Sunday, June 29, 2008

KTI ; KADAR VITAMIN C PADA JAMBU BIJI MERAH

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Vitamin C merupakan suplemen yang sangat penting bagi tubuh manusia dimana dianjurkan sebesar 30-60 mg per hari. Diantara kegunaan vitamin ini yaitu sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting mulai dari pembuatan kolagen, pengangkut lemak, sampai dengan pengatur tingkat kolesterol. Dikarenakan khasiat penting yang terkandung dalam vitamin C itulah, maka banyak orang yang memburu sumber-sumber vitamin C baik dalam bentuk alami maupun dalam bentuk kemasan tablet. Akan tetapi banyak persepsi orang yang salah berkaitan dengan sumber vitamin C dalam bentuk alami. Kebanyakan orang mengira bahwasanya buah yang paling banyak mengandung vitamin C adalah jeruk. Padahal kandungan vitamin C pada jeruk jauh lebih sedikit dari pada jambu biji merah.

Setelah ditemukannya penelitian yang mengungkapkan bahwa jambu biji merah mengandung banyak vitamin C, zat antioksidan dan antikanker yang berguna bagi kesehatan diantaranya menurunkan kadar kolesterol darah, mengobati infeksi, mengobati sariawan, memperlancar peredaran darah, melancarkan saluran pencernaan, mencegah kontipasi dan menyembuhkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), kini sebagian masyarakat cenderung mengkonsumsi buah ini dalam jumlah banyak. Tetapi banyak penemuan itu tidak sedikitpun menjelaskan tentang berapa kadar vitamin C pada buah tersebut.

Disini peneliti ingin menghitung berapa kadar vitamin C pada jambu biji merah yang disebut-sebut sebagai penghasil vitamin C terbanyak pada katagori buah-buahan ini.

B. Rumusan Masalah

Berapa kadar vitamin C pada jambu biji merah?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mentukan kadar vitamin C pada jambu biji merah.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diantaranya :

1. Untuk diri sendiri

Peneliti dapat mengetahui salah satu cara analisis volumetri dengan metode Iodimetri untuk menentukan kadar vitamin C dalam buah segar.

2. Untuk masyarakat luas

Masyarakat dapat mengetahui secara benar bahwa jambu biji merah sumber vitamin C dengan kandungan tinggi.

KAJIAN PUSTAKA

A. Vitamin C

Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai.

Vitamin C dikenal sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting mulai dari pembuatan kolagen ( protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang ), pengangkut lemak, pengangkut elektron dari berbagai reaksi enzimatik, memacu gusi yang sehat, pengatur tingkat kolesterol, serta pemacu imunitas. Selain itu, vitamin C sangat diperlukan tubuh untuk penyembuhan luka dan meningkatkan fungsi otak agar dapat bekerja maksimal.

Sumber vitamin C yang penting di dalam makanan terutama berasal dari buah-buahan dan sayur-sayuran, sedangkan bahan makanan yang berasal dari hewani pada umumnya bukan merupakan sumber vitamin C yang tinggi. Sayuran segar mengandung kadar vitamin C yang lebih sedikit dibandingkan dengan buah-buahan.

B. Jambu Biji

1. Jenis-jenis dan Klasifikasi Jambu Biji

Jambu batu (Psidium guajava L.) atau sering juga disebut jambu biji, jambu siki dan jambu klutuk adalah tanaman tropis yang berasal dari Brazil, disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu batu memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah dan berasa asam-manis. Buah jambu batu dikenal mengandung banyak vitamin C.

Beberapa macam/kultivar jambu biji dikenal di Indonesia, sebagian dikenal sejak lama, sebagian merupakan introduksi dari negara lain yaitu diantaranya :

a. Jambu Pasarminggu

Jambu pasarminggu yang merupakan ras lokal ini memiliki dua varian yaitu :

1. Berdaging buah putih

Jambu jenis ini berdaging putih, dikenal sebagai jambu 'susu putih', lebih digemari karena rasanya manis, daging buahnya agak tebal, dan teksturnya lembut.

2. Berdaging buah merah

Jambu jenis ini kurang disukai karena buahnya cepat membusuk dan rasanya kurang manis. Kulit buahnya tipis berwarna hijau kekuningan bila masak. Bentuk buahnya agak lonjong dengan bagian ujung membulat, sedangkan bagian pangkal meruncing.

b. Jambu australia

Jambu biji australia diintroduksi dari Australia. Kekhasannya adalah daunnya berwarna merah keunguan. Walaupun buahnya dapat dimakan, biasanya orang menanam di pekarangan lebih sebagai tanaman hias. Buahnya manis bila sudah masak, tetapi tawar bila belum matang.

c. Jambu 'sukun'

Kata "sukun" berarti "tidak berbiji". Jambu varietas unggul ini memang tidak memiliki biji. Kalaupun ada hanya 2-3 biji. Daging buahnya putih kekuningan dengan rasa manis agak asam. Teksturnya agak keras, renyah, dan beraroma wangi. Bentuk buahnya mirip apel, dengan ukuran panjang antara 4-5 cm. Kulit buahnya bila matang berwarna hijau keputihan. Jambu sukun dapat berproduksi terus menerus sepanjang tahun, meskipun relatif sedikit. Namun demikian, jenis jambu ini relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

d. Jambu bangkok

Jambu bangkok merupakan sebutan untuk jambu biji dengan buah yang besar. Beberapa memang diintroduksi dari Thailand. Salah satunya adalah 'jambu sari'. Bentuk buahnya bulat sempurna dengan garis tengah sekitar 10 cm. Ukuran buah mentahnya lebih besar dari pada ketika matang.

Buah jambu biji dijual di keranjang (bongsang)

Gambar 1. Jambu pasar minggu berjenis merah

Jambu biji secara taksonomi tergolong kedalam famili Myrtaceae, genus Psidium, spesies guajava. Karena itu, dalam bahasa Latin disebut Psidium guajava. Dalama bahasa Inggris jambu biji dikenal sebagai guava, sedangkan di Indonesia disebut juga jambu batu, jambu klutuk, atau jambu siki.

Klasifikasi ilmiah jambu biji ( Psidium guajava L.) adalah sebagai berikut

Regnum :Plantae

Divisio :Magnoliophyta

Kelas :Magnoliopsida

Ordo :Myrtales

Familia :Myrtaceae

Genus :Psidium

Spesies :Psidium guajava

Nama binomial :Psidium guajava L.

(wikipedia.com)

2. Kandungan Jambu biji

Jambu biji dikatakan buah yang sangat istimewa karena mamiliki kandungan zat gizinya yang tinggi, seperti vitamin C, potasium, dan besi. Selain itu, juga kaya zat nongizi, seperti serat pangan, komponen karotenoid, dan polifenol. Buah jambu biji bebas dari asam lemak jenuh dan sodium, rendah lemak dan energi tetapi tinggi akan serat pangan (dietary fiber). Serat pangan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker usus besar ( kanker kolon ), divertikulosis, aterosklerosis, gangguan jantung, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit batu ginjal. (kompas.com)

3. Vitamin C pada jambu biji

Kandungan vitamin C pada jambu biji mencapai puncaknya menjelang matang. Sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi pada bagian kulit serta daging bagian luarnya yang lunak dan tebal.

Kandungan vitamin C pada jambu biji dua kali lipat jeruk manis yang hanya 49 mg/100 g buah. Kandungan vitamin C pada buah ini, sanggup memenuhi kebutuhan harian anak usia 13-20 tahun yang mencapai 80-100 mg per hari, atau kebutuhan vitamin C harian orang dewasa yang mencapai 70-75 mg per hari. Dengan demikian sebutir jambu biji dengan berat 275 g per buah dapat mencukupi kebutuhan harian akan vitamin C pada tiga orang dewasa atau dua anak-anak.

Perbandingan kadar vitamin C per 100 gram bahan pangan dapat disajikan pada tabel

Tabel 1. Perbandingan kadar vitamin C per 100 gram bahan pangan

Bahan Pangan

Kadar vitamin C ( mg/100 g )

Jambu biji

87

Pepaya

78

Jeruk

49

Rambutan

58

Mangga

30

Belimbing

35

Durian

53

Jeruk bali

43

Bayam

80

Daun katuk

239

Kembang kol

69

Sawi

102

(gallery fame.thumblogger.com)

C. Jambu Biji Merah

1. Kelebihan Jambu Biji Merah

Jambu biji merah yang tergolong jenis jambu pasarminggu ini memiliki berbagai macam kelebihan dibanding dengan jenis jambu pasar minggu lainnya yaitu lebih banyak mengandung vitamin C yang dianggap sebagai antioksidan untuk menambah daya tahan tubuh. Kandungan vitamin C pada jambu biji merah dua kali lebih banyak dari jeruk manis yang disebut-sebut sumber vitamin C terbanyak Selain itu, jambu biji merah berkhasiat mengobati berbagai jenis penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD). (Indra,2008)

2. Manfaat Jambu Biji Merah bagi kesehatan tubuh

Jambu biji merah bermanfaat bagi kesehatan tubuh diantaranya :

a. Menurunkan kadar kolesterol darah

b. Mengobati infeksi

c. Mengobati sariawan

d. Memperlancar peredaran darah

e. Melancarkan saluran pencernaan, dan

Bagian biji yang mudah dikenal dari jambu batuf. Mencegah konstipasi

Gambar 2. Jambu biji merah yang dijadikan sampel

D. Langkah-langkah penetapan kadar vitamin C pada buah segar

1. Proses Iodo dan Iodimetri

Dalam analisis secara volumetri,yang dimaksud dengan Iodometri adalah titrasi terhadap (I2) bebas yang terdapat dalam larutan.Sedang Iodimetri adalah titrasi dengan larutan I2 standard. Potensial reduksi normalnya dapat ditunjukkan dengan sistem reversible sebagai berikut:

I2 (p)- + 2 e 2 I-

dan besarnya = 0,5345 volt. Pesamaan tersebut menunjukkan larutan jenuh Iodium padat ; dan reaksi setengah sel (half-cell) akan terjadi pada akhir titrasi ion Iodida dengan zat pengoksidasi seperti KMnO4 apabila konsentrasi ion I relatif menjadi rendah.

Dalam sebagian besar titrasi Iodimetri, apabila dalam larutan terdapat kelebihan ion Iodida ( I- ), maka akan terjadi ion Tri iodida ( I3- ) menurut persamaan reaksi berikut :

I2- (aq) + I- I3-

Hal ini di sebabkan karena Iodium larut secara cepat dalam larutan Iodida. Dengan demikian maka reaksi setengah sel tersebut di atas lebih baik di tuliskan sebagai berikut :

I3- + 2 e- 3 I-

Dan potensial reduksi standardnya adalah = 0,5355 volt.

Khusus dalam proses Iodo dan Iodimetri, maka yang di maksud dengan berat ekivalen suatu zat adalah banyaknya atau beratnya zat tersebut yang dapat bereaksi atau yang dapat membebaskan 1 grat I.

Dibandingkan dengan oksidator-oksidator seperti : KMnO4, K2Cr2O7 atau Ce(SO4)2, Iodium (I2) merupakan oksidator yang lebih lemah, tetapi merupakan zat reduktor yang lebih kuat ( bandingkan potensial reduksinya).

Dalam sebagian besar titrasi Iodimetri, yang dipergunakan sebagai larutan standard adalah I2 dalam KI, dan sebagai spesien yang reaktif adalah ion I3-, sehingga untuk semua persamaan reaksi yang meliputi reaksi dengan I2 sebaiknya di tuliskan dengan I3-; sebagai contoh misalnya reaksinya dengan ion S2O3 = di tuliskan sebagai berikut :

2 S2O3= + I3- 3 I- + S4O6=

Kadang-kadang titrasi Iodimetri disebut cara titrasi Iodimetri langsung, sedang titrasi Iodometri disebut cara titrasi tidak langsung.Tetapi meskipun demikian dalam diktat ini semua reaksi yang menyangkut dengan I2 tidak dituliskan dengan ion I3- melainkan dengan molekul I2, sehingga untuk persamaan reaksi di atas dituliskan sbb :

2 S2O3= + I2 2 I- + S4O6=

Dalam larutan asam, larutan I2 standard dapat dipergunakan untuk menitrir secara cepat beberapa jenis zat-zat reduktor kuat seperti : SnCl2 , H2SO3 , H2S dan NaS2O3 , sedang untuk zat-zat reduktor yang lebih lemah seperti misalnya : As+++ ; Sb+++ dan {Fe(CN)6}≡ hanya dapat teroksidasi sempurna apabila larutan bersifat netral atau sedikit asam.

Beberapa contoh persamaan reaksinya adalah sebagai berikut :

Sn++ + I2 Sn++++ + 2 I-

SO3= + I2 + H2O SO4= + 2 H+ + 2 I-

H2S + I2 S + 2 H+ + 2 I-

2 S2O3= + I2 S4O6= + 2 I-

H3AsO3 + I2 + H2O H3AsO4 + 2 H+ + 2 I-

H3SbO3 + I2 + H2O H3SbO4 + 2 H+ + 2 I-

Sebaliknya apabila zat-zat oksidator kuat dalam larutan netral atau asam ditambah dengan ion Iodida berlebihan, maka oksidator-oksidator tersebut akan tereduksi secara kuantitatif dan dalam larutan akan terbebaskan I2 yang setara dengan banyaknya oksidator, dan I2 ini kemudian dapat dititrir dengan larutan Natrium thiosulfat (Na2S2O3).Oksidator-oksidator yang dapat ditetapkan dengan cara ini seperti terlihat dalam tabel

Tabel 2. Beberapa oksidator yang dapat ditetapkan secara Iodimetri

Oksidator

Persamaan Reaksi

MnO4-

2 MnO4- + 16 H+ + 10 I- 2 Mn++ + 5 I2 + 8 H2O

Cr2O=

Cr2O7= + 14 H+ + 6 I- 2 Cr+++ + 3 I2 + 7 H2O

H2O2

H2O2 + 2 H+ + 2 I- 2 H2O + I2

BrO3-

BrO3- + 6 H++ 6 I- Br- 3 I2 + 3 H2O

IO3-

IO3- + 6 H+ + 5 I- 3 I2 + 3 H2O

ClO3-

ClO3- + 6 H+ + 6 I- Cl- + 3 I2 + 3 H2O

HNO2

2 HNO2 + 2 H+ + 2 I- 2 NO + I2 + 2 H2O

Ce++++

2 Ce++++ + 2 I- 2 Ce+++ + I2

Cu++

2 Cu++ + 4 I- 2 CuI + I2

Cl2 & Br2

Cl2/Br2 + 2 I- 2 Cl-/2 Br- + I2

Potensial reduksi normal dari sistem Iodium-Iodida tidak tergantung dari pada pH larutan selama pH tersebut lebih kecil dari 8, tetapi pada keasaman yang lebih rendah, Iodium akan bereaksi dengan ion OH- menjadi ion Iodida (I-) dan sedikit ion hipoiodit yang tidak stabil,yang kemudian akan berubah dengan cepat menjadi ion Iodida dan Iodat,sesuai dengan persamaan reaksi berikut:

I2 + 2 OH- I- + IO- + H2O

3 IO- 2 I- + IO3-

Jadi dengan mengatur besarnya pH larutan, dapatlah dipergunakan untuk menitrir zat reduktor dengan Iodium; dan zat dalam bentuk teroksidasi setelah ditambah iodida dengan Natrium thiosulfat. Sebagai contoh misalnya sistem Arsenit-Arsenat, reaksinya adalah reversible sbb:

H3AsO3 + I2 + H2O H3AsO4 + 2 H+ + 2 I-

Pada harga pH antara 4-9 arsenit dapat dititrir dengan I2; tetapi dalam larutan asam kuat, Arsenat direduksi menjadi Arsenit dan terbebaslah I2 yang kemudian dapat dititrasi dengan larutan Na2S2O3.

Dalam proses Iodimetri ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan karena hal ini dapat menjadi sumber kesalahan, ke dua hal tersebut ialah:

  1. Berkurang atau hilangnya sebagian I2 karena sifat volatilitasnya.
  2. Terjadinya oksidasi udara terhadap larutan Iodida, menurut persamaan reaksi berikut:

4 I- + O2 + 4 H+ 2 I2 + 2 H2O

Volatilitas I2 dapat diperkecil dalam larutan iodida berlebihan, karena terjadinya ion triiodida (I3-); sehingga pada temperatur kamar hilangnya I2 karena sifat volatilitasnya dari suatu larutan yang paling sedikit mengandung 4% Kalium iodida dapat diabaikan. Demikian juga titrasi harus di lakukan terhadap larutan yang dingin dan dalam tempat yang tertutup, jangan dalam gelas bikar.

Sedang terjadinya oksidasi udara terhadap iodida dalam larutan dapat diabaikan dengan adanya katalisator, adapun katalisator yang dipergunakan adalah ion-ion logam tertentu terutama Tembaga dan juga ion NO2-.

2. Cara menentukan Titik Ekivalen dalam proses Iodo dan Iodimetri

Larutan I2 dalam KI encer berwarna coklat muda. Apabila 1 tetes larutan I2 0,1 N akuades akan memberikan warna kuning muda, sehingga dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa dalam larutan yang tidak berwarna, I2 dapat berfungsi sebagai indikator. Tetapi meskipun demikian warna yang terjadi dalam larutan akan lesensitif dengan menggunakan larutan kanji sebagai indikator, karena dengan Iodium dalam larutan Iodida, kanji akan bereaksi menjadi kompleks iodamilum yang berwarna biru meskipun konsentrasi I2 nya sangat kecil, misalnya pada konsentrasi Iodium 2 x 10-5 M,dan konsentrasi iodida lebih besar dari pada 4 x 10-4 M, maka temperatur 200 C warna biru tersebut masih dapat terlihat; tetapi kesensitifan warna tersebut akan berkurang karena kenaikkan temperatur larutan, misalnya pada temperatur 500 C kesensitifan warna akan menjadi 10 kali lebih kecil dari pada 250 C.

Juga kesensitifan tersebut akan berkurang karena penambahan suatu pelarut seperti Etil alkohol, bahkan apabila larutan mengandung 50% alkohol atau lebih warna tersebut akan menjadi hilang. Demikian juga dalam suasana asam kuat, indikator tersebut tidak dapat dipergunakan karena dalam suasana asam kuat, kanji akan mengalami hidrolisa.

Kanji dapat dipisahkan menjadi 2 penyusun utama, yaitu:Amilose dan Amiopektin, yang dalam berbagai tumbuh-tumbuhan terdapat dalam perbandingan yang berbeda-beda, Amilose yang merupakan senyawa berantai lurus banyak terdapat dalam tepung kentang, dengan Iodium memberikan warna biru; sedang Amilopektin yang mempunyai struktur rantai cabang memberikan warna merah muda.

Kurang baiknya Amilum (kanji) sebagai indikator disebabkan antara lain karena:

  1. Tidak dapat larut dalam air dingin.
  2. Suspensinya dalam air tidak stabil.
  3. Dengan Iodium membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air, dan ini akan terjadi apabila penambahan kanji dilakukan pada permulaan titrasi. Oleh karenanya indikator tersebut harus ditambahkan apabila sudah mendekati titik ekivalen.

Karena hal-hal tersebut, maka akan lebih baik apabila dalam proses Iodo dan Iodimetri yang dipergunakan sebagai indikator adalah larutan Natrium amilum glikolat; yaitu suatu serbuk putih yang tidak higroskopis, mudah larut dalam air panas dan stabil untuk beberapa bulan; disamping itu juga dengan I2 tidak membentuk kompleks yang tidak larut dalam air, sehingga indikator ini dapat ditambahkan pada permulaan titrasi. Apabila di dalam larutan terdapat kelebihan I2 (misalnya pada permulaan titrasi Iodometri), maka warna larutan yang mengandung 1 ml (atau 0,1% larutan encer), adalah hijau. Jika konsentrasi I2 dalam larutan menjadi berkurang warna larutan berubah menjadi biru(sebelum titik ekivalen), sedang pada saat tercapainya titik ekivalen warna larutannya menjadi biru tua.

Dalam reaksi-reaksi tertentu, karbon tetrakhlorida (CCl4) dapat dipergunakan sebagai pengganti larutan kanji. Apabila pada temperatur 250 C, 1 liter air dapat melarutkan 0,335 gram I2, tetapi dalam volume yang sama CCl4 dapat melarutkan I2 delapan puluh lima kali lebih banyak yaitu 28,5 gram. Apabila sedikit CCl4 ditambahkan ke dalam larutan encer yang mengandung Iodium dan kemudian diaduk, maka sebagian besar I2 akan larut dalam CCl4 dan akan turun ke bawah sehingga akan terpisah dengan airnya dalam dua lapisan dan memberikan warna ungu merah.

3. Pembuatan dan Penggunaan Larutan Kanji

Buatlah pasta dari 1 gram kanji dalam sedikit air, kemudian sambil diaduk tuangkan pasta tersebut ke dalam 100 ml air mendidih dan biarkan larutan mendidih selama 1 menit. Biarkan larutan sampai dingin, kemudian tambahkan 2-3 gram Kalium iodida (KI), dan tempatkan larutan dalam sebuah botol yang tertutup.

Dalam penggunaannya; misalnya pada titrasi I2 dengan larutan thiosulfat (Na2S2O3), larutan kanji tersebut jangan ditambahkan ke dalam larutan yang akan dititrasi sebelum titik ekivalen hampir tercapai, sebab apabila larutan kanji ditambahkan ke dalam yang mengandung I2 dimana konsentrasi I2 masih cukup tinggi, maka sebagian besar I2 akan teradsorpsi sebelum titik ekivalen sehingga akan menyebabkan suatu kesalahan yang besar.

4. Pembuatan Larutan Na2S2O3 0,1 N

Meskipun garam Natrium thiosulfat pentahidrat (Na2S2O3.5H2O), mudah diperoleh dalam keadaan murni, tetapi oleh karena kandungan air kristalnya tidak dapat diketahui dengan tepat, sehingga larutannya tidak dapat dipergunakan sebagai larutan standard primer. Sebagai zat reduktor reaksi setengah sel (half-cell reaction)nya adalah sebagai berikut :

2 S2O3= S4O6= + 2 e-

berat ekivalennya = 248,19 gram; jadi larutan desi normalnya (0,1N) dibuat dengan jalan melarutkan 25 gram garam kristalnya (Na2S2O3.5H2O) dalam 1 liter air (dalam sebuah labu takar 1 liter); tetapi sebeum dipergunakan harus distandardisasi lebih dulu untuk menetukan faktor normalitasnya (f)nya.

Sebelum diuraikan cara menstandardisasinya, perlu diperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi kestabilan larutan thiosulfat. Oleh karena akuades biasanya masih mengandung kelebihan Karbondioksida (CO2), sehingga apabila digunakan sebagai pelarut dalam pembuatan larutan standard thiosulfat, maka akan menyebabkan terjadinya peruraian ion thiosulfat membentuk Belerang (S) bebas, meskipun peruraian tersebut sangat lambat, hal ini dapat dilihat pada persamaan reaksi sebagai berikut :

S2O3= + H+ HSO3- + S

Lebih lanjut perubahan tersebut juga dapat disebabkan karena keaktifan bakteri (misalnya Thiobacillus thioparus), terutama apabila larutan disimpan beberapa lama.

Karena alasan-alasan tersebut, maka untuk pembuatan larutan Natrium thiosulfat sebaiknya dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Larutkan garam kristalnya dalam akuades yang mendidih.
  2. Tambahkan 3 tetes Kholoroform (CHCl3) atau 10 mgram Merkuri iodida (HgCl2) dalam 1 liter larutan, karena senyawa-senyawa tersebut dapat membantu memperbaiki kualitas larutan.
  3. Larutan yang telah terjadi harus disimpan yang di tempat yang tidak terkena sinar matahari, karena hal ini juga dapat mempercepat terjadinya peruraian thiosulfat.

5. Standardisasi Larutan Na2S2O3

Karena larutan Natrium thiosulfat bukan merupakan standard primer, maka sebelum larutan tersebut dipergunakan harus distandardisasi terlebih dahulu untuk menentukan faktor normalitasnya. Standardisasi terhadap larutan tersebut dapat dilakukan dengan zat-zat standard primer seperti misalnya: KIO3, KBrO3, K2Cr2O7, Tembaga (Cu) dan I2, atau dengan KMnO4 atau Ce(SO4)2 sebagai zat-zat standard sekunder. Di sini hanya akan diberikan contoh standardisasi larutan thiosulfat dengan larutan K2Cr2O7 standard.

Dalam larutan Kalium iodida asam, K2Cr2O7 akan tereduksi menjadi garam Kromi yang berwarna hijau, dan akan terbebaskan I2 yang setara dengan banyaknya garam K2Cr2O7 tersebut menurut persamaan reaksi ion sebagai berikut:

Cr2O7= + 6 I- + 14 H+ 2 Cr+++ + 3 I2 + 7 H2O

Banyaknya I2 ini kemudian dapat dititrir dengan larutan Na2S2O3 sesuai dengan persamaan ion sebagai berikut:

I2 + 2 S2O3= 2 I- + S4O6=

Sehingga dengan mengetahui banyaknya grek/mgrek garam K2Cr2O7 serta banyaknya volume larutan thiosulfat yang dipergunakan untuk menitrir I2 yang terbebaskan dalam larutan, dapatlah ditentukan normalitas yang sebesarnya (atau faktor normalitas) dari larutan thiosulfatnya.

Cara Standardisasi

Ambilah dengan pipet gondok, 25 ml larutan K2Cr2O7 0,1 N kemudian masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 5 ml asam asetat glasial, 5 ml larutan CuSO4 0,001 M (untuk mempercepat reaksi) dan 30 ml larutan KI 10%. Kemudian titrirlah larutan tersebut dengan larutan Na2S2O3 yang normalitasnya mendekati 0,1 N dengan menggunakan larutan kanji sebagai indikatornya sampai larutan berwarna biru. Ulangi pekerjaan tersebut sampai 3 kali. Andaikan banyaknya volume thiosulfat yang dipergunakan dalam masing-masing titrasi tersebut = v ml, maka menurut rumus:

V1 x N1

V1 x N1 = V2 x N2 N2 =

V2

25 x 0,1

Jadi normalitas sebenarnya dari larutan thiosufat =

V

6. Pembuatan Larutan I2 Standar 0,1N dan standardisasi I2 0,1 N dengan Na2S2O3

Dalam proses Iodo dan Iodimetri, berat okivalen normalnya I2 = 127 gram (atau 1 grek I2 = ½ gmol), sehingga larutan desi normalnya (0,1 N I2 mengandung 12,7 gram per liter). Karena kelarutan I2 dalam air pada temperatur 250 C sangat kecil yaitu = 0,335 gram per liter, dan I2 adalah sangat volatil, maka larutannya tidak dibuat dengan jalan melarutkan kristalnya dalam air, melainkan dalam larutan Kalium iodida(KI) karena I2 lebih cepat larut dalam larutan encer, tetapi kelarutan tersebut akan menjadi lebih besar dalam larutan KI pekat disebabkan terjadinya ion tri iodida menurut persamaan berikut:

I2 + I- I3-

Cara Pembuatannya:

Larutkan 20 gram garam Kalium iodida (KI) yang bebas dari iodat ke dalam 30-40 ml akuadest dalam sebuah labu takar 1 liter yang tertutup. Timbanglah dengan neraca kasar 12,7 gram I2 di atas gelas arloji (jangan dengan neraca analitik), kemudian masukkan ke dalam labu takar yang telah berisi larutan KI pekat dan gojoglah labu takar tersebut (dalam keadaan tertutup) sampai semua I2 larut, kemudian biarkan sampai dingin pada temperatur kamar, selanjutnya tambahlah akuades hingga permukaan larutan dalam labu takar tepat pada tanda batas. Setelah larutan digojog sampai homogen, simpanlah dalam tempat yang dingin dan gelap.

7. Standardisasi Larutan I2 0,1 N

Standardisasi terhadap larutan I2 dapat dilakukan dengan beberapa zat, antara lain: Arsen trioksida (As2O3) , Natrium thiosulfat (Na2S2O3) , Barium thiosulfat monohidrat (BaS2O3.H2O) , diantara zat-zat tersebut dalam contoh ini akan diberikan cara menstandardisasi larutan I2 0,1 N dengan larutan Barium thiosulfat monohidrat yang dapat dibuat dengan cara sebagai berikut:

Larutkan 40 gram Barium khlorida dihidrat (BaCl2.2H2O) dan 50 gram garam Natrium thiosulfat pentahidrat (Na2S2O3.5H2O), masing-masing dalam 300 ml akuades. Panaskan kedua larutan tersebut sampai temperatur 500 C, kemudian sambil diaduk tuangkan sedikit demi sedikit larutan Barium khlorida ke dalam larutan Natrium thiosulfat, maka akan tersaringlah kristal tersebut dan cucilah berturut-turut dengan akuades, kemudian dengan alkohol 95% dan akhirnya eter, selanjutnya keringkan dalam udara.

Timbanglah dengan tepat 1 gram kristal BaS2O3.H2O dan masukkan ke dalam Erlemeyer 250 ml, kemudian tambahlah dengan 100 ml akuades dan 2 ml larutan indikator kanji. Titrirlah larutan tersebut dengan larutan I2 sampai terjadi warna biru yang permanen. Ulangi titrasi ini dengan dua bagian larutan Barium thiosulfat monohidrat yang lain ; dan selanjutnya hitunglah normalitas yang sebenarnya dari larutan I2.

Diketahui : 1 ml larutan I2 1 N setara dengan 0,2675 gram BaS2O3.H2O.

(AAK Bandung, 1992)

8. Penetapan Kadar Vitamin C pada buah-buahan segar

Menentukan kadar vitamin C pada buah-buahan segar khususnya jambu biji merah dapat ditentukan dengan proses Iodimetri yaitu dengan pemberian titrasi I2 pada objek yang diteliti dan juga perhitungan secara matematis berdasarkan rumus baku yang telah ditetapkan. Sebelum pemberian titrasi perlu dilakukannya standardisasi Na2S2O3 0,1 N dengan KIO3 0,2804 N dan standardisasi I2 dengan Na2S2O3.

Setelah didapat hasil standardisasi, kemudian ditetapkan kadar vitamin C dengan menggunakan rumus. Berikut ini adalah rumus penentuan kadar vitamin C pada buah-buahan segar.

Kadar Vitamin C : 100 x V(ml) x N ( I2 ) x Mr Vitamin C

Massa buah Valensi

Pada rumus tersebut ditentukan Mr vitamin C sebesar 176,13 dan valensi sebesar 2.

E. Hipotesis

Jambu biji merah diduga banyak mengandung vitamin C yang berguna bagi kesehatan tubuh.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan mulai April sampai dengan Mei 2008 di laboratorium Kimia Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

A. Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

  1. I2 ( Iodium )
  2. Na2S2O3 ( Natrium Thiosulfat)
  3. KIO3 ( Kalium Iodat )
  4. KI ( Kalium Iodida )
  5. Amilum
  6. H2SO4 ( Asam Sulfat )
  7. Akuades

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

  1. Buret 50 ml
  2. Enlemeyer 500 ml
  3. Corong
  4. Beaker glass 100 ml, 250 ml dan 1000 ml
  5. Pengaduk
  6. Neraca 4 lengan 311 g
  7. Gelas ukur 100 ml dan 10 ml
  8. Gelas arloji
  9. Klem dan statif
  10. Pipet volume 10 ml
  11. Malt pipet
  12. Pushball
  13. Botol reagent
  14. Labu ukur 1000 ml dan 250 ml

B. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Larutan

a. Pembuatan larutan KIO3

1. Ditimbang dengan seksama 10 g KIO3

2. Dilarutkan dalam gelas beker 250 ml dan dituangkan dalam labu takar 1 liter

3. Ditambahkan akuades sampai dengan 1000 ml

b. Pembuatan larutan Na2S2O3 0,1 N 500 ml

1. Ditimbang dengan seksama 12,5 g Na2S2O3 5 H2O

2. Dilarutkan dan ditambahkan dengan akuades sampai dengan 500 ml

c. Pembuatan larutan H2SO4 2 N 500 ml

1. H2SO4 pekat di pipet 27,8 ml ( = 500 ml x 2 N )

36 N

2. Diteteskan ke dalam 400 ml akuades sampai dengan 500 ml dalam labu takar

d. Pembuatan larutan Amilum 1 %

1. Ditimbang dengan seksama 2,5 g amilum

2. Ditambahkan dengan akuades sampai dengan 250 ml kemudian dipanaskan

2. Standardisasi

a. Standardisasi Na2S2O3 0,1 N dengan KIO3 0,2804 N

1. 10 ml KIO3 0,2804 N dipipet dituangkan kedalam enlemeyer 250 ml

2. Ditambah KI 5 % sebanyak 10 ml

3. Ditambah 10 ml H2SO4 2 N

4. Dititrasi dengan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda

5. Ditambah amilum 1 % 10 tetes kemudian titrasi dilanjutkan sampai dengan warna biru hilang

b. Standardisasi I2 dengan Na2S2O3

1. Na2S2O3 0,1 N 10 ml dipipet kemudian ditambah amilum 1 mg

2. Dititrasi dengan I2 sampai berwarna biru konstan

3. Penetapan Kadar Vitamin C

Adapun prosedur penetapan kadar vitamin C adalah sebagai berikut :

1. Jambu dibersihkan dari kotoran dan tangkainya

2. Jambu dibelah menjadi 4 bagian

3. Jambu dihaluskan sampai benar-benar lembut

4. Jambu dimasukkan ke dalam air 400 ml dan diaduk sampai merata

5. Dicampurkan larutan amilum dan H2SO4 dan diaduk sampai merata

6. Dititrasi dengan I2 sampai berwarna biru konstan

C. Cara Analisis Data

Untuk mengetahui kadar vitamin C pada jambu biji merah diperlukan proses standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 dan I2 dengan Na2S2O3 , kemudian ditentukan kadar vitamin C dengan menggunakan rumus :

Kadar Vitamin C : 100 x V(ml) x N ( I2 ) x Mr Vitamin C

Massa buah Valensi

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pembuatan Larutan

Hasil dari pembuatan larutan ini yang meliputi pembuatan larutan KIO3, Na2S2O3, H2SO4 dan Amilum selanjutnya akan digunakan dalam proses standardisasi.

2. Proses Standardisasi

1. Standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N

Adapun data selengkapnya dari standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N

Data ke-

Volume Na2S2O3

N Na2S2O3

I

10 ml

0,0934

II

10,1 ml

0,0944

III

10,03 ml

0,0937

Rata-rata

0,0938

2. Standardisasi I2 dengan Na2S2O3

Adapun data selengkapnya dari standardisasi I2 dengan Na2S2O3 disajikan pata tabel 4.

Tabel 4. Hasil standardisasi I2 dengan Na2S2O3

Data ke-

Volume

N I2

I

11,4 ml

II

11,3 ml

III

11,4 ml

Rata-rata

11,37 ml

0,0822

3. Penetapan Kadar Vitamin C

Adapun data selengkapnya dari hasil penetapan kadar vitamin C disajikan pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil penetapan kadar vitamin C

Jambu ke-

Massa jambu

Data I2 di buret

Kadar Vit C

Rata-rata

I

38,97 gram

8,8 ml

163,4 mg/100g

169,5 mg/100g

39,5 gram

9,2 ml

168,6 mg/100g

40,36 gram

9,6ml

172,2 mg/100g

41,65 gram

10 ml

173,8 mg/100g

II

39,45 gram

10,1 ml

185,3 mg/100g

197,2 mg/100g

40,2 gram

11,7 ml

210,7 mg/100g

42,86 gram

11,4 ml

192,5 mg/100g

45,2 gram

12,5 ml

200,2 mg/100g

B. Pembahasan

Hasil perhitungan matematis standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N dan standardisasi I2 dengan Na2S2O3 itu sangat berhubungan erat dalam penentuan kadar vitamin C pada jambu biji merah.

Hasil standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N yang didapat rata-rata sebesar 0,0938 N itu berkaitan erat dengan perhitungan standardisasi I2 dengan Na2S2O3 yang menghasilkan normalitas sebesar 0,0822 N. Setelah terbentuk N I2 baru kemudian penetapan kadar vitamin C dengan menggunakan rumus baku yang telah ditetapkan.

Pada percobaan pertama sampai kedelapan, didapat kadar vitamin C masing-masing 163,4 mg/100g, 168,6 mg/100g, 172,2 mg/100g, 173,8 mg/100g (jambu pertama), 185,3 mg/100g, 210,7 mg/100g, 192,5 mg/100g dan 200,2 mg/100g (jambu kedua). Kemudian dambil rata-rata pada jambu pertama sebesar 169,5 mg/100 g dan pada jambu kedua sebesar 197,2 mg/100 g . ( lihat tabel diatas ).

Perbedaan hasil disini, dikarenakan perbedaan perlakuan pada masing-masing sampel dan juga mungkin disebabkan oleh keterbatasan sampel, ketidaktelitian timbangan (yang seharusnya menggunakan timbangan analitis (ketelitian 0,00001 gram)), kesalahan paralaks mata dan juga kesalahan pengamatan titik akhir titrasi.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  • Proses yang berlangsung untuk penetapan kadar vitamin C yaitu terdiri dari beberapa tahapan yaitu pembuatan larutan KIO3 , Na2S2O3 0,1 N 500 ml, H2SO4 2 N 500 ml , Amilum 1 % ,Standardisasi Na2S2O3 0,1 N dengan KIO3 0,2804 N , I2 dengan Na2S2O3 dan kemudian Penetapan Kadar Vitamin C yang dilakukan dengan pengamatan secara empiris dan perhitungan secara matematis.
  • Kandungan vitamin C pada jambu biji merah jauh melebihi jambu biji biasa yaitu pada jambu pertama sebesar 169,5 mg/100 g dan pada jambu kedua sebesar 197,2 mg/100 g .

B. Saran

· Peneliti menyarankan pembaca dan masyarakat untuk senantiasa mengkonsumsi jambu biji merah karena buah ini mengandung banyak vitamin C yang berguna bagi kesehatan tubuh.

· Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan kandungan jambu biji merah dengan jambu biji jenis lainnya.

· Perlunya ketelitian dalam mengukur sampel termasuk waktu penimbangan, pengamatan terhadap titik akhir titrasi dan paralaks mata.

· Perlunya penambahan sampel untuk mengukur tingkat kevalidan data.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengajar AAK Bandung.(1992).Petunjuk Praktikum Kimia Amami.Bandung : Akademi Analis Bandung.

Jambu Biji Asal Pasar Minggu, Masih Bisa Bertahan.(Oktober 1990).Trubus,hal. 156.

Deptan.(1996).Jambu Biji,Deptan. Diakses tanggal 27 Maret 2008, dari http : //www.argibisnis.deptan.go.id.

Wikipedia, ensiklopedi bebas berbahasa Indonesia.Jambu Biji,wikipedia. Diakses tanggal 28 April 2008,dari http : //www.wikipedia.org.

Litbang Depkes.(2008).Obat Tradisional-Jambu Biji Merah.Litbang Depekes. Diaksestanggal 28 April 2008, dari www.bmf.litbang depkes.go.id Powered by Mambo Open Source Generated : 27 March, 2008, 21 : 52.

Mujiran,Drs.(1990).Kimia Analisa Kuantitatif.Yogyakarta:MIPA UGM hal. 23-32.

Kompas, Jambu Biji Cegah Jantungan,Kompas.Diakses ulang tanggal 23 Mei 2008, dari http://www.dechacare.com/Jambu-Biji-Cegah-Jantungan-1221.html

Aninim.Daun Katuk Juga Mutu Sperma. Diakses ulang tanggal 23 Mei 2008, dari http://forumbebas.com/viewtopic.php?id=20254

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan proses penetapan kadar vitamin C pada jambu biji merah

1. Standardisasi Na2S2O3 dengan KIO3 0,2803 N

I. (VN) KIO3 = (VN) Na2S2O3

10 ml x 0,2803 = 30 ml N Na2S2O3

N Na2S2O3 = 10 ml x 0,2803

30 ml

N Na2S2O3 = 0,0934

II. (VN) KIO3 = (VN) Na2S2O3

10,1 ml x 0,2803 = 30 ml N Na2S2O3

N Na2S2O3 = 10,1 ml x 0,2803

30 ml

N Na2S2O3 = 0,0944

III. (VN) KIO3 = (VN) Na2S2O3

10,03 ml x 0,2803 = 30 ml N Na2S2O3

N Na2S2O3 = 10,03 ml x 0,2803

30 ml

N Na2S2O3 = 0,0937

Rata-rata : 0,0934 + 0,0944 + 0,0937

3

: 0,0938

2. Standardisasi I2 dengan Na2S2O3

(VN) Na2S2O3 = (VN) I2

10 ml x 0,0938 = 11,4 ml x N I2

N I2 = 10 ml x 0,0938

11,4 ml

N I2 = 0,0822

3. Penetapan Kadar Vitamin C

Jambu Pertama

1. Percobaan Pertama

Kadar Vitamin C : 100 x 8,8 x 0,0822 x 176,13

38,97 2

: 163,4 mg/100g

2. Percobaan kedua

Kadar Vitamin C : 100 x 9,2 x 0,0822x 176,13

39,5 2

: 168,6 mg/100g

3. Percobaan Ketiga

Kadar Vitamin C : 100 x 9,6 x 0,0822x 176,13

40,36 2

: 172,2 mg/100g

4. Percobaan Keempat

Kadar Vitamin C : 100 x 10 x 0,0822 x 176,13

41,65 2

: 173,8 mg/100g

Jambu Kedua

5. Percobaan kelima

Kadar Vitamin C : 100 x 10,1 x 0,0822 x 176,13

39,45 2

: 185,3 mg/100g

6. Percobaan keenam

Kadar Vitamin C : 100 x 11,7 x 0,0822 x 176,13

40,2 2

: 210,7 mg/100 g

7. Percobaan ketujuh

Kadar Vitamin C : 100 x 11,4 x 0,0822 x 176,13

42,86 2

: 192,5 mg/100 g

8. Percobaan kedelapan

Kadar Vitamin C : 100 x 12,5 x 0,0822 x 176,13

45,2 2

: 200,2 mg/100g

Rata-rata :

· Pada jambu pertama

= 163,4 + 168,6 + 172,2 + 173,8

4

= 169,5 mg/100 g

· Pada jambu kedua

= 185,3 + 210,7 + 192,5 +200,2

4

= 197,2 mg/100 g

2 komentar:

Norhadijah said...

numpang ngeliat pembuatan pasta kanji iodida ya,,^_^

Norhadijah said...

numpang ngeliat pembuatan pasta kanji iodida ya,,^_^