Wednesday, September 13, 2017

Link and Match Universitas-Industri

Istilah "link and match" bukanlah hal yang tabu di beberapa universitas besar di Amerika, namun tidak dengan Indonesia. Ada budayawan yang menganggap bahwa ide ini yang tak lain akan menciptakan lulusan universitas yang hanya sekedar menjadi sekrup industri. Bagi mereka sekrup industri berstigma negatif dan hanyalah kaum intelektual cerdik pandai yang dapat mereproduksi idelah idealnya seorang lulusan universitas. Namun ada beberapa pula yang mendukung ide ini karena percuma kuliah susah di Perguruan Tinggi namun harus sukar mencari pekerjaan saat lulus. Kedua golongan ini terlihat jelas berseberangan menanggapi istilah tersebut. Itu tidak salah mengingat latar belakang mereka pastinya berbeda.

Sebelum membahas lebih jauh maksud dari istilah tersebut, sedikit flash back bahwa di zaman orde baru istilah tersebut sempat didengungkan jadi pastinya itu bukanlah kosa kata baru dalam literatur akademik. Hanya saja semakin ke sini saya kira penafisiran istilah itu dapat diperlebar. Link and match mengandung makna hubungan erat, keterikatan. Sementara universitas adalah lembaga yang mereproduksi pengetahuan dan industri adalah lembaga yang menciptakan produk untuk dijual. Irisan universitas dan industri adalah terletak pada riset dan pengembangan (R&D). Biasanya industri yang sudah settle punya R&D sendiri dan seringkali lebih canggih dibandingkan yang dimiliki universitas. Karena keterikatan antara dua elemen itu suatu kolaborasi aktif maka keduanya saling bekerjasama dalam lingkup core-nya masing-masing.

Industri suatu ketika akan melihat bahwa melakukan R&D di perusahaannya sendiri akan costly maka skema yang bisa dilakukan dengan melakukan investasi ke universitas yang melakukan riset terkait bidang yang sedang dikembangkan oleh industri. Langkah ini dilakukan oleh Roll Royce kepada Oxford University. Jadi di sini beberapa topik riset universitas digiring ke kebutuhan industri. Apakah universitas dirugikan ? Tidak, karena tetap bisa menjaga indepensinya sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Hasil riset kerjasama ini juga tetap bernilai keilmuan sangat tinggi. 

Term riset untuk kebutuhan industri mengandung pertanyaan jika dibawa ke Indonesia. Adakah industri Indonesia yang telah tegak dalam R&D sehingga membutuhkan peran-serta aktif universitas untuk membantunya ? Ada tapi kuantitas dan kualitasnya mungkin jauh jika dibandingkan apa yang sudah ada di Barat. Nah, kondisi ini yang terkadang para periset di universitas tidak "ngeh" sehingga tetap saja melakukan riset advance yang ujungnya tidak lebih dari paper ilmiah. Apakah itu salah ?Tidak, namun dalam konteks pembangunanan itu investasi yang mubazir. 

Jadi istilah link and match universitas-industri melalui riset berlaku jika ditempatkan pada konteks pembangunan, tidak sekedar ekonomi. Pengembangan industri menjadi pintu masuk pengembangan iptek seperti yang pernah dilakukan Orde Baru. Melihat kondisi zaman yang cepat sekali berubahnya, istilah link and match demikian niscaya untuk kembali didengungkan oleh para developmentalist.

Friday, August 18, 2017

Mubiar Purwasasmita : Landasan Entrepreneuring itu Memberi Manfaat

Saya mengenal beliau dari Dosen AE, Pak Djoko Sardjadi. Ketika itu saya sedang kumpulkan data untuk kepentingan revisi tesis. Saat itu Pak Djoko memberikan rekomendasi pada saya untuk mewawancarai Pak Mubiar terkait bagaimana proses LPM (kini LPPM) yang dipimpin beliau memberikan dukungan pada perkembangan rintisan industri Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dijalani Pak Djoko. Pada 27 Januari 2017 saya bertemu Pak Mubiar di kantornya, Labtek Biru Gedung Teknik Kimia. Percakapan saya dengan beliau berlangsung selama 3 jam 33 menit 9 detik dengan  topik pembicaraan tidak terbatas pada tema tesis saya namun melebar ke berbagai hal.

Pengalaman sebagai Basis Keilmuan

Pak Mubiar adalah orang mampu belajar dari lapangan. Di saat ITB dipimpin oleh  Pak Wiranto Arismunandar, Pak Mubiar dipercaya menjadi pembantu Rektor di bidang Perencanaan dan Pengembangan. Di masa itu, beliau dengan pimpinan ITB lain memikirkan bagaimana ITB dapat memiliki gedung baru yang dapat menampung lebih banyak mahasiswa. Terlintaslah ide untuk mencari soft loan dari Jepang. Dibuatlah strategi untuk meyakinkan Jepang bahwa alumni-alumni ITB punya kekuatan yang besar di Pemerintahan  maupun industri. Bargain position ini berhasil membuat Jepang  investasi SDM Indonesia melalui ITB. Hasil dari negosiasi ini, dibangunlah 11 gedung di ITB termasuk lapangan Saraga dan 4 Labtek kembar. Dalam proses membangunnya, Pak Mubiar dan jajaran pimpinan ITB lainnya seperti Rektor Wiranto Arismunandar turun langsung menjadi “mandor” pembangunan gedung ini dengan “desentralisasi komando”-nya.

Di masa Rektor Lilik Hendrajaya, Pak Mubiar dipercaya memimpin Lembaga Pengabdian Masyarakat (kini LPPM) pada 1997-2000. Pada masa itu, para dosen dimudahkan untuk mendapatkan pinjaman dana dari LPPM untuk jalani projek. Lembaga ini seperti Bank dengan perputaran uang yang cukup dinamis. Perputaran uang di LPPM mencapai ratusan milyar di tahun kedua kepemimpinan beliau. Saat itu, LPPM menyalip PT LAPI sebagai sumber terbesar pendapatan ITB dari unit usaha yang dimilikinya. Kebijakan lain yang diterapkan LPPM pada masa Pak Mubiar adalah konsep asrama ITB mandiri dengan dukungan unit bisnis yang dimotori LPPM seperti sawah 4 hektar dengan kolam ikan di dalamnya dan juga peternakan sapi di Pangandaran. Unit bisnis ini dijalankan oleh para dosen dengan dibantu mahasiswa dan alumni. Dalam pengakuan Pak Mubiar, hasil usaha ini tak hanya dinikmati oleh para penghuni asrama namun kemanfaatannya juga dirasakan oleh civitas akademika lain seperti para dosen.

Ide lain selama menjabat ketua LPPM adalah konsep teknologi tepat guna. Pak Mubiar sebagai ketua LPM seringkali berbeda pendapat dengan Pemerintah, yang digawangi oleh BJ. Habibie, dalam hal teknologi seperti apa yang cocok dikembangkan di Indonesia. Seperti halnya ketika Pak Mubiar mendukung PTTA yang dikembangkan oleh dosen Penerbangan seperti Pak Djoko Sardjadi dengan turut serta promosi ke klien dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jauh sebelum beliau menjabat sebagai ketua LPPM, ketika mahasiswa Pak Mubiar pernah berbeda pendapat dengan Pak Habibie dalam hal pendirian pabrik pupuk di atas kapal laut atas dasar hindari kelangkaan gas dengan menulis di buletin Himatek. Ide-ide pengembangan teknologi Pak Mubiar di LPPM bisa dikatakan sederhana, disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Sebagai contoh perahu cepat untuk para nelayan di Pangandaran.
 
Mubiar Purwasasmita (dok. @DpkltsIndonesia)
Pasca menjadi ketua LPPM, Pak Mubiar turut serta menekan pemberontakan masyarakat Jawa Barat selama masa krisis ekonomi Indonesia dengan mengomandoi pemanfaatan lahan projek-projek Propertis yang tidak jalan dengan bantuan Kodam setempat. Lahan-lahan nganggur dimanfaatkan untuk ditanami Palagung (Padi, Kedelai, Jagung) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Dalam proses maintenance-nya, disebarlah dosen-dosen ITB dengan diberi pangkat yang lebih tinggi dari peleton TNI yang bertugas sehingga koordinasi dapat dilakukan dengan lancar. Usaha ini berhasil dengan tiadanya pemberontakan yang berarti di bumi Jawa Barat.

Berdagang itu Memberi Manfaat

Spesialisasi keilmuan Pak Mubiar adalah transport fenomena perpindahan. Di sini Ia terlatih untuk berfikir mendasar atas objek yang ditelitinya. Beliau memfokuskan penelitiannya pada tanaman. Beliau sempat berujar tanaman tidak bergerak seperti halnya hewan, mengapa kebutuhan nutrisinya selalu terpenuhi ?. Berarti ada sesuatu yang istimewa dari tanaman .

“Nutrisi masuk tanaman pake air. Kuncinya bagaimana tanaman bisa memasukkan air sebanyak-banyaknya dalam pipa kapiler. Itu gak bisa tanaman direndam. Didorong oleh udara, oleh tegangan permukaaan. Di tanah itu harus ada udara dan air. Saya sudah mengatakan jangan hidroponik, karena tidak mungkin capai laju air paling besar. Tetap aja tani yang baik itu menggunakan kompos dan tanah. Kompos untuk simpen air, tanah untuk udara. Sesederhana itu. Jadi air itu hanya bisa disimpen di dalam  pipa kapiler. Tanah nggak nyimpen air. Tanaman itu butuh penting air tapi bukan jumlah air. Pertanian itu nggak butuh bendungan. Sekarang nomenklaturnya ilmiahnya itu micro irrigation. Bukan selokan itu tapi pipa kapiler. Ternyata air yang diperlukan itu tetesan saja”, ungkap Pak Mubiar.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana unsur ini tersedia di tanaman yang kita tanam di berbagai medium seperti halnya pot. Ini jelas dibutuhkan pemahaman atas perilaku tanaman. Pak Mubiar memakai pemahaman dasar atas tanaman ini untuk pertanian padi organik. Ia adalah penggagas System of Rice Intensification (SRI) untuk penamanan padi organik di Indonesia.

Pemahaman beliau atas tanaman menjadi landasan filosofisnya memandang bagaimana sistem perekonomian bekerja. Sistem perekonomian yang baik memuat pandangan prinsipil sebuah tanaman yang tumbuh secara natural. Dua hal yang dicontohkan Pak Mubiar adalah terkait investasi dan perdagangan. Investasi seperti halnya tanaman tumbuh dan berkembang secara natural tanpa merusak tanaman itu sendiri sehingga kebermanfaatannya dirasakan dalam waktu panjang. Sedangkan berdagang tujuan utamaanya adalam memberi kebermanfaatan. Orang yang membeli dagangan kita berarti menerima manfaat dari barang atau jasa yang kita jual. Pemahamannya ini dipakai untuk turut serta membangun jurusan Ekonomi Islam di Universitas Airlangga Surabaya. Pak Mubiar lebih memilih nomenklatur Ekonomi Islam dibandingkan Ekonomi Syariah. Menurutnya yang syariah belum tentu Islami, yang islami adalah yang ikut Qur’an.

Selamat jalan Pak Mubiar, semoga pemikiran Bapak selalu melekat pada orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Bapak baik langsung maupun tidak langsung …

Saturday, August 12, 2017

Menuju ITB Mandiri melalui Entrepreneuring

Komersialisasi riset bukan hal baru di ITB. Banyak civitas yang tak hanya dengar istilah ini namun juga sebagai pelaku. Jika kita membuka lembaran sejarah kampus ini, kita akan tahu bahwa 30an tahun yang lalu ITB dengan para ahlinya mencoba menghilirkan risetnya untuk menciptakan sesuatu untuk masyarakat. Sebagai contoh Filino Harahap dan beberapa dosen senior ITB waktu itu kembangkan Pusat Pengembangan Teknologi (PPT) dan kemudian Development Technology Centre (DTC) dengan teknologi tepat gunanya. Semaun Samandikun dan Iskandar Alisjahbana kembangkan semikonduktor dan alat radar penunjang satelit palapa (?).

Di masa menjelang reformasi ada Mubiar Purwasasmita dengan LPPM mampu mendorong dosen ITB untuk melakukan projek-projek yang menghasilkan pundi-pundi dana tambahan bagi ITB. Di masa euforia reformasi ada Kusmayanto Kadiman dengan ketua LAPI dan LPPM, Noorsalam, terapkan kebijakan "merit system" yakni memberikan 'penghargaan' pada dosen ITB berdasarkan kinerja yang tengah ditekuninya seperti halnya projek, riset, dan mengajar. Saat itu ITB seperti sebuah perusahaan (ITB Corp) dengan Rektor seperti seorang CEO.

Entrepreneurial ITB

Gelora Entrepreneurial kembali diangkat oleh Kadarsah Suryadi yang naik sebagai Rektor ITB pada 2014. Di masanya, ITB coba diarahkan ke Entrepreneurial University (EU) setelah di periode sebelumnya diangkat semangat Research University (RU). Nyatanya di lapangan, para dosen memiliki interpretasi yang bermacam-macam terkait maksud dari visi tersebut. Sebagian informan menilai visi Pak Rektor sebagai jargon semata, sebagian yang lain menilai ada dukungan entrepreneuring di ITB seperti riset hilir dan kemudahan berwirausaha yang tengah dikerjakan LPIK.

Biarpun demikian, visi Pak Rektor masih banyak catatannya karena pada dasarnya kegiatan entrepreneuring melibatkan berbagai aktivitas yang saling terkoordinasi. Beberapa dosen yang fokus pada hal ini umumnya besar karena ketelatenan dosen tersebut, peran institusi ITB sangat minimal.

Menuju ITB Mandiri

Saya kira perlu ditujukan dorongan untuk entrepreneuring di ITB semata-mata untuk ITB sendiri. Bagaimana ITB dengan aktivitas ini mampu menjadikan sebagai pundi-pundi utama penghasilan kampus. Tidak menutup kemungkinan bahkan mahasiswa yang sekolah di ITB dibebaskan dari membayar biaya kuliah dg catatan dilibatkan dalam kegiatan entrepreneuring.

Untuk menuju ke sana, pertama yang perlu dilakukan adalah pemetaan kapabilitas komersialisasi riset ITB misalkan menelusuri dosen, mahasiswa, atau alumni yang sedang bergelut di sini. Selanjutnya didengarkan kendala-kendala yang dihadapi mereka dan bagaimana mereka dapat keluar dari situ. Di samping itu perlu juga dilihat bagaimana pelaku organisasi ITB seperti satuan kerja (satker) bekerja, jangan-jangan sistem/manajemennya masih buruk. Semangatnya dari sini kita tahu kondisi ITB saat ini (existing condition) sehingga dari sini kita akan dapatkan alternatif-alternatif solusi untuk mencapai visi tadi.

Sumber data :
1. Buku Aura Biru 1 Bab Filino Harahap
2. Hasil wawancara dengan berbagai dosen secara random untuk riset
3. Hasil obrolan dengan dosen terkait dan dosen yang dekat dengan dosen terkait

Sunday, August 06, 2017

Optimasi Potensi

Teringat mata kuliah optimasi yang diberikan oleh Bu Rieske pada saat saya S1 Matematika ITB. Saat itu saya memang malas ditambah lagi dengan teman tugas kelompok yang juga relatif malas juga, lengkap deh. Tapi anyway saya mendapatkkan poin dari mata kuliah ini  yaitu memaksimalkan atau meminumkan fungsi objektif dengan kendala (constraint) tertentu. Landasan teoretik yang saya dapatkan ini semakin lengkap ketika saya ambil mata kuliah Ekonometrika yang diampu oleh Pak Syamsuddin saat saya ambil S2 di Studi Pembangunan ITB. 

Saya akui saya tidak telaten ketika dihadapkan dengan persoalan teknis Matematika seperti menurunkan atau mengulik program, tapi setidaknya ilmu dasar optimasi tersebut membantu saya dalam menentukan arahan (direction) ketika saya dihadapkan pekerjaan. Logika optimasi ini embedded di pikiran saya. Memang success story terkait hal ini saya tidak bisa sebut, namun setidaknya optimasi mengajarkan saya mengoptimalkan apa yang sudah ada dengan seminimal mungkin cost yang dikeluarkan. Adapun hasil seoptimal-optimalnya. 

Saya sedang bermain optimasi dalam beberapa aktivitas yang saya kerjakan seperti halnya riset dan pekerjaan manajerial. Berdasarkan SOP, riset ngerjainnya ini ini ini.. tapi saya mencoba mengambil pendekatan lain dari riset lapangan sebagai contoh. Dengan data yang sama saya dapat menuliskan gagasan saya yang lain sehingga yang awalnya kebayang keluarannya hanya 1 paper kini dapat 2 paper. Langkah ini menurut saya sangat menantang dan membuat saya bergairah dalam meriset dan menjalankan pekerjaan lain. Karena di sana saya dapat kembangkan kreativitas dan kemampuan saya relatif lebih cepat sehingga sebagai contoh dalam kasus riset, saya PD untuk tak kehabisan topik untuk diriset dalam setahun ke depan.

Sama halnya dengan perusahaan yang mapan diukur dengan umur, size, dan produk, manusia yang berproses juga demikian. Jika kecepatan kita dalam belajar semakin tinggi, maka ketiga hal ini dalam diri kita yang nantinya disebut kapasitasas akan tinggi juga. Itu saya dulu wejangan pagi saya, hatur nuhun :p

Friday, June 16, 2017

Membela "Ulama"

Hidup adalah masalah pembelaan. Sementara pembelaan ini sendiri bergantung pada prinsip tiap orang. Saya senang akan ilmu dan pengetahuan dan dua hal ini tidak akan sampai pada saya tanpa seorang guru. Dalam bahasa arab guru adalah "'alim" dengan jama' "ulama". Maka membela ulama di sini secara harfiah berarti membela guru. Guru ini sendiri macam-macam, ada guru silat/beladiri, olahraga, sains, sosial humaniora, bahasa, bahkan agama. Lantas guru mana yang saya maksud ? Guru terdekat dimana saya lama belajar yaitu guru saya di kampus.

Saya melihat dedikasi guru saya di kampus (selanjutnya disebut dosen) di ilmunya umumnya sangat tinggi, terlebih lagi dosen senior. Mereka rela berlama-lama di kampus untuk sekedar membimbing atau mengajar. Terlepas sebagian dari mereka kurang begitu terbiasa dengan publikasi ilmiah yang saat-saat ini gencar dikumandangkan Kemenristekdi, dedikasi mereka sebagai dosen tak bisa diragukan bahkan meskipun mereka berbisnis sekalipun. Benar adanya profesi dosen di kampus adalah panggilan. Istilahnya mengabdi. Saya pernah dapat "curhatan" dosen yang jenjang kariernya di lektor kepala. Kata beliau gajinya 8 juta saja. Tapi beliau terbantukan dengan remunerasi jabatan struktural sehingga per bulan dapat sekitar 11 juta. Angka itu saya kira kecil dan kurang sebanding dengan dedikasi pada keilmuan yang sangat tidak mudah. Memproduksi pengetahuan baru itu sangat susah, ini tidak terbatas pada publikasi paper terindeks scopus.

Dengan gaji pas-pasan tiap bulan, biarpun kurang bisa maksimal dalam improvisasi mengajar dan meneliti, tetap membuat dedikasi mereka pada pengetahuan tidak luntur. Dosen-dosen macam inilah yang ingin saya bela. Ditambah sebagian dari mereka yang "jihad" entrepreneuring di bisnis berbasis teknologi. Ini katagori selanjutnya dari dosen yang harus dibela. Berbisnis itu susah dan manfaatnya besar untuk masyarakat sekitar apalagi jika padat pengetahuan. Maka membela mereka sama artinya dengan membela orang-orang yang mereka hidupi atau yang mendapat manfaat dari produk yang mereka hasilkan lewat perusahaan.

Bentuk Pembelaan

Ungkapan "Saya bela dosen entrepreneur !" dalam lisan jelas sangat mudah diucapkan. Pak Menteri terkait juga bisa. Tapi tidak dengan perumusan maksud dari ungkapan tersebut. Buktinya Men-RISTEK-DIKTI yang jelas-jelas tersirat 'perwakilan' dosen yang mendukung Ristek dan Perguruan Tinggi tidak cukup komprehensif memahami maksud dari tupoksi kementeriannya tersebut. Sederhananya Ristek itu terkait dengan upaya mengkasmarankan publik pada ilmu dan pengetahuan seperti sains dan teknologi. Jadi hadirnya Kemenristekdikti adalah upaya untuk menggenjot pada dosen dan peneliti untuk bersama-sama mengarusutamakan (memarketingkan) pengetahuan. Meyakinkan pada publik bahwa ilmu dan pengetahuan (sains dan teknologi utamanya) adalah pilar peradaban. Tidak cuma dorong paper terindeks scopus, tapi diarahkan ke hal fundamental.

Kembali ke sub judul, pembelaan saya maknai sebagai upaya menggairahkan dosen untuk bersemangat dalam mereproduksi pengetahuan. Saya tahu budget Kemenristekdikti jaman ini tidak segede jaman Pak Harto. Maka menggairahkan dosen terbatas pada dosen yang sedang bergairah artinya dosen prestatif. Jadi tidak dipukul rata. Caranya adalah memudahkan dosen-dosen tersebut untuk berkarya lebih besar melalui kemudahan dalam regulasi dan administrasi. Beberapa hari lalu, saya wawancara dengan dosen farmasi yang beberapa kali kerjasama riset dengan perusahaan. Beliau punya beberapa paten. Beliau menyatakan perusahaan lebih senang kerjasama lewat dosen secara langsung dari pada lewat kampus. Ini menandakan bahwa perusahaan tidak sepenuhnya percaya kampus. Dosen lainnya yang pernah saya temui di Penerbangan punya persoalan lain. Kiprah dia kembangkan di bidang startup UAV tidak cukup diakomodasi kampus sebagai bagian dari prestasi kampus. Membela dosen berarti melepaskan belenggu mereka selama ini.

Karena membela secara verbal tidak ada artinya maka diperlukan bentuk pembelaan konkret. Satu-satunya jalan adalah "know how" dengan memahami persoalan yang dihadapi dosen tipikal tersebut. Upaya memahami dapat lewat riset atau sekolah lagi. Domain keilmuannya mungkin masuk inovasi atau manajemen teknologi, atau entah apa yang lain. Saya kira ini adalah jihad karena tidak mudah dan butuh kombinasi knowledge dan experience. 

Thursday, June 01, 2017

Ramadhan : Belajar Menikmati Ibadah

Ramadhan kembali datang, umat Islam seluruh dunia menyambutnya dengan melakukan puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Beberapa hari sebelumnya, banyak orang yang membuat rencana ibadah dan aktivitas ibadah untuk dilakukan di bulan suci Ramadhan. Sebagai contoh target khatam 1 alquran, tidak bolong qiyamullail, tidak putus berinfaq, dan sebagainya. Salah satu dasar berlomba-lomba dalam ibadah tersebut adalah dilipatgandakannya ibadah di bulan tersebut. Banyak sekali orang muslim yang melakukan hal tersebut, maka jangan heran ayat suci berkumandang di masjid-masjid atau di rumah-rumah, kajian keislaman di mana-mana ada, dan seterusnya.

Fenomena ini lumrah di bulan Ramadhan karena konon syaitan, representasi kejahatan, dibelenggu pada bulan ini dan pintu surga (jannah) di buka selebar-lebarnya. Dari tahun ke tahun saya melakukan hal tersebut atas dasar pahala. Namun tahun ini berbeda. Saya tidak menargetkan harus khatam 1 quran, infaq tidak terputus, dan seterusnya. Target saya di bulan suci ini adalah menikmati ibadah minimal ibadah wajib seperti puasa itu sendiri dan sholat fardlu. 

Bersujud dalam sholat *

Alasan mendasar atas target saya itu karena kuantitas ibadah tidak otomatis menjadikan saya kemudian faham esensi ibadah. Seperti halnya sholat. Ada ayat/hadits yang menyatakan "Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar". Realitanya, setidaknya dalam pengalaman saya, saya melakukan sholat dan maksiat tetap juga jalan. Istilahnya STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan). Ini kan kontradiksi dengan ayat tersebut jika sekedar dinilai dari teksnya. Namun saya yakin maksud ayat/hadits itu sholat yang bener, sholat yang dihayati, sholat yang esensial. Nah, saya belum sampai ke sana sehingga tetap biasa melakukan maksiat.

Berbicara tentang maksiat atau moral, saat ini telah bergeser, Parameter agama seperti yang telah diajarkan guru-guru saya di TPA/MI/Madrasah menuai pergeseran oleh parameter lain seperti halnya rasionalisasi ajaran agama, materialisme, dan sebagainya. Saya sangat yakin parameter agama akan maksiat atau moral itu final bagi saya, namun gelombang pengaruh dari parameter lain sungguh amat besar. Tarikan parameter non-agama lebih kuat saat ini dibandingkan agama. Bahkan ada yang menyatakan, berpedoman pada agama (Islam) itu kolot, tradisional. Saya sendiri yang menganggap final parameter yang digariskan agama saja seiring berjalannya waktu seringkali kalah dengan parameter lain. Saya menyadari hal ini terjadi karena interaksi dengan lingkungan tak bisa dihindari. Tidak mungkin saya kemudian mengisolasi diri dengan menerapkan ajaran Islam secara kaffah tanpa toleransi.

Kemarin saya menonton video Cak Nun di youtube. Isinya kurang lebih begini. Kebenaran itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak untuk diperdebatkan dengan orang lain. Jika dibawa keluar itu berbentuk kebaikan dan kemaslahatan. Dalam konteks moral, kita bisa jadi melihat fenomena yang ada di lingkungan sungguh bertentangan dengan nilai yang kita yakini, namun kita tidak lantas meneriakkan kebenaran yang kita yakini untuk dipaksakan kepada orang lain. Ini bukannya anti-dakwah. Dakwah itu sendiri menebar kebaikan dan kemaslahatan, bukan saling menuduh salah/benar. Maka, kita bersikap baik kepada semua orang sudah bagian dari dakwah. 

Kembali ke konteks nilai lagi. Berpegang pada nilai yang yakini benar (setidaknya dalam lisan) saja saat ini menuai banyak halangan. Kita dalam lisan yakin nilai Islam yang paripurna, namun dalam hati kecil penuh akan negosiasi dengan alasan ditinggalkan pergaulan dan sebagainya. Karena hal itulah, saya kemudian menargetkan Ramadhan kali dengan belajar menikmati ibadah biarpun terbatas pada sholat fardlu dan puasa itu sendiri. Memang terlihat sangat minimalis namun bagi saya akui itu tidak mudah. Seringkali saya lakukan sholat mikir yang lain bahkan berfikir kotor. Ini kan sangat menggagu. Yang saya khawatirkan, dan mungkin ini bisa terjadi, saya menganggap sholat tidak lagi penting. Hal yang terpenting adalah berbuat baik pada sesama saja. 

Di Bandung, saya kesulitan untuk mendapatkan ustadz/kyai yang dapat mengajarkan bagaimana menikmati ibadah. Kebanyakan dari mereka lebih mendorong untuk perbanyak ibadah seperti halnya menjadi hafiz quran. Mungkin dugaan saya keliru karena memang beberapa tahun ini saya tidak dekat dengan majlis-majlis keislaman. Saat ini saya masih mengandalkan referensi bacaan dari suara muhammadiyah versi online dengan langsung praktik. Jika ada teman yang dapat berikan rekomendasi kajian/majlis atau bahkan menjadi partner untuk bersama belajar menikmati ibadah (opsi terbaik), saya sangat berterima kasih. Akhirnya, moga kita dapat menuai hikmah dari beribadah di bulan suci ini, amiin. 

*) diambil dari tarjih.or.id

Monday, May 08, 2017

Akhirnya Punya Kalender 2017

Hampir bisa dikatakan seharian saya berada di lingkungan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Ya, sejak bulan lalu saya tegabung riset di sana. Saat ini saya sedang mengerjakan riset tentang employee engagement. Nah, tadi pagi sekitar setengah 10 (harusnya jam 9 sih, saya telat), saya tiba di kantor Pak Hary (dosen yang ajak saja riset) dan tak lama setelah itu presentasi progres. Proyektor pun dinyalakan dan Pak Hary mengedit secara interaktif paper awal penelitian yang saya buat. Saat diskusi, saya dapat kenalan baru dari jurusan Magister Manajemen SBM, namanya Widi kalo gak salah. Dia sekarang masuk dalam jajaran karyawan Kemenkeu. Menariknya diskusi tadi, saya jadi tahu posisi konsep employee engagement (EE) dilihat dalam level attachment seseorang pada organisasi. Diatasnya EE ada value (meaning making) dan happiness. Atau istilahnya SAY - STAY - STRIVE. Anda cari sendiri maksud dari istilah-istilah tersebut.


Kantor Pak Hary ternyata tidak sepi dari orang-orang SBM khususnya dosen dan asisten riset muda. Ada Dani dan Dema yang paling sering berada di kantor. Siang tadi tepatnya jam 14 ada rapat dengan pihak rektorat (WRSO) terkait penelitian ini. Ternyata penelitiannya cukup besar dengan Pak Jann (senior SBM) sebagai ketuanya. Penelitian EE adalah bagian dari penelitian besar ini, makanya saya ikut (kalo tidak disuruh mungkin tidak hadir sih, hehe). Sayang sekali setibanya di lantai 3 Gedung Annex, kursi tidak mencukupi dan terpaksa saya, Dema, Dani,  Mila, dan satu lagi Aria duduk di luar. Untungnya saya dapet temen ngobrol yang asikeun, Aria. Dia calon dosen di SBM dengan telah sandang status master dari salah satu universitas di Australia setelah kelar dari SBM (doi angkatan 2007). Dia cerita kalo pernah masuk dalam berbagai pekerjaan, sampai sekarang akhirnya milih kembali ke jatidirinya sebagai pengajar. Di samping beraktivitas di SBM, dia juga berbisnis di kopi dengan memiliki coffee shop di kompleks kantin Tamansari seberang Gedung SBM. Dia cerita banyak terkait bisnis kopinya ini. Karena saya juga penyuka kopi, obrolan pun jadi lama. Dia saranin kalo ngopi enak di Caffeto sekitar Sekeloa dan juga Coffeeq di Jalan Moh Toha, selain juga pastinnya memintaku untuk cicipi kedainya, Someday-lah gue kesana.

Beberapa hari mualees ngerjain paper teobati dengan aktivitas hari ini dengan kolega di SBM. Bismillah, kembali ke jalur produktif. O iya, dapet oleh-oleh kalender dari Pak Hary setelah saya bilang saya tidak tahu kalo kamis besok adalah tanggal merah :p

Saturday, May 06, 2017

Konsistensi Itu Ternyata Sulit

Sudah ada lebih dari sebulan saya tidak menulis di blog ini, ya karena kesibukan atau yang lainnya. Saat ini selain saya jalani dua projek riset, juga kerjakan projek lain seperti projek IT yang sudah jalan lebih dari dua bulan. Selain itu projek lain yang juga ongoing yaitu manajemen informasi di kampus dan pembuatan buku. Ada juga sih projek pribadi seperti menulis di blog ini hehe. Biarpun kedengarannya padet banget aktivitas saya namun tidak sebanding dengan banyak orang di kampus. Tadi saya membaca artikel Pak Budi yang judulnya https://rahard.wordpress.com/2017/04/24/serius-dalam-mengajar-dan-membimbing/ dan seoalah saya tertampar. Saya mengenal Pak Budi sejak kuliah S1 dan sempat beberapa kali mendapat pelatihan dan wawancara langsung dengan beliau. Saya mengenal beliau sangat sibuk, kalibernya sudah nasional bahkan internasional namun beliau tetap memprioritaskan aktivitas mengajar dan membimbing mahasiswa. 

Saya yang tidak apa-apanya dengan Pak Budi saja beberapa kali frustasi akbatnya deadline jadi tersendat bahkan juga seringkali hilang fokus. Malah yang dikerjakan hal yang tidak penting. Mungkin ke depan saya harus meminimalisasi kegiatan yang kurang begitu penting (seperti kepoin orang di medsos) dan kembali ke pakem kesukaan "menulis di blog". Saya bisa menulis setiap hari di blog dengan bahasa mengalir, namun bedanya saya dengan Pak Budi, jika saya lakukan ini hampir dipastikan kerjaan utama saya tidak bakalan selesai. Saya bisa multitasking tapi tidak 'segila' Pak Budi hehe. Saya sekarang masih dalam tahapan mencari jatidiri hidup. Ke mana arah hidup akan saya arahkan. Masa pencarian saya targetkan selama dua tahun. Tapi biarpun demikian, ada satu hal yang saya suka : lingkungan akademik.

Maka dari situ, dari cukup banyaknya aktivitas, saya tetap memprioritaskan penelitian. Tahun ini saya akan meneliti terkait "employee engagement" dosen ITB dengan tim dari SBM. Nah itu jadi prioritas saya. Maka di situ konsistensi dibutuhkan seperti dengan review dan menulis paper. Maka, tiap minggu (dua kali dalam seminggu) saya harus laporan ke Pak Hary, dosen SBM yang menjadi team leader penelitian. Nah, yang saya khawatirkan adalah saya hilang semangat. Semoga saja tidak (amiin). Tapi semoga saja akhir tahun saya dapat mencicipi buah kesuksesan di bidang penelitian yang akan saya jalani : 1. Publikasi internasional untuk penelitian "employee engagement", 2. Publikasi di jurnal Pappiptek LIPI untuk penelitian tesis, dan 3. Buku kolaborasi antara saya dengan Pak Djoko Sardjadi dan Pak Sonny dapat terbit. Doakan saya bisa menjalani ini semua ya :)

Sunday, April 02, 2017

Wisuda Kedua di ITB

Tak terasa hampir 8 tahun aku beraktivitas di kampus teknik tertua milik negera ini, Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama itulah aku tempuh dua jurusan yang berbeda ; Matematika untuk S1 dan Studi Pembangunan untuk S2. Selain jalani rutinitas akademik seperti kuliah dan kerjakan tugas, aku juga sempat bekerja part time, beorganisasi, dan lainnya. Aktivitas-aktivitas itulah yang membentukku sebagai pribadi sekarang. Dalam tulisan ini aku tidak akan terlalu menyinggung terkait apa yang aku dapatkan di ITB, namun lebih kepada rencana apa yang akan aku lakukan di masa mendatang. Tulisan ini tidak ada maksudnya untuk membanggakan diri, namun hanya sekedar motivasi bagi aku pribadi.

Aku berpedoman pada prinsip yang kuyakini benar yakni ajaran agama Islam. Terlepas dari seringkalinya malas beribadah, aku yakin bahwa Islam ajarkan aku untuk menjadi pribadi yang kuat. Definisi kuat aku artikan sebagai pribadi yang tak takut dengan kondisi apapun yang akan menimpa. Nah, sebagai wujud riilnya peran yang ingin aku wujudkan adalah menciptakan "knowledge hub". Aku suka akan pengetahuan tak terbatas pada lingkungan akademik formal melainkan juga hasil kreativitas manusia seperti musik, film, buku, dan sebagainya. Mimpiku adalah integrasi di antara para pelaku pengetahuan sehingga tercipta lingkungan kondusif (milieau).

Ini tak sekedar hanya semacam lembaga dengan sekretariat dan program tertentu namun juga melingkupi unit-unit bisnis sebagai penyokongnya. Juga tercakup orang-orang yang memilih jalur di dunia startup yang padat pengetahuan. Harapannya orang-orang ini saling bekerjasama dan berbagi tentunya dengan cara kerja profesional. Cara ini sebagai upaya untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability). Melalui hub ini, keterjalinan lulusan Perguruan Tinggi (PT) dengan dunia rill terkait bidangnya kuat.

Untuk mewujudkan mimpiku ini tidaklah mudah. Pertama kali yang harus aku lawan adalah diriku sendiri. Aku harus membiasakan diri dengan kerja produktif dan melakukannya dengan senang. Juga selalu menjaga emosi dan silaturrahmi dengan orang-orang khususnya keluarga dan teman. Kedua, aku harus menjalani amanah dengan totalitas dan tuntas. Tanpa hal itu aku tidak akan belajar karena pekerjaan akan dilakukan setengah-setengah. Ketiga, melakukan segala hal secara profesional biarpun sifatnya hanya sekedar janji dengan teman. Ini untuk menumbuhkan jiwa bertanggung jawab meskipun pada hal kecil. Keempat, menjadi hati dengan dekat kepada-Nya dan raga dengan secara rutin berolahraga seperti jogging. Aku kira hal-hal ini butuh waktu untuk dapat dilaksanakan secara paripurna. Teringat ungkapan Rancho dalam film 3 Idiots "All iz well".

Monday, March 27, 2017

Lagi-Lagi Generasi Muda

Muhammad Farid dalam Media Indonesia (23/3) mengutarakan kekhawatirannya pada generasi muda di tahun bonus demografi 2030an. Ia berpijak pada beberapa kejadian kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kerja-kerja produktiflah yang diperlukan oleh generasi ini untuk dapat memanfaatkan momentum. Pada akhirnya Ia menyarankan pada semua pihak untuk turut serta memikirkan nasib generasi ini.

Tulisan Farid ini bukanlah hal baru. Saya sendiri juga pernah menulis di 2014 dengan judul "Jalan Terjal Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka". Isinya pun tak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya tulis tempo lalu. Saya menyadari bahwa pemikiran saya dulu sebatas melihat realitas makro seperti yang disajikan Farid dalam tulisannya. Saya menyoroti satu hal yang bolak-balik diulas "Kerja Produktif". Maksudnya apa ini? Banyak akademisi senior menganggap ini sebagai kunci pembangunan (fisik), namun sedikit sekali yang memberikan gambaran gamblang maksud dari istilah ini. Maka, karena hal ini kita lantas akan bertanya "Lalu apa?".

Dalam tulisan singkat ini, saya akan memberikan pandangan terkait kerja produktif ini. Saya tidak setuju dengan kerja produktif dimaknai hanya sekedar bekerja tidak menganggur, namun produktif ini kerja yang menciptakan pembelajaran pada si pekerja sehingga produk yang dibuat bernilai tambah semakin tinggi. Tegasnya kerja ini padat akan pengetahuan. Ada yang mengatakan sama dengan kerja kreatif namun saya kira kerja produktif tidak terbatas pada itu. Ini kerja yang membutuhkan jauh lebih besar otak dibandingkan otot yang tujuannya tidak sekedar akumulasi kapital melainkan mengejar gagasan yang lebih besar masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).

Dalam masa sekarang, kerja produktif ada dalam startup IT atau yang masuk domain Internet of Things (IoT). Namun tidak lantas domainnya hanya IT saja. Ada domain lain yang juga memiliki prospek tinggi seperti pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, dan kelautan. Karena kerja produktif ini ciri utamanya adalah padat pengetahuan, maka dalam pelaksanaanya tidak dengan cara konvensional. Jika pertanian konvensional menggunakan pupuk kimia yang menjadikan destruksi pada tanah, pertanian padat pengetahuan mempelajari aspek sosiologi tanaman.

Maka, di akhir tulisan ini saya ingin merekomendasikan pada para akademisi yang "peduli" pada nasib generasi muda untuk tidak sekedar menyampaikan gagasan normatif yang diulang-ulang. Perlu dielaborasi lebih dalam terkait kondisi generasi tersebut. Saya pernah membaca satu ulasan budayawan tentang generasi muda sekarang yang amat sulit kondisinya. Saya tidak akan mengulaskan. Intinya, kepada para akademisi senior untuk turut menyumbang solusi yang praktikal dg berpijak pada pemahaman yang utuh pada realitas. Bukannya tugas akademisi itu terus-menerus mengungkapkan realitas bukan?.

Wednesday, March 22, 2017

Pesimisme Pegiat Literasi

Beberapa kali saya ngobrol santai maupun secara resmi di sebuah diskusi, para pegiat buku, film, sastra, dan segala hal terkait kebudayaan mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia yang kurang membaca (illiterate). Mereka membandingkan dengan negara-negara di Barat sana seperti Finlandia dengan jumlah produksi dan warga yang seneng baca buku jauh lebih besar. Sementara itu, mereka menganggap bahwa orang Indonesia ini lebih suka hal-hal yang sifatnya konsumtif di bandingkan produktif seperti membaca. Orang rela antre beli gadget yang harganya jutaan dibandingkan dengan membeli buku 50 ribuan. Toko-toko buku sepi, sementara coffee shop premier seperti Starbucks ramai pengunjung. Dalam pandangan mereka, berpengetahuan melalui budaya membaca merupakan hal yang penting. Saya menangkapnya, mereka ini ingin bahwa di Indonesia ini orang-orangnya berbudaya 'secara hakiki' melalui kecintaannya pada dunia pengetahuan.

Saya menganggap mereka tidak salah berfikiran demikian, namun terkadang terlalu menghakimi dari sudut pandang mereka sendiri. Jika tujuannya tercipta masyarakat yang berbudaya apakah harus memaksakan orang-orang di luar mereka (yang tidak ngeh dengan dunia perbukuan misalnya) untuk mengikuti gaya mereka ; rajin membaca, membedah film, kajian filsafat, diskusi musik, dll ?. Saya kira nggak harus begitu. Mereka yang memaksakan dan menyalahkan orang-orang yang belum suka dengan budaya berpengetahuan saya kira ter-mindset dengan cara orang-orang Barat mendorong literasi warganya. Mereka tidak sadar bahwa Indonesia ini beda budayanya dengan orang-orang sana, Saya 'haqqul yakin' jika Pemerintah menggelontorkan dana ratusan triliun untuk program mendorong rakyat Indonesia agar seneng membaca akan gagal begitu saja, karena satu hal "Gagal faham atas manusia Indonesia". 

Nah, maka langkah yang paling pas pertama adalah menyadari kenyataan bahwa budaya literasi di Indonesia belum kuat. Dari sini baru bisa bersikap bijak dan objektif, tidak menyalah-nyalahkan yang pada akhirnya antipati. Langkah selanjutnya yakin dan 'meyakinkan' bahwa budaya literasi adalah jembatan utama untuk membentuk peradaban yang kuat. Keyakinan ini mendorong sikap inklusif dengan orang-orang di luar kelompok mereka. Sederhananya nyampur dengan orang-orang kebanyakan. Saya kira jika orang-orang yang suka membaca bergaul, mereka yang belum suka akan membaca sedikit demi sedikit akan tertarik. Saya suka dengan paparan Nirwan Ahmad Arsuka suatu tempo bahwa sebenarnya banyak anak-anak Indonesia khususnya di daerah terpencil suka akan membaca. Hanya saja karena akses pada perpustakaan (buku) nggak ada trus masuk ke pendidikan formal yang tidak malah mendorong orang untuk suka buku melainkan malah menjauhi buku. 

Merajut Solusi

Paparan tiga paragraf tulisan saya di atas menunjukkan bahwa banyak para pegiat literasi berkutat pada persoalan bukan pada solusi pemecahan. Saya jarang mendengar optimisme misalkan melalui program nonton bareng, kita pengen orang-orang jadi menyenangi film kemudian bisa memproduksi film yang berkualitas suatu saat. Yang ada hanya keluhan bahwa peserta diskusi film yang sedikit dan keluhan yang lain. Komentar saya ini tidak lantas mendorong disudahinya program rutin ini, melainkan keberjalanan program perlu disertai dengan perbaikan. Saya kurang dari pegiat literasi ini kecintaan pada nilai-nilai yang dibawa. Kecintaan yang hakiki pada sesuatu seperti dunia literasi saya kira akan menular, istilahnya multiplier effect. Mereka kudunya secara kontinu mengkampanyekan solusi atas persoalan orang Indonesia yang umumnya illiterate. Saya faham sekali mereka berkumpul di suatu komunitas kecil, maka solusi yang dihadirkan haruslah memiliki semangat untuk mendorong komunitas tersebut berkembang, Sebagai contoh, komunitas diskusi film yang semula hanya terdiri dari 7 anggota, maka perlu difikirkan sedemikian hingga sehingga nggotanya bisa bertambah. 

Solusi lokal saya kira para pegiat literasi jauh lebih tahu. Solusi global untuk konteks Indonesia saya mengusulkan terbentuknya komersialisasi pengetahuan melalui terciptanya bisnis yang padat pengetahuan. 'Link and match' Perguruan Tinggi (PT) dengan industri perlu digalakkan kembali dengan semangat terciptanya startup industri. Hubungan PT dan Industri ini ditambah dengan dorongan aktif Pemerintah. Sinergi PT-Industri-Pemerintah ini diharapkan akan mampu ciptakan masyarakat berbasis pengetahuan yang ujung-ujungnya adalah peradaban. Saya kira ini tidak langkah ultimate melainkan langkah yang cukup tepat untuk masa saat ini. Saya melihatnya semakin kesini banyak orang-orang bekerja tidak pada core bidangnya, susah cari kerja, dan sebagainya. Dengan komersialisasi pengetahuan melalui penciptaan bisnis akan dapat memenuhi dua hal : finansial kebutuhan harian dan pengetahuan yang embedded di produk. Biarpun ini solusi praktis, namun untuk mewujudkannya tidak mudah. Setidaknya ada beberapa alasan : sistem pendidikan kita yang tidak mendorong kreativitas, terbatasnya industri di Indonesia, dan budaya konsumtif masyarakat. 

Pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan bersama-sama kita melihat diri kita sendiri apakah layak disebut telah memperjuangkan nilai tertentu. Apakah jangan-jangan selama ini kita egois dan tidak mau berbagi. 

Monday, March 20, 2017

Tanah dan Harga Diri

Muncul berita viral di media sosial bahwa generasi milinea tidak dapat sepenuhnya kredit rumah. Ini terjadi selain harga rumah yang semakin tidak terjangkau khususnya di kota besar, juga gaji generasi milinea yang bekerja di perusahaan tidak cukup untuk KPR rumah. Kondisi ini  setidaknya membuat generasi milinea ; 1) tetap KPR tapi ditomboki oleh orangtuanya, 2) sekalian tidak punya rumah nyewa saja, 3) nunggu projek dadakan bisi honornya dapat dipakai beli rumah, dan 4) spekulasi lainnya.

Mengapa rumah begitu penting? Jelas karena ini kebutuhan dasar untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan. Juga fungsi lain yang jelas sangat dibutuhkan oleh manusia yang hidup. Nah, pertanyaan terkait kepemilikan rumah seberapa penting, ini jelas ada mahzab macam-macam. Saya pakai mahzab yang nyatakan bahwa kepemilikan terhadap rumah menjadi parameter dasar orang itu ralatif 'sukses' dalam hidup di dunia. Kecenderungannya, orang-orang di Indonesia berjuang untuk itu. Sederhananya hidup enak lah. Nah, dalam kepemilikan rumah terlebih dahulu pastinya dengan kepemilikan tanah (kavling), kecuali jika langsung beli rumah jadi.

Berbicara tentang tanah, sangat memprihatinkan jika melihat orang-orang kota besar seperti Bandung yang banyak hidup di rumah-rumah kecil bergang sempit yang hanya dapat dilalui motor. Halaman rumah mana ada, tanah yang kecil sekali sepenuhnya dipakai bangunan rumah. Beda halnya di desa (seperti desa saya di Lamongan), disana lahannya luas-luasnya meskipun gaji per bulan tidak sampai UMR daerah. Kondisi ini memang tidak apple to apple jika dipandang dalam perspektif korelasi penghasilan dan kepemilikan lahan secara terdapat kompleksitas pengeluaran di kota yang cenderung lebih tinggi. Tapi ada satu kesamaan antara penduduk desa/kota yaitu sama-sama konsumtif.

Konsumtif ini artinya kecenderungan untuk berlebihan pada pembelian pada barang/benda yang nilai fungsionalnya tidak produktif misalnya membeli motor kawasaki ninja untuk terlihat keren dihadapan ceweknya. Artinya ini tak lagi masuk di domain kebutuhan dasar, namun sekunder bahkan tersier. Orang konsumtif ini lompat tidak memulai dari kebutuhan dasar dulu seperti kepemilikan lahan/rumah, melainkan langsung pengen ke hal sekunder/tersier guna eksistensi. Nah, di atas saya tulis "Tanah dan Harga Diri". Apa yang membuat kepemilikan akan tanah merupakan representasi dari harga diri seseorang ?. Tanah/rumah tak sekedar memuat bangunan untuk ditinggali melainkan mencakup memori historik selama kurun waktu tertentu hidup di dunia. Sebagai contoh, saat balita hingga dewasa tinggal di rumah yang sama. Pasti di sana akan muncul kenangan yang tak tergantikan dengan rumah lain. Maka atas dasar inilah banyak orang yang mempertahankan kepemilikan rumah agar tidak dibeli oleh pihak lain biarpun diiming-imingi dengan harga fantastis.

Nah bagaimana dengan lahan non-rumah? sama saja. Sebagai contoh si A punya lahan sekian ratus meter persegi dan sejarahnya Ia bertani di lahan tersebut. Maka di sana ada hubungan batin si A dengan tanahnya. Maka atas dasar ini, jika karena hal konsumtif orang menjual tanah/rumahnya berarti dia tidak punya harga diri. Menjual kepemilikan tanah/rumah dibolehkan jika dalam keadaan terpaksa seperti terlilit utang dan tidak bisa makan. Karena hal inilah saya sarankan pada pembaca sekalian berfikir untuk memiliki lahan/rumah, selain untuk tempat tinggal juga investasi. Berbicara investasi saya tidak setuju dengan memperbanyak kepemilikan rumah melainkan tanah produktif. Sebagai contoh punya uang nganggur sekian ratus juta, beli saja tanah beberapa hektar dan tanami. Hasilnya nanti bisa dijual sehingga menghasilkan. Kata dosen senior di Tekim, tanaman itu prinsip ekonomi Islam.

Jika kita punya lahan yang relatif luas, bisa kita manfaatkan untuk hal-hal produktif tak hanya tanaman pertanian misalkan perikanan, perkebunan, dan peternakan. Memang sih bagi sebagian orang kerjaan petani demikian ndeso, tapi tidaklah para pembaca sekalian tau bahwa negara-negara maju dan menuju maju investasi lahan-lahan demikian ?. Jangan naif saudara, lahan-lahan di bumi Indonesia jangan sampai dimiliki bukan oleh rakyat melainkan korporat asing, mari kita rebut. Cara merebutnya paling awal dengan mengubah paradigma berfikir kita tentang tanah dan menjadi pribadi yang produktif.

Sunday, March 05, 2017

Paper dan Kebegoan

"Aku hidup pengen mengalir aja seperti air" - anonim

Ada benernya ungkapan itu, intinya kalo aku tarfsirkan lebih kurang seperti ini : ngapain hidup dibuat susah, enjoy aja, lakukan kerjaan yang bikin diri senang. Anda mungkin pas baca tafsiranku itu nangkep bahwa hidup itu gak usah punya prinsip. "Salah !", kataku. "Kalo nggak punya prinsip, ngapain juga hidup ? Menuhi bumi aja", tambahku. Nah, prinsip ini macem-macem. Ada yang berpendapat bahwa prinsip itu agama, budaya, ajaran leluhur, dan lain-lain. Banyak sekali, bahkan "asal senang" juga merupakan prinsip. Namun, dari sekian prinsip itu sebagai besar orang-orang yang aku kenali di bumi Indonesia memakai agama sebagai prinsip. Ini menandakan bahwa agama ini cukup menjelaskan kompleksitas hidup yang bikin banyak orang bingung. Agama sebagai penyala kegelapan. Dosenku menggambarkan secara apik, bahwa manusia pada dasarnya masuk dalam gua yang gelap, di saja dia berjalan ke depan, belakang, samping kanan, samping kiri, ke atas, ke bawah. Intinya ke segala arah. Ia terus dan menerus bergerak dengan harapan mendapatkan penerangan. Orang yang gerak ini bisa jadi kejedug, ketabrak, dan lain-lain, dan bisa juga ketemu penerangan yang diharapkan. Sementara orang yang hanya diam dan pasrah, tidak kemana-kemana pertanda dia sudah tidak punya harapan. Orang jenis ini tidak punya keberanian untuk memilih jalan. Nggak menarik bahas orang jenis ini.

Kembali ke prinsip. Aku membatasi agama sebagai prinsip. Karena agama bukanlah hal material yang dapat dilihat, diraba, dan diterawang maka ia adalah sesuatu yang gaib. Ia adalah ajaran yang dibawa oleh seorang manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Penganut prinsip agama berarti dia memahami siapa pembawa ajaran agama baru kemudian ajaran-ajarannya. Di sini orang mutlak bersepakat bahwa Muhammad ajalah pembawa ajaran Islam dan orang akan mendebatkan ajaran-ajaran agama yang dibawanya, apakah benar dari Nabi atau tidak. Ini yang membuat ajaran agama menjadi tidak mutlak. Namun, hanya orang bego yang ujug-ujug percaya A mutlak dari Nabi tanpa terlebih dahulu Ia membaca proses ajaran itu sampai jadi teks yang dapat diikuti. Saya tidak bilang orang yang ikut pemuka agama itu bego. Itu artinya memahami ajaran agama adalah suatu proses panjang dari belajar. Wajar aja pemahaman seorang tentang ajaran agama seseorang itu akan paripurna setelah Ia terus-menerus mempelajarinya : Ia tidak takut saat mempelajari kejedug masuk kelompok A, B, C, ..., Z atau tidak memilih masuk di kelompok tertentu asalkan Ia never-ending learning in the name of truth. Orang jenis ini tidak akan mudah mengkafir-kafirkan dan tidak juga ragu-ragu saat dia ibadah beda dengan orang lain.

Kok saya bicara agama ya ? biarin udah terlanjur. Kembali ke judul yang aku tulis "Paper dan Kebegoan". Aku mau ceritain pengalamanku selama beriteraksi dengan tesis dan paper. Keduanya merupakan karya ilmiah yang cara mengerjakannya dengan metode ilmiah yang baku. Kebakuan ini yang bagi sebagian orang adalah masalah termasuk aku. Intinya sebenarnya bagaimana hasil penelitian ilmiah merepresentasikan kebenaran, caranya harus diperoleh dengan rigid (rigorous), tidak ngasal. Ini menjadi persoalan bagi orang yang suka berfikir liar melalui opini-opini. Ini saya rasakan. Pas nulis tesis, aku jadi bego karena harus baca paper dulu untuk memvalidasi suatu pernyataan. Males bet pastinya. Padahal jika nulis opini bebas kayak tulisan ini, tinggal ngalir aja, sembari dengerin lagu simple plan juga bisa. Nulis tesis boro-boro, suasana tenang adalah prasyarat fokus jika nggak tesis tidak akan selesai-selesai seperti pengalamanku. Namun, pesan tulisan ini bukan aku ngajak untuk mem-ban paper dan teman-temannya, melainkan pengen tekankan bahwa kebenaran relatif itu hanya bisa diperoleh dengan perjuangan dan inilah akan punya kontribusi pada dunia. Orang bisa beropini sampe bertengkar tapi jika validitasnya nol, maka ini tak ada artinya bagi kehidupan. Anda pasti tahu mengapa dunia itu berubah drastis saat Einstein muncul dengan relativitasnya, menggantikan era Newton dengan kemutlakannya. Proses Einstein dan Newton jika ditelusuri gila memang, penuh dengan drama. Maka, sangat pantas dan suatu keharusan bahwa "Seorang Guru harus ditempatkan pada posisi tertinggi" melebihi siapapun. Kembali ke agama, jika seorang ustadz tidak sekaligus guru maka saya berpendapat boleh kiranya pendapatnya diabaikan tapi tetap berpegang pada sikap tidak merendahkan. 

Udah itu aja, akan disambung dengan coletehan lain yang semoga bisa menyejukkan ...

Saturday, March 04, 2017

Melihat ke Dalam

Sebenarnya di menit ini saya harus menyelesaikan buku tesis yang tinggal edit sedikit sekali ; di bagian pendahuluan dan kesimpulan. Juga di bagian abstrak. Serta jurnal ilmiah untuk diserahkan ke jurusan sebagai syarat untuk dapatkan uang bantuan tesis. Tapi entah mau ngerjain fokus susahnya minta ampun. Dari pada waktuku habis untuk browsing gak jelas, mendingan aku nulis di blog ini. Nggak ada beban dengan tulisan yang mengalir, tanpa ada aturan seperti halnya menulis buku tesis, jurnal, dan opini. Aku mau nulis apa yang sedang aku pikirkan di blog ini biar sebagai reminder bagi aku di kemudian hari.

Aku berkali-kali nonton video youtube Elon Musk dan beberapa kali tentang Bill Gates dan Steve Jobs. Aku melihat orang-orang seperti mereka itu hidup karena ide besar yang ingin diwujudkan melalui pendirian perusahaan di bidang teknologi. Yang paling terbaru yang aku tahu dari Elon Musk idenya adalah buat wisata ke Mars melalui perusahaannya, SpaceX. Sementara Bill Gates pengen buat energi nuklir ramah lingkungan (generasi baru) dengan perusahaanya Terra Energy. Ini artinya mereka dah mikirin dunia ke depan akan kayak gimana. 

Aku bukannya nganggap teknologi Barat itu suatu yang "wow" trus kita yang hidup di negara berkembang harus ngikuti kayak mereka. Santai, aku tidak se-ndeso orang-orang yang mudah "gumun" dengan apa-apa yang berasal dari Barat. Aku sedikit banyak telah belajar tentang filosofi teknologi dan juga inovasi industri. Dari video-video yang aku tonton itu, aku terbawa sedikit dengan pemikiran mereka. Beberapa waktu yang lalu ada seorang mahasiswa tingkat 4 fisika ngobrol ama aku, dan Ia cerita kalo pengen dalami namanya "quantum computing". "Ahai" aku pun pernah denger istilah itu bahkan dari pegiatnya langsung di ITB. Obrolan pun berlangsung cukup lama, namun aku agak menyayangi, pengetahuan dia terkait itu masih minim. Aku kemudian membawa dia ke diskusi yang lebih praktikal "era data" di konteks Indonesia. Aku stimulus dia untuk bicara ide buat bisnis terkait IT dengan segmen pasar Indonesia dan dalam platform "data". Aku punya pandangan demikian, karena suatu saat dunia akan "connected" di mana kita akan bisa berselancar di dunia maya di daerah terpencil sekalipun.

Tapi aku ngelihat mahasiswa ini kurang tertarik dengan bisnis. Habis lulus kayaknya pengen kerja dulu dan bla bla seperti halnya mahasiswa pada umumnya. Aku kira ini terjadi karena atmosfer berkembangnya ide-ide liar di Indonesia belum ada. Aku juga ngalami sebenarnya. Selama aku berinteraksi dengan banyak orang (umumnya senior) yang cerita tentang aktivitasnya aku kebayang banyak sekali peluang yang bisa digarap di Indonesia. Buanyaak. Tapi satu hal yang jadiin aku gak gerak-gerak ya kelabilanku sendiri dengan didukung dengan tidak ada teman untuk bertukar dan bekerjasama untuk wujudkan ide. Aku terkadang males jika anak-anak muda seusiaku bicacaranya uang melulu, hidup enak, ide nol. Aku bukan anti uang, aku pengen kaya raya bahkan kayak Tony Stark Iron Man. Tapi jauh lebih penting, aku pengen hidup ini didorong karena ide besar. Ide yang kuperjuangkan dan tentunya berdampak positif untuk diri dan lingkungan sekitar.

Ideku yang pernah aku ceritakan ke beberapa teman adalah menciptakan "knowledge-hub" semacam Selasar Sunaryo tapi lebih luas lagi, tidak terbatas pada seni dan budaya. Di tempat itu, akan ada koperasi buku bagi semua pedagang buku kelas UKM, tempat startup teknologi mangkal, tempat berkumpulnya para budayawan, seninam, dan filsuf, juga para akademisi dari berbagai kampus. Tempat itu juga terhubung dengan kampus-kampus di wilayah daerah itu. Setiap akhir pekan ada kegiatan rutin juga bulanan dan tahunan. Tempat itu juga ciptakan riset dengan publikasi kontinyu dan juga mengadakan kelas-kelas yang akan diisi orang-orang komunitas. Aku pengen tempat ini dimiliki oleh setiap orang yang senang dengan ilmu pengetahuan. 

Apa alasan dirikan tempat itu ? Jawabanku "karena aku senang belajar". Aku senang berinteraksi dengan siapapun yang belajar. Aku paling gak seneng dengan orang yang pikirannya dogmatis, mudah anti dengan siapapun, dan mudah sekali "mengkafir-kafirkan" orang. Maka aku senang dengan seni apapun, film jenis apapun, musik genre apapun, sains, teknik, filsafat, novel genre apapun, buku sejarah, dan sebagainya. Intinya aku senang segala hal yang punya kaitan dengan pengetahuan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menguasai semua itu. Itu yang mendorongku untuk meng-connect para pegiat pengetahuan. Satu hal yang mungkin ditanya, "gimana tempat itu dapat beroperasi ?". Aku pengen yang turut serta mendirikan tempat ini bukan hanya aku tapi juga para businessman dan scholars yang lain. Di samping itu, pendanaan tempat ini tidak dibebankan pada tempat ini yang harus cari uang ke sana kemari namun dari unsur bisnis lain. Makanya, penciptaaan lapangan bisnis di tempat lain menjadi penting seperti pada pertanian, perikanan, dan peternakan. Juga industri berbasis IT di lapangan yang lain.

Aku tidak tahu ideku akan teralisasi ato tidak, aku optimis, somedays it will be real biarpun wujudnya tidak sesaklek yang aku pikirkan sekarang. Maka untuk kesana perlu ditumpuk batu bata-batu bata sehinga akan benar-benar jadi bangunan. O iya, satu hal yang aku pikirkan juga "Aku pengen mendirkan universitas" yang fokus pada penciptaan SDM yang suka pengetahuan : didalamnya difokuskan pada pertanian, perikanan, peternakan, dan IT di mana lulusannya akan ciptakan industri skala besar. Saya percaya Indonesia ke depan akan jadi satu kekuatan baru dunia, Jika aku keburu meninggal duluan sebelum ide ini terealisasi, saya harap Anda yang membaca ini dapat melanjutkan. Mari kita hidup dengan tidak menjadi orang biasa-biasanya saja. 
Posted on Saturday, March 04, 2017 | Categories: , ,

Thursday, February 16, 2017

Hoax dan Demokrasi

Kemarin (15/2) merupakan hari Pilkada serentak lebih dari 100 kabupaten/kota/provinsi di Indonesia. Namun, tetaplah DKI Jakarta sebagai magnet pemberitaan media baik mainstream mapun sosial. Saya tidak ingin membahas Pilkada dalam tulisan ini melainkan terkait berita hoax yang tengah melanda di media sosial khususnya. Tulisan ini merupakan hasil obrolan dengan dosen dan teman senior jurusan kemarin sore sampai malam.

Berita hoax tengah tersebar secara masif di media sosial (medsos) apalagi ditambah dengan fenomena Pilkada DKI Jakarta yang bisa dibilang sangat panas. Orang-orang dengan cukup klik "like" dan "share", berita hoax tersebar dengan gampangnya. Celakanya banyak orang tidak sadar dan sukar memilih dan memilah mana berita yang benar dan salah (hoax). Ada yang mengatakan bahwa tersebarnya berita hoax adalah karena budaya literasi orang Indonesia rendah. Saya kira pendapat ini kurang relevan karena lompat.

Keran demokrasi bebas (liberal) terbuka di era reformasi. Sejak era tersebut, orang dibebaskan untuk berpendapat di muka publik. Niat awalnya sangat positif karena orang tak perlu takut untuk mengkritik, beropini, dan sebagainya terhadap Pemerintah yang di era Orde Baru tidak mungkin bisa dilakukan. Namun sayangnya itu tidak diimbangi dengan perangkat yang cukup. Orang-orangpun semakin liar untuk berpendapat apalagi setelah terfasilitasi oleh medsos. 

Koneksi dengan Dunia Riil

Fenomena hoax seperti saya ceritakan secara sepintas di atas menjadi persoalan publik ketika itu berkembang di dunia maya melalui medium sosmed khususnya. Yang menjadi meresahkan dari hoax ini adalah karena sifat dari berita ini yang tak hanya bohong melainkan digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik. Berita ini mewujud ke dalam aneka situs/website/portal berita/blog yang seolah-olah progresif dengan menampilkan fakta di luar media mainstream (saya tidak menyebut semua media mainstream jujur). Melalui media-media tersebut digunakan oleh kelompok-kelompok yang berkepentingan untuk melancarkan misinya seperti halnya menjatuhkan lawan politik, menghancurkan kredibilitas figur tertentu, dan sebagainya. Ini jelas kejam tentunya bagi yang secara sadar membuat sumber berita di atas. Di sini saya sungguh kasihan bagi mereka yang karena fanatik buta (baca taklid) pada tokoh/faham tertentu menyebarkan tanpa klarifikasi (mungkun mereka tidak tahu caranya klarifikasi berita) berita-berita di atas. Bayangkan jika orang jenis demikian sungguh banyak, maka dapat dipastikan berita-berita yang tersebar di medsos (juga tentunya WhatsApp dan sejenisnya) adalah berita bohong alias hoax.

Jangan lebih jauh ingin berbicara solusi atas hal ini, mari kita plototin apa itu dunia maya yang menjadi ekosistem berita hoax saat-saat ini. Saya berpandangan bahwa dunia maya itu memiliki koneksi dengan dunia nyata. Koneksinya terletak pada sebjek yang menggunakan dunia maya melalui medsos misalnya adalah individu yang hidup di dunia riil di mana mereka beriteraksi dengan individu lain, dan sebagainya. Maka, kelakukan mereka di medsos sangat dimungkinkan dengan apa yang mereka lakukan di dunia riil. Jika seseorang terbiasa menyebarkan berita hoax di medsos, maka orang ini berpeluang besar di dunia nyatanya suka beropini dengan serabutan comot data entah dari mana sumbernya. Jika diagregat dengan masifnya persebaran berita hoax, maka sangat dimungkinkan di dunia nyata berita hoax juga tersebar dengan sangat masif. Ini bisa melalui obrolan-obrolan warung kopi, ceramah-ceramah, obrolan public figure di televisi, dan sebagainya. Celakanya memang di dunia nyata tidak ada upaya untuk dilakukan antisipasi atau recovery. Lembaga pendidikan formal yang menjadi tempat berkumpulnya insan akademis ternyata kurang begitu mampu menghadirkan solusi penyelesaian berita hoax.

Kombinasi Rill-Maya

Kesalingterhubungan antara kehidupan riil dan maya, maka solusi penyelesaian berita hoax ini tak terbatas pada pembuatan kebijakan di ranah alam maya seperti UU ITE dan sejenisnya, melainkan dengan memberikan regulasi pada hal-hal yang memungkinkan berita hoax terjadi, misalkan regulasi pada siapa yang berhak bekomentar di media televisi dan di ruang publik lainnya. Kini di alam demokrasi liberal, orang dengan sangat mudah ditokohkan dan dijuluki pakar. Sebagai contoh orang banyak bicara seputar hukum (padahal dia politisi) di-blow-up oleh media mainstream sebagai pakar hukum. Ini kan bisa celaka. 

Saya kira dengan mindset rill-maya demikian membuat kita tidak ujug-ujung menyimpulkan bahwa fenomena berita hoax hanya dapat diselesaikan dengan satu cara, literasi contohnya. Melainkan kita dapat telusuri secara lengkap fenomena ini sehingga pada ujungnya kita mendapatkan gambaran yang lengkap. 


*) gambar oleh DatDut.Com

Monday, February 13, 2017

Begadang

Kata Bang Haji Rhoma Irama dalam lirik lagunya "Begadang jangan begadang.. kalau tiada artinya.. begadang boleh saja.. kalo ada perlunya". Kata begadang bagi saya sudah tidak asing, namun sangat asing jika dalam tahapan pelaksanaan. Itu tandanya saya adalah seorang yang jarang sekali begadang biarpun tetap juga seringkali bangun kesiangan (harap maklum anak kos, hehe). Namun beda halnya dengan malam ini, saya sukses begadang dan ini tidak di kosan tapi di sebuah kafe tak jauh dari kosan. Dari dulu saya berniat ngelakuin tindakan ini, namun hanya sebatas wacana saja. Entah apa yang membuat kaki saya ke sini tadi, bisa jadi karena semangat saya untuk merampungkan buku tesis lagi tinggi. 

Ternyata begadang di kafe itu lebih mengasyikkan di bandingkan dengan di kosan. Mungkin karena nggak ada teman yang menemani sehingga suasana sepi kayak kuburan. Berbeda dengan di kafe (Coffindo) ini, di jam segini masih ada sekumpulan mahasiswa (nampaknya S1 dan dari Unpad) yang masi ngobrol ramai, entah mereka ngerjain PR atau apa. Jadinya saya yang dari tadi membaca jurnal ada yang nemeni setidaknya suara mereka yang riuh menjadi salah satu faktor saya tidak ngantuk sampai detik ini. Selain di sini relatif ramai (dengan suara), kopi Sulawesi yang aku pesan tadi bisa jadi cuma efek biarpun kurang signifikan. Terkadang saya ngopi di malam hari, tapi tetap saja bisa tidur dengan pulas. 

Selain dua faktor di atas, distraksi sebab salah install program menjadi faktor lain. Tadi saya coba install program google translate namun ternyata program tersebut fake, mungkin saya salah download, bisa jadi. Entah tiba-tiba setelah install program tersebut, terinstall tiga program lain dan sialnya ada dua program yang tidak bisa di-uninstall. Windows defender di laptop sempat mati tiba-tiba dan terpaksa saya restart setelah unistall Avast, program antivirus yang tetiba muncul di layar. Saya khawatir sekali jika malware alias virus menyerang laptop. Bisa jadi kerjaan dan tetek bengek saya di laptop ini hilang. Distraksi lain selain itu ya apalagi selain media sosial (medsos). Sejak zaman medsos, satu keahlian yang tiba-tiba saya jago, "kepo", ya betul. Keahlian ini otomatis. Saat buka facebook atau twitter atau juga Instagram, penasaran dikit "klik", buka profil orang, dan lain-lain. Lebay sih terkadang saya ngrasanya. Hal ini semakin terlatih saat saya pegang media kampus dulu, di mana "rating" media menjadi tujuan biarpun gagal terus untuk diuangkan. 

Selain hari ini, semalam saya juga begadang, tapi tidak selama hari ini. Tujuannya juga beda, jika semalam refreshing, hari ini baca jurnal. Sebelum saya tutup tulisan ini, begadang itu ada asiknya ketika kita merasa asik. Tiba-tiba teringat lirik dangdut koplo, "Asik-asik, jos". Eh bukan lirik, tapi sejenis yel-yel.