Saya 'haqqul yakin' jika Pemerintah menggelontorkan dana ratusan triliun untuk program mendorong rakyat Indonesia agar seneng membaca akan gagal begitu saja, karena satu hal "Gagal faham atas manusia Indonesia". 

Nah, maka langkah yang paling pas pertama adalah menyadari kenyataan bahwa budaya literasi di Indonesia belum kuat. Dari sini baru bisa bersikap bijak dan objektif, tidak menyalah-nyalahkan yang pada akhirnya antipati. Langkah selanjutnya yakin dan 'meyakinkan' bahwa budaya literasi adalah jembatan utama untuk membentuk peradaban yang kuat. Keyakinan ini mendorong sikap inklusif dengan orang-orang di luar kelompok mereka. Sederhananya nyampur dengan orang-orang kebanyakan. Saya kira jika orang-orang yang suka membaca bergaul, mereka yang belum suka akan membaca sedikit demi sedikit akan tertarik. Saya suka dengan paparan Nirwan Ahmad Arsuka suatu tempo bahwa sebenarnya banyak anak-anak Indonesia khususnya di daerah terpencil suka akan membaca. Hanya saja karena akses pada perpustakaan (buku) nggak ada trus masuk ke pendidikan formal yang tidak malah mendorong orang untuk suka buku melainkan malah menjauhi buku. 

Merajut Solusi

Paparan tiga paragraf tulisan saya di atas menunjukkan bahwa banyak para pegiat literasi berkutat pada persoalan bukan pada solusi pemecahan. Saya jarang mendengar optimisme misalkan melalui program nonton bareng, kita pengen orang-orang jadi menyenangi film kemudian bisa memproduksi film yang berkualitas suatu saat. Yang ada hanya keluhan bahwa peserta diskusi film yang sedikit dan keluhan yang lain. Komentar saya ini tidak lantas mendorong disudahinya program rutin ini, melainkan keberjalanan program perlu disertai dengan perbaikan. Saya kurang dari pegiat literasi ini kecintaan pada nilai-nilai yang dibawa. Kecintaan yang hakiki pada sesuatu seperti dunia literasi saya kira akan menular, istilahnya multiplier effect. Mereka kudunya secara kontinu mengkampanyekan solusi atas persoalan orang Indonesia yang umumnya illiterate. Saya faham sekali mereka berkumpul di suatu komunitas kecil, maka solusi yang dihadirkan haruslah memiliki semangat untuk mendorong komunitas tersebut berkembang, Sebagai contoh, komunitas diskusi film yang semula hanya terdiri dari 7 anggota, maka perlu difikirkan sedemikian hingga sehingga nggotanya bisa bertambah. 

Solusi lokal saya kira para pegiat literasi jauh lebih tahu. Solusi global untuk konteks Indonesia saya mengusulkan terbentuknya komersialisasi pengetahuan melalui terciptanya bisnis yang padat pengetahuan. 'Link and match' Perguruan Tinggi (PT) dengan industri perlu digalakkan kembali dengan semangat terciptanya startup industri. Hubungan PT dan Industri ini ditambah dengan dorongan aktif Pemerintah. Sinergi PT-Industri-Pemerintah ini diharapkan akan mampu ciptakan masyarakat berbasis pengetahuan yang ujung-ujungnya adalah peradaban. Saya kira ini tidak langkah ultimate melainkan langkah yang cukup tepat untuk masa saat ini. Saya melihatnya semakin kesini banyak orang-orang bekerja tidak pada core bidangnya, susah cari kerja, dan sebagainya. Dengan komersialisasi pengetahuan melalui penciptaan bisnis akan dapat memenuhi dua hal : finansial kebutuhan harian dan pengetahuan yang embedded di produk. Biarpun ini solusi praktis, namun untuk mewujudkannya tidak mudah. Setidaknya ada beberapa alasan : sistem pendidikan kita yang tidak mendorong kreativitas, terbatasnya industri di Indonesia, dan budaya konsumtif masyarakat. 

Pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan bersama-sama kita melihat diri kita sendiri apakah layak disebut telah memperjuangkan nilai tertentu. Apakah jangan-jangan selama ini kita egois dan tidak mau berbagi. 

Monday, March 20, 2017

Tanah dan Harga Diri

Muncul berita viral di media sosial bahwa generasi milinea tidak dapat sepenuhnya kredit rumah. Ini terjadi selain harga rumah yang semakin tidak terjangkau khususnya di kota besar, juga gaji generasi milinea yang bekerja di perusahaan tidak cukup untuk KPR rumah. Kondisi ini  setidaknya membuat generasi milinea ; 1) tetap KPR tapi ditomboki oleh orangtuanya, 2) sekalian tidak punya rumah nyewa saja, 3) nunggu projek dadakan bisi honornya dapat dipakai beli rumah, dan 4) spekulasi lainnya.

Mengapa rumah begitu penting? Jelas karena ini kebutuhan dasar untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan. Juga fungsi lain yang jelas sangat dibutuhkan oleh manusia yang hidup. Nah, pertanyaan terkait kepemilikan rumah seberapa penting, ini jelas ada mahzab macam-macam. Saya pakai mahzab yang nyatakan bahwa kepemilikan terhadap rumah menjadi parameter dasar orang itu ralatif 'sukses' dalam hidup di dunia. Kecenderungannya, orang-orang di Indonesia berjuang untuk itu. Sederhananya hidup enak lah. Nah, dalam kepemilikan rumah terlebih dahulu pastinya dengan kepemilikan tanah (kavling), kecuali jika langsung beli rumah jadi.

Berbicara tentang tanah, sangat memprihatinkan jika melihat orang-orang kota besar seperti Bandung yang banyak hidup di rumah-rumah kecil bergang sempit yang hanya dapat dilalui motor. Halaman rumah mana ada, tanah yang kecil sekali sepenuhnya dipakai bangunan rumah. Beda halnya di desa (seperti desa saya di Lamongan), disana lahannya luas-luasnya meskipun gaji per bulan tidak sampai UMR daerah. Kondisi ini memang tidak apple to apple jika dipandang dalam perspektif korelasi penghasilan dan kepemilikan lahan secara terdapat kompleksitas pengeluaran di kota yang cenderung lebih tinggi. Tapi ada satu kesamaan antara penduduk desa/kota yaitu sama-sama konsumtif.

Konsumtif ini artinya kecenderungan untuk berlebihan pada pembelian pada barang/benda yang nilai fungsionalnya tidak produktif misalnya membeli motor kawasaki ninja untuk terlihat keren dihadapan ceweknya. Artinya ini tak lagi masuk di domain kebutuhan dasar, namun sekunder bahkan tersier. Orang konsumtif ini lompat tidak memulai dari kebutuhan dasar dulu seperti kepemilikan lahan/rumah, melainkan langsung pengen ke hal sekunder/tersier guna eksistensi. Nah, di atas saya tulis "Tanah dan Harga Diri". Apa yang membuat kepemilikan akan tanah merupakan representasi dari harga diri seseorang ?. Tanah/rumah tak sekedar memuat bangunan untuk ditinggali melainkan mencakup memori historik selama kurun waktu tertentu hidup di dunia. Sebagai contoh, saat balita hingga dewasa tinggal di rumah yang sama. Pasti di sana akan muncul kenangan yang tak tergantikan dengan rumah lain. Maka atas dasar inilah banyak orang yang mempertahankan kepemilikan rumah agar tidak dibeli oleh pihak lain biarpun diiming-imingi dengan harga fantastis.

Nah bagaimana dengan lahan non-rumah? sama saja. Sebagai contoh si A punya lahan sekian ratus meter persegi dan sejarahnya Ia bertani di lahan tersebut. Maka di sana ada hubungan batin si A dengan tanahnya. Maka atas dasar ini, jika karena hal konsumtif orang menjual tanah/rumahnya berarti dia tidak punya harga diri. Menjual kepemilikan tanah/rumah dibolehkan jika dalam keadaan terpaksa seperti terlilit utang dan tidak bisa makan. Karena hal inilah saya sarankan pada pembaca sekalian berfikir untuk memiliki lahan/rumah, selain untuk tempat tinggal juga investasi. Berbicara investasi saya tidak setuju dengan memperbanyak kepemilikan rumah melainkan tanah produktif. Sebagai contoh punya uang nganggur sekian ratus juta, beli saja tanah beberapa hektar dan tanami. Hasilnya nanti bisa dijual sehingga menghasilkan. Kata dosen senior di Tekim, tanaman itu prinsip ekonomi Islam.

Jika kita punya lahan yang relatif luas, bisa kita manfaatkan untuk hal-hal produktif tak hanya tanaman pertanian misalkan perikanan, perkebunan, dan peternakan. Memang sih bagi sebagian orang kerjaan petani demikian ndeso, tapi tidaklah para pembaca sekalian tau bahwa negara-negara maju dan menuju maju investasi lahan-lahan demikian ?. Jangan naif saudara, lahan-lahan di bumi Indonesia jangan sampai dimiliki bukan oleh rakyat melainkan korporat asing, mari kita rebut. Cara merebutnya paling awal dengan mengubah paradigma berfikir kita tentang tanah dan menjadi pribadi yang produktif.

Sunday, March 05, 2017

Paper dan Kebegoan

"Aku hidup pengen mengalir aja seperti air" - anonim

Ada benernya ungkapan itu, intinya kalo aku tarfsirkan lebih kurang seperti ini : ngapain hidup dibuat susah, enjoy aja, lakukan kerjaan yang bikin diri senang. Anda mungkin pas baca tafsiranku itu nangkep bahwa hidup itu gak usah punya prinsip. "Salah !", kataku. "Kalo nggak punya prinsip, ngapain juga hidup ? Menuhi bumi aja", tambahku. Nah, prinsip ini macem-macem. Ada yang berpendapat bahwa prinsip itu agama, budaya, ajaran leluhur, dan lain-lain. Banyak sekali, bahkan "asal senang" juga merupakan prinsip. Namun, dari sekian prinsip itu sebagai besar orang-orang yang aku kenali di bumi Indonesia memakai agama sebagai prinsip. Ini menandakan bahwa agama ini cukup menjelaskan kompleksitas hidup yang bikin banyak orang bingung. Agama sebagai penyala kegelapan. Dosenku menggambarkan secara apik, bahwa manusia pada dasarnya masuk dalam gua yang gelap, di saja dia berjalan ke depan, belakang, samping kanan, samping kiri, ke atas, ke bawah. Intinya ke segala arah. Ia terus dan menerus bergerak dengan harapan mendapatkan penerangan. Orang yang gerak ini bisa jadi kejedug, ketabrak, dan lain-lain, dan bisa juga ketemu penerangan yang diharapkan. Sementara orang yang hanya diam dan pasrah, tidak kemana-kemana pertanda dia sudah tidak punya harapan. Orang jenis ini tidak punya keberanian untuk memilih jalan. Nggak menarik bahas orang jenis ini.

Kembali ke prinsip. Aku membatasi agama sebagai prinsip. Karena agama bukanlah hal material yang dapat dilihat, diraba, dan diterawang maka ia adalah sesuatu yang gaib. Ia adalah ajaran yang dibawa oleh seorang manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Penganut prinsip agama berarti dia memahami siapa pembawa ajaran agama baru kemudian ajaran-ajarannya. Di sini orang mutlak bersepakat bahwa Muhammad ajalah pembawa ajaran Islam dan orang akan mendebatkan ajaran-ajaran agama yang dibawanya, apakah benar dari Nabi atau tidak. Ini yang membuat ajaran agama menjadi tidak mutlak. Namun, hanya orang bego yang ujug-ujug percaya A mutlak dari Nabi tanpa terlebih dahulu Ia membaca proses ajaran itu sampai jadi teks yang dapat diikuti. Saya tidak bilang orang yang ikut pemuka agama itu bego. Itu artinya memahami ajaran agama adalah suatu proses panjang dari belajar. Wajar aja pemahaman seorang tentang ajaran agama seseorang itu akan paripurna setelah Ia terus-menerus mempelajarinya : Ia tidak takut saat mempelajari kejedug masuk kelompok A, B, C, ..., Z atau tidak memilih masuk di kelompok tertentu asalkan Ia never-ending learning in the name of truth. Orang jenis ini tidak akan mudah mengkafir-kafirkan dan tidak juga ragu-ragu saat dia ibadah beda dengan orang lain.

Kok saya bicara agama ya ? biarin udah terlanjur. Kembali ke judul yang aku tulis "Paper dan Kebegoan". Aku mau ceritain pengalamanku selama beriteraksi dengan tesis dan paper. Keduanya merupakan karya ilmiah yang cara mengerjakannya dengan metode ilmiah yang baku. Kebakuan ini yang bagi sebagian orang adalah masalah termasuk aku. Intinya sebenarnya bagaimana hasil penelitian ilmiah merepresentasikan kebenaran, caranya harus diperoleh dengan rigid (rigorous), tidak ngasal. Ini menjadi persoalan bagi orang yang suka berfikir liar melalui opini-opini. Ini saya rasakan. Pas nulis tesis, aku jadi bego karena harus baca paper dulu untuk memvalidasi suatu pernyataan. Males bet pastinya. Padahal jika nulis opini bebas kayak tulisan ini, tinggal ngalir aja, sembari dengerin lagu simple plan juga bisa. Nulis tesis boro-boro, suasana tenang adalah prasyarat fokus jika nggak tesis tidak akan selesai-selesai seperti pengalamanku. Namun, pesan tulisan ini bukan aku ngajak untuk mem-ban paper dan teman-temannya, melainkan pengen tekankan bahwa kebenaran relatif itu hanya bisa diperoleh dengan perjuangan dan inilah akan punya kontribusi pada dunia. Orang bisa beropini sampe bertengkar tapi jika validitasnya nol, maka ini tak ada artinya bagi kehidupan. Anda pasti tahu mengapa dunia itu berubah drastis saat Einstein muncul dengan relativitasnya, menggantikan era Newton dengan kemutlakannya. Proses Einstein dan Newton jika ditelusuri gila memang, penuh dengan drama. Maka, sangat pantas dan suatu keharusan bahwa "Seorang Guru harus ditempatkan pada posisi tertinggi" melebihi siapapun. Kembali ke agama, jika seorang ustadz tidak sekaligus guru maka saya berpendapat boleh kiranya pendapatnya diabaikan tapi tetap berpegang pada sikap tidak merendahkan. 

Udah itu aja, akan disambung dengan coletehan lain yang semoga bisa menyejukkan ...

Saturday, March 04, 2017

Melihat ke Dalam

Sebenarnya di menit ini saya harus menyelesaikan buku tesis yang tinggal edit sedikit sekali ; di bagian pendahuluan dan kesimpulan. Juga di bagian abstrak. Serta jurnal ilmiah untuk diserahkan ke jurusan sebagai syarat untuk dapatkan uang bantuan tesis. Tapi entah mau ngerjain fokus susahnya minta ampun. Dari pada waktuku habis untuk browsing gak jelas, mendingan aku nulis di blog ini. Nggak ada beban dengan tulisan yang mengalir, tanpa ada aturan seperti halnya menulis buku tesis, jurnal, dan opini. Aku mau nulis apa yang sedang aku pikirkan di blog ini biar sebagai reminder bagi aku di kemudian hari.

Aku berkali-kali nonton video youtube Elon Musk dan beberapa kali tentang Bill Gates dan Steve Jobs. Aku melihat orang-orang seperti mereka itu hidup karena ide besar yang ingin diwujudkan melalui pendirian perusahaan di bidang teknologi. Yang paling terbaru yang aku tahu dari Elon Musk idenya adalah buat wisata ke Mars melalui perusahaannya, SpaceX. Sementara Bill Gates pengen buat energi nuklir ramah lingkungan (generasi baru) dengan perusahaanya Terra Energy. Ini artinya mereka dah mikirin dunia ke depan akan kayak gimana. 

Aku bukannya nganggap teknologi Barat itu suatu yang "wow" trus kita yang hidup di negara berkembang harus ngikuti kayak mereka. Santai, aku tidak se-ndeso orang-orang yang mudah "gumun" dengan apa-apa yang berasal dari Barat. Aku sedikit banyak telah belajar tentang filosofi teknologi dan juga inovasi industri. Dari video-video yang aku tonton itu, aku terbawa sedikit dengan pemikiran mereka. Beberapa waktu yang lalu ada seorang mahasiswa tingkat 4 fisika ngobrol ama aku, dan Ia cerita kalo pengen dalami namanya "quantum computing". "Ahai" aku pun pernah denger istilah itu bahkan dari pegiatnya langsung di ITB. Obrolan pun berlangsung cukup lama, namun aku agak menyayangi, pengetahuan dia terkait itu masih minim. Aku kemudian membawa dia ke diskusi yang lebih praktikal "era data" di konteks Indonesia. Aku stimulus dia untuk bicara ide buat bisnis terkait IT dengan segmen pasar Indonesia dan dalam platform "data". Aku punya pandangan demikian, karena suatu saat dunia akan "connected" di mana kita akan bisa berselancar di dunia maya di daerah terpencil sekalipun.

Tapi aku ngelihat mahasiswa ini kurang tertarik dengan bisnis. Habis lulus kayaknya pengen kerja dulu dan bla bla seperti halnya mahasiswa pada umumnya. Aku kira ini terjadi karena atmosfer berkembangnya ide-ide liar di Indonesia belum ada. Aku juga ngalami sebenarnya. Selama aku berinteraksi dengan banyak orang (umumnya senior) yang cerita tentang aktivitasnya aku kebayang banyak sekali peluang yang bisa digarap di Indonesia. Buanyaak. Tapi satu hal yang jadiin aku gak gerak-gerak ya kelabilanku sendiri dengan didukung dengan tidak ada teman untuk bertukar dan bekerjasama untuk wujudkan ide. Aku terkadang males jika anak-anak muda seusiaku bicacaranya uang melulu, hidup enak, ide nol. Aku bukan anti uang, aku pengen kaya raya bahkan kayak Tony Stark Iron Man. Tapi jauh lebih penting, aku pengen hidup ini didorong karena ide besar. Ide yang kuperjuangkan dan tentunya berdampak positif untuk diri dan lingkungan sekitar.

Ideku yang pernah aku ceritakan ke beberapa teman adalah menciptakan "knowledge-hub" semacam Selasar Sunaryo tapi lebih luas lagi, tidak terbatas pada seni dan budaya. Di tempat itu, akan ada koperasi buku bagi semua pedagang buku kelas UKM, tempat startup teknologi mangkal, tempat berkumpulnya para budayawan, seninam, dan filsuf, juga para akademisi dari berbagai kampus. Tempat itu juga terhubung dengan kampus-kampus di wilayah daerah itu. Setiap akhir pekan ada kegiatan rutin juga bulanan dan tahunan. Tempat itu juga ciptakan riset dengan publikasi kontinyu dan juga mengadakan kelas-kelas yang akan diisi orang-orang komunitas. Aku pengen tempat ini dimiliki oleh setiap orang yang senang dengan ilmu pengetahuan. 

Apa alasan dirikan tempat itu ? Jawabanku "karena aku senang belajar". Aku senang berinteraksi dengan siapapun yang belajar. Aku paling gak seneng dengan orang yang pikirannya dogmatis, mudah anti dengan siapapun, dan mudah sekali "mengkafir-kafirkan" orang. Maka aku senang dengan seni apapun, film jenis apapun, musik genre apapun, sains, teknik, filsafat, novel genre apapun, buku sejarah, dan sebagainya. Intinya aku senang segala hal yang punya kaitan dengan pengetahuan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menguasai semua itu. Itu yang mendorongku untuk meng-connect para pegiat pengetahuan. Satu hal yang mungkin ditanya, "gimana tempat itu dapat beroperasi ?". Aku pengen yang turut serta mendirikan tempat ini bukan hanya aku tapi juga para businessman dan scholars yang lain. Di samping itu, pendanaan tempat ini tidak dibebankan pada tempat ini yang harus cari uang ke sana kemari namun dari unsur bisnis lain. Makanya, penciptaaan lapangan bisnis di tempat lain menjadi penting seperti pada pertanian, perikanan, dan peternakan. Juga industri berbasis IT di lapangan yang lain.

Aku tidak tahu ideku akan teralisasi ato tidak, aku optimis, somedays it will be real biarpun wujudnya tidak sesaklek yang aku pikirkan sekarang. Maka untuk kesana perlu ditumpuk batu bata-batu bata sehinga akan benar-benar jadi bangunan. O iya, satu hal yang aku pikirkan juga "Aku pengen mendirkan universitas" yang fokus pada penciptaan SDM yang suka pengetahuan : didalamnya difokuskan pada pertanian, perikanan, peternakan, dan IT di mana lulusannya akan ciptakan industri skala besar. Saya percaya Indonesia ke depan akan jadi satu kekuatan baru dunia, Jika aku keburu meninggal duluan sebelum ide ini terealisasi, saya harap Anda yang membaca ini dapat melanjutkan. Mari kita hidup dengan tidak menjadi orang biasa-biasanya saja. 
Posted on Saturday, March 04, 2017 | Categories: , ,

Thursday, February 16, 2017

Hoax dan Demokrasi

Kemarin (15/2) merupakan hari Pilkada serentak lebih dari 100 kabupaten/kota/provinsi di Indonesia. Namun, tetaplah DKI Jakarta sebagai magnet pemberitaan media baik mainstream mapun sosial. Saya tidak ingin membahas Pilkada dalam tulisan ini melainkan terkait berita hoax yang tengah melanda di media sosial khususnya. Tulisan ini merupakan hasil obrolan dengan dosen dan teman senior jurusan kemarin sore sampai malam.

Berita hoax tengah tersebar secara masif di media sosial (medsos) apalagi ditambah dengan fenomena Pilkada DKI Jakarta yang bisa dibilang sangat panas. Orang-orang dengan cukup klik "like" dan "share", berita hoax tersebar dengan gampangnya. Celakanya banyak orang tidak sadar dan sukar memilih dan memilah mana berita yang benar dan salah (hoax). Ada yang mengatakan bahwa tersebarnya berita hoax adalah karena budaya literasi orang Indonesia rendah. Saya kira pendapat ini kurang relevan karena lompat.

Keran demokrasi bebas (liberal) terbuka di era reformasi. Sejak era tersebut, orang dibebaskan untuk berpendapat di muka publik. Niat awalnya sangat positif karena orang tak perlu takut untuk mengkritik, beropini, dan sebagainya terhadap Pemerintah yang di era Orde Baru tidak mungkin bisa dilakukan. Namun sayangnya itu tidak diimbangi dengan perangkat yang cukup. Orang-orangpun semakin liar untuk berpendapat apalagi setelah terfasilitasi oleh medsos. 

Koneksi dengan Dunia Riil

Fenomena hoax seperti saya ceritakan secara sepintas di atas menjadi persoalan publik ketika itu berkembang di dunia maya melalui medium sosmed khususnya. Yang menjadi meresahkan dari hoax ini adalah karena sifat dari berita ini yang tak hanya bohong melainkan digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik. Berita ini mewujud ke dalam aneka situs/website/portal berita/blog yang seolah-olah progresif dengan menampilkan fakta di luar media mainstream (saya tidak menyebut semua media mainstream jujur). Melalui media-media tersebut digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk melancarkan misinya seperti halnya menjatuhkan lawan politik, menghancurkan kredibilitas figur tertentu, dan sebagainya. Ini jelas kejam tentunya bagi yang secara sadar membuat sumber berita di atas. Di sini saya sungguh kasihan bagi mereka yang karena fanatik buta (baca taklid) pada tokoh/faham tertentu menyebarkan tanpa klarifikasi (mungkun mereka tidak tahu caranya klarifikasi berita) berita-berita di atas. Bayangkan jika orang jenis demikian sungguh banyak, maka dapat dipastikan berita-berita yang tersebar di medsos (juga tentunya WhatsApp dan sejenisnya) adalah berita bohong alias hoax.

Jangan lebih jauh ingin berbicara solusi atas hal ini, mari kita plototin apa itu dunia maya yang menjadi ekosistem berita hoax saat-saat ini. Saya berpandangan bahwa dunia maya itu memiliki koneksi dengan dunia nyata. Koneksinya terletak pada sebjek yang menggunakan dunia maya melalui medsos misalnya adalah individu yang hidup di dunia riil di mana mereka beriteraksi dengan individu lain, dan sebagainya. Maka, kelakukan mereka di medsos sangat dimungkinkan dengan apa yang mereka lakukan di dunia riil. Jika seseorang terbiasa menyebarkan berita hoax di medsos, maka orang ini berpeluang besar di dunia nyatanya suka beropini dengan serabutan comot data entah dari mana sumbernya. Jika diagregat dengan masifnya persebaran berita hoax, maka sangat dimungkinkan di dunia nyata berita hoax juga tersebar dengan sangat masif. Ini bisa melalui obrolan-obrolan warung kopi, ceramah-ceramah, obrolan public figure di televisi, dan sebagainya. Celakanya memang di dunia nyata tidak ada upaya untuk dilakukan antisipasi atau recovery. Lembaga pendidikan formal yang menjadi tempat berkumpulnya insan akademis ternyata kurang begitu mampu menghadirkan solusi penyelesaian berita hoax.

Kombinasi Rill-Maya

Kesalingterhubungan antara kehidupan riil dan maya, maka solusi penyelesaian berita hoax ini tak terbatas pada pembuatan kebijakan di ranah alam maya seperti UU ITE dan sejenisnya, melainkan dengan memberikan regulasi pada hal-hal yang memungkinkan berita hoax terjadi, misalkan regulasi pada siapa yang berhak bekomentar di media televisi dan di ruang publik lainnya. Kini di alam demokrasi liberal, orang dengan sangat mudah ditokohkan dan dijuluki pakar. Sebagai contoh orang banyak bicara seputar hukum (padahal dia politisi) di-blow-up oleh media mainstream sebagai pakar hukum. Ini kan bisa celaka. 

Saya kira dengan mindset rill-maya demikian membuat kita tidak ujug-ujung menyimpulkan bahwa fenomena berita hoax hanya dapat diselesaikan dengan satu cara, literasi contohnya. Melainkan kita dapat telusuri secara lengkap fenomena ini sehingga pada ujungnya kita mendapatkan gambaran yang lengkap. 


*) gambar oleh DatDut.Com

Monday, February 13, 2017

Begadang

Kata Bang Haji Rhoma Irama dalam lirik lagunya "Begadang jangan begadang.. kalau tiada artinya.. begadang boleh saja.. kalo ada perlunya". Kata begadang bagi saya sudah tidak asing, namun sangat asing jika dalam tahapan pelaksanaan. Itu tandanya saya adalah seorang yang jarang sekali begadang biarpun tetap juga seringkali bangun kesiangan (harap maklum anak kos, hehe). Namun beda halnya dengan malam ini, saya sukses begadang dan ini tidak di kosan tapi di sebuah kafe tak jauh dari kosan. Dari dulu saya berniat ngelakuin tindakan ini, namun hanya sebatas wacana saja. Entah apa yang membuat kaki saya ke sini tadi, bisa jadi karena semangat saya untuk merampungkan buku tesis lagi tinggi. 

Ternyata begadang di kafe itu lebih mengasyikkan di bandingkan dengan di kosan. Mungkin karena nggak ada teman yang menemani sehingga suasana sepi kayak kuburan. Berbeda dengan di kafe (Coffindo) ini, di jam segini masih ada sekumpulan mahasiswa (nampaknya S1 dan dari Unpad) yang masi ngobrol ramai, entah mereka ngerjain PR atau apa. Jadinya saya yang dari tadi membaca jurnal ada yang nemeni setidaknya suara mereka yang riuh menjadi salah satu faktor saya tidak ngantuk sampai detik ini. Selain di sini relatif ramai (dengan suara), kopi Sulawesi yang aku pesan tadi bisa jadi cuma efek biarpun kurang signifikan. Terkadang saya ngopi di malam hari, tapi tetap saja bisa tidur dengan pulas. 

Selain dua faktor di atas, distraksi sebab salah install program menjadi faktor lain. Tadi saya coba install program google translate namun ternyata program tersebut fake, mungkin saya salah download, bisa jadi. Entah tiba-tiba setelah install program tersebut, terinstall tiga program lain dan sialnya ada dua program yang tidak bisa di-uninstall. Windows defender di laptop sempat mati tiba-tiba dan terpaksa saya restart setelah unistall Avast, program antivirus yang tetiba muncul di layar. Saya khawatir sekali jika malware alias virus menyerang laptop. Bisa jadi kerjaan dan tetek bengek saya di laptop ini hilang. Distraksi lain selain itu ya apalagi selain media sosial (medsos). Sejak zaman medsos, satu keahlian yang tiba-tiba saya jago, "kepo", ya betul. Keahlian ini otomatis. Saat buka facebook atau twitter atau juga Instagram, penasaran dikit "klik", buka profil orang, dan lain-lain. Lebay sih terkadang saya ngrasanya. Hal ini semakin terlatih saat saya pegang media kampus dulu, di mana "rating" media menjadi tujuan biarpun gagal terus untuk diuangkan. 

Selain hari ini, semalam saya juga begadang, tapi tidak selama hari ini. Tujuannya juga beda, jika semalam refreshing, hari ini baca jurnal. Sebelum saya tutup tulisan ini, begadang itu ada asiknya ketika kita merasa asik. Tiba-tiba teringat lirik dangdut koplo, "Asik-asik, jos". Eh bukan lirik, tapi sejenis yel-yel. 


Thursday, February 09, 2017

Ketika Semua Orang Berbicara Politik

Nggak di kampung halaman, nggak di kampus. Semua orang membicarakan politik. Jika kita melihat apa yang berkembang di linimasa pastinya isu politiklah yang menjadi topik bahasan. Jika kita ambil timeline hari ini, maka isu Pilkada Jakarta-lah yang paling santer diberitakan orang. Hari ini saya membaca baik di grup WhatsApp ataupun postingan teman bahwa Ikatan Alumni (IA) ITB mengklarifikasi bahwa telah mendukung pasangan calon nomor 1 AHY-Sylviana Murni. Surat klarifikasi itu tertanda ketua IA, entah beneran atau hoax kabar itu telah tersebar di dunia maya.

Saya kok tidak habis fikir, mengapa setiap orang dari lapisan bawah, menengah, dan atas membicarakan politik ? Okelah jika golongan menengah bahas politik sampai harus gontok-gontokan dengan temannya sendiri secara mereka secara ekonomi sudah cukup, tapi kalo golongan bawah yang notabene untuk hidup aja sulit ?. Terlepas ada yang menyebut ini ideologis, namun saya berpendapat bahwa golongan menengah berdialektika seputar politik adalah untuk bersenang-senang sedangkan golongan bawah adalah untuk menyambung hidup. Maksudnya bersenang-senang ini adalah karena dengan berpihak pada identitas politik tertentu maka dia akan eksis yang ujungnya adalah popularitas. Seperti halnya dengan penulisan status untuk menanggapi sikap politisi A dengan menggunakan gagasan yang rasional dan akademis yang saya yakin itu penuh dengan tendensi. Sedangkan maksud menyambung hidup itu jika mendukung secara terang-terangan calon X misalkan Ia akan dapat rupiah, sesederhana itu.
Setiap orang ingin jadi politisi ? Mungkin. (sumber : BetaNews online)

Bagaimana dengan politik yang dibungkus dengan agama ? Ini sebenarnya isu lama. Jika menengok sejarah republik golongan Islam dan nasionalis cenderung berebut pengaruh. Sebut saja dalam Piagam Jakarta yang merevisi bunyi sila pertama Pancasila adalah bukti bahwa terjadinya tarik-ulur kepentingan antara dua golongan ini. Fenomena Pilkada DKI saya kira kebangetan bagi dua golongan ini. Pertama, golongan Islam mencurigai bahwa telah terjadi proses komunisasi di tubuh Pemerintah. Sampai saat ini saya tidak melihat fakta yang memperlihatkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) akan kembali berdiri. Kedua, golongan nasionalis mencurigai bahwa golongan Islam akan merusak Kebhinnekaan. Artinya saling curiga inilah yang kemudian menjadi isu yang berkembang. Perkembangannya seperti virus apalagi setelah ditiup setiap hari oleh media sosial juga media massa mainstream.

Saya terkadang berfikir pragmatis begini, apakah politik itu bisa dimakan ? Okelah jika kita berbicara politik adalah untuk melihat fenomena secara utuh, tapi jika untuk saling sinis dengan "Like" dan "Share" itu bagaimana ? Saya melihat fakta ini terjadi tak hanya terjadi pada teman facebook saya yang notabene saya kenal kurang begitu pintar, namun juga pada mantan dosen dari kampus bergengsi yang katanya mengajar filsafat. Apa artinya ini ? Pendidikan tidak menjawab fenomena ini. Kesinisan telah mengubah tabiat orang dari lapisan manapun. Padahal jika kita dapat melihat dunia secara lebih utuh banyak hal yang dapat kita lakukan. Apalagi negara kita tidak sedang berkonflik seperti Suriah, Irak, dan Afganistan yang disana penduduknya sukar untuk bercita-cita. Kita di negara demokratis ini bebas untuk bercita-cita menjadi apapun, namun mengapa bukan itu jalan yang kita pilih ? Entahlah.

Pada akhirnya, tulisan ini adalah refleksi bagi kita semua bahwa isu yang berkembang di masyarakat khususnya di era medsos seperti ini sepatutnya tidak menjadikan kita menjadi pribadi yang tidak merdeka. Sebagai manusia kita diberi akal untuk berfikir, biarpun juga diberikan nafsu. Jangan sampai nafsu mendominasi gerak-langkah kita. Mari kita memerdekakan pikiran, mari kita mengurai belenggu-belenggu yang ditimbulkan dari kekacauan berfikir. 
Posted on Thursday, February 09, 2017 | Categories: ,

Monday, December 19, 2016

26 Tahun, Masih Muda Sih Tapi

Tepat 26 tahun lalu aku dilahirkan di dunia ini. Artinya usiaku sudah seperempat abad lebih setahun. Memang sih terlihat masih muda, secara aku belum sampai kepala tiga. Tapi apa sih arti dari umur jika keberadaan kita di dunia ala kadarnya. Sebelum aku cerita apa yang telah dilakukan di usia 25 tahun, saat aku menulis ini aku tidak betul-betul fit. Aku terserang pilek dari semalam. Ingus bening seringkali keluar di saat aku berposisi ingin kerjakan sesuatu. Bahkan saat aku sholat Dzuhur berjamaah di masjid tadi siang, aku tidak enak dengan jamaah di samping kanan dan kiri aku. Aku batuk-batuk dan tentunya disertai dengan keluar ingus biarpun dikit. Aku jauh dari fokus tunaikan ibadah.  Dalam hari kecil aku, “Kapan ya sholat ini segera selesai ?”,  jauh dari khusyuk memang.

Saat ini aku sebenarnya berencana melengkapi bahan tesis yang akan aku presentasikan kamis besok. Baru baca-baca satu bab di buku Triple Helix Etzkowitz tapi mau menuliskan di laporan tesis dan powerpoint masih sulit. Bersin-bersin dan ingus seringkali keluar. Tissue satu wadah pun tinggal setengah. Aku coba istirahat tadi sebelum dzuhur, juga ambil makan pagi dan siang dengan lauk tongkol dan ayam dari Ibu kos. Buah pisang tak ketinggalan sama apel New Zealand yang aku beli kemarin masih ada dua biji. Di samping kasur, air putih dan air teh manis menemani saat-saatku menulis cerita ini. O iya, aku tadi install aplikasi NIKE + dipakai untuk ukur jarak lari. Moga aja sore nanti bisa aku pakai, moga-moga saja pilek aku menjadi agak mendingan.

Tidak semuanya perlu dibuktikan, enjoy aja
Jika melihat taget “25 tahun usia emas” yang aku tuliskan di cermin kaca dimana aku sering lihat wajah itemku, jelas jauh dari tercapai. Di usia ini aku seringkali buang waktu atau istilahnya “wasting time”. Lihat aku sampai sekarang aku belum pratesis apalagi sidang, ditambah dengan tulisan yang jarang-jarang, publikasi  boro-boro, atau pacar. Jauh betul kalo poin terakhir mah. Aku justru sering bertarung dengan pikiranku sendiri. Ini mungkin akibat negatif dari berfikir kalkulatif ala matematika, “Jika A maka B”. Nah, target-target yang kubuat juga terkesan dengan unsur kalkulatif yang kuat. Akhirnya aku jauh dari realistik. Yang aku targetkan jauh dari unsur kegembiraan. Ini menjadikan hari-hariku dipenuhi target-target yang menjemukan alih-alih menyenangkan. Saat naik gunung di Papandayan pada April 2016 lalu, pikiranku ada pada ujian Matematika Keuangan Internasional (MKI) yang aku ambil di Jurusan Matematika ITB. Saat aku liburan lebaran di rumah selama 2 minggu, aku kepikiran dengan tesis yang harus segera diselesaikan. Saat kerjakan tesis, aku kepikiran dengan pekerjaan pasca tesis. Ini artinya aku sulit fokus. Indikasi apa yang membuatku demikian, adalah karena kurang piknik.

Selama kuliah mengambil konsentrasi di bidang Ilmu Sosial yang masih nyrempet-nyrempet dengan ilmu keteknikan, aku semakin tahu banyak bahwa persoalan bangsa ini kompleks. Saking kompleksnya jadiin aku bingung setengah mati. Apalagi aku punya background “aktivis”.
Bayangkan saja, ketika ngelihat pejabat di Jakarta sana yang gak becus benerin kementerian, aku gak bisa apa-apa selain mengutuk lewan lisan dan jika ada waktu aku tulis lewat tulisan. Ini kan menyakitkan bagi aku. Jadinya penyelesaian persoalan secara langsung hanya bisa aku lihat dari Televisi atau media massa lainnya. Jelas ini menyakitkan. Mungkin aku telah terjangkiti sindrom “intelektual” yang mikirin persoalan tanpa diajak berembug untuk selesaikan persoalan. Maka, bisanya cuma bisa “maki-maki” di tulisan, bukan status FB, celetukan di twitter, dan medsos lain. Padahal buat satu tulisan saja, energinya gede banget. Aku pernah merasakan itu. Aku pernah dicritai salah seorang dosen muda jika satu dosen di FSRD biasa nulis sebelum subuh saat orang-orang pada tidur dengan menghabiskan waktu beberapa jam. Gila memang.

Sebenarnya menulis itu menyenangkan bagiku. Seringkali kadang dalam satu hari dua essay 800-an kata kubuat. Ya, nggak kayak dosen FSRD yang ambil waktu saat pra subuh. Aku sih normal-normal saja di pagi dan siang hari atau tidak terlalu malam. Tulisanku juga seringkali mengalir begitu saja biarpun ambil beberapa referensi. Jika ditanya, “Berat ya tulisanmu?”, bisa jadi sih. Tapi aku akui minimnya bacaan dan pengalaman membuat analisis di tulisanku kurang begitu tajam. Aku kira ini diakibatkan oleh kebosananku di ranah akademik. Aku memandang lingkungan akademik terkadang menjemukan. Aku seringkali melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri dosen-dosen administratif yang hanya kejar KUM alih-alih kembangkan keilmuan. Yang dipikirkan bukannya hal-hal terkait perbaikan melainkan projek. Ini kan menjengkelkan. Tapi di sana aku mulai menyadari bahwa dunia akademik seperti di kampusku masih jauh dari sifat egaliter yang diadopsi umumnya oleh  para intelektual. Aku masih harus hormat karena senioritas, bukan karena keilmuannya. Jengkel sih tapi apa boleh buat.

Nah, kondisi ketidakidealan ini seringkali terfikirkan dan jadikan aku stres. Mungkin karena pandanganku hitam-putih. Tapi untungnya aku menemukan hobi baru yaitu lari. Sudah lebih dari sebulan aku lari hampir setiap hari. Awalnya hanya lari 6 putaran, trus 6 putaran plus fitness, dan sekarang biasanya lebih dari 6 putaran. Aku semacam menemukan kedamaian di saat lari. Awalnya sih target-target saja tapi akhirnya nikmat juga. Aku juga lihat perubahan dalam postur tubuh dimana saat jalan terlihat agak gagah. Mungkin beberapa bulan lagi aku akan punya dada seperti Iko Uwais (hahaha, ngarep). Tapi intinya, lari membuatku asik. Apalagi saat beberapa minggu lalu aku dapetin buku Murakami dari Kineruku tentang memoir larinya, jadi lebih semangat lagi aku dalam berlari. Memang belum sih aku lari marathon kayak dia, tapi setidaknya lari beberapa putaran keliling lapangan fitness Teuku Umar bisa menyenangkan. Itu jauh lebih cukup aku kira.

Akhirnya (karena aku harus ngerjain yang lain), tulisan ini harus aku cukupi. Intinya di usia 26 nanti insyaAllah aku akan lulus S2 di bulan Januari 2017 dan setelah itu aku akan kerja dan mungkin akan dapat jodoh (yang terakhir ini menarik dibahas kapan-kapan). Aku belum ada bayangan ngambil S3 dalam waktu dekat, tapi yang paling penting adalah aku pengen tidak lagi di Bandung (juga Jakarta). Aku pengen muter-muter daerah lain (mungkin juga Luar Negeri). But your English must be improved. Gambar ditulisan ini aku pakai Nash-Alicia di film Beautiful Mind di saat mereka berdua pacaran. Menarik bagi aku karena Alicia jelaskan apa itu cinta. Aku kasih gambarannya sedikit : Cinta itu seperti alam semesta, tidak dapat dibuktikan hanya bisa dilihat tanda-tandanya saja.

Bandung, 19 Desember 2016

Wednesday, December 07, 2016

Sehat Tidak Perlu Mahal

Beruntung saya mengekos di kawasan perkampungan warga tengah-tengah kota Bandung, tepatnya di Sekeloa Selatan. Tak jauh dari lokasi saya terdapat pasar pagi di beberapa titik. Di situ saya seringkali beli buah, kadang apel hijau, apel merah, salak, jeruk, dan anggur merah. Harganya bisa dikatakan lebih murah dibandingkan di toko semacam Ind*maret atau Alf*mart. Sebagai contoh tadi pagi saya beli apel merah washington setengah kilo hanya 10 ribu rupiah. Lumayan dapat empat butir. Salak pondoh malah lebih murah, senin lalu (5/12) beli setengah kilo hanya 2.5 ribu. Tak hanya itu, terkadang saya minta sama penjualnya untuk cicip sebutir anggur merah, beliau pun mengizinkan. 

Selain pasar, kosan saya dekat dengan tempat olahraga umum. Salah satunya taman fitness yang lokasi di Jalan Teuku Umar di belakang Unpad Dipatiukur. Hampir setiap hari saya ke sana untuk lari minimal 6 putaran dan tentunya mencoba alat-alat fitness. Hampir dua bulan saya melakukan olahraga rutin di sana, awalnya hanya lari terus ketagihan coba alat-alat fitness. Taman ini awalnya kurang terawat namun kini sudah direnovasi, biarpun ada 2 dari alat fitness yang entah ke mana sekarang. Saking seringnya ke sini, saya hafal siapa-siapa yang berolahraga rutin di sini. Saya juga kenal preman dan penjual nasi kuning di sini. Terkadang pas olahraga saya dapat bonus dengan melihat perempuan cantik yang berolahraga juga. Ini semacam punya daya magis tersendiri untuk berolahraga lebih lama (hehe). Tapi biarpun demikian tidak sekalipun saya berani berkenalan mereka.
Track Jogging di taman Fitness 
Selain makan buah dan olahraga rutin (yang keduanya murah), beruntung Ibu kosan saya membuka warung dengan masakan semi Jawa. Masakannya cocok dengan lidah saya dan murah. Sebagai contoh ayam goreng sayur nasi hanya 10 ribu. Tak hanya itu terkadang Ibu kos membuat soto dan gado-gado yang rasanya enak juga. Selain makan di Ibu kos, saya juga sering beli lotek di kawasan PKL Haur Pancuh, seporsi hanya 10 ribu. Saya sudah kenal lama dengan nenek penjual lotek ini dan juga cucunya yang masih berusia SD. Lucu sekali cucunya, dia panggil saya "Om", wah terlihat tua sekali saya. Pas malam, selain makan nasi goreng di Pak Kumis di belokan Jalan Haurmekar, juga makan di warung cenghar dekat kosan saya dengan menu favorit soto. Terkadang pula makan di warung Tegal (warteg) di pengkolan jalan menuju jalan Titimplik di sebelah timur Monumen Perjuangan. Di sana seporsi urap, tempe orek, telor bulat, dan pisang hanya 10 ribu, murah sekali.

Artinya saya beruntung kosan di kawasan sekeloa selatan jika ditinjau dari asupan untuk hidup sehat. Bahwa saya tidak harus pergi ke gym, beli buah di supermarket, atau makan di restoran yang jelas tidak akan dipenuhi budget saya. Pelajaran ini semua adalah bersyukur atas apa itu jauh lebih penting dari pada harus menyesal dan meratapi nasib. Bersyukur itu diwujudkan dengan menuntaskan segala kewajiban yang dipunya, tidak menunda. 

Sebagai info tambahan, dari kemarin saya menikmati lagu Padi dan Rhoma Irama. Biar tidak populer di kalangan anak muda sekarang, saya senang saja karena lagu-lagunya penuh pelajaran hidup. 

Thursday, November 03, 2016

[OPINI] Berlomba-Lomba World Class University

Tidak asing bagi kalangan kampus akan istilah World Class University (WCU) yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan Universitas Kelas Dunia. Banyak kalangan khususnya petinggi Perguruan Tinggi ternama di Indonesia mengangkat istilah itu sebagai label kampus yang dipimpinnya. Dari sinilah saya kemudian bertanya apa itu WCU ?. Beberapa tahun terakhir saya amati khususnya di kampus saya, Institut Teknologi Bandung, dimana saya telah belajar selama 7 tahun di sini, bahwa WCU dimaknai hanya sebatas peringkat kampus di beberapa instansi pemeringkat dunia seperti webometrics, akreditasi internasional untuk Program Studi, dan publikasi internasional. Artinya ini hanya masuk dalam tataran administratif. Sementara iklim pembelajaran di kampus tidak banyak berubah. Di sini timbul satu pertanyaan lagi, apakah dengan melakukan internasionalisasi lembaga (peringkat, akreditasi, dan publikasi) menjadikan suatu universitas patut disebut universitas kelas dunia ? Saya kira tidak semudah itu. 
 
Institut Teknologi Bandung (dok. Majalah Ganesha ITB)
Saya kira WCU tidak jauh berbeda dengan label lain yang seringkali kita dengar seperti Research University (RU) dan Entrepreneurial University (EU). Label-label ini seringkali dipakai universitas-universitas kita untuk mendongkrak pamornya di masyarakat. Harapannya banyak masyarakat yang kemudian tertarik masuk dan menjadi mahasiswa suatu universitas. Cara ini bagi kampus yang sudah punya nama seperti ITB, UI, dan UGM tidak banyak pengaruhnya karena tanpa promosi pun kampus-kampus ini kebanjiran calon mahasiswa di setiap tahunnya. Biarpun label itu tidak dibutuhkan dalam konteks promosi, namun realitanya kampus-kampus ini tetap menamai dirinya dengan label tersebut. Sebagai contoh ITB dalam periode kepengurusan Kadarsah Suryadi (2014-2019) melabeli ITB dengan Entrepreneurial University setelah sebelumnya di era Akhmaloka (2010-2014) dengan World Class University (WCU).

Akui Saja Teaching University

Nama WCU, RU, maupun EU merepresentasikan visi dan misi universitas, kemana univeritas ini akan dibawa. Setiap nama di atas memiliki filosofi masing-masing, jadi tidak ujug-ujug dengan memakai label itu langsung menjadikan pola kehidupan di universitas menjadi berubah. EU konon pertama kali dikenal di universitas-univeristas Amerika di awal abad-20 dimana universitas adalah partner strategis dari berbagai industri. Stanford University adalah mitra terdepan Silicon Valley yang melahirkan aneka perusahaan IT dunia seperti Microsoft dan Hewlett-Packard (HP). Baru kemudian setelah perang dingin, universitas-universitas di Amerika mengubah citranya dari EU menjadi RU. Pada masa ini, universitas berlomba-lomba melakukan riset dasar untuk kebutuhan pertahanan dalam negeri. Investor terbesar riset tak lagi dunia industri melainkan pemerintah. Di masa ini, kita dapat melihat perkembangan keilmuan fundamental sangat masif seperti riset terkait atom. Sementara itu WCU hadir setelah EU dan RU hadir sebelumnya. Kampus-kampus luar negeri khususnya Barat yang telah settle dengan dunia riset baik yang orientasinya untuk industri maupun untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri lambat laun entah melebeli dirinya sendiri atau dilabeli dengan sebutan World Class University (WCU). Artinya kampus-kampus tersebut tidak sibuk dengan promosi WCU dimana-mana, namun cukup dengan melakukan riset yang masif, dunia akan mengakui dengan sendirinya.

Lantas bagaimana dengan universitas di Indonesia ?. Riset (penelitian) dalam universitas kita belum menjadi suatu budaya. Artinya riset belum menyatu dalam diri civitas akademika khususnya dosen bahwa kegiatan pengajaran dan riset adalah satu kesatuan profesi dosen. Dosen tidak bisa mengajar saja melainkan harus juga melakukan riset. Definisi riset terbaru yang saya dapatkan datang dari salah dosen ITB bahwa riset dan publikasi adalah kesatuan yang utuh. Artinya di sini tidak boleh hanya meriset bertahun-tahun namun nihil publikasi. Biarpun saya masih bertanya-tanya apakah definisi riset dengan mengkaitkan dengan publikasi itu cocok karena bisa jadi ada dosen yang meneliti suatu objek/fenomena bertahun-tahun tanpa publikasi satu pun, lantas itu tidak dikatakan suatu riset ?. Nampaknya jika kita membahas ini, tulisan ini akan menjadi lebih panjang. Asumsikan kita sekarang memakai definisi riset ala dosen ITB itu, maka publikasi adalah parameter masif atau tidaknya riset suatu perguruan tinggi. Data scopus per 1 Agustus 2016 memperlihatkan bahwa jumlah publikasi 5 besar kampus penyumbang publikasi terbanyak di Indonesia (ITB,  UI, UGM, IPB, ITS) jika dijumlahkan seluruhnya masih kalah dengan satu universitas di Malaysia yaitu Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) (18537 : 24633). Dari data itu kita harus akui bahwa riset kita memang tidak masif.

Jadi jika tidak ada aktivitas riset secara masif, apa yang dilakukan universitas kita ? Tak lain adalah pengajaran. Pandangan masyarakat akan dosen umumnya pada tataran bahwa dosen itu tugasnya mengajar mahasiswa dari tidak bisa menjadi bisa, titik. Kita harus akui bahwa sejak Indonesia merdeka sampai saat ini univeristas kita tak banyak mengalami perubahan sebagai univeristas pengajaran (teaching university). Dengan mengakui identitas ini, baru kemudian kita dapat berfikir bagaimana universitas kita diarahkan menjadi RU, EU, atau bahkan WCU.

Pelan-Pelan Tapi Pasti

Semua orang menginginkan perubahan tak terkecuali dunia universitas. Setelah mengakui bahwa sejatinya universitas kita masih TU dan untuk  melangkah ke RU, EU, apalagi WCU harus menjadikan riset sebagai budaya, maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan dengan tepat riset itu apa, tidak sesederhana yang diungkapkan dosen ITB di atas. Definisi riset dijelaskan secara apik oleh Johanes Eka Priyatma di kolom Opini Kompas (27/9/2016) dimana Ia menawarkan gagasan jejaring aktor yang diambil dari Teori Jejaring Aktor (Actor-Network Theory/ANT). Melalalui teori ini dapat dijelaskan bahwa riset adalah masalah yang kompleks yang disana melibatkan aneka aktor baik manusia maupun benda yang dalam bahasa ANT disebut artifak. Dalam konteks riset di Perguruan Tinggi perlu diidentifikasi artifak-artifak penyusunnya seperti halnya siapa yang memanfaatkan riset, siapa yang mendanai riset, riset itu sendiri di bidang apa, pelaku riset, dan sebagainya.

Publikasi riset di jurnal internasional adalah satu sisi dari riset, maka jika hanya satu sisi yang diperhatikan tidak akan menciptakan budaya riset yang masif. Maka disini diperlukan sisi-sisi lain. Merujuk pada sejarah berbagai universitas di dunia bahwa sisi-sisi lain yang dimaksud adalah pengguna hasil riset (industri, masyarakat), pemberi dana riset (pemerintah, industri), pelaku riset (selain universitas lainnya juga periset dari lembaga lain serta mencakup juga kapabilitas pelaku riset), dan sebagainya. Sisi-sisi itu harus ditengok dan dijalin secara kontinyu sehingga dihasilkan hubungan yang harmonis. Dalam hal ini Kemenristekdikti diperlukan untuk menjalin sisi-sisi itu dengan pihak kampus. Jika dilihat dalam tataran makro, usaha ke arah ke sana jelas sangat berat karena dibutuhkan lintas institusi dan lintas kementerian, namun jika tidak segera dimulai harapan untuk menjadikan universitas kita menjadi RU, EU, atau bahkan WCU hanya akan tinggal harapan dan mimpi. Artinya di sini budaya riset di kampus kita selamanya tidak akan terjadi dan kampus kita akan selamanya sebagai kampus pengajaran.

Uruqul Nadhif Dzakiy, mahasiswa Magister Studi Pembangunan ITB

Saturday, October 01, 2016

[PUISI] Menulislah dalam Kesendirianmu


Akan tiba suatu masa di mana kita hanya ditemani laptop dan segelas kopi
Tiada tawa canda atau bahkan pertikaian kecil
Yang ada hanyalah sendiri dan menyediri
Dunia yang luas seolah hanya sebuah kamar kostan ukuran 1.5 x 3
Lamunan dan perandaian nyatanya justru membuat diri semakin jauh dari realita

Bunuhlah mimpi dan angan-anganmu !
Kutegapkan badan dan keluar melihat aneka macam orang
Ada dari mereka yang berjibaku mengais sampah untuk dapat hidup di hari itu
Ada juga SPG yang menawarkan rokok dengan tampilan seksi ala artis ibukota
Ada juga seorang anak muda yang mendiskusikan kebobrokan negara di sebuah kafe
Ada juga sekumpulan orang yang tanpa lelah menegakkan moral suatu kampung
Mengacalah pada mereka !

Aku yang terkungkung dalam lingkungan akademik kemudian merenung
Apakah aku hanya diam ?
Tak lama setelah perenunganku, ada pesan masuk
Hai Bung, menulislah ..  itulah bentuk perjuanganmu..
Pesan itu seolah tamparan di tengah pikiran kacau yang lama sekali pulih
Aku hidupkan jaringan internet, membuka blog dan sejenisnya
Aku lihat tulisanku di berbagai macam jenis media, sebagian sampah sebagian serius
Aku tersenyum-senyum sendiri

Semilir angin maghrib mengingatkanku pada sastrawan besar, Pramoedya namanya
Teringat pernyataannya, "Tulisanku adalah anak kandungku"
Aku membuka Microsoft Word dan memulai menulis
Menulislah dalam kesendirianmu
Bandung, 1 Oktober 2016  

Thursday, September 29, 2016

[MOMEN] Belajar Kehidupan dari Prau (2565 mdpl)

Berfoto bersama satu tim pendakian di Puncak Prau (dok. @made_adyatmika )
Selepas menghadiri akad dan resepsi salah satu teman saya, Hasti Asfarina, di Wonosobo pada sabtu (24/9), saya berserta tiga orang teman ; Ugun, Sofi, dan Made menuju kawasan pegunungan Prau di Dieng Wonosobo. Kami berangkat dari guest house pernikahan Hasti sekitar jam 15.00 WIB kemudian menuju jalan raya untuk naik angkot ke arah Dieng Wonosobo. Perjalanan dari Argopeni ke Dieng memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sepanjang perjalanan, hujan cukup deras turun dari langit.

Kami akhirnya tiba di pos pendakian ke Gunung Prau di Patak Banteng. Di sana, kami lakukan registrasi dan packing. Setelah barang-barang terkemas di carier dan daypack, kami keluar pos lakukan pemanasan dan berdoa. Selanjutnya memulai tracking menuju puncak Prau. Kami mendaki sekitar pukul 17.45 WIB dan di saat itu langit mendung dan suara azan maghrib bersautan. Hujan belum turun namun kami memakai rain coat untuk bejaga-jaga.

Menuju pos-1, kami melewati tangga beton yang juga merupakan jalan rumah warga sekitar. Kemudian melewati jalan berbatu kali yang tersusun rapi. Kami melihat hamparan kebun yang segar khas di daerah pegunungan. Tiba di pos-1, Ugun menyerahkan karcis registrasi dan di sana dicek oleh tiga orang petugas. Setelah clear, kami melanjutkan pendakian menuju pos-2. Jalan menanjak dengan anak tangga dari tanah yang dibatasi dengan pagar bambu dan juga kabel tebal sebagai pegangan para pendaki. Di sepanjang track kami dapati banyak warung yang menjajakan aneka makanan seperti gorengan, snack, minuman, dan juga tempat peminjaman alat pendakian seperti sleeping bag. Kami saat mampir di salah satu warung hanya numpang duduk saja.

Sebelum melewati pos-3, hujan mulai turun dengan deras. Kami melewati tanjakan yang cukup licin yang menerobos hutan yang tidak cukup lebat. Setelah melewati pos-3, kami melewati track tercuram. Kami harus jeli menancapkan alas kaki pada serabut akar yang kasar agar tidak terpeleset. Pada waktu itu saya sendiri tidak membawa alat penerangan seperti senter atau headlamp. Saya mengandalkan cahaya dari headlamp yang dibawa Sofi dan juga bergantian alat penerangan seperi saat saya memakai senter handphone tahan air punya Ugun dan juga headlamp milik Sofi. Bisa dikatakan perjalanan melewati tanjakan demi tanjakan untuk menuju puncak Prau sukses. Total waktu yang kami habiskan sepanjang perjalanan kurang lebih 2 jam 15 menit.

Tiba di puncak Prau, kami mendirikan tenda. Saat itu hujan masih turun namun tidak cukup deras. Ada dua tenda yang kami bangun ; tenda untuk 3 orang (Ugun, Made, dan saya), dan tenda khusus Sofi. Pendirian tenda tidak mengalami kendala, kecuali ada kendala kecil saat mendirikan tenda kapasitas satu orang untuk Sofi. Tenda ini bentuknya unik seperti prisma segi enam dengan tinggi yang tidak rata. Setelah tenda terbangun, kami makan malam bersama, kemudian lakukan sholat Isya, dan tidur. Tidur saya pada malam itu bisa dikatakan kurang begitu nyenyak. Sleeping bag bagian kaki saya basah. Ternyata biarpun sleeping bag sudah saya balut dengan plastik, nyatanya air tetap bisa tembus. Saya tebangun berkali-kali dan sempat mengubah posisi tidur.

Belajar Kehidupan

Esok harinya (25/9) sekitar jam 04.45 WIB, saya bangun. Ugun dan Made duluan duduk tegap. Tak lama setelah itu saya lakukan sholat subuh dan keluar tenda untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit (sunrise). Kami menuju suatu lapang luas di kawasan puncak Prau. Di sana ratusan orang berkumpul. Menurut petugas di Pos-1, pengunjung Prau di akhir pekan ini menurun tajam hanya 200-an orang. Biasanya 1000-an orang. Biarpun demikian tetap saja terlihat ramai. Kami mengambil gambar mulai foto personal, selfie, sampai wefie. Tak ketinggalan, beberapa dari kami juga ambil video. Dari puncak Prau kami dapat melihat pemandangan berjejaran tujuh gunung ; Ungaran, Slamet, Lawu, Merbabu, Merapi, Sumbing, dan Sindoro. Sembari ambil gambar dan menikmati udara segar pagi, kami menyaksikan matahari terbit.
Pemandangan dari Puncak Prau, saya bisa lihat 7 puncak gunung di sekitaran gunung ini (dok. @shaffiati)
Setelah puas melihat pemandangan puncak Prau di pagi yang sejuk, kami menuju tenda dan bersiap untuk membuat sarapan pagi. Kami memanaskan air terlebih dahulu untuk membuat kopi dan energen. Bagi saya, menyeruput kopi pada pagi hari di gunung adalah suatu kenikmatan. Suasana gunung yang alami dan sejuk ditambah perjuangan menuju lokasi camp adalah poin plus kenikmatan menyeruput segelas kopi. Sembari menunggu tanaknya nasi, kami pun ngobrol-ngobrol. Topiknya random, ngalor-ngidul, namun ini justru poinnya. Saya mendengarkan paparan cerita salah satu teman saya yang telah berpengalaman menjalin hubungan cinta selama lebih dari 2 tahun. Setiap detail yang terucap dari mulutnya, saya refleksikan dalam pengalaman yang pernah saya lampaui. Melalui mengobrol, saya mendapatkan ilmu tentang kehidupan dan ini yang membuat saya rindu untuk kembali menjejakan kaki ke gunung-gunung lainnya.

Sekitar jam 9.30 WIB, kami turun menuju pos registrasi dengan melewati track yang sama dengan saat mendaki. Dari pos-4 ke pos-3 kami harus bersabar karena banyaknya pendaki yang turun juga. Lebar track yang tidak terlalu luas menjadikan antrean menjadi panjang. Biarpun begitu, kami lewati dengan lancar. Kami tidak pernah berhenti untuk sekedar istirahat. Saat itu cuaca cerah. Saya hanya memakai bawahan rain coat untuk melapisi celana pendek yang saya kenakan. Sementara di bagian atasan, saya hanya memakai kaos oblong. Perjalanan turun memakan waktu kurang lebih 1, 5 jam. Dalam perjalanan turun, ada satu istilah yang muncul dari salah satu dari kami “air kehangatan”. Istilah ini menjadi pelengkap istilah “puncak kenikmatan” yang dipopulerkan oleh Ucup (anggota AKS) :p

Tetiba di pos registrasi, kami istirahat, mandi air hangat, membeli oleh-oleh ‘carica’, makan siang, packing, dan sekitar jam 15.00 WIB kurang menuju terminal Wonosobo untuk melakukan perjalanan panjang menuju Bandung. Sembari menunggu keberangkatan bus Sinar Jaya, kami bertemu Ita (anggota AKS) yang juga akan menuju ke Bandung dengan bus yang sama.  Bus berangkat sekitar pukul 18.00 WIB dari terminal. Akhirnya,  Sayonara Prau, Sayonara Wonosobo…

Bandung, 26 September 2016