Sunday, December 16, 2018

BELITONG

Dua minggu lalu (30 November – 2 Desember 2018), pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pulau Belitong. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau “Laskar Pelangi” ini memiliki keindahan alam khususnya pantai yang eksotis. Kala itu saya berkesempatan ke sana dengan rombongan dari Direktorat Administrasi Umum ITB, tempat di mana saya bekerja sekarang. Berangkat kamis malam (29/11) dari Rektorat ITB menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Banten untuk mengejar pesawat Sriwijaya Air yang take-off jam 6 pagi.

Hari Pertama

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan, kami dijemput oleh sebuah bus yang dikomandoi oleh Mas Don dari Arisha Tour and Travel. Bus mengantarkan kami ke kota Tanjung Pandan untuk menikmati Mie Atep yang legendaris. Sulit bagi saya untuk menggambarkan rasa  makanan ini, pokoknya mantab ! Selanjutnya kami diarahkan menuju Danau Kaolin yang merupakan danau bentukan dari penambangan kaolin.  Di sana kami ambil foto dan selanjutnya menuju Belitong Timur, ke kampung laskar pelangi. Di sini kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong. Saya baru tahu ternyata sekolah aslinya sudah tidak ada.
Di depan Replika SD Laskar Pelangi

Di sini saya ambil cukup banyak foto dengan berbagai pose sembari mengingat-ingat cerita Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Saat masa mondok dulu, saya adalah penggemar berat Laskar Pelangi, tetraloginya saya koleksi dan selesai saya baca kala itu. Jadi berkunjung ke sini punya kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan selanjutnya adalah ke Rumah Keong Rotan, tepat di depan replika sekolah laskar pelangi ini. Tak lama di sini, kami disambut hujan. Kami pun lanjutkan perjalanan menuju museum kata Andrea Hirata. Sebelum ke sana kami break sholat jumat di masjid depan lokasi. 

Saya pun masuk lokasi museum dengan membayar 50 ribu dengan bonus sebuah buku tipis karangan Andrea Hirata. Dibantu dengan pemandu wisata, saya ambil banyak gambar di sini. Museum ini didesain inspiratif dengan mural, foto, dan karya seni lain yang “bercerita” terkait keharusan menggelorakan optimisme dalam hidup. Ada satu ruangan di bagian belakang dari suatu bangunan yang menyajikan tempat duduk di mana di sana kita dapat memesan kopi. Namun, di sana  saya membeli gantungan kunci untuk oleh-oleh. 

Di dalam Museum Kata Andrea Hirata
Ternyata hanya saya dan mas Tri yang masuk museum kata ini, rombongan lain menunggu di dalam bus. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke kediaman Ahok. Di sana selain ada rumah Ahok yang kini dihuni saudaranya, juga ada bangunan khusus yang menyediakan oleh-oleh dengan tema Ahok, namanya Rumah Batik Ahok. Di sana kami tidak lama. Kala hujan turun, kami coba menikmati pek-empek dan juga pisang goreng di warung tak jauh dari lokasi wisata ini. Ternyata pek-empek-nya berbeda dengan bahan dasar singkong. Disajikan secara hangat, mantab sekali. 

Ternyata kami belum makan siang, dibawalah kami ke rumah makan terkenal, Resto Seafood Sinar Laut, di pinggiran pantai. Mantab sekali masakannya terutama sayur asam dan ikan bakarnya. Selanjutnya kami menuju ke vihara Dewi Kwan Im dan pantai burung mandi. Di warung dekat pantai, saya menikmati es kelapa muda. Perjalanan berlanjut ke kota Tanjung Pandan untuk menuju hotel di mana kami tinggal. Sebelum sampai hotel, kami diarahkan ke rumah makan, Resto Belitung Tempo Dulu. Setibanya di hotel, kami istirahat sejenak. Saya sekamar dengan mas Tri dan Kang Jujun. Setelah beberes dan sholat, kami bertiga dengan Pak Sandi jalan-jalan untuk mencari kopi. Konon tidak lengkap rasanya ke Belitong tanpa berkunjung ke kedai kopi. Awalnya kami menyusuri pusat huburan di depan hotel, meskipun banyak kafe yang menyajikan kopi, kami kurang sreg. Kami pun kembali jalan ke arah pusat kota berbekal Google Map. Kami pun sampai di kedai kopi legendaris, Kong Tji. Kami pesan kopi susu dan mantab sekali rasanya. Saya pesan lagi satu gelas malam itu. Disambi dengan bebincang, tidak terasa sudah dua jam kami di sini. Tidak seperti saat berangkat, pulangnya kami naik Go-car.  

Hari Kedua

Belitong masih agak gelap, saya dan mas Tri ke pantai Tanjung Pendam. Saya mencoba mengelilingi kawasan pantai ini dengan jogging, sementara mas Tri mencari kerang laut. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan sarapan kemudian berkemas-kemas. Pagi itu di ruang tamu dekat lobby hotel, Bu Dyah dan keluarga baru datang dan segera setelah itu bergabung bersama kami. Hari ini seharian kami akan menyusuri pantai-pantai di pulau Belitong dari dermaga pantai Tanjung Kelayang. Kami menumpangi sebuah perahu yang mampu memuat 20 orang lebih.

Seingat saya ada tiga pantai yang dikunjungi. Pertama, pantai lengkuas. Setibanya di sana setelah menembus ombak besar laut lepas. Pantai ini identik dengan mercusuar yang kala itu tidak bisa dinaiki. Juga batu-batu besar yang bagus untuk menjadi objek foto. Setiba di pulau ini, kami disambut hujan namun untungnya tidak lama dan deras. Di pulau ini dilakukan outbound oleh pemandu wisata. Setelah itu baru kami diarahkan ke laut kembali untuk snorkeling. Mata minus menjadi kendala bagi saya untuk melihat dasar pantai yang indah dengan terumbu karang.

Berlatar Mercusuar di Pulau Lengkuas
Objek selanjutnya adalah pulau Kepayang. Di sana kami makan siang. Saya sempat sholat di mushola resto dan juga ambil foto di sekitar pantai. Perjalanan selanjutnya adalah pulau Kelayang. Seperti halnya di pulau Lengkuas, saya mencoba belajar berenang di pantainya yang sangat jernih. Di pantai ini juga sempat diambil video dengan drone. Objek pantai habis, kami diarahkan kembali ke Tanjung Kelayang. Kami berbilas dengan air bersih dan juga ganti baju, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi. Sebelum ke sana ambil foto dulu di depan dermaga Pantai Tanjung Kelayang.

Di Pantau Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi
Pantai tanjung tinggi ini pemandangannya bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari pada pantai-pantai yang dikunjungi sebelumnya. Pemandangan batu besarnya sungguh sangat elok, ditambah dengan pantainya yang jernih. Sampai di pantai ini sudah sore menuju maghrib. Tidak bisa lama kami menikmati pantai ini karena harus segera menuju bus. Kami diarahkan menuju pusat oleh-oleh dan souvenir khas Belitong dan setelah itu kami makan malam di Resto Dapur Belitung. Lokasi dua tempat ini di kota jadi tidak jauh dari hotel. Sesampainya di hotel, kembali kami bebersih baru kemudian keluar untuk menyeduh kopi Kong Tji. Kali ini ada dua personel tambahan, Mbak Iyan dan Anisa. Perjalanan PP ke sana dengan Go-car dan Grab-car. 

Hari Ketiga

Pagi itu kami harus check-out. Keluar dari kamar, kami sudah siap untuk menuju bandara. Namun sebelumnya, kami sarapan dulu. Kami sempat ambil gambar depan hotel sebagai bukti rombongan kami telah menunaikan tugas di pulau ini. Kami berpamitan dengan Bu Dyah dan suaminya, sementara dua anaknya sedang bersepeda keliling kota. Jarak hotel ke bandara sekitar setengah jam, setelah tiba kami berpamitan dengan mas Don dan tim yang mengantarkan kami. Dengan Batik Air, kami take-off menuju bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 8.45 pagi.  

Tuesday, December 11, 2018

Bagaimana Memajukan Iptek Indonesia


Sudah rahasia umum iptek kita masih belum maju. Upaya untuk jadikan iptek kita unggul sudah dilakukan sejak Indonesia resmi menjadi Republik meskipun terlihat lebih gencar di zaman Orde Baru ketika BJ. Habibie menjabat sebagai Menristek RI. Orde baru jatuh pada 1998, diikuti dengan kejatuhan iptek nasional. Setelah itu pengembangan iptek dilakukan namun tidak sesistematis Orde Baru dan dengan reduksi-reduksi seperti dorongan untuk publikasi di jurnal internasional terindeks. Ditambah lagi dengan sikap responsif Pemerintah dalam upaya turut serta menjawab dunia yang tengah berubah. Terlihat dari kampanye serba 4.0 tanpa adanya upaya sistematis bagaimana kita ke sana.

Sialnya ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh tanpa penguasaan iptek. Iptek pun menjadi barang mewah di Indonesia, seperti halnya belum lama ini ada salah satu kampus nasional yang berhasil membuat prototipe motor listrik, publik heboh. Padahal jika kita mau "search", Elon Musk dengan Tesla-nya sudah dapat menjual mobil listrik sporty-nya ke berbagai negara dunia. China juga melakukan hal serupa, juga produsen mobil konvensional lain juga sedang berlomba-lomba kembangkan mobil listrik. Ini memperlihatkan bahwa motor listrik bukan barang baru, ada hal yang esensial di mesin listrik ini yaitu baterai. Lantas riset terkait baterai di Indonesia seberapa masif ? Jika motor listrik nantinya diproduksi massal, apakah sudah siap R&D-nya sehingga produknya nanti bisa kompetitif ?.

Mulai dari Mana

Kita seolah gegabah ketika bicara iptek. Sekarang heboh industri 4.0, nanti lagi bisa ganti. Kita tidak pernah berkaca bahwa kita pernah berhasil kembangkan teknologi tertentu di masa lampau. Selain BJ. Habibie, kita punya teknolog lain seperti Samaun Samadikun, Iskandar Alisjahbana, dll, tapi tidak pernah sedikitpun kita tahu peninggalan mereka di bidang teknologi apa. Tahunya Samaun adalah ketua LIPI dan Iskandar adalah Rektor ITB, tidak yang lain. Padahal jika kita bisa mengeksplorasi teknologi yang dikembangkan mereka, kita bisa mulai tidak dari nol sama sekali. Konkretnya jika bicara industri 4.0, Pemerintah harus bisa mapping periset-periset ML, IoT, dsb yang menjadi landasannya. Tanpa itu, mustahil kita bisa berperan lebih di industri 4.0. Kita tak lebih hanya sekedar konsumen para kooporasi besar dunia.

Lantas bagaimana jika kita belum punya SDM mumpuni di bidang-bidang di atas ? Kita bisa tidak bermain di riset basic, namun ke riset terapan. Tapi tetap ini dengan mapping para pelaku nasional. Mapping ini tidak dengan mengundang sekenanya unsur akademik dan perusahaan lantas berdiskusi tentang regulasi apa yang cocok. Tidak sekedar itu ! Regulasi hanya satu unsur, ada unsur lain. Saran saya, perlu kita perhatikan supply chain global. Shenzen bisa jadi kota metropolitan hanya dalam waktu 40 tahun (Silicon Valley China) karena sangat faham dengan supply chain global. Rantai distribusi dibangun betul di sini. Artinya tidak ada kemajuan tanpa perencanaan yang matang dari A-Z.

Kualitas hidup orang Indonesia sekarang memang naik jika dibandingkan dengan periode awal Indonesia merdeka, tapi apalah artinya kita bisa "makan enak" tapi kita tidak punya daya apapun atas diri kita. Iptek sejatinya adalah mengisi lubang yang kosong dari sisi ketidakberdayaan itu menjadi keberdayaan. Dengan begitu, kata merdeka menjadi hakiki.

Friday, December 07, 2018

Selamat Milad 1 Abad Madrasah Mu'allimin

Pekan ini adalah minggu peringatan milad 1 abad Madrasah Mu'allimin-Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, setelah kemarin (6/12) dihadiri Presiden Jokowi dilanjutkan dengan agenda lain sampai akhir pekan ini. Saya yang tidak bisa secara langsung datang ke Jogja, hanya bisa melihat dari berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram. Saya merasa bangga bahwa madrasah di mana saya pernah sekolah selama 6 tahun, peringatan miladnya sebegitu meriah. Dari jarak jauh, saya melihat optimisme untuk Mu'allimin ke depan untuk menjadi madrasah yang unggul di banyak hal khususnya kepemimpinan (leadership).

Gedung Mu'allimin Lama (sumber : Fanpage Mu'allimin)
Teringat pada 2006 silam saya dihadapkan pada realita untuk tetap bersekolah di Mu'allimin atau keluar. Kala itu saya mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) relatif tinggi dan masuk 10 besar di Mu'allimin di mana sebagian besar memilih untuk pindah ke beberapa SMAN favorit seperti halnya SMA Teladan Yogyakarta. Saya ikut apa kata Bapak. Bapak meminta saya untuk tetap sekolah di Mu'allimin dan berlajutlah saya mondok di sini dengan segala konsekuensinya. Kala itu gedung utama madrasah sedang dibangun pasca gempa 5.9 SR melanda Jogja pada Mei 2006, akibatnya ruang kelas harus berpindah-pindah. Kala itu atmosfer belajar sangat rendah, hampir setiap hari saya tidak pernah absen dari tidur di kelas. Bahkan sampai ada satu pelajaran di mana hampir semua siswa tidur di kelas, tinggal 1-3 orang yang tetap memperhatikan.

Kelas 4-5 (1-2 Aliyah/SMA) keseluruhan waktu habis untuk aktivitas non-akademik. Akademik hanya terfikirkan saat ujian akhir semester. Sebagian besar siswa termasuk saya menghabiskan waktu untuk organisasi. Kala itu saya aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) dengan menjadi staff Departemen Bahasa pada kelas 4 dan koordinator departemen yang sama pada kelas 5. Kegiatan non-organisasi yang pernah saya ikuti diantaranya tim debat bahasa Inggris dan tim olimpiade sains, namun saya tidak pernah sekalipun dapat juara. Saya lebih totalitas di organisasi dari yang lain. Apalagi saat menjadi Badan Pimpinan Harian (BPH) dengan menjadi koordinator departemen, saya mengetuai dua event besar ; Usbu'ul Lughoh (pekan bahasa se-Mu'allimin), dan Galaction (lomba bahasa se-DIY). Di samping itu ada event baru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu Mu'allimin Language Master (MLM). Pengalaman ini kemungkinan kecil saya dapatkan jika memilih pindah ke sekolah lain.

Gedung Mu'allimin Baru (sumber : fanpage Mu'allimin)
Euforia organisasi berakhir saat kelas 6 (3 Aliyah/SMA). Saya harus fokus akademik untuk mendapatkan peluang kecil masuk di PTN ternama nasional. Kala itu nilai UN tidak berpengaruh masuk-tidaknya siswa ke PTN. Kelulusan UN hanya sebatas tiket masuk. Karena nilai rapor saya tidak bagus-bagus amat, jalur satu-satunya yang bisa saya masuki adalah jalur Ujian Mandiri (UM) dan jalur seleksi nasional (SNMPTN). Karena jalur ini peminatnya luar biasa besar saya harus mati-matian belajar. Di samping bimbel di madrasah, saya ikut juga bimbel di luar sekolah. Hampir setiap sore saya ke bimbel. Tiba saatnya ujian seleksi masuk PTN, saya gagal di SIMAK UI, UM UGM, dan USM ITB. Tiba saatnya satu ujian pamungkas, SNMPTN. Jika saya gagal, saya tidak akan kuliah tahun tersebut dan menunggu sampai tahun depannya. Takdir berkata lain, alhamdulillah saya diterima di ITB. Saya pun menjadi lulusan Mu'allimin ketiga yang diterima di ITB.

Pesan Kyai Dahlan

Saya teringat betul pesan Buya Syafi'i Ma'arif yang dipampang di baligo besar depan madrasah menjelang kelulusan kami dulu, "Kader Bangsa, Ummat, dan Persyarikatan" sebagai tagline lulusan Mu'allimin. Pesan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa lulusan Mu'allimin dapat memilih ladang amal untuk berjuang di level manapun, tidak terbatas di organisasi Muhammadiyah. Biarpun demikian di manapun kita berada, kita akan tetap memikirkan masa depan Muhammadiyah dalam bentuk sekecil apapun. Saat ini mungkin kita belum bisa meyumbangkan sesuatu ke Muhammadiyah, mungkin di beberapa waktu ke depan. Mau tidak mau, lulusan Mu'allimin adalah kader Muhammadiyah, bukan ormas lain.

Pesan Buya senada dengan pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga pendiri Mu'allimin :

"Muhammadiyah hari ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah Guru, kembalilah pada Muhammadiyah. Jadilah mester, insinyur, dan lain-lainnya dan kembalilah pada Muhammadiyah".

Selamat Milad 1 Abad (1918-2018) Madrasah Mu'allimin-Mu'allimat Muhammadiyah Yogyakarta !

Friday, November 23, 2018

Road Map Penelitian


Saat ini saya kerjakan topik penelitian yang sesuai bidang saya, inovasi dan entrepreneurship. Saya mengerjakan riset bersama salah seorang dosen di Management of Technology Labolatory (MoT Lab) SBM ITB. Output riset ini adalah jurnal yang siap untuk dipublikasi. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama saya menulis paper dengan intensitas diskusi yang padat. Karena pengalaman pertama pastinya berat, apalagi langsung dengan bahasa Inggris. Niatnya saat ini saya melengkapi drafting paper terkait ini, namun kurang begitu semangat. Saya teringat untuk menuliskan road map penelitian untuk setidaknya membuat saya semangat dan terarah. Saya mengambil topik penelitian terkait ini selain suka juga punya orientasi. Saya akan ceritakan.

Model Inovasi khas Indonesia

Sudah lebih dari 9 tahun saya hidup di ITB dengan interaksi dengan berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, dosen, sampai tendik. Dari sana saya kemudian berfikir, ITB yang sudah hampir berusia 100 tahun (jika dihitung sejak TH Bandung) mengapa tidak memiliki kontribusi signifikan dalam proses pengembangan iptek di Indonesia ?. Ini pastinya ada sesuatu yang salah, entah di bagian mananya saya belum bisa memastikan. Padahal jika diperhatikan lebih dalam, ITB telah hasilkan aneka macam teknologi melalui civitas, lab, dan pusat-pusat yang jumlahnya amat banyak.

Saya mencoba menjawab kegelisahan saya tersebut dengan mengambil topik riset terkait inovasi dan entrepreneurship. Saya ingin memberikan pandangan yang berbeda terkait bagaimana kita bisa kembangkan iptek. Saya tidak percaya dengan kita adopsi cara-cara negara Barat secara mentah-mentah lantas iptek kita bisa maju. Kita butuh formulasi khas kita sendiri. Pendekatan yang saya pilih pun dari para pelaku yang berupa studi kasus. Jadi saya melakukan abstraksi dari berbagai contoh kasus, tidak sekedar comot teori.

Dalam skup yang lebih kecil, katakan ITB.  Hasil penelitian saya nantinya berkontribusi pada model inovasi ITB yang tentunya menguntungkan keluarga besar ITB, baik dosen maupun tendik. Memang hasil riset belum tentu memiliki korelasi positif pada tataran aplikatif pada dunia riil. Namun bagi saya itu adalah langkah lanjutan setelah kita menemukan hasil riset. Tulisan di jurnal reputatif, buku, dan artikel ilmiah adalah sarana untuk mengungkapkan gagasan ilmiah kita, namun itu tidak cukup. Kita perlu perjuangan politik meskipun kita tidak tergabung dalam partai politik.

Upgrade Kualitas

Saya baru menulis satu buku, namun belum untuk jurnal reputatif. Tulisan di media cetak ternama terkait topik penelitian juga belum. Saya saat ini masih di level ini, untuk upgrade kualitas. Saya masih harus mengasah diri untuk dapat melakukan riset dengan baik seperti standar lulusan PhD dari kampus ternama dunia. Saya juga masih harus terus spending waktu untuk mendalami bidang riset saya ini, sehingga saya bisa secara paripurna terkait inovasi dan entrepreneurship. Mungkin saya butuh waktu sekitar 10 tahun lagi untuk mendapatkan keahlian seperti itu. Jika saat ini saya berusia 27 tahun, maka di usia 37 tahun lah saya mungkin baru bisa dipanggil sebagai ahli atau expert. Semoga Allah SWT, Tuhan yang Mahaesa, memberikan saya kesehatan dan semangat untuk mewujudkan itu semua. Amiin

Saturday, November 17, 2018

Satu tahap lagi "Informatif"

PPID ITB (WRAAK) menerima penghargaan dari Komisi Informasi

Tidak terasa ternyata saya sudah lebih dari 1.5 tahun bekerja untuk PPID ITB. Awalnya saya tidak merencanakan untuk bekerja di sana selama ini. Awalnya saya pengen fokus riset untuk persiapan S3 saya, namun ternyata realitanya secara paralel saya lakukan, bekerja untuk PPID dan juga meriset di SBM. Di tahun pertama saya berasa berat soalnya di kedua pekerjaan tersebut saya adalah orang intinya. Tapi di tahun kedua, saya merasa biasa saja. Dua hal ini bisa saya lakukan dengan optimal. Target responden untuk 2 riset terpenuhi dengan masing-masing sekitar 130an dosen. Di tulisan ini saya tidak akan berbicara terkait pengalaman riset, saya akan menceritakan pengalaman saya di PPID.

Merencanakan Rencana

PPID adalah barang baru buat saya, namun tidak baru-baru amat karena pas S2 saya pernah ikut kelas Sekolah Politik Anggaran (Sepola) di FE Unpad. Salah satu misi dari sekolah ini adalah agar kami-kami kritis akan informasi publik yang seharusnya disediakan oleh badan publik. Pernah suatu ketika kita diminta untuk meminta data ke Pemkot Bandung, panjang juga prosesnya. Jika kita (pemohon) tidak bersabar pasti data tidak akan pernah kita dapatkan. Ok, I think this class will only become knowledge for me. Tak lama setelah mengikuti kelas, saya diminta salah satu direktur di Rektorat untuk kerjakan buku laporan. Sebulan setelah saya lulus S2, saya diminta kembali menangani PPID.

Dulu saya didorong untuk kritis pada badan publik di mana PPID yang paling bertanggung jawab di sana, namun sekarang saya harus menangani PPID itu sendiri supaya badan publik tersebut menjadi transparan khususnya terkait informasinya. Saya pun menyusun rencana, memlototi parameter informatif versi Komisi Informasi, studi banding ke UI dan Unpad, dan pada akhirnya mengisi Self Assesment Questionnaire (SAQ) dari Komisi Informasi. Di tahap-tahap awal ini saya dibantu oleh dua mahasiswa.

Banyak hal yang kami buat di tahap awal ini termasuk website dan pengumpulan sejumlah data. Proses penilaian dari Komisi Informasi pun kami jalani, semua menurut kami lengkap. Bahkan untuk persiapan visitasi, ruangan Information Centre kami pugar agar mencerminkan sebagai penyedia layanan informasi terstandar. Hasilnya sangat tidak terduga, kami percaya diri ITB dapat masuk tiga besar dalam pemeringkatan nasional oleh Komisi Informasi, namun ternyata menurun satu peringkat dari tahun sebelumnya biarpun secara poin naik. Saat itu (2017), ITB menduduki peringkat 9 dengan katagori "kurang informatif".

Belajar dari Pengalaman

Tak lama setelah pemeringkatan, kita coba kirimkan surat ke Komisi Informasi untuk memperlihatkan detail  penilaian. Namun sayang data yang diberikan tidak cukup memberikan penjelasan dari mana kami harus berbenah. Akhirnya kami utak-atik sendiri. Tahap awal yang dilakukan yaitu mengadakan uji konsekuensi untuk penentuan Daftar Informasi Publik dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIP-DIK) yang melibatkan lebih dari 30 perwakilan unit dan fakultas di ITB. Setelah enam kali rapat berantai, dokumen itu disahkan oleh PPID (WRAAK) beberapa hari sebelum deadline pengumpulan SAQ tahun 2018. Kriteria penilaian di tahun ini ternyata berbeda dengan tahun lalu di mana kami harus membuat media sosial dan juga aplikasi mobile. Website juga diperhatikan betul dan tidak ada visit di mana diganti dengan presentasi di Jakarta. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini jelas jauh lebih ribet dan ketat.

Saya meminta pimpinan untuk merekrut orang arsip, alhamdulillah dikabulkan. Ada lima aplikan dan semuanya dari UGM. Dari lima orang itu diambil satu. Di samping itu saya ingin libatkan mahasiswa untuk tergabung dengan tim PPID. Ada sekitar 22 pendaftar di mana hanya 10 orang yang diambil. Seleksi didasarkan pada portofolio dan wawancara. Kesepuluh mahasiswa tersebut diminta untuk mengerjakan pekerjaan spesifik seperti halnya penulisan konten, videografis, infografis, web development, dan app development. Sebagian pekerjaan mahasiswa magang tersebut tidak terkait langsung dengan PPID seperti pengembangan portal satu layanan dan portal LLH, namun itu semua  pendukung PPID.

Saya selalu berfikir "from the whole to the part" mengutip ungkapan Pak Widyo di kelas. Saya selalu berfikir apa yang kita kerjaan ini memberikan benefit apa buat ITB. Saya tidak mau kita kerja keras kerjakan ternyata tidak memberikan manfaat yang berarti bagi institusi. Memang pada akhirnya ketika kita mengerjakan big thing-nya, pekerjaan kita tidak simpel lagi, bahkan sangat kompleks. Bagaimana tidak saya harus meyakinkan beberapa pimpinan di atas saya terkait rencana kami ini. Belum lagi ditambah dengan koordinasi dengan unit lain dan juga sisfo fakultas. Persetujuan pimpinan pun tidak cukup, kita butuh berkali-kali berkomunikasi dengan mereka untuk mem-follow up . Namun itulah seninya, kerja akan tidak menarik kalo tidak ada tantangan.

Senin, 5 November 2018, adalah hari penentuan untuk kerja keras kami selama beberapa bulan terakhir. Beberapa minggu sebelumnya saya mendampingi pimpinan untuk presentasi di depan penilai dari Komisi Informasi di Jakarta terkait proses assesment ini. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan, ITB menempati katagori "menuju informatif" satu kluster dengan kampus langganan tiga besar seperti UI dan UB. Hanya satu kampus yaitu IPB yang menempati katagori "informatif". Hasil ini menjadi bukti bahwa apa yang kita kerjakan on the right track. Tinggal langkah selanjutnya, yaitu bagaimana ITB menjadi kampus informatif. Berita terkait capaian ini dimuat di web official ITB [1].

"Informatif"

Tidak sesederhana kita memlototi kriteria dari Komisi Informasi lalu kita akan mendapatkan predikat "informatif" karena sangat mungkin itu dikerjakan perguruan tinggi lain. Yang lebih penting lagi, apa untungnya kita mendapat predikat tersebut namun civitas akademika ITB tidak mendapatkan manfaat dari predikat tersebut ? Maka yang selalu kami fikirkan adalah apa yang kita kembangkan haruslah memberikan benefit bagi internal ITB. Terkait "informatif" ini, setidaknya ada empat parameter yang setiap tahun menilai. Dalam lingkup internasional, webometrics akan selalu menilai kita, sementara di lingkup nasional selain Komisi Informasi, ada dua lagi lembaga yaitu Kemenristekdikti dan Kominfo. Lagi-lagi saya harus berfikir keras bagaimana memahami setiap parameter dari semuanya. Terkait hal ini kami sudah memulai di pertemuan dengan sisfo se-ITB kamis lalu (15/11), tinggal bagaimana follow up selanjutnya.

Secara pribadi, saya sangat yakin ide-ide yang kami rencanakan akan terlaksana di masa depan. Keyakinan tersebut yang membuat kami akan selalu bersemangat. Semoga di tahun 2019 nanti, ITB mendapatkan predikat "informatif" dengan berbagai inovasi penyajian data dan informasi di dalamnya.




[1] https://www.itb.ac.id/news/read/56874/home/itb-raih-penghargaan-keterbukaan-informasi-publik-sebagai-ptn-menuju-informatif


Sunday, October 07, 2018

Buku Perdana

Lebih dari setahun saya ngerjain buku ini, tepatnya sejak Mei 2017 dan baru kelar cetak perdana 21 September 2018. Artinya 1 tahun 4 bulan. Lama pisan ! Bukan perkara memakai data-data di tesis magister trus menyajikannya dalam bahasa populer, namun saya harus ambil data lagi. Soalnya di tesis data yang saya ambil terbatas pada 2000-2003 dan untuk buku sampai 2018. Maka di sini saya harus bolak-balik ke hangar UAVINDO Nusantara, perusahaan yang saya riset untuk wawancara dengan direktur perusahaan, karyawan, dan engineer-nya. Juga pastinya ambil gambar. Belum lagi ditambah saya harus wawancara Pak Djoko, pendiri perusahaan, berkali-kali di kantornya di jurusan Aeronotika Astronotika ITB.

Dikatakan berat, berat banget pastinya soalnya ini adalah pengalaman perdana. Tapi semua itu terbayarkan setelah buku tercetak. Jerih payah selama ini terbayar lunas. Awalnya memang rencananya pembuatan buku ini hanya satu semester, akhir 2017 selesai dan di awal 2018 launching. Namun realitanya ternyata sulit. Pengerjaan buku ini di sisa waktu yang saya punya. Karena siang sebagaian besar waktu saya untuk meneliti dan kerja lain yang formal, biasanya saya kerjakan buku ini sore hari sampai malam di kedai kopi langganan saya. Selain waktu, saya harus spending uang yang cukup besar untuk proses penulisan buku ini.

Konten Buku

Buku ini menceritakan proses bertahan (survival) perusahaan UAV/drone yang didirikan oleh dosen Teknik Penerbangan, Pak Djoko Sardjadi. Nah, untuk menggambarkannya saya bagi dalam empat bab. Bab pertama bercerita tentang perusahaan startup teknologi itu apa sih. Di sini saya coba angkat definisi-definisi dari berbagai pegiat startup baik dari buku atau artikel yang mereka tulis. Bab kedua saya coba menceritakan tentang sejarah UAV di dunia termasuk di dalamnya saya singgung tentang pemanfaatannya di sipil/militer. Bab ketiga saya baru menceritakan terkait inti buku ini yakni cerita proses UAVINDO Nusantara, perusahaan yang saya angkat di buku ini, bertahan selama 18 tahun sebagai perusahaan teknologi. Bab keempat, terakhir, saya coba angkat lesson-learned dari apa yang terjadi pada UAVINDO. Ada dua titik tekannya, pertama  pelajaran bagi startup dan kedua pelajaran inovasi.


Pada awal penyusunan saya dipusingkan dengan alur buku ini. Karena bingung, saya seringkali ganti. Sampai pada akhirnya ketemu formula yang pas. Tidak dengan itu otomatis saya mudah menuliskannya karena banyak bahan-bahan tulisan baru yang harus saya baca, highlight, dan menuliskannya dalam draft. Sampai akhirnya draft jadi, saya kemudian sampaikan ke Pak Sonny dan Pak Djoko untuk diberikan masukan. Inipun beberapa kali saya menemui beliau-beliau. Sampai judul pun saya berkonsultasi dengan mereka berdua, pada akhirnya kemudian disetujui "STARTUP TEKNOLOGI : Lintasan yang Harus Ditempuh, Menarik Pelajaran dari PT UAVINDO Nusantara". Saya suka dengan judul ini.

Finishing

Jika proses pengerjaan konten pusingnya setengah mati, belum lagi ditambah dengan proses pengerjaan tata letak buku. Saya kerjakan buku dengan MS Word, lalu setelah draft saya rasa cukup saya pdf-kan. Selanjutnya saya bagikan ke beberapa tokoh untuk diberi testimoni dan kata pengantar. Untuk testimoni saya dapatkan dari orang-orang yang saya kenal seperti halnya Kang Gibran dari eFishery, Pak Wawan dari SBM, dan Ghozali EL09. Tambahan, saya meminta ketua unit robotika untuk memberikan testimoni juga. Saya sebenarnya meminta kata pengantar dari seorang pegiat industri kreatif, awalnya beliau menyetujui untuk memberi kata pengantar, setelah saya follow-up terus selama sebulan lebih, belia tak juga mengirimkan kata pengantar. Walhasil, buku saya terbit tanpa kata pengantar.

Proses layouting juga pusing sekali. Saya meminta kenalan yang dulu pernah kerja bareng di proses pengerjaan buku sebelumnya. Saya meminta dia layout trus ada yang keliru, saya betulkan dan begitu terus dan ini memakan waktu tiga bulanan bahkan mungkin lebih. Saya bahkan sudah tak terhitung bertemu dia sudah berapa kali. Ternyata teknologi Whatsapp dan Snipping Tool tidak cukup membantu, terpaksa manual datang langsung harus dipilih. Setelah pemberian nomor halaman rampung, saya baru berikan draft buku versi pdf ke penerbit ITB Press. Tak lama setelah cetak dummy, buku dicetak terbatas sejumlah 70 eksemplar.

Saturday, August 18, 2018

FISH : Perkuat Keilmuan Baru Buka Prodi

Gedung Studi Pembangunan ITB

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi hadirnya ilmu sosial di ITB. Pada 1993 silam berdiri Magister Studi Pembangunan ITB yang salah satu tujuannya adalah mengkaji pembangunan tidak semata ekonomik namun penegasan posisi iptek dalam pembangunan. Hadirnya jurusan ini membuat nuansa ITB tidak melulu membahas aspek teknik, namun ITB dapat menelaah aspek politik yang tengah berkembang. Pendiri jurusan ini yang saya tahu adalah para "pewarna" ITB yakni dosen-dosen yang sering mengkampanyekan urgensi iptek dalam berbagai forum. Satu orang yang saya tahu adalah Prof. Saswinadi Sasmojo (Pak Sas).

Era reformasi membuka peluang bagi ITB untuk lebih berani membuka pakem keilmuan baru di bidang sosial dengan hadirnya Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM). Fakultas ini didirikan pada 2003 dengan salah satu tokohnya adalah senior jurusan Teknik Industri, Prof. Kuntoro Mangkusubroto (Pak Kuntoro). Lahirnya fakultas ini sejalan dengan visi Rektor ITB saat itu, Dr. Kusmayanto Kadiman (Pak KK) yang mengadopsi prinsip entrepreneurship dalam memimpin ITB. Fakultas ini kemudian berkembang cukup pesat dan menjadi favorit baru baru lulusan SMA jurusan IPS di seluruh Indonesia.

Belajar dari Dua Pengalaman

Sebelum jurusan Studi Pembangunan lahir, terlebih dahulu ITB memiliki Pusat Penelitian Teknologi (PPT) pada 1973 yang salah satu fokusnya adalah memkampanyekan teknologi tepat guna pada masyarakat (lebih lanjut bisa baca tulisan lama saya). Artinya telah ada semangat dari segenap civitas akademika ITB lintas jurusan untuk menggapai kebermanfaatan dengan masyarakat melalui teknologi. Lahirnya jurusan ini sebagai langkah pemformalan ide yang sudah ada akan dapat terus dikembangkan.

Lahirnya SBM saya kira tak berbeda jauh dengan jurusan tersebut. Namun bedanya para tokoh SBM di awal-awal didominasi oleh para senior dari Teknik Industri sehingga nuansanya tidak cukup merepresentasikan ITB secara keseluruhan. Biarpun demikian, cikal bakalnya landasan fakultas ini diantaranya adalah visi Rektor ITB saat itu. Biarpun terdapat perbedaan signifikan dalam segi aktor : jurusan studi pembangunan cenderung grass-root dan SBM top-down namun kedua jurusan/fakultas ini lahir dari urgensi yang menjadi kebutuhan ITB saat itu.

FISH : Langkah Awal Seperti Apa ?

Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISH) beberapa tahun terakhir menjadi pembahasan yang cukup intens di kalangan ITB bahkan masyarakat umum. Saya pernah mendapatkan cerita terkait pembahasan fakultas ini di Senat yang cukup alot. Biarpun sudah beberapa tahun dibahas, namun fakultas ini masih belum juga didirikan. Saya belum tahu persis apa yang menjadi alasan belum disepakatinya pendirian fakultas ini.

Berkaca dari jurusan Studi Pembangunan dan SBM, ada dua hal yang perlu dilakukan : 1) akar  keilmuan harus kuat, dan 2) dukungan top executive ITB dengan jejaring yang lengkap. Untuk kasus FISH saya kira langkah kedua memiliki korelasi kuat dengan langkah pertama. SBM bisa melakukan langkah kedua karena potensi uang jurusan ini besar dan sesuai dengan market Indonesia. Banyak orang yang tertarik dengan manajemen yang menjadi core keilmuan jurusan ini. Sedangkan FISH, potensi uangnya saya kira tidak sebanding dengan SBM. Satu-satunya yang dapat dijual adalah keilmuannya itu sendiri di mana dapat menjadi alternatif bagi pembelajar ilmu sosial seperti ekonomi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

Maka, menurut hemat saya pembahasan FISH di-suspend dulu, cukup dibahas saja jurusan baru seperti Ekonomi Pembangunan untuk S1 dan jika memungkinkan S3 untuk Studi Pembangunan. Kedua jurusan ini sudah ada akarnya yaitu Studi Pembangunan yang telah berdiri lebih dari 20 tahun. Jauh lebih penting lagi, perlunya dibuat knowledge milieu di bidang keilmuan sosial seperti kuliah umum, diskusi intens, jurnal ilmiah terakreditasi, dan sebagainya yang menjangkau seluruh civitas akademika ITB sehingga nantinya akan didapatkan cirikhas keilmuan sosial yang akan dikembangkan ITB. Jika yang dipikirkan sekedar berdirinya fakultas, saya tidak yakin keilmuan sosial akan terwarnai dengan hadirnya fakultas baru ini.

Tuesday, July 31, 2018

Ke Balikpapan Pertama Kali

Maskapai Lion membawa saya dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Bandara Balikpapan, Sultan Aji Muhammad Sulaiman (10/7). Kala itu take-off dari Bandung jam 9.30 WIB dan sampai di Balikpapan sekitar jam 12.30 WITA. Saya yang berangkat bersama atasan setibanya di Bandara langsung menuju ke hotel tempat dilangsungkannya acara. Nama hotel di mana saya tinggal adalah Swiss-Belhotel di pusat kota Balikpapan. Setelah makan siang dan registrasi, saya sempatkan untuk mandi dan sholat lalu baru masuk ke ruangan acara di sebuah ballroom untuk mengikuti pembukaan.

Ini adalah acara workshop dari Kemenristekdikti untuk reformasi birokrasi. Hari pertama kami hanya mendengarkan paparan dari pihak Kemenristekdikti. Besoknya dari Kemenpan-RB dengan disertai dengan pengenalan aplikasi yang harus kami isi sekembaliknya di Bandung. Sebagaimana jadwal, acara berlangsung selama tiga hari sampai kamis (12/7), namun dipadatkan sampai Rabu sore (11/7). Saya pun memanfaatkan waktu kosong ini untuk eksplorasi kota Balikpapan.

Pantai Melawai

Dengan Go-Jek saya manfaatkan rabu sore dengan menelusuri Pantai Melawai. Lokasinya sekitar tiga kilometer dari hotel. Di sekitaran pantai didapati banyak pedagang, saat malam lebih ramai lagi. Saya coba singgah di satu pedagang dan memesan kelapa muda seharga 15 ribu. Sore yang panas membuat rasa degan (sebutan kelapa muda di kampung saya) menjadi nikmat. Ditambah lagi pemandangan pantai tepat di depan muka saya. Saya mencoba buka laptop sebentar untuk update materi buku dosen dan berjalan menuju barisan pedagang lain. Niatnya supaya bisa mengambil spot baik untuk dipotret. Selain warga sekitar, tidak ada pengunjung yang duduk-duduk atau bermain pasir di tepian pantai, namun yang ada di dekat jalan raya, tepatnya trotoar jalan.

Sunset di pantai Melawai
Saya kembali pesan secangkir kopi di warung lain dan turun ke tepian pantai. Saya duduk di karang dan mulai mengambil gambar sunset. Juga berbagai kapal pengangkut minyak di sekitaran pantai tak luput dari bidikan kamera saya. Namun tetap, sunset sore itu sebagai targetan utama. Setelah mendapat puluhan gambar, saya menepi dan menuju masjid untuk tunaikan sholat maghrib. Lokasi masjid tepat di tepi pantai dan jalan raya, sangat dekat dengan tempat saya membeli segelas kopi.

Secara tak terduga, Pak Jaka, teman satu kamar sholat di masjid ini juga. Maka, setelah sholat kami makan malam bersama-sama di satu warung lesehan sekitar 600 meter dari masjid. Suasana ombak pantai menambah nikmatnya makan malam kali ini. Saya pesan ikan bakar (Kerapu jika tidak salah) dan teh hangat. Ditambah lagi Pak Jaka yang traktir, alhamdulillah.

Pasar Kebun Sayur

Seperti hari pertama dan kedua, hari terakhir kembali saya ditemani mas Taufik, teman satu asrama dulu. Kali ini ke Pasar Sayur. Lokasinya ternyata cukup jauh. Dengan motor, kami harus melewati pantai Melawai, naik bukit di tanah milik Pertamina. Di sini saya melihat banyak kilang milik perusahaan minyak nasional ini. Tak sama setelah itu kami sampai di Pasar Sayur. Ini adalah tempat pelancong untuk beli oleh-oleh. Saya sendiri beli pesanan atasan yang pulang duluan kemarin yaitu gelang batu. Harga satuannya 25 ribu namun karena beli 10 didiskon menjadi 200 ribu. Pasar Kebun Sayur adalah tempat beli cinderamata. Tak hanya gelang batu, ada juga akik, kalung, kaos, dan sebagainya. Pokoknya khas Balikpapan.
Pasar Kebun Sayur
Saya menyempatkan untuk sholat Duhur-Ashar (jamak) di masjid kompleks pasar. Selanjutnya mas Taufik ngajak untuk menikmati Soto Banjar. Lokasinya tak jauh dari Mal terbesar Balikpapan, di mana saya ngopi semalam. Satu porsi soto ditambah sate ayam nikmat sekali. Saya sulit deskripsikan bedanya soto ini dengan soto jenis lain seperti Soto Lamongan dan Soto Betawi, intinya beda saja. Mungkin karena lapar, makan siang ini sungguh terasa nikmat.

Tuesday, July 24, 2018

Dosen-Dosen Radikal ITB

Aula Barat ITB, simbol keradikalan "civitas akademika" ITB

Sekitar bulan puasa lalu, media massa banyak  mengangkat laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait perguruan tinggi besar tanah air yang terpapar radikalisme. Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satunya. Memang sih kampus ini radikal, saya akan ceritakan dalam tulisan ini. 

Pengalaman saya selama kuliah di ITB dari 2009-2017 (lama betul) saya merasakan aura keradikalan kampus ini. Sumber keradikalan itu salah satunya adalah dosen. Iya, kampus ini dihuni banyak dosen yang radikal. Banyak di antara mereka tidak hanya mengajar dan meneliti lalu pulang, tapi di benak mereka fikiran-fikiran besar yang membuat saya sebagai mahasiswa kala itu langsung menjadikan mereka sebagai idola.

Latar belakang saya dulu adalah wartawan kampus. Jadi saya tidak hanya kenal satu jenis dosen dari jurusan saya dulu di Matematika, namun banyak jurusan. Hampir semua jurusan pernah saya singgahi untuk sekedar menemui dosen dan saya wawancarai. Selain jurnalis yang kerjaannya turun ke lapangan, saya juga megang unit yang nyawanya saat itu adalah website dan media sosial. Akibatnya saya seringkali “ngepoi” dosen-dosen terlebih yang “radikal”. 

Nama-Nama

Siapa saja dosen radikal versi saya ? Pertama, Budi Rahardjo. Saya kenal nama Pak Budi kalo nggak salah sejak tingkat satu kuliah di ITB. Dia dikenal pakar IT. Semakin tua saya di kampus, semakin dalam mengenal beliau sampai pernah wawancara langsung beliau di rumahnya. Tahun lalu bahkan saya projekan bareng sama beliau. Radikalnya beliau adalah tidak kenal lelahnya beliau untuk mendorong anak-anak muda Bandung untuk buat startup. Tak hanya mendorong bahkan beliau ada pelaku startup itu sendiri. Perusahaannya berdiri, mati, berdiri, mati, dst. Bahkan belum lama ini beliau mendirikan perusahaan Internet of Things (IoT). Radikal !

Nama kedua adalah Djoko Sardjadi. Beliau saya kenal pertama kali saat saya menjadi peserta Technopreneuship Orientation Program (TOP) yang dibuat oleh Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirasusahaan (LPIK) ITB. Kala itu yang pertama. Pak Djoko saat itu memberikan wawasan ke kami terkait bisnis teknologi. Kesempatan yang lebih panjang dengan beliau saat saya melakukan studi perusahaan yang didirikan beliau yaitu UAVINDO untuk keperluan tesis. Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan buku yang mengulas perusahaan beliau dan perusahaan “anak cucu” beliau. Edannya Pak Djoko ini adalah totalilitasnya beliau dalam berindustri. Beliau pernah ketipu investor lalu perusahaannya jatuh, namun bangkit lagi. Tak hanya itu, melalui perusahaan yang dibangunnya, beliau adalah inspirator bagi karyawannya untuk mendirikan perusahaan lain. Terbukti ada sekitar lima perusahaan terkait teknologi drone yang dibangun karyawannya. Radikal !

Orang ketiga adalah Pak Adi Indrayanto. Saya baru kenal beliau tahun lalu saat diajakin projek ama senior. Pak Adi kala itu adalah ketua projek. Saat itu kita sedang ngerancang buku terkait bagaimana ngebangun industri perangkat Indonesia. Gairah Pak Adi saat bahas kebijakan industri sangat besar. Bahkan ketika Forum Group Discussion (FGD) dengan beberapa Dirjen dan perwakilan perusahaan, Pak Adi bisa dijuluki “singapodium”. Bayangkan dari pagi-sore, beliau mengendalikan forum. Energi beliau tak habis-habis. Radikal !

Selanjutnya adalah dosen pembimbing saya, Pak Sonny Yuliar. Awalnya saya anggap beliau ini dosen biasa saja. Namun, persepsi saya berubah 180 derajat setelah saya dibimbing tesis dengan beliau. Kala itu kami sering bimbingan di warung bakso Mandep. Pak Sonny jika membimbing tidak kenal waktu dan jelas “free of charge”. Pernah saya dibimbing sendirian 6 jam non-stop. Tak hanya itu, beliau anytime dapat dihubungi atau menghubungi. Pernah mendekati jam 12 malam, beliau kontak saya untuk sekedar menanyakan progres tesis. Beliau ini dosen yang benar-benar senang akan ilmu. Totalitas beliau ini yang membuat saya salut. Radikal !

Sampel terakhir yang akan saya angkat adalah Pak Mikrajuddin Abdullah. Sejak S1 saya kenal beliau, namun baru pertama kali ngobrol panjang dengan beliau saat wawancara tahun lalu. Beliau ini dah publikasi internasional lebih dari 100 jurnal, nulis sudah puluhan buku. Tapi beliau selalu katakan “biasa saja”. Beliau tidak pernah gembar-gemborkan reputasi mengkilapnya ini. Ya biasa aja menulis jurnal toh itu kan kewajiban dosen, jadi tidak ada yang spesial. Begitu kira-kira pelajaran yang saya ambil dari beliau. Radikal !

Ada lagi dosen-dosen lain seperti Pak Mubyar Purwasasmita (alm), Pak I Gede Wenten, Pak Hendra Gunawan, Pak Iwan Pranoto, Pak Yasraf Amir Piliang, Pak Acep Iwan Saidi, Pak Mohamad Tasrif, Pak Indra Budiman Syamwil, Pak Tisna Sanjaya, Pak Eko Mursito Budi, Bu Heni Rachmawati, Pak Widyo Nugroho Sulasdi, dan masih banyak lagi.

Menjaga “Keradikalan” 

Dari dosen-dosen radikal ini, secara pribadi saya merasa keradikalan kampus ITB ini. Mereka adalah contoh bagi saya untuk selalu menjaga “keradikalan” dalam berkarya. Tidak perlu khawatir akan masa depan selama niat kita baik untuk membangun bangsa. Melalui mereka ITB menjadi besar  dan akan tetap besar selama terus muncul dosen-dosen radikal dari kampus ini. 

Terakhir, saya ucapkan terima kasih banyak kepada dosen-dosen radikal ini karena berkat mereka wawasan saya menjadi lebih luas dari pada saat saya pertama kalinya menjejakkan kaki di kampus ganesha ini.

Sunday, June 03, 2018

Tidak Enakan



"Pernahkah kalian merasa tidak enak menyapa orang padahal pernah kenal ?"

Seolah sederhana menyampaikan sapaan ke orang yang pernah kita kenal sebelumnya. Tapi di realitanya tidak sesederhana itu. Ada banyak alasan mengapa kita kok tidak jadi nyapa. Misalkan karena lupa nama atau bukan teman dekat atau malu. Idealnya sapaan awal dengan menyebut nama orang yang kita sapa. Tapi seringkali kita lupa misal baru sekali interaksi atau lama banget tidak ketemu atau kita sedang banyak pikiran sehingga harus buka list kontak di hape siapa nama orang yang kita temui barusan. Dari pada manggil "Hei" terus dikacangin mendingan tidak panggil nama sekalian dan pura-pura kita tidak tahu.

Alasan kedua karena orang yang kira sapa bukan teman dekat. Seiring bertambahnya usia banyak dari kita justru pergaulannya terbatas, misal dalam lingkup tempat kerja saja. Apalagi saat itu kerjaan semakin padat, interaksi harian kita banyakan oleh rekan sesama kerjaan. Grup-grup WA dan mikro blogging lain dari teman lama sepi, dipenuhi orang itu-itu saja dengan bahasan yang tidak nyantai. Karena sebagian besar waktu kita habis dengan interaksi dengan teman kantor, kita pun jarang ketemu dengan teman lama. Suatu kita tak sengaja ketemu dengan teman lama yang tentunya tidak dekat-dekat amat, kita memilih menghindar. Dari pada ngobrolin kerjaan yang mungkin kita tidak seberuntung dia dalam mendapatkan pekerjaan, lebih baik woles sambil dengerin musik dari hape atau scroll news feed medsos biar seolah-olah tidak pernah melihat.

Ketiga adalah malu. Misalkan ketemu dengan dosen atau orang yang kita segani atau cewek yang pernah kita tembak dan gagal. Pikiran kita sudah menjustifikasi dulu, "anggap aja tidak ketemu orang itu". Ini kejadian bisa karena kita pernah berpengalaman buruk dengan dia, misalkan dosen ini pernah ngingetin kita pas kita salah, jadinya malu jika dia ingetin masa lalu kita dulu. Atau kita kecewa dengan orang itu karena pernah menggoreskan sejarah "buruk" dalam hidup kita. Kita buat alasan-alasan yang dibuat-dibuat. Akibatnya kita terperangkap pada kehidupan sempit, dengan lingkaran di mana kita ada saat ini misalkan lingkungan kerja seperti yang telah saya singgung di muka.

Interaksi sebagai Fitrah

Banyak dalil yang mengatakan bahwa silaturrahmi itu memperpanjang rizki. Kemudian orang bisnis beberapa mengatakan networking bisa membuat bisnis tambah besar. Itu tidak salah, beda perspektif saja. Bagi saya interaksi antar sesama (human interaction) adalah satu hal yang alamiah. Jadi menyapa orang terlebih yang pernah kita kenal adalah satu fitrah manusia, maka dalam perspektif ini jadi aneh orang yang tidak melakukan hal ini. Banyak saat ini orang mengkapitalisasi hubungan, orang mau interaksi karena ada benefit material. Mungkin mereka dipengaruhi pandangan bisnis seperti halnya facebook. Media sosial ini mampu mendapatkan keuntungan finansial dari hubungan pertemanan di platform yang ia kembangkan. Jika dikaitkan dengan perspektif yang saya angkat, tentunya ini tidak sesuai.

Nah, bagaimana dengan kita yang sudah cukup terbiasa dengan tidak enakan menyapa karena tiga alasan yang saya sebut di muka ?. Jika kita tahu hal itu tidak mengenakkan diri kita, berarti kita sudah sadar bahwa sikap kita itu tidak tepat. Maka satu-satunya cara untuk keluar dari perasaan ini adalah dengan melatih diri untuk menyapa orang khususnya orang yang pernah kita kenal, baik yang dekat atau jauh. Mungkin kita akan dikacangin, punya perasaan bersalah, atau malu berat. Tapi jika kita punya niatan kuat, kita pasti akan menganggap itu biasa. Oleh kerenanya kita butuh banyak latihan dan latihan. Kita akan berteman dengan banyak orang, bagaimanapun latar belakangnya. Kita tidak akan punya lawan, bagi kita satu-satunya lawan/musuh adalah diri kita, ego kita yang besar.


*) Gambar diambil dari kaskus.co.id