Thursday, September 18, 2008

Kisah Umar Bin Khottob

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, RasuluLlah saw. bersabda: ”Wahai Ibnul Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.” RINGKASAN KEUTAMAAN ‘UMAR BIN KHATHTHAB RA. Nama lengkap beliau ra.: ’Umar bin Khaththab bin Nufail bin ’Abdul ’Uzza bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. ’Umar ra. lahir 13 tahun setelah Tahun Gajah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi. Beliau ra. termasuk orang paling mulia di kalangan Suku Quraisy. Beliau ra. masuk Islam pada tahun keenam kenabian saat berumur 27 tahun, sebagaimana ditulis oleh Adz-Dzahabi. Saat itu telah masuk Islam 40 orang laki2 dan 11 wanita, atau dalam riwayat lain 39 laki-laki dan 23 wanita. Islam semakin kokoh saat ke-Islam-annya. Beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga. Dan telah diriwayatkan darinya 539 hadits, menurut Imam Suyuthi. ’Umar ra. adalah khalifah pertama yang mendapat gelar ’amirul mukminin. Berkata Ibnu ’Umar: ”Dia adalah seorang laki-laki dengan kulit putih bersih dengan kemerah-merahan. Postur tubuhnya tinggi, kepalanya botak dan beruban.” Berkata Ubaid bin Umar: ’Umar berpostur tinggi jauh melampaui umumnya manusia.” Berkata Abi Raja’ Al-Athari: ”...kedua tulang pipinya menonjol, bagian depan jenggotnya besar dan di ujungnya ada warna hitam kemerah-merahan.” Dari Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, dia berkata: Saya bertanya kepada ’Aisyah: ”Siapa yang menggelari ’Umar bin Khaththab dengan Al-Faruq?” Dia berkata: ”RasuluLlah.” Beliau ra. adalah ayah dari isteri RasuluLlah saw., Hafshah ra., sehingga ’Umar ra. adalah juga merupakan mertua RasuluLlah saw. MASUK ISLAMNYA ’UMAR RA. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ’Umar bahwa RasuluLlah saw. Berdoa: ”Ya Alllah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau ’Umar bin Khaththab.” Dalam riwayat yang panjang dari Ibnu Sa’ad dari Abu Ya’la, Al-Hakim serta Al-Baihaqi dari Anas ra. bahwa (ma’nawi) ’Umar keluar menyandang pedang dengan tujuan membunuh RasuluLlah saw. Di tengah jalan ia bertemu dengan seseorang yang memberitahukan bahwa adiknya, Fathiman binti Khaththab ra. dan suaminya, Said bin Zaid ra. (salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga), telah masuk Islam. Kemudian ’Umar ra. berbelok ke rumah adiknya, saat adik dan suaminya sedang membaca surat Thaha. Saat itu ’Umar berkata: ”Apakah kalian telah berganti agama?” Iparnya menjawab: ”Wahai ’Umar, jika kebenaran ternyata di luar agamamu!” (Ma’nawi) Mendengar jawaban ini ’Umar melompat dan mencekik iparnya dan adiknya yang ingin membantu suaminya dipukulnya hingga berdarah. Dengan nada marah adiknya mengatakan: ”Jika kebenaran tidak berada bersama agamamu maka Asyhadu allaa ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduhu wa RasuluHu.” Kemudian ’Umar meminta kitab yang dibaca adik dan iparnya tadi. Setelah berwudhu (karena adiknya memerintahkannya untuk berwudhu sebelum membacanya), maka ia membaca Surat Thaha hingga ayat 14: ”Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” ’Umar berkata: ”Antarkan saya kepada Muhammad!” Dan beliau ra. pun masuk Islam (Untuk riwayat lengkapnya silakan merujuk ke ‘Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi atau ’Rakhiqul Makhtum’, karya Al-Mubarakfury, dll.). Ibnu Sa’ad dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. dia berkata: ”Islamnya ’Umar adalah sebuah kemenangan besar, sedangkan hijrahnya adalah keuntungan. Kepemimpinannya adalah rahmat. Saya telah melihat sendiri bagaimana kami tidak mampu melakukan shalat di BaituLlah sebelum ’Umar menyatakan ke-Islam-annya. Tatkala ’Umar masuk Islam, dia menyatakan perang kepada mereka sehingga mereka membiarkan kami melakukan shalat dengan bebas.” HIJRAHNYA ’UMAR RA. Ibnu Asakir meriwayatkan dari ’Ali ra., dia berkata: ”Saya tidak mengenal seorang pun yang melakukan hijrah kecuali dia akan melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi kecuali ’Umar bin Khaththab. Saat ’Umar melakukan hijrah dia menyandangkan busur panahnya, dia mengeluarkan beberapa anak panah yang dia pegang di tangannya. Dia mendatangi Ka’bah, saat orang-orang Quraisy sedang berada di halamannya. Dia melakukan thawaf selama tujuh kali. Dia melakukan shalat dua raka’at di Maqam Ibrahim. Kemudian dia mendatangi kelompok-kelompok orang Quraisy satu demi satu sambil berkata, ”Wahai wajah yang tidak bersinar, barangsiapa yang mau ibunya kehilangan anaknya, dan anaknya menjadi yatim, atau isterinya menjadi janda, temuilah di belakang lembah itu.” Namun tidak ada seorang pun yang mengikutinya. BEBERAPA KEUTAMAAN ’UMAR RA. Seluruh Sahabat ra., Salafush Shalih dan seluruh Ahlus Sunnah sepakat bahwa ’Umar adalah orang (kedua) terbaik dalam umat ini setelah (RasuluLlah saw. dan) Abu Bakar ra. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, RasuluLlah saw. bersabda: ”Wahai Ibnul Khaththab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.” Abu Hurairah ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda: ”Di antara umat-umat sebelum kamu ada orang-orang yang muhaddats (mendapat ilham), jika orang tersebut ada pada umatku, pasti dia adalah ’Umar.” (HR. Bukhari) Dari Ibnu ’Umar ra. bahwa RasuluLlah saw. bersabda: ”Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lidah dan hati ’Umar.” (HR. Tirmidzi) Imam Tirmidzi dan Al-Hakim –dia menyatakan bahwa riwayat ini shahih– meriwayatkan dari ’Uqbah bin Amir dia berkata, RasuluLlah saw. bersabda: ”Andaikata setelah aku ada nabi pastilah dia ’Umar.” Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata: RasuluLlah saw. bersabda: ”Tidak ada satu malaikat pun di langit yang tidak menghormati ’Umar, dan tidak ada satu syetan pun yang ada di atas bumi kecuali dia akan takut kepada ’Umar.” Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Said Al-Khudri ra., dia berkata, Saya mendengar RasuluLlah saw. bersabda: ”Di saat aku sedang tidur, kuihat orang-orang ditampakkan kepadaku. Mereka memakai baju, ada yang sebatas dada dan ada yang di bawah itu . Ditampakkan kepadaku ’Umar, dia memakai baju yang panjang dan menyeretnya.” Para Sahabat bertanya: ”Apa takwilnya, wahai RasuluLlah?” RasuluLlah saw. Menjawab: ”Agama.” Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, bahwa RasuluLlah saw. bersabda: ”Tatkala saya tidur, saya bermimpi minum susu hingga saya melihat dalam mimpiku air mengalir dari kuku-kukuku, lalu saya minumkan air itu kepada ’Umar.” Para sahabat ra. bertanya: ”Apa takwilnya, wahai RasuluLlah?” RasuluLlah saw. Menjawab: ”Ilmu.” Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Umar ra., dia berkata: ”Pendapatku bersesuaian dengan Kehendak Allah dalam tiga hal: Pertama, saya pernah berkata kepada RasuluLlah, anadaikata kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Lalu turunlah ayat Allah: ”...dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[1] tempat shalat....” (Q. S. Al-Baqarah : 125) [1] Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka'bah. Kedua, saya katakan kepada RasuluLlah, Yaa RasuluLlah, orang yang baik dan buruk perangainya masuk ke dalam rumah isteri-isterimu, alangkah baiknya jika kau perintahkan mereka untuk berhijab. Kemudian turunlah ayat hijab. Dan ketiga, para isteri RasuluLlah saw. Berkumpul karena dilandasi rasa cemburu. Maka saya katakan semoga Allah menceraikan kalian semua dan Dia menggantinya dengan isteri-isteri yang lain yang lebih baik dari kalian. Lalu turunlah firman Allah tentang hal ini.” Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam Tafsirnya dari Anas, dia berkata: ’Umar berkata: ”Saya melakukan empat hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Tatkala turun ayat: ”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (Q. S. Al-Mu’minuun : 12) Saya katakan: ”Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik,” maka turunlah ayat: “...Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Q. S. Al-Mu’minuun : 14) KEKHILAFAHAN DAN KEADILAN ’UMAR RA. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari AbduLlah bin ’Umar dan Abu Hurairah keduanya berkata, RasuluLlah saw. Bersabda: ”Tatkala saya tidur, saya bermimpi diriku berada di pinggir sebuah sumur yang di atasnya ada sebuah timba. Kemudian saya menimba dari sumur itu beberapa kali timbaan sesuai yang dikehendaki Allah, kemudian Abu Bakar mengambilnya, kemudian dia mengambil air darinya beberapa timba atau dua timba dan salah satu tarikan timba itu berisi separuh saja. Allah mengampuninya. Kemudian setelah itu datang ’Umar bin Khaththab, dia menimba air itu dan dia menggunakan timba yang besar. Dan saya tidak melihat seorang pun yang melakukan pekerjaan seperti apa yang dia kerjakan hingga semua manusia sama-sama puas meminum airnya.” Imam Nawawi dalam Tahdzib nya berkata: Para ulama menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan masa khilafah Abu Bakar dan ’Umar, banyaknya pembukaan kota-kota serta munculnya Islam di masa pemerintahan ’Umar. Az-Zuhri berkata: ’Umar menjadi khalifah di hari meninggalnya Abu Bakar. Yakni pada hari Selasa tanggal 22 Jumadil Akhir (HR. Al-Hakim). Terjadi pada tahun 13H. Pada masanya terjadi banyak pembukaan wilayah-wilayah, seperti Damaskus (dengan damai), th 14H, Yordania (dengan perang), th 15H, kecuali wilayah Thabariyyah. Pada th 16H, Sa’ad melakukan Shalat Jumat di Istana Kisra Persia. Pada th 16H, ’Umar safar untuk membuka Baitul Maqdis, dll. Pada jaman ’Umar ra. ditetapkan penanggalan tahun Hijriyah atas usulan ’Ali bin Abi Thalib ra. Dan pada th 17H, Masjid Nabawi diperluas. Tahun ini juga terjadi ’Tahun Paceklik’, hingga diriwayatkan bahwa perut beliau ra. berbunyi karena lapar dan seringnya ’Umar ra. makan minyak. Lalu ’Umar memohon hujan dengan melalui perantaraan ’Abbas ra., paman RasuluLlah saw. Malik mentakhrij dari Sa’id bin Musayyib, bahwa ada orang Muslim dan Yahudi yang bertengkar, lalu keduanya mengadu kepada ’Umar bin Khaththab. Setelah memeriksa masalahnya, ’Umar berpendapat bahwa yang lebih berhak atas kasus di antara mereka berdua adalah orang Yahudi... ’Umar ra. adalah orang yang pertama kali membangun Baitul Mal, memerintahkan Shalat Tarawih berjama’ah, memerintahkan hukuman bagi orang yang menghujat, membangun kantor-kantor administrasi, mengangkat para hakim di kota-kota dan lain-lain. ’Umar ra. juga mengatur tentara untuk pulang tiap 3-4 bulan sekali untuk dapat memenuhi hak2 para isteri, dll. Aslam berkata: ’Umar berdoa: ”Yaa Allah, karuniailah hamba gugur di Jalan Mu sebagai syahid dan jadikanlah kematian hamba di negara utusan Mu (Madinah).” (HR. Bukhari), dan Allah Swt. berkenan mengabulkannya. Beliau ra. syahid dibunuh oleh seorang bernama Abu Lu’lu’ah (diriwayatkan bahwa dia seorang majusi), saat mengimami Shalat Subuh di Masjid Nabawi, Madinah. Sebelum meninggalnya beliau ra. meminta agar pemilihan khalifah berikutnya dimusyawarahkan oleh 6 orang, yaitu: ’Utsman bin ’Affan, ’Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, ’AbdurRahman bin ’Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, dan kemudian mengkerucut menjadi tiga. BEBERAPA KARAMAH ’UMAR RA. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Abu Nu’aim, Al-Lalaka’i, dari Ibnu ’Umar, dia berkata: ’Umar mengirim satu pasukan yang dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Sariyyah, tatkala ’Umar sedang khuthbah di atas mimbar dia memanggil, ”Wahai Sariyyah, ke gunung! Ke gunung! Ke gunung!” Kemudian setelah itu datanglah utusan pasukan Islam menemui ’Umar. ’Umar menanyakan kondisi pasukan. Utusan itu berkata, ”Wahai Amirul Mu’minin, kami telah terdesak kalah. Namun tatkala kami berada dalam kondisi demikian, kami mendengar teriakatn yang memerintahkan, ”Wahai Sariyyah, ke gunung!” Ucapan itu kami dengar sebanyak tiga kali. Oleh sebab itulah kami menyandarkan punggung kami ke gunung. Lalu Allah hancurkan musuh kami”... Abu Syaikh berkata dalam kitab al-‘Azhamah: Telah berkata kepada kami Abu Thayyib, telah berkata kepada kami Abdullah bin Shalih, telah berkata kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Qais bin al-Hajjaj dari orang yang mengatakan kepadanya dia berkata: Tatkala Mesir dibuka oleh kaum muslimin, penduduk Mesir datang menemui ‘Amr bin al-‘Ash ra. pada saat sudah masuk salah satu bulan yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Orang-orang Mesir itu berkata, “Wahai gubernur, sesungguhnya Nil ini (maksudnya sungai Nil) memiliki kebiasaan di mana dia tidak akan mengalir kecuali dengan sebuah tradisi.” ‘Amr bin al-‘Ash ra. berkata, “Tradisi apakah itu?” “Jika masuk tanggal sebelas bulan ini, kami akan mencari perawan ke rumah orang tua mereka. Lalu kami minta kedua orangtuanya untuk memberikan perawan itu kepada kami dengan suka rela. Kami hiasi perawan itu dengan baju dan hiasan yang paling indah, kemudian kami lemparkan dia ke sungai Nil ini,” jawab penduduk. “Ini tidak mungkin dilakukan di dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam menghapus tradisi lama,” kata ‘Amr bin al-‘Ash ra. Lalu mereka melaksanakan apa yang dikatakan oleh ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata sungai Nil itu kering dan tidak mengalirkan air sedikit pun. Hingga kebanyakan penduduk berencana untuk melakukan hijrah. Tatkala melihat kondisi demikian, ‘Amr bin al-‘Ash ra. menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaththab ra. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa mereka ditimpa musibah akibat yang ‘Amr bin al-‘Ash ra. katakan, di mana beliau ra. mengatakan bahwa Islam telah menghapus tradisi lama (yang berlaku pada masyarakat di sekitar sungai Nil tersebut). ‘Umar ra. menulis kepada ‘Amr bin al-‘Ash ra. yang di dalamnya ada sebuah nota kecil. Dalam surat itu ‘Umar menulis: “Sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu dalam suratku satu nota kecil, maka lemparlah nota kecil itu ke sungai Nil.” Tatkala surat ‘Umar ra. sampai di tangan ‘Amr bin al-‘Ash ra., dia mengambil nota kecil itu dan membukanya. Ternyata di dalamnya berisi tulisan sebagai berikut: “Dari Hamba Allah, Amirul Mukminin, ‘Umar bin al’-Khaththab. Amma ba’du. Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk mengalirkanmu kembali.” ‘Amr bin al-‘Ash ra. kemudian melemparkan nota kecil itu ke sungai Nil. Allah Swt. mengalirkan air sungai Nil dengan kadar enambelas dzira’ dalam satu malam. Dengan peristiwa itu, Allah Swt. telah menghancurkan tradisi jahiliyyah dari penduduk Mesir tersebut hingga sekarang. ’Umar bin Khaththab ra. pernah berkata: “Akan ada dari keturunanku seorang anak yang di wajahnya ada bekas luka. Dia memenuhi dunia dengan keadilan.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi). Saat ’Umar bin ’Abdul ’Azis (beliau masih keturunan ’Umar bin Khaththab ra. dari jalur ibu) masih kanak-kanak, wajahnya pernah ditendang binatang. Pada saat menghapus darahnya, ayahnya berkata: ”Jika kamu adalah orang yang terluka di kepalanya dari kalangan Umayyah, maka engkau akan menjadi orang yang bahagia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir) ZUHUD ’UMAR RA. Dikatakan: ’Umar membawa geriba di atas pundaknya, lalu demikian itu dia ditegur, dia menjawab: ”Sesungguhnya jiwaku merasa hebat terhadapku, maka aku bermaksud hendak menghinakannya.” Dari Al-Miswar bin Makhramah, dia berkata: ”’Umar menerima sejumlah harta yang diletakkan di masjid. Kemudian dia keluar menuju masjid untuk melihat dan memeriksanya. Seketika itu pula kedua mata ’Umar meneteskan air mata.” ”Apa yang membuat kamu menangis, wahai Amirul Mukminin?” tanya ’AbdurRahman bin ’Auf, ”Demi Allah, sesungguhnya yang demikian ini termasuk hal yang perlu disyukuri.” ’Umar berkata: ”Demi Allah, yang demikian ini tidak diberikan kepada suatu kaum melainkan justru dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad) Dari Yahya bin Jad’ah, dia berkata, bahwa ’Umar pernah berkata: ”Kalau bukan karena tiga hal, tentu aku lebih suka bersua Allah ’Azza wa Jalla, yaitu: Sekiranya aku tidak dapat meletakkan keningku karena Allah, duduk di berbagai majelis yang di sana dipilih perkataan yang baik sebagaimana buah-buahan yang dipilihi, dan keluar di Jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad) Dari ’AbduLlah bin Isa, dia berkata: ”Pada wajah ’Umar bin Khaththab ada dua garis kehitam-hitaman karena bekas tangisan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad) Dikutip dan diringkas oleh PIP PKS ANZ wil. NSW dari: Tarikh Khulafa (Imam Suyuthi), 10 Sahabat yang Dijanjikan Masuk Surga (’Abdul Hamid Kisyik), Keutamaan Para Sahabat Nabi Saw. (Mustafa Al-’Adawi), Zuhud (Imam Ahmad) Sumber : ( YP | PIPPKS-ANZ | www.pks-anz.org )

0 komentar: