Sunday, November 12, 2017

Serba Mendadak Tapi Pas

Untuk pertama kalinya saya ke Jakarta hanya mampir beberapa jam. Jumat malam (10/11) sekitar jam 22 kurang saya sudah riweuh untuk siap-siap kejar tiket jam 22.30 ke Gambir. Walhasil jam 22.15 saya baru dapat Gojek. Saat itu hujan gerimis, saya katakan ke Mang Gojeknya "Tidak usah pakai jas hujan". Sampai di perempatan Pasoepati Dago, saya buka hape dan jam nunjukin pukul 22.20. Saat itu biar dah malam dan gerimis, Bandung tetap lumayan macet. "Sial kata saya". Sesampai di stasiun, saya langsung lari dan cetak boarding pass. Setelah itu langsung menuju Argo Parahyangan yang mau berangkat. Saking hectic-nya satpam yang bertugas ngecek tiket cuma minta tiket terus di-scan, identitas tidak diminta. Saya berhasil masuk bordes gerbong kelas eksekutif "Alhamdulillah". Saya kemudian berjalan menuju Ekonomi-1 melewati beberapa kelas.

Setiba di tempat duduk, saya langsung ambil masker di kantong celana belakang dan langsung pakai. Tak lama saya berposisi tidur. Saya benar-benar kecapean hari itu. Pas bangun kalo tidak salah kereta sudah sampai Jatinegara, beberapa menit lagu akan sampai Gambir. Kereta sampai Gambir telat beberapa menit, setibanya di sana saya nongkrong di CFC untuk nunggu kereta dari Surabaya yg anter adik. Di CFC saya hanya pesen teh anget dan kemudian ngeleptop untuk bikin outline presentasi dan baca e-book di kindle. Kereta Sembrani yg bawa adik ternyata telat hampir sejam. Harusnya jam 4.15 sampai, nyatanya kereta sampai sekitar jam 5. Tak lama setelah datang, sholat subuh dan menuju ke stasiun Gondangdia sengaja Go-Car. Ternyata kartu KRL saya dah expired dan terpaksa beli lagi, 1 untuk saya dan 1 untuk adik. Harganya @13 ribu dg 10 ribu sbg jaminan.

Kami naik eskalator menuju jalur kereta ke Depok. Ternyata jadwal keberangkatan KRL ke Depok beda dg yg ada di Gmap. Perjalanan ke stasiun UI habiskan waktu sekitar 45 menit. Di perjalanan ngobrol panjang dg adik yg mau tes masuk S2 di UI. Di gerbong kereta ramai dengan orang padahal hari libur, di stasiun UI pun juga. Nampaknya ada agenda kampus di sabtu itu. Lalu lalang mobil motor jadikan kami sulit untuk sekedar menyeberang jalan. Sembari nunggu jemputan dari teman adik, kami coba puter sekitar kampus untuk cari sarapan tapi sayang tak kunjung dapat. Lebih dari sejam nunggu, ternyata motor temen adik mogok dan pesenlah Go-Jek.
Berfoto bersama adik di depan Stasiun UI

Kami harus menuju ke bundaran FH untuk sekedar nyamperin driver Go-Jek. Hal itu dikarenakan pas tepat di depan stasiun berjejer ojek pangkalan. Setibanya driver, saya harus berpisah dengan adik. Besok dia harus jalani tes tulis. Segera setelah itu saya menuju stasiun dan coba masuk tapi gagal. Saldo kartu saya habis, "Sial", kata saya dalam hati. Terpaksa saya harus ngantri di mesin pengisi saldo kartu. Bentuk mesin seperti finding machine untuk minuman, harus memencet beberapa menu di screen dan masukin uang kertas. Praktis ini memakan waktu 1 menitan tiap orang. Saya yang harus kejar waktu terpaksa harus bersabar nunggu antrian. Karena baru pertama pakai, saya minta petugas untuk bantu. Jam sudah tunjukkan jam 8 lebih, saya bergegas masuk stasiun dan segera menuju jalur 2 untuk menuju Jakarta kota.

Di kereta saya tidak bisa lepas dari Gmap dan Go-Jek. Saya yang awalnya mau turun di Gondangdia setelah itung-itung harus turun di Manggarai. Stasiun demi stasiun dibacakan oleh mesin speaker kereta, saya harus ancang-ancang untuk pesen Go-Jek. Kereta sampai stasiun Tebet dan segera saya pencet "Order" di apps Go-Jek. Tak lama saya langsung dapet driver dan hape saya berdering ditelpon ama driver tersebut. Saya katakan ketemu di depan stasiun dg saya pakai jaket merah. Dia tidak tahu bahwa saya masih di dalam kereta. Setibanya di Gondangdia saya langsung menuju pintu keluar dan kontak driver untuk dijemput di depan kantor polisi tepat di depan stasiun. Tak lama driver nyamperin dan ada insiden kecil. Ternyata daerah itu merupakan area ojek pangkalan, mereka (para ojek pangkalan) marah-marah ke driver. Ini adalah pengalaman pertama saya di stasiun Manggarai jadi saya tidak tahu bakal ada kondisi seperti itu sebelumnya.

Saya naek Go-Jek dengan deg-degan karena harus kejar kereta. Dari Manggarai sampai stasiun senen ternyata lumayan jauh, terjebak macet pula di perempatan. Sesampainya di Senen, saya lihat hape dan menunjukkan jam 9.10, 5 menit lagi kereta akan berangkat. Saya tanya orang setibanya di sini di mana letak mesin pencetak boarding pass. Dengan hectic, saya buka Gmail dan ketik kode booking. Tiket tercetak dan saya menuju pintu masuk stasiun setelah bertanya orang. Satpam katakan "Saluyu-Saluyu", saya dengan tergopoh-gopoh "Saya Pak". Biar waktu tinggal beberapa menit saya, petugas kereta meminta ID saya. Setelah beres, saya menuju gerbong kereta. "Alhamdulillah", kata saya dalam hati. Di kereta, orang-orangnya asikeun jadi saya banyak ngobrol.

Kereta datang di Kiaracondong telat tapi tidak banyak. Segera setelah tiba saya sholat terus ganti baju dengan batik. Setelah siap, saya segera order Go-Jek untuk anter ke Puri Cipaganti hadiri nikahan Mas Ojan, teman di MSP. Sepanjang jalan macet parah, untungnya mamang Go-Jek bisa pilih jalan. Itupun tetap saja makan waktu lebih dari setengah jam. Walhasil saya sampai di lokasi pernikahan mas Ojan sekitar jam 14 .15 alias telat. Untungnya mas Ojan masih ada di lokasi, segera setelah itu saya sampaikan ucapan selamat dan mohon maaf telat datang. Saat itu aksesoris pernikahan sedang diambili oleh EO, namun untungnya ada mas Taufik, Brili, dan Opik (ketiganya ITB 08) yang masih stay di sana. Jadi ada temen ngobrol.


Saturday, October 28, 2017

Obrolan seputar IT dan Kehidupan

Secara kebetulan dalam obrolan santai dengan teman2 MA09 di kawasan Sarinah tadi, kami membahas fenomena baru yang sekarang kita hadapi. Berawal dari ngobrol seputar valuasi market yg menjadi sebab top 3 apps di Indonesia : Gojek, Traveloka, Tokopedia mendapat gelontoran data sekian Trilyun dari investor asing. Juga obrolan terkait mengapa Pemerintah tidak investasi ke 3 perusahaan tersebut serta statement Ridwan Kamil terkait kendaraan online.

Biarpun terkesan random, obrolan ini jelas tidak sembarangan. Tadi juga diceritakan teman yang studi di bidang sekuriti terkait standardisasi ISO juga pelaku e-commerce terkait data. Kita saat ini berada di kondisi di mana ICT menjadi tumpuan ekonomi. Google dan Facebook menjadi perusahaan top dunia adalah bukti bahwa industri di bidang IT tidak main-main luar biasa besar pengaruhnya.

Regulasi dan Teknologi

Tadi ditanyakan teman, mengapa Pemerintah tidak turut campur dalam 'bisnis' di dunia IT ini. Umumnya Pemerintah sulit mengimbangi pertumbuhan teknologi yang luar biasa cepat. Regulasi yang dibuat bisa jadi tidak relevan dengan keadaan sehingga out of date. Sifat regulasi juga seringkali juga berimbas pada pembatasan Industri dalam negeri untuk tumbuh biarpun niatnya adalah sebaliknya. Apa peran negara terhadap semakin dinamisnya perkembangan teknologi informasi? Bukannya mekanisme pasar cukup ? Dunia cenderung menjadi one world karena teknologi informasi, betulkah? Itu adalah beberapa pertanyaan yang pada akhirnya muncul.

Indonesia potensi marketnya besar dimana itu tidak dibarengi dengan kemampuan produksi. Turut serta berperan dalam kontestasi perkembangan teknologi IT adalah pilihan. Tapi di zaman dengan dinamika yang amat cepat, dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan pastinya stakeholders. Ini harus di-create tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar. Dengan menyadari hal ini mindset kita perlu diubah, dari semangat pengen menang sendiri menjadi berbagi. Makanya sering kita mendengar istilah seperti sharing economy.

Sunday, October 15, 2017

Novel Penyeimbang Oktober yang Sibuk

Oktober ini saya nampaknya bakal 5 kali ke Jakarta. Yang sudah baru dua kali tepatnya tanggal 1 oktober pas nikahan Hakiki, teman SMA, dan 5 Oktober pas Forum Group Duscussion (FGD) IoT Mastel. Selasa besok (17 Oktober) saya kemungkinan akan ke Jakarta kembali untuk ikut serta seminar IoT perwakilan dari tim kajian Mastel, disusul dengan tanggal 23 Oktober untuk presentasi penelitian di IPTEKIN LIPI. Jadwal terakhir ke Jakarta kemungkinan di tanggal 28 Oktober dengan menghadiri nikahan Tomy, teman seangkatan Matematika. Di samping agenda ke Jakarta, agenda lain yang baru saja selesai 10-13 Oktober lalu saat presentasi hasil penelitian awal dengan tim SBM di Kuala Lumpur tepatnya di International Conference on Human Capital and Knowledge Management (IC-HCKM).

Selain agenda di beberapa tempat di luar Bandung, kegiatan di Bandung tetap begitu padat. Saya harus mempersiapkan banyak hal untuk agenda-agenda tadi juga agenda kerjaaan lain seperti halnya proses finishing sistem info publik ITB, pembuatan paper untuk publikasi jurnal internasional dengan tim SBM, buku hasil kajian Tim Mastel yang akan rilis awal Desember, dan juga proses pembuatan buku terkait startup yang sudah saya mulai beberapa bulan lalu. Praktis ini akan menyedot waktu sekali. Saya hampir tidak punya waktu yang benar-benar kosong. Namanya juga projek, proses kontrolnya ya di bagaimana selesainya, jadi saya harus bisa atur-atur waktu.  


Novel

Pekerjaan yang padat itu sesekali munculkan kemalasan yang amat diakibatkan perasaan stres. Perasaaan ini muncul saat diri ingin segera selesaikan kerjaan tapi apa daya diri tidak bisa. Upaya pemaksaan diri untuk bekerja itulah yang munculkan perasaan stres. Wujudnya bisa macam-macam yang dalam pengalaman saya ini negatif. Saya tidak akan cerita di sini nanti jadi demotivasi. Keadaan stres ini jelas setiap orang ingin menjauhi, terkadang juga sulit. Jika saat stres melakukan tindakan negatif, tindakan ini akan terpikir di saat diri ingin melakukan lebih baik. Ada perasaan guilty feeling atau menyesal entah karena rugi materi atau moriil. Nah, ada satu teori yang mengatakan untuk tidak stres pergi ke kafe dan ngopi di sana. Teori ini tidak guna bagi saya, tetap saja stres ya stres. Hari ini saya dapatkan rumusan baru : Baca Novel !

Ini adalah kesenangan saya dulu biarpun novel-novel yang saya baca terkesan biasa saja, tapi saya nikmat dengan membaca. Imajinasi saya mengarah ke hal-hal idealisasi yang dibuat oleh penulis novel dan itu positif bagi kepedean saya, hi hi. Saya sedang memulai membaca novel "Golak Ganesha" yang menceritakan kondisi ITB pada 1970an ketika kampus sedang diduduki tentara. Moga novel ini bisa menemani masa-masa sibuk bulan Oktober. 

Wednesday, September 13, 2017

Link and Match Universitas-Industri

Istilah "link and match" bukanlah hal yang tabu di beberapa universitas besar di Amerika, namun tidak dengan Indonesia. Ada budayawan yang menganggap bahwa ide ini yang tak lain akan menciptakan lulusan universitas yang hanya sekedar menjadi sekrup industri. Bagi mereka sekrup industri berstigma negatif dan hanyalah kaum intelektual cerdik pandai yang dapat mereproduksi idelah idealnya seorang lulusan universitas. Namun ada beberapa pula yang mendukung ide ini karena percuma kuliah susah di Perguruan Tinggi namun harus sukar mencari pekerjaan saat lulus. Kedua golongan ini terlihat jelas berseberangan menanggapi istilah tersebut. Itu tidak salah mengingat latar belakang mereka pastinya berbeda.

Sebelum membahas lebih jauh maksud dari istilah tersebut, sedikit flash back bahwa di zaman orde baru istilah tersebut sempat didengungkan jadi pastinya itu bukanlah kosa kata baru dalam literatur akademik. Hanya saja semakin ke sini saya kira penafisiran istilah itu dapat diperlebar. Link and match mengandung makna hubungan erat, keterikatan. Sementara universitas adalah lembaga yang mereproduksi pengetahuan dan industri adalah lembaga yang menciptakan produk untuk dijual. Irisan universitas dan industri adalah terletak pada riset dan pengembangan (R&D). Biasanya industri yang sudah settle punya R&D sendiri dan seringkali lebih canggih dibandingkan yang dimiliki universitas. Karena keterikatan antara dua elemen itu suatu kolaborasi aktif maka keduanya saling bekerjasama dalam lingkup core-nya masing-masing.

Industri suatu ketika akan melihat bahwa melakukan R&D di perusahaannya sendiri akan costly maka skema yang bisa dilakukan dengan melakukan investasi ke universitas yang melakukan riset terkait bidang yang sedang dikembangkan oleh industri. Langkah ini dilakukan oleh Roll Royce kepada Oxford University. Jadi di sini beberapa topik riset universitas digiring ke kebutuhan industri. Apakah universitas dirugikan ? Tidak, karena tetap bisa menjaga indepensinya sebagai pengembang ilmu pengetahuan. Hasil riset kerjasama ini juga tetap bernilai keilmuan sangat tinggi. 

Term riset untuk kebutuhan industri mengandung pertanyaan jika dibawa ke Indonesia. Adakah industri Indonesia yang telah tegak dalam R&D sehingga membutuhkan peran-serta aktif universitas untuk membantunya ? Ada tapi kuantitas dan kualitasnya mungkin jauh jika dibandingkan apa yang sudah ada di Barat. Nah, kondisi ini yang terkadang para periset di universitas tidak "ngeh" sehingga tetap saja melakukan riset advance yang ujungnya tidak lebih dari paper ilmiah. Apakah itu salah ?Tidak, namun dalam konteks pembangunanan itu investasi yang mubazir. 

Jadi istilah link and match universitas-industri melalui riset berlaku jika ditempatkan pada konteks pembangunan, tidak sekedar ekonomi. Pengembangan industri menjadi pintu masuk pengembangan iptek seperti yang pernah dilakukan Orde Baru. Melihat kondisi zaman yang cepat sekali berubahnya, istilah link and match demikian niscaya untuk kembali didengungkan oleh para developmentalist.

Friday, August 18, 2017

Mubiar Purwasasmita : Landasan Entrepreneuring itu Memberi Manfaat

Saya mengenal beliau dari Dosen AE, Pak Djoko Sardjadi. Ketika itu saya sedang kumpulkan data untuk kepentingan revisi tesis. Saat itu Pak Djoko memberikan rekomendasi pada saya untuk mewawancarai Pak Mubiar terkait bagaimana proses LPM (kini LPPM) yang dipimpin beliau memberikan dukungan pada perkembangan rintisan industri Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang dijalani Pak Djoko. Pada 27 Januari 2017 saya bertemu Pak Mubiar di kantornya, Labtek Biru Gedung Teknik Kimia. Percakapan saya dengan beliau berlangsung selama 3 jam 33 menit 9 detik dengan  topik pembicaraan tidak terbatas pada tema tesis saya namun melebar ke berbagai hal.

Pengalaman sebagai Basis Keilmuan

Pak Mubiar adalah orang mampu belajar dari lapangan. Di saat ITB dipimpin oleh  Pak Wiranto Arismunandar, Pak Mubiar dipercaya menjadi pembantu Rektor di bidang Perencanaan dan Pengembangan. Di masa itu, beliau dengan pimpinan ITB lain memikirkan bagaimana ITB dapat memiliki gedung baru yang dapat menampung lebih banyak mahasiswa. Terlintaslah ide untuk mencari soft loan dari Jepang. Dibuatlah strategi untuk meyakinkan Jepang bahwa alumni-alumni ITB punya kekuatan yang besar di Pemerintahan  maupun industri. Bargain position ini berhasil membuat Jepang  investasi SDM Indonesia melalui ITB. Hasil dari negosiasi ini, dibangunlah 11 gedung di ITB termasuk lapangan Saraga dan 4 Labtek kembar. Dalam proses membangunnya, Pak Mubiar dan jajaran pimpinan ITB lainnya seperti Rektor Wiranto Arismunandar turun langsung menjadi “mandor” pembangunan gedung ini dengan “desentralisasi komando”-nya.

Di masa Rektor Lilik Hendrajaya, Pak Mubiar dipercaya memimpin Lembaga Pengabdian Masyarakat (kini LPPM) pada 1997-2000. Pada masa itu, para dosen dimudahkan untuk mendapatkan pinjaman dana dari LPPM untuk jalani projek. Lembaga ini seperti Bank dengan perputaran uang yang cukup dinamis. Perputaran uang di LPPM mencapai ratusan milyar di tahun kedua kepemimpinan beliau. Saat itu, LPPM menyalip PT LAPI sebagai sumber terbesar pendapatan ITB dari unit usaha yang dimilikinya. Kebijakan lain yang diterapkan LPPM pada masa Pak Mubiar adalah konsep asrama ITB mandiri dengan dukungan unit bisnis yang dimotori LPPM seperti sawah 4 hektar dengan kolam ikan di dalamnya dan juga peternakan sapi di Pangandaran. Unit bisnis ini dijalankan oleh para dosen dengan dibantu mahasiswa dan alumni. Dalam pengakuan Pak Mubiar, hasil usaha ini tak hanya dinikmati oleh para penghuni asrama namun kemanfaatannya juga dirasakan oleh civitas akademika lain seperti para dosen.

Ide lain selama menjabat ketua LPPM adalah konsep teknologi tepat guna. Pak Mubiar sebagai ketua LPM seringkali berbeda pendapat dengan Pemerintah, yang digawangi oleh BJ. Habibie, dalam hal teknologi seperti apa yang cocok dikembangkan di Indonesia. Seperti halnya ketika Pak Mubiar mendukung PTTA yang dikembangkan oleh dosen Penerbangan seperti Pak Djoko Sardjadi dengan turut serta promosi ke klien dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jauh sebelum beliau menjabat sebagai ketua LPPM, ketika mahasiswa Pak Mubiar pernah berbeda pendapat dengan Pak Habibie dalam hal pendirian pabrik pupuk di atas kapal laut atas dasar hindari kelangkaan gas dengan menulis di buletin Himatek. Ide-ide pengembangan teknologi Pak Mubiar di LPPM bisa dikatakan sederhana, disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Sebagai contoh perahu cepat untuk para nelayan di Pangandaran.
 
Mubiar Purwasasmita (dok. @DpkltsIndonesia)
Pasca menjadi ketua LPPM, Pak Mubiar turut serta menekan pemberontakan masyarakat Jawa Barat selama masa krisis ekonomi Indonesia dengan mengomandoi pemanfaatan lahan projek-projek Propertis yang tidak jalan dengan bantuan Kodam setempat. Lahan-lahan nganggur dimanfaatkan untuk ditanami Palagung (Padi, Kedelai, Jagung) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Dalam proses maintenance-nya, disebarlah dosen-dosen ITB dengan diberi pangkat yang lebih tinggi dari peleton TNI yang bertugas sehingga koordinasi dapat dilakukan dengan lancar. Usaha ini berhasil dengan tiadanya pemberontakan yang berarti di bumi Jawa Barat.

Berdagang itu Memberi Manfaat

Spesialisasi keilmuan Pak Mubiar adalah transport fenomena perpindahan. Di sini Ia terlatih untuk berfikir mendasar atas objek yang ditelitinya. Beliau memfokuskan penelitiannya pada tanaman. Beliau sempat berujar tanaman tidak bergerak seperti halnya hewan, mengapa kebutuhan nutrisinya selalu terpenuhi ?. Berarti ada sesuatu yang istimewa dari tanaman .

“Nutrisi masuk tanaman pake air. Kuncinya bagaimana tanaman bisa memasukkan air sebanyak-banyaknya dalam pipa kapiler. Itu gak bisa tanaman direndam. Didorong oleh udara, oleh tegangan permukaaan. Di tanah itu harus ada udara dan air. Saya sudah mengatakan jangan hidroponik, karena tidak mungkin capai laju air paling besar. Tetap aja tani yang baik itu menggunakan kompos dan tanah. Kompos untuk simpen air, tanah untuk udara. Sesederhana itu. Jadi air itu hanya bisa disimpen di dalam  pipa kapiler. Tanah nggak nyimpen air. Tanaman itu butuh penting air tapi bukan jumlah air. Pertanian itu nggak butuh bendungan. Sekarang nomenklaturnya ilmiahnya itu micro irrigation. Bukan selokan itu tapi pipa kapiler. Ternyata air yang diperlukan itu tetesan saja”, ungkap Pak Mubiar.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana unsur ini tersedia di tanaman yang kita tanam di berbagai medium seperti halnya pot. Ini jelas dibutuhkan pemahaman atas perilaku tanaman. Pak Mubiar memakai pemahaman dasar atas tanaman ini untuk pertanian padi organik. Ia adalah penggagas System of Rice Intensification (SRI) untuk penamanan padi organik di Indonesia.

Pemahaman beliau atas tanaman menjadi landasan filosofisnya memandang bagaimana sistem perekonomian bekerja. Sistem perekonomian yang baik memuat pandangan prinsipil sebuah tanaman yang tumbuh secara natural. Dua hal yang dicontohkan Pak Mubiar adalah terkait investasi dan perdagangan. Investasi seperti halnya tanaman tumbuh dan berkembang secara natural tanpa merusak tanaman itu sendiri sehingga kebermanfaatannya dirasakan dalam waktu panjang. Sedangkan berdagang tujuan utamaanya adalam memberi kebermanfaatan. Orang yang membeli dagangan kita berarti menerima manfaat dari barang atau jasa yang kita jual. Pemahamannya ini dipakai untuk turut serta membangun jurusan Ekonomi Islam di Universitas Airlangga Surabaya. Pak Mubiar lebih memilih nomenklatur Ekonomi Islam dibandingkan Ekonomi Syariah. Menurutnya yang syariah belum tentu Islami, yang islami adalah yang ikut Qur’an.

Selamat jalan Pak Mubiar, semoga pemikiran Bapak selalu melekat pada orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Bapak baik langsung maupun tidak langsung …

Saturday, August 12, 2017

Menuju ITB Mandiri melalui Entrepreneuring

Komersialisasi riset bukan hal baru di ITB. Banyak civitas yang tak hanya dengar istilah ini namun juga sebagai pelaku. Jika kita membuka lembaran sejarah kampus ini, kita akan tahu bahwa 30an tahun yang lalu ITB dengan para ahlinya mencoba menghilirkan risetnya untuk menciptakan sesuatu untuk masyarakat. Sebagai contoh Filino Harahap dan beberapa dosen senior ITB waktu itu kembangkan Pusat Pengembangan Teknologi (PPT) dan kemudian Development Technology Centre (DTC) dengan teknologi tepat gunanya. Semaun Samandikun dan Iskandar Alisjahbana kembangkan semikonduktor dan alat radar penunjang satelit palapa (?).

Di masa menjelang reformasi ada Mubiar Purwasasmita dengan LPPM mampu mendorong dosen ITB untuk melakukan projek-projek yang menghasilkan pundi-pundi dana tambahan bagi ITB. Di masa euforia reformasi ada Kusmayanto Kadiman dengan ketua LAPI dan LPPM, Noorsalam, terapkan kebijakan "merit system" yakni memberikan 'penghargaan' pada dosen ITB berdasarkan kinerja yang tengah ditekuninya seperti halnya projek, riset, dan mengajar. Saat itu ITB seperti sebuah perusahaan (ITB Corp) dengan Rektor seperti seorang CEO.

Entrepreneurial ITB

Gelora Entrepreneurial kembali diangkat oleh Kadarsah Suryadi yang naik sebagai Rektor ITB pada 2014. Di masanya, ITB coba diarahkan ke Entrepreneurial University (EU) setelah di periode sebelumnya diangkat semangat Research University (RU). Nyatanya di lapangan, para dosen memiliki interpretasi yang bermacam-macam terkait maksud dari visi tersebut. Sebagian informan menilai visi Pak Rektor sebagai jargon semata, sebagian yang lain menilai ada dukungan entrepreneuring di ITB seperti riset hilir dan kemudahan berwirausaha yang tengah dikerjakan LPIK.

Biarpun demikian, visi Pak Rektor masih banyak catatannya karena pada dasarnya kegiatan entrepreneuring melibatkan berbagai aktivitas yang saling terkoordinasi. Beberapa dosen yang fokus pada hal ini umumnya besar karena ketelatenan dosen tersebut, peran institusi ITB sangat minimal.

Menuju ITB Mandiri

Saya kira perlu ditujukan dorongan untuk entrepreneuring di ITB semata-mata untuk ITB sendiri. Bagaimana ITB dengan aktivitas ini mampu menjadikan sebagai pundi-pundi utama penghasilan kampus. Tidak menutup kemungkinan bahkan mahasiswa yang sekolah di ITB dibebaskan dari membayar biaya kuliah dg catatan dilibatkan dalam kegiatan entrepreneuring.

Untuk menuju ke sana, pertama yang perlu dilakukan adalah pemetaan kapabilitas komersialisasi riset ITB misalkan menelusuri dosen, mahasiswa, atau alumni yang sedang bergelut di sini. Selanjutnya didengarkan kendala-kendala yang dihadapi mereka dan bagaimana mereka dapat keluar dari situ. Di samping itu perlu juga dilihat bagaimana pelaku organisasi ITB seperti satuan kerja (satker) bekerja, jangan-jangan sistem/manajemennya masih buruk. Semangatnya dari sini kita tahu kondisi ITB saat ini (existing condition) sehingga dari sini kita akan dapatkan alternatif-alternatif solusi untuk mencapai visi tadi.

Sumber data :
1. Buku Aura Biru 1 Bab Filino Harahap
2. Hasil wawancara dengan berbagai dosen secara random untuk riset
3. Hasil obrolan dengan dosen terkait dan dosen yang dekat dengan dosen terkait

Sunday, August 06, 2017

Optimasi Potensi

Teringat mata kuliah optimasi yang diberikan oleh Bu Rieske pada saat saya S1 Matematika ITB. Saat itu saya memang malas ditambah lagi dengan teman tugas kelompok yang juga relatif malas juga, lengkap deh. Tapi anyway saya mendapatkkan poin dari mata kuliah ini  yaitu memaksimalkan atau meminumkan fungsi objektif dengan kendala (constraint) tertentu. Landasan teoretik yang saya dapatkan ini semakin lengkap ketika saya ambil mata kuliah Ekonometrika yang diampu oleh Pak Syamsuddin saat saya ambil S2 di Studi Pembangunan ITB. 

Saya akui saya tidak telaten ketika dihadapkan dengan persoalan teknis Matematika seperti menurunkan atau mengulik program, tapi setidaknya ilmu dasar optimasi tersebut membantu saya dalam menentukan arahan (direction) ketika saya dihadapkan pekerjaan. Logika optimasi ini embedded di pikiran saya. Memang success story terkait hal ini saya tidak bisa sebut, namun setidaknya optimasi mengajarkan saya mengoptimalkan apa yang sudah ada dengan seminimal mungkin cost yang dikeluarkan. Adapun hasil seoptimal-optimalnya. 

Saya sedang bermain optimasi dalam beberapa aktivitas yang saya kerjakan seperti halnya riset dan pekerjaan manajerial. Berdasarkan SOP, riset ngerjainnya ini ini ini.. tapi saya mencoba mengambil pendekatan lain dari riset lapangan sebagai contoh. Dengan data yang sama saya dapat menuliskan gagasan saya yang lain sehingga yang awalnya kebayang keluarannya hanya 1 paper kini dapat 2 paper. Langkah ini menurut saya sangat menantang dan membuat saya bergairah dalam meriset dan menjalankan pekerjaan lain. Karena di sana saya dapat kembangkan kreativitas dan kemampuan saya relatif lebih cepat sehingga sebagai contoh dalam kasus riset, saya PD untuk tak kehabisan topik untuk diriset dalam setahun ke depan.

Sama halnya dengan perusahaan yang mapan diukur dengan umur, size, dan produk, manusia yang berproses juga demikian. Jika kecepatan kita dalam belajar semakin tinggi, maka ketiga hal ini dalam diri kita yang nantinya disebut kapasitasas akan tinggi juga. Itu saya dulu wejangan pagi saya, hatur nuhun :p

Friday, June 16, 2017

Membela "Ulama"

Hidup adalah masalah pembelaan. Sementara pembelaan ini sendiri bergantung pada prinsip tiap orang. Saya senang akan ilmu dan pengetahuan dan dua hal ini tidak akan sampai pada saya tanpa seorang guru. Dalam bahasa arab guru adalah "'alim" dengan jama' "ulama". Maka membela ulama di sini secara harfiah berarti membela guru. Guru ini sendiri macam-macam, ada guru silat/beladiri, olahraga, sains, sosial humaniora, bahasa, bahkan agama. Lantas guru mana yang saya maksud ? Guru terdekat dimana saya lama belajar yaitu guru saya di kampus.

Saya melihat dedikasi guru saya di kampus (selanjutnya disebut dosen) di ilmunya umumnya sangat tinggi, terlebih lagi dosen senior. Mereka rela berlama-lama di kampus untuk sekedar membimbing atau mengajar. Terlepas sebagian dari mereka kurang begitu terbiasa dengan publikasi ilmiah yang saat-saat ini gencar dikumandangkan Kemenristekdi, dedikasi mereka sebagai dosen tak bisa diragukan bahkan meskipun mereka berbisnis sekalipun. Benar adanya profesi dosen di kampus adalah panggilan. Istilahnya mengabdi. Saya pernah dapat "curhatan" dosen yang jenjang kariernya di lektor kepala. Kata beliau gajinya 8 juta saja. Tapi beliau terbantukan dengan remunerasi jabatan struktural sehingga per bulan dapat sekitar 11 juta. Angka itu saya kira kecil dan kurang sebanding dengan dedikasi pada keilmuan yang sangat tidak mudah. Memproduksi pengetahuan baru itu sangat susah, ini tidak terbatas pada publikasi paper terindeks scopus.

Dengan gaji pas-pasan tiap bulan, biarpun kurang bisa maksimal dalam improvisasi mengajar dan meneliti, tetap membuat dedikasi mereka pada pengetahuan tidak luntur. Dosen-dosen macam inilah yang ingin saya bela. Ditambah sebagian dari mereka yang "jihad" entrepreneuring di bisnis berbasis teknologi. Ini katagori selanjutnya dari dosen yang harus dibela. Berbisnis itu susah dan manfaatnya besar untuk masyarakat sekitar apalagi jika padat pengetahuan. Maka membela mereka sama artinya dengan membela orang-orang yang mereka hidupi atau yang mendapat manfaat dari produk yang mereka hasilkan lewat perusahaan.

Bentuk Pembelaan

Ungkapan "Saya bela dosen entrepreneur !" dalam lisan jelas sangat mudah diucapkan. Pak Menteri terkait juga bisa. Tapi tidak dengan perumusan maksud dari ungkapan tersebut. Buktinya Men-RISTEK-DIKTI yang jelas-jelas tersirat 'perwakilan' dosen yang mendukung Ristek dan Perguruan Tinggi tidak cukup komprehensif memahami maksud dari tupoksi kementeriannya tersebut. Sederhananya Ristek itu terkait dengan upaya mengkasmarankan publik pada ilmu dan pengetahuan seperti sains dan teknologi. Jadi hadirnya Kemenristekdikti adalah upaya untuk menggenjot pada dosen dan peneliti untuk bersama-sama mengarusutamakan (memarketingkan) pengetahuan. Meyakinkan pada publik bahwa ilmu dan pengetahuan (sains dan teknologi utamanya) adalah pilar peradaban. Tidak cuma dorong paper terindeks scopus, tapi diarahkan ke hal fundamental.

Kembali ke sub judul, pembelaan saya maknai sebagai upaya menggairahkan dosen untuk bersemangat dalam mereproduksi pengetahuan. Saya tahu budget Kemenristekdikti jaman ini tidak segede jaman Pak Harto. Maka menggairahkan dosen terbatas pada dosen yang sedang bergairah artinya dosen prestatif. Jadi tidak dipukul rata. Caranya adalah memudahkan dosen-dosen tersebut untuk berkarya lebih besar melalui kemudahan dalam regulasi dan administrasi. Beberapa hari lalu, saya wawancara dengan dosen farmasi yang beberapa kali kerjasama riset dengan perusahaan. Beliau punya beberapa paten. Beliau menyatakan perusahaan lebih senang kerjasama lewat dosen secara langsung dari pada lewat kampus. Ini menandakan bahwa perusahaan tidak sepenuhnya percaya kampus. Dosen lainnya yang pernah saya temui di Penerbangan punya persoalan lain. Kiprah dia kembangkan di bidang startup UAV tidak cukup diakomodasi kampus sebagai bagian dari prestasi kampus. Membela dosen berarti melepaskan belenggu mereka selama ini.

Karena membela secara verbal tidak ada artinya maka diperlukan bentuk pembelaan konkret. Satu-satunya jalan adalah "know how" dengan memahami persoalan yang dihadapi dosen tipikal tersebut. Upaya memahami dapat lewat riset atau sekolah lagi. Domain keilmuannya mungkin masuk inovasi atau manajemen teknologi, atau entah apa yang lain. Saya kira ini adalah jihad karena tidak mudah dan butuh kombinasi knowledge dan experience. 

Thursday, June 01, 2017

Ramadhan : Belajar Menikmati Ibadah

Ramadhan kembali datang, umat Islam seluruh dunia menyambutnya dengan melakukan puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Beberapa hari sebelumnya, banyak orang yang membuat rencana ibadah dan aktivitas ibadah untuk dilakukan di bulan suci Ramadhan. Sebagai contoh target khatam 1 alquran, tidak bolong qiyamullail, tidak putus berinfaq, dan sebagainya. Salah satu dasar berlomba-lomba dalam ibadah tersebut adalah dilipatgandakannya ibadah di bulan tersebut. Banyak sekali orang muslim yang melakukan hal tersebut, maka jangan heran ayat suci berkumandang di masjid-masjid atau di rumah-rumah, kajian keislaman di mana-mana ada, dan seterusnya.

Fenomena ini lumrah di bulan Ramadhan karena konon syaitan, representasi kejahatan, dibelenggu pada bulan ini dan pintu surga (jannah) di buka selebar-lebarnya. Dari tahun ke tahun saya melakukan hal tersebut atas dasar pahala. Namun tahun ini berbeda. Saya tidak menargetkan harus khatam 1 quran, infaq tidak terputus, dan seterusnya. Target saya di bulan suci ini adalah menikmati ibadah minimal ibadah wajib seperti puasa itu sendiri dan sholat fardlu. 

Bersujud dalam sholat *

Alasan mendasar atas target saya itu karena kuantitas ibadah tidak otomatis menjadikan saya kemudian faham esensi ibadah. Seperti halnya sholat. Ada ayat/hadits yang menyatakan "Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar". Realitanya, setidaknya dalam pengalaman saya, saya melakukan sholat dan maksiat tetap juga jalan. Istilahnya STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan). Ini kan kontradiksi dengan ayat tersebut jika sekedar dinilai dari teksnya. Namun saya yakin maksud ayat/hadits itu sholat yang bener, sholat yang dihayati, sholat yang esensial. Nah, saya belum sampai ke sana sehingga tetap biasa melakukan maksiat.

Berbicara tentang maksiat atau moral, saat ini telah bergeser, Parameter agama seperti yang telah diajarkan guru-guru saya di TPA/MI/Madrasah menuai pergeseran oleh parameter lain seperti halnya rasionalisasi ajaran agama, materialisme, dan sebagainya. Saya sangat yakin parameter agama akan maksiat atau moral itu final bagi saya, namun gelombang pengaruh dari parameter lain sungguh amat besar. Tarikan parameter non-agama lebih kuat saat ini dibandingkan agama. Bahkan ada yang menyatakan, berpedoman pada agama (Islam) itu kolot, tradisional. Saya sendiri yang menganggap final parameter yang digariskan agama saja seiring berjalannya waktu seringkali kalah dengan parameter lain. Saya menyadari hal ini terjadi karena interaksi dengan lingkungan tak bisa dihindari. Tidak mungkin saya kemudian mengisolasi diri dengan menerapkan ajaran Islam secara kaffah tanpa toleransi.

Kemarin saya menonton video Cak Nun di youtube. Isinya kurang lebih begini. Kebenaran itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak untuk diperdebatkan dengan orang lain. Jika dibawa keluar itu berbentuk kebaikan dan kemaslahatan. Dalam konteks moral, kita bisa jadi melihat fenomena yang ada di lingkungan sungguh bertentangan dengan nilai yang kita yakini, namun kita tidak lantas meneriakkan kebenaran yang kita yakini untuk dipaksakan kepada orang lain. Ini bukannya anti-dakwah. Dakwah itu sendiri menebar kebaikan dan kemaslahatan, bukan saling menuduh salah/benar. Maka, kita bersikap baik kepada semua orang sudah bagian dari dakwah. 

Kembali ke konteks nilai lagi. Berpegang pada nilai yang yakini benar (setidaknya dalam lisan) saja saat ini menuai banyak halangan. Kita dalam lisan yakin nilai Islam yang paripurna, namun dalam hati kecil penuh akan negosiasi dengan alasan ditinggalkan pergaulan dan sebagainya. Karena hal itulah, saya kemudian menargetkan Ramadhan kali dengan belajar menikmati ibadah biarpun terbatas pada sholat fardlu dan puasa itu sendiri. Memang terlihat sangat minimalis namun bagi saya akui itu tidak mudah. Seringkali saya lakukan sholat mikir yang lain bahkan berfikir kotor. Ini kan sangat menggagu. Yang saya khawatirkan, dan mungkin ini bisa terjadi, saya menganggap sholat tidak lagi penting. Hal yang terpenting adalah berbuat baik pada sesama saja. 

Di Bandung, saya kesulitan untuk mendapatkan ustadz/kyai yang dapat mengajarkan bagaimana menikmati ibadah. Kebanyakan dari mereka lebih mendorong untuk perbanyak ibadah seperti halnya menjadi hafiz quran. Mungkin dugaan saya keliru karena memang beberapa tahun ini saya tidak dekat dengan majlis-majlis keislaman. Saat ini saya masih mengandalkan referensi bacaan dari suara muhammadiyah versi online dengan langsung praktik. Jika ada teman yang dapat berikan rekomendasi kajian/majlis atau bahkan menjadi partner untuk bersama belajar menikmati ibadah (opsi terbaik), saya sangat berterima kasih. Akhirnya, moga kita dapat menuai hikmah dari beribadah di bulan suci ini, amiin. 

*) diambil dari tarjih.or.id

Monday, May 08, 2017

Akhirnya Punya Kalender 2017

Hampir bisa dikatakan seharian saya berada di lingkungan Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB. Ya, sejak bulan lalu saya tegabung riset di sana. Saat ini saya sedang mengerjakan riset tentang employee engagement. Nah, tadi pagi sekitar setengah 10 (harusnya jam 9 sih, saya telat), saya tiba di kantor Pak Hary (dosen yang ajak saja riset) dan tak lama setelah itu presentasi progres. Proyektor pun dinyalakan dan Pak Hary mengedit secara interaktif paper awal penelitian yang saya buat. Saat diskusi, saya dapat kenalan baru dari jurusan Magister Manajemen SBM, namanya Widi kalo gak salah. Dia sekarang masuk dalam jajaran karyawan Kemenkeu. Menariknya diskusi tadi, saya jadi tahu posisi konsep employee engagement (EE) dilihat dalam level attachment seseorang pada organisasi. Diatasnya EE ada value (meaning making) dan happiness. Atau istilahnya SAY - STAY - STRIVE. Anda cari sendiri maksud dari istilah-istilah tersebut.


Kantor Pak Hary ternyata tidak sepi dari orang-orang SBM khususnya dosen dan asisten riset muda. Ada Dani dan Dema yang paling sering berada di kantor. Siang tadi tepatnya jam 14 ada rapat dengan pihak rektorat (WRSO) terkait penelitian ini. Ternyata penelitiannya cukup besar dengan Pak Jann (senior SBM) sebagai ketuanya. Penelitian EE adalah bagian dari penelitian besar ini, makanya saya ikut (kalo tidak disuruh mungkin tidak hadir sih, hehe). Sayang sekali setibanya di lantai 3 Gedung Annex, kursi tidak mencukupi dan terpaksa saya, Dema, Dani,  Mila, dan satu lagi Aria duduk di luar. Untungnya saya dapet temen ngobrol yang asikeun, Aria. Dia calon dosen di SBM dengan telah sandang status master dari salah satu universitas di Australia setelah kelar dari SBM (doi angkatan 2007). Dia cerita kalo pernah masuk dalam berbagai pekerjaan, sampai sekarang akhirnya milih kembali ke jatidirinya sebagai pengajar. Di samping beraktivitas di SBM, dia juga berbisnis di kopi dengan memiliki coffee shop di kompleks kantin Tamansari seberang Gedung SBM. Dia cerita banyak terkait bisnis kopinya ini. Karena saya juga penyuka kopi, obrolan pun jadi lama. Dia saranin kalo ngopi enak di Caffeto sekitar Sekeloa dan juga Coffeeq di Jalan Moh Toha, selain juga pastinnya memintaku untuk cicipi kedainya, Someday-lah gue kesana.

Beberapa hari mualees ngerjain paper teobati dengan aktivitas hari ini dengan kolega di SBM. Bismillah, kembali ke jalur produktif. O iya, dapet oleh-oleh kalender dari Pak Hary setelah saya bilang saya tidak tahu kalo kamis besok adalah tanggal merah :p

Saturday, May 06, 2017

Konsistensi Itu Ternyata Sulit

Sudah ada lebih dari sebulan saya tidak menulis di blog ini, ya karena kesibukan atau yang lainnya. Saat ini selain saya jalani dua projek riset, juga kerjakan projek lain seperti projek IT yang sudah jalan lebih dari dua bulan. Selain itu projek lain yang juga ongoing yaitu manajemen informasi di kampus dan pembuatan buku. Ada juga sih projek pribadi seperti menulis di blog ini hehe. Biarpun kedengarannya padet banget aktivitas saya namun tidak sebanding dengan banyak orang di kampus. Tadi saya membaca artikel Pak Budi yang judulnya https://rahard.wordpress.com/2017/04/24/serius-dalam-mengajar-dan-membimbing/ dan seoalah saya tertampar. Saya mengenal Pak Budi sejak kuliah S1 dan sempat beberapa kali mendapat pelatihan dan wawancara langsung dengan beliau. Saya mengenal beliau sangat sibuk, kalibernya sudah nasional bahkan internasional namun beliau tetap memprioritaskan aktivitas mengajar dan membimbing mahasiswa. 

Saya yang tidak apa-apanya dengan Pak Budi saja beberapa kali frustasi akbatnya deadline jadi tersendat bahkan juga seringkali hilang fokus. Malah yang dikerjakan hal yang tidak penting. Mungkin ke depan saya harus meminimalisasi kegiatan yang kurang begitu penting (seperti kepoin orang di medsos) dan kembali ke pakem kesukaan "menulis di blog". Saya bisa menulis setiap hari di blog dengan bahasa mengalir, namun bedanya saya dengan Pak Budi, jika saya lakukan ini hampir dipastikan kerjaan utama saya tidak bakalan selesai. Saya bisa multitasking tapi tidak 'segila' Pak Budi hehe. Saya sekarang masih dalam tahapan mencari jatidiri hidup. Ke mana arah hidup akan saya arahkan. Masa pencarian saya targetkan selama dua tahun. Tapi biarpun demikian, ada satu hal yang saya suka : lingkungan akademik.

Maka dari situ, dari cukup banyaknya aktivitas, saya tetap memprioritaskan penelitian. Tahun ini saya akan meneliti terkait "employee engagement" dosen ITB dengan tim dari SBM. Nah itu jadi prioritas saya. Maka di situ konsistensi dibutuhkan seperti dengan review dan menulis paper. Maka, tiap minggu (dua kali dalam seminggu) saya harus laporan ke Pak Hary, dosen SBM yang menjadi team leader penelitian. Nah, yang saya khawatirkan adalah saya hilang semangat. Semoga saja tidak (amiin). Tapi semoga saja akhir tahun saya dapat mencicipi buah kesuksesan di bidang penelitian yang akan saya jalani : 1. Publikasi internasional untuk penelitian "employee engagement", 2. Publikasi di jurnal Pappiptek LIPI untuk penelitian tesis, dan 3. Buku kolaborasi antara saya dengan Pak Djoko Sardjadi dan Pak Sonny dapat terbit. Doakan saya bisa menjalani ini semua ya :)

Sunday, April 02, 2017

Wisuda Kedua di ITB

Tak terasa hampir 8 tahun aku beraktivitas di kampus teknik tertua milik negera ini, Institut Teknologi Bandung (ITB). Selama itulah aku tempuh dua jurusan yang berbeda ; Matematika untuk S1 dan Studi Pembangunan untuk S2. Selain jalani rutinitas akademik seperti kuliah dan kerjakan tugas, aku juga sempat bekerja part time, beorganisasi, dan lainnya. Aktivitas-aktivitas itulah yang membentukku sebagai pribadi sekarang. Dalam tulisan ini aku tidak akan terlalu menyinggung terkait apa yang aku dapatkan di ITB, namun lebih kepada rencana apa yang akan aku lakukan di masa mendatang. Tulisan ini tidak ada maksudnya untuk membanggakan diri, namun hanya sekedar motivasi bagi aku pribadi.

Aku berpedoman pada prinsip yang kuyakini benar yakni ajaran agama Islam. Terlepas dari seringkalinya malas beribadah, aku yakin bahwa Islam ajarkan aku untuk menjadi pribadi yang kuat. Definisi kuat aku artikan sebagai pribadi yang tak takut dengan kondisi apapun yang akan menimpa. Nah, sebagai wujud riilnya peran yang ingin aku wujudkan adalah menciptakan "knowledge hub". Aku suka akan pengetahuan tak terbatas pada lingkungan akademik formal melainkan juga hasil kreativitas manusia seperti musik, film, buku, dan sebagainya. Mimpiku adalah integrasi di antara para pelaku pengetahuan sehingga tercipta lingkungan kondusif (milieau).

Ini tak sekedar hanya semacam lembaga dengan sekretariat dan program tertentu namun juga melingkupi unit-unit bisnis sebagai penyokongnya. Juga tercakup orang-orang yang memilih jalur di dunia startup yang padat pengetahuan. Harapannya orang-orang ini saling bekerjasama dan berbagi tentunya dengan cara kerja profesional. Cara ini sebagai upaya untuk mewujudkan keberlanjutan (sustainability). Melalui hub ini, keterjalinan lulusan Perguruan Tinggi (PT) dengan dunia rill terkait bidangnya kuat.

Untuk mewujudkan mimpiku ini tidaklah mudah. Pertama kali yang harus aku lawan adalah diriku sendiri. Aku harus membiasakan diri dengan kerja produktif dan melakukannya dengan senang. Juga selalu menjaga emosi dan silaturrahmi dengan orang-orang khususnya keluarga dan teman. Kedua, aku harus menjalani amanah dengan totalitas dan tuntas. Tanpa hal itu aku tidak akan belajar karena pekerjaan akan dilakukan setengah-setengah. Ketiga, melakukan segala hal secara profesional biarpun sifatnya hanya sekedar janji dengan teman. Ini untuk menumbuhkan jiwa bertanggung jawab meskipun pada hal kecil. Keempat, menjadi hati dengan dekat kepada-Nya dan raga dengan secara rutin berolahraga seperti jogging. Aku kira hal-hal ini butuh waktu untuk dapat dilaksanakan secara paripurna. Teringat ungkapan Rancho dalam film 3 Idiots "All iz well".

Monday, March 27, 2017

Lagi-Lagi Generasi Muda

Muhammad Farid dalam Media Indonesia (23/3) mengutarakan kekhawatirannya pada generasi muda di tahun bonus demografi 2030an. Ia berpijak pada beberapa kejadian kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda di lingkungan pendidikan. Menurutnya, kerja-kerja produktiflah yang diperlukan oleh generasi ini untuk dapat memanfaatkan momentum. Pada akhirnya Ia menyarankan pada semua pihak untuk turut serta memikirkan nasib generasi ini.

Tulisan Farid ini bukanlah hal baru. Saya sendiri juga pernah menulis di 2014 dengan judul "Jalan Terjal Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka". Isinya pun tak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya tulis tempo lalu. Saya menyadari bahwa pemikiran saya dulu sebatas melihat realitas makro seperti yang disajikan Farid dalam tulisannya. Saya menyoroti satu hal yang bolak-balik diulas "Kerja Produktif". Maksudnya apa ini? Banyak akademisi senior menganggap ini sebagai kunci pembangunan (fisik), namun sedikit sekali yang memberikan gambaran gamblang maksud dari istilah ini. Maka, karena hal ini kita lantas akan bertanya "Lalu apa?".

Dalam tulisan singkat ini, saya akan memberikan pandangan terkait kerja produktif ini. Saya tidak setuju dengan kerja produktif dimaknai hanya sekedar bekerja tidak menganggur, namun produktif ini kerja yang menciptakan pembelajaran pada si pekerja sehingga produk yang dibuat bernilai tambah semakin tinggi. Tegasnya kerja ini padat akan pengetahuan. Ada yang mengatakan sama dengan kerja kreatif namun saya kira kerja produktif tidak terbatas pada itu. Ini kerja yang membutuhkan jauh lebih besar otak dibandingkan otot yang tujuannya tidak sekedar akumulasi kapital melainkan mengejar gagasan yang lebih besar masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society).

Dalam masa sekarang, kerja produktif ada dalam startup IT atau yang masuk domain Internet of Things (IoT). Namun tidak lantas domainnya hanya IT saja. Ada domain lain yang juga memiliki prospek tinggi seperti pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, dan kelautan. Karena kerja produktif ini ciri utamanya adalah padat pengetahuan, maka dalam pelaksanaanya tidak dengan cara konvensional. Jika pertanian konvensional menggunakan pupuk kimia yang menjadikan destruksi pada tanah, pertanian padat pengetahuan mempelajari aspek sosiologi tanaman.

Maka, di akhir tulisan ini saya ingin merekomendasikan pada para akademisi yang "peduli" pada nasib generasi muda untuk tidak sekedar menyampaikan gagasan normatif yang diulang-ulang. Perlu dielaborasi lebih dalam terkait kondisi generasi tersebut. Saya pernah membaca satu ulasan budayawan tentang generasi muda sekarang yang amat sulit kondisinya. Saya tidak akan mengulaskan. Intinya, kepada para akademisi senior untuk turut menyumbang solusi yang praktikal dg berpijak pada pemahaman yang utuh pada realitas. Bukannya tugas akademisi itu terus-menerus mengungkapkan realitas bukan?.

Wednesday, March 22, 2017

Pesimisme Pegiat Literasi

Beberapa kali saya ngobrol santai maupun secara resmi di sebuah diskusi, para pegiat buku, film, sastra, dan segala hal terkait kebudayaan mengeluhkan kondisi masyarakat Indonesia yang kurang membaca (illiterate). Mereka membandingkan dengan negara-negara di Barat sana seperti Finlandia dengan jumlah produksi dan warga yang seneng baca buku jauh lebih besar. Sementara itu, mereka menganggap bahwa orang Indonesia ini lebih suka hal-hal yang sifatnya konsumtif di bandingkan produktif seperti membaca. Orang rela antre beli gadget yang harganya jutaan dibandingkan dengan membeli buku 50 ribuan. Toko-toko buku sepi, sementara coffee shop premier seperti Starbucks ramai pengunjung. Dalam pandangan mereka, berpengetahuan melalui budaya membaca merupakan hal yang penting. Saya menangkapnya, mereka ini ingin bahwa di Indonesia ini orang-orangnya berbudaya 'secara hakiki' melalui kecintaannya pada dunia pengetahuan.

Saya menganggap mereka tidak salah berfikiran demikian, namun terkadang terlalu menghakimi dari sudut pandang mereka sendiri. Jika tujuannya tercipta masyarakat yang berbudaya apakah harus memaksakan orang-orang di luar mereka (yang tidak ngeh dengan dunia perbukuan misalnya) untuk mengikuti gaya mereka ; rajin membaca, membedah film, kajian filsafat, diskusi musik, dll ?. Saya kira nggak harus begitu. Mereka yang memaksakan dan menyalahkan orang-orang yang belum suka dengan budaya berpengetahuan saya kira ter-mindset dengan cara orang-orang Barat mendorong literasi warganya. Mereka tidak sadar bahwa Indonesia ini beda budayanya dengan orang-orang sana, Saya 'haqqul yakin' jika Pemerintah menggelontorkan dana ratusan triliun untuk program mendorong rakyat Indonesia agar seneng membaca akan gagal begitu saja, karena satu hal "Gagal faham atas manusia Indonesia". 

Nah, maka langkah yang paling pas pertama adalah menyadari kenyataan bahwa budaya literasi di Indonesia belum kuat. Dari sini baru bisa bersikap bijak dan objektif, tidak menyalah-nyalahkan yang pada akhirnya antipati. Langkah selanjutnya yakin dan 'meyakinkan' bahwa budaya literasi adalah jembatan utama untuk membentuk peradaban yang kuat. Keyakinan ini mendorong sikap inklusif dengan orang-orang di luar kelompok mereka. Sederhananya nyampur dengan orang-orang kebanyakan. Saya kira jika orang-orang yang suka membaca bergaul, mereka yang belum suka akan membaca sedikit demi sedikit akan tertarik. Saya suka dengan paparan Nirwan Ahmad Arsuka suatu tempo bahwa sebenarnya banyak anak-anak Indonesia khususnya di daerah terpencil suka akan membaca. Hanya saja karena akses pada perpustakaan (buku) nggak ada trus masuk ke pendidikan formal yang tidak malah mendorong orang untuk suka buku melainkan malah menjauhi buku. 

Merajut Solusi

Paparan tiga paragraf tulisan saya di atas menunjukkan bahwa banyak para pegiat literasi berkutat pada persoalan bukan pada solusi pemecahan. Saya jarang mendengar optimisme misalkan melalui program nonton bareng, kita pengen orang-orang jadi menyenangi film kemudian bisa memproduksi film yang berkualitas suatu saat. Yang ada hanya keluhan bahwa peserta diskusi film yang sedikit dan keluhan yang lain. Komentar saya ini tidak lantas mendorong disudahinya program rutin ini, melainkan keberjalanan program perlu disertai dengan perbaikan. Saya kurang dari pegiat literasi ini kecintaan pada nilai-nilai yang dibawa. Kecintaan yang hakiki pada sesuatu seperti dunia literasi saya kira akan menular, istilahnya multiplier effect. Mereka kudunya secara kontinu mengkampanyekan solusi atas persoalan orang Indonesia yang umumnya illiterate. Saya faham sekali mereka berkumpul di suatu komunitas kecil, maka solusi yang dihadirkan haruslah memiliki semangat untuk mendorong komunitas tersebut berkembang, Sebagai contoh, komunitas diskusi film yang semula hanya terdiri dari 7 anggota, maka perlu difikirkan sedemikian hingga sehingga nggotanya bisa bertambah. 

Solusi lokal saya kira para pegiat literasi jauh lebih tahu. Solusi global untuk konteks Indonesia saya mengusulkan terbentuknya komersialisasi pengetahuan melalui terciptanya bisnis yang padat pengetahuan. 'Link and match' Perguruan Tinggi (PT) dengan industri perlu digalakkan kembali dengan semangat terciptanya startup industri. Hubungan PT dan Industri ini ditambah dengan dorongan aktif Pemerintah. Sinergi PT-Industri-Pemerintah ini diharapkan akan mampu ciptakan masyarakat berbasis pengetahuan yang ujung-ujungnya adalah peradaban. Saya kira ini tidak langkah ultimate melainkan langkah yang cukup tepat untuk masa saat ini. Saya melihatnya semakin kesini banyak orang-orang bekerja tidak pada core bidangnya, susah cari kerja, dan sebagainya. Dengan komersialisasi pengetahuan melalui penciptaan bisnis akan dapat memenuhi dua hal : finansial kebutuhan harian dan pengetahuan yang embedded di produk. Biarpun ini solusi praktis, namun untuk mewujudkannya tidak mudah. Setidaknya ada beberapa alasan : sistem pendidikan kita yang tidak mendorong kreativitas, terbatasnya industri di Indonesia, dan budaya konsumtif masyarakat. 

Pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan bersama-sama kita melihat diri kita sendiri apakah layak disebut telah memperjuangkan nilai tertentu. Apakah jangan-jangan selama ini kita egois dan tidak mau berbagi. 

Monday, March 20, 2017

Tanah dan Harga Diri

Muncul berita viral di media sosial bahwa generasi milinea tidak dapat sepenuhnya kredit rumah. Ini terjadi selain harga rumah yang semakin tidak terjangkau khususnya di kota besar, juga gaji generasi milinea yang bekerja di perusahaan tidak cukup untuk KPR rumah. Kondisi ini  setidaknya membuat generasi milinea ; 1) tetap KPR tapi ditomboki oleh orangtuanya, 2) sekalian tidak punya rumah nyewa saja, 3) nunggu projek dadakan bisi honornya dapat dipakai beli rumah, dan 4) spekulasi lainnya.

Mengapa rumah begitu penting? Jelas karena ini kebutuhan dasar untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan. Juga fungsi lain yang jelas sangat dibutuhkan oleh manusia yang hidup. Nah, pertanyaan terkait kepemilikan rumah seberapa penting, ini jelas ada mahzab macam-macam. Saya pakai mahzab yang nyatakan bahwa kepemilikan terhadap rumah menjadi parameter dasar orang itu ralatif 'sukses' dalam hidup di dunia. Kecenderungannya, orang-orang di Indonesia berjuang untuk itu. Sederhananya hidup enak lah. Nah, dalam kepemilikan rumah terlebih dahulu pastinya dengan kepemilikan tanah (kavling), kecuali jika langsung beli rumah jadi.

Berbicara tentang tanah, sangat memprihatinkan jika melihat orang-orang kota besar seperti Bandung yang banyak hidup di rumah-rumah kecil bergang sempit yang hanya dapat dilalui motor. Halaman rumah mana ada, tanah yang kecil sekali sepenuhnya dipakai bangunan rumah. Beda halnya di desa (seperti desa saya di Lamongan), disana lahannya luas-luasnya meskipun gaji per bulan tidak sampai UMR daerah. Kondisi ini memang tidak apple to apple jika dipandang dalam perspektif korelasi penghasilan dan kepemilikan lahan secara terdapat kompleksitas pengeluaran di kota yang cenderung lebih tinggi. Tapi ada satu kesamaan antara penduduk desa/kota yaitu sama-sama konsumtif.

Konsumtif ini artinya kecenderungan untuk berlebihan pada pembelian pada barang/benda yang nilai fungsionalnya tidak produktif misalnya membeli motor kawasaki ninja untuk terlihat keren dihadapan ceweknya. Artinya ini tak lagi masuk di domain kebutuhan dasar, namun sekunder bahkan tersier. Orang konsumtif ini lompat tidak memulai dari kebutuhan dasar dulu seperti kepemilikan lahan/rumah, melainkan langsung pengen ke hal sekunder/tersier guna eksistensi. Nah, di atas saya tulis "Tanah dan Harga Diri". Apa yang membuat kepemilikan akan tanah merupakan representasi dari harga diri seseorang ?. Tanah/rumah tak sekedar memuat bangunan untuk ditinggali melainkan mencakup memori historik selama kurun waktu tertentu hidup di dunia. Sebagai contoh, saat balita hingga dewasa tinggal di rumah yang sama. Pasti di sana akan muncul kenangan yang tak tergantikan dengan rumah lain. Maka atas dasar inilah banyak orang yang mempertahankan kepemilikan rumah agar tidak dibeli oleh pihak lain biarpun diiming-imingi dengan harga fantastis.

Nah bagaimana dengan lahan non-rumah? sama saja. Sebagai contoh si A punya lahan sekian ratus meter persegi dan sejarahnya Ia bertani di lahan tersebut. Maka di sana ada hubungan batin si A dengan tanahnya. Maka atas dasar ini, jika karena hal konsumtif orang menjual tanah/rumahnya berarti dia tidak punya harga diri. Menjual kepemilikan tanah/rumah dibolehkan jika dalam keadaan terpaksa seperti terlilit utang dan tidak bisa makan. Karena hal inilah saya sarankan pada pembaca sekalian berfikir untuk memiliki lahan/rumah, selain untuk tempat tinggal juga investasi. Berbicara investasi saya tidak setuju dengan memperbanyak kepemilikan rumah melainkan tanah produktif. Sebagai contoh punya uang nganggur sekian ratus juta, beli saja tanah beberapa hektar dan tanami. Hasilnya nanti bisa dijual sehingga menghasilkan. Kata dosen senior di Tekim, tanaman itu prinsip ekonomi Islam.

Jika kita punya lahan yang relatif luas, bisa kita manfaatkan untuk hal-hal produktif tak hanya tanaman pertanian misalkan perikanan, perkebunan, dan peternakan. Memang sih bagi sebagian orang kerjaan petani demikian ndeso, tapi tidaklah para pembaca sekalian tau bahwa negara-negara maju dan menuju maju investasi lahan-lahan demikian ?. Jangan naif saudara, lahan-lahan di bumi Indonesia jangan sampai dimiliki bukan oleh rakyat melainkan korporat asing, mari kita rebut. Cara merebutnya paling awal dengan mengubah paradigma berfikir kita tentang tanah dan menjadi pribadi yang produktif.

Sunday, March 05, 2017

Paper dan Kebegoan

"Aku hidup pengen mengalir aja seperti air" - anonim

Ada benernya ungkapan itu, intinya kalo aku tarfsirkan lebih kurang seperti ini : ngapain hidup dibuat susah, enjoy aja, lakukan kerjaan yang bikin diri senang. Anda mungkin pas baca tafsiranku itu nangkep bahwa hidup itu gak usah punya prinsip. "Salah !", kataku. "Kalo nggak punya prinsip, ngapain juga hidup ? Menuhi bumi aja", tambahku. Nah, prinsip ini macem-macem. Ada yang berpendapat bahwa prinsip itu agama, budaya, ajaran leluhur, dan lain-lain. Banyak sekali, bahkan "asal senang" juga merupakan prinsip. Namun, dari sekian prinsip itu sebagai besar orang-orang yang aku kenali di bumi Indonesia memakai agama sebagai prinsip. Ini menandakan bahwa agama ini cukup menjelaskan kompleksitas hidup yang bikin banyak orang bingung. Agama sebagai penyala kegelapan. Dosenku menggambarkan secara apik, bahwa manusia pada dasarnya masuk dalam gua yang gelap, di saja dia berjalan ke depan, belakang, samping kanan, samping kiri, ke atas, ke bawah. Intinya ke segala arah. Ia terus dan menerus bergerak dengan harapan mendapatkan penerangan. Orang yang gerak ini bisa jadi kejedug, ketabrak, dan lain-lain, dan bisa juga ketemu penerangan yang diharapkan. Sementara orang yang hanya diam dan pasrah, tidak kemana-kemana pertanda dia sudah tidak punya harapan. Orang jenis ini tidak punya keberanian untuk memilih jalan. Nggak menarik bahas orang jenis ini.

Kembali ke prinsip. Aku membatasi agama sebagai prinsip. Karena agama bukanlah hal material yang dapat dilihat, diraba, dan diterawang maka ia adalah sesuatu yang gaib. Ia adalah ajaran yang dibawa oleh seorang manusia yang hidup ribuan tahun lalu. Penganut prinsip agama berarti dia memahami siapa pembawa ajaran agama baru kemudian ajaran-ajarannya. Di sini orang mutlak bersepakat bahwa Muhammad ajalah pembawa ajaran Islam dan orang akan mendebatkan ajaran-ajaran agama yang dibawanya, apakah benar dari Nabi atau tidak. Ini yang membuat ajaran agama menjadi tidak mutlak. Namun, hanya orang bego yang ujug-ujug percaya A mutlak dari Nabi tanpa terlebih dahulu Ia membaca proses ajaran itu sampai jadi teks yang dapat diikuti. Saya tidak bilang orang yang ikut pemuka agama itu bego. Itu artinya memahami ajaran agama adalah suatu proses panjang dari belajar. Wajar aja pemahaman seorang tentang ajaran agama seseorang itu akan paripurna setelah Ia terus-menerus mempelajarinya : Ia tidak takut saat mempelajari kejedug masuk kelompok A, B, C, ..., Z atau tidak memilih masuk di kelompok tertentu asalkan Ia never-ending learning in the name of truth. Orang jenis ini tidak akan mudah mengkafir-kafirkan dan tidak juga ragu-ragu saat dia ibadah beda dengan orang lain.

Kok saya bicara agama ya ? biarin udah terlanjur. Kembali ke judul yang aku tulis "Paper dan Kebegoan". Aku mau ceritain pengalamanku selama beriteraksi dengan tesis dan paper. Keduanya merupakan karya ilmiah yang cara mengerjakannya dengan metode ilmiah yang baku. Kebakuan ini yang bagi sebagian orang adalah masalah termasuk aku. Intinya sebenarnya bagaimana hasil penelitian ilmiah merepresentasikan kebenaran, caranya harus diperoleh dengan rigid (rigorous), tidak ngasal. Ini menjadi persoalan bagi orang yang suka berfikir liar melalui opini-opini. Ini saya rasakan. Pas nulis tesis, aku jadi bego karena harus baca paper dulu untuk memvalidasi suatu pernyataan. Males bet pastinya. Padahal jika nulis opini bebas kayak tulisan ini, tinggal ngalir aja, sembari dengerin lagu simple plan juga bisa. Nulis tesis boro-boro, suasana tenang adalah prasyarat fokus jika nggak tesis tidak akan selesai-selesai seperti pengalamanku. Namun, pesan tulisan ini bukan aku ngajak untuk mem-ban paper dan teman-temannya, melainkan pengen tekankan bahwa kebenaran relatif itu hanya bisa diperoleh dengan perjuangan dan inilah akan punya kontribusi pada dunia. Orang bisa beropini sampe bertengkar tapi jika validitasnya nol, maka ini tak ada artinya bagi kehidupan. Anda pasti tahu mengapa dunia itu berubah drastis saat Einstein muncul dengan relativitasnya, menggantikan era Newton dengan kemutlakannya. Proses Einstein dan Newton jika ditelusuri gila memang, penuh dengan drama. Maka, sangat pantas dan suatu keharusan bahwa "Seorang Guru harus ditempatkan pada posisi tertinggi" melebihi siapapun. Kembali ke agama, jika seorang ustadz tidak sekaligus guru maka saya berpendapat boleh kiranya pendapatnya diabaikan tapi tetap berpegang pada sikap tidak merendahkan. 

Udah itu aja, akan disambung dengan coletehan lain yang semoga bisa menyejukkan ...