Saturday, August 29, 2009

Syahadat benar, dunia dan akhirat dapat

Seorang manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang muslim tentunya mengucap kalimat syahadat pada awal pengukuhannya. Kalimat keramat itu wajib diucapkan karena itulah kalimat yang membedakan antara seorang yang benar-benar berserah diri pada-Nya atau tidak dan kalimat itu pembeda seorang dikatakan sebagai seorang muslim atau kafir. Kalimat tersebut mengandung konsekuensi yang begitu besar karena kalimat tersebut merupakan pondasi awal dari rukun islam. Artinya seorang yang telah bersyahadat wajib menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekarang ada hal yang menarik yang perlu kita tahu. Banyak orang yang mengaku muslim tetapi enggan menjalankan perintah agama. Mereka hanya punya KTP Islam tetapi sholat aja bolong-bolong bahkan tidak pernah. Disamping itu banyak diantara kita tetap aja menjadikan islam sebagai simbol aja. Kita tetap aja bertindak sesuai kemauan kita. Disini penulis mengambil sampel Indonesia. BukannyaIndonesia itu mayoritas penduduknya adalah beragama Islam?. Tetapi mengapa kemaksiatan tetap saja merajalela?. Jawabannya satu. Mereka tidak faham konsekuensi makna syahadat yang dua itu. Persepsi orang banyak ketika seorang bergelut pada masalah agama, banyak dari mereka yang tidak sukses di dunianya. Anggapan mereka agama itu berbanding terbalik dengan sukses keduniaan. Kalau kita mau menelaah sejarah. Bukanlah para sahabat nabi itu sorang yang kaya dan ilmuan yang hebat ?. Disini penulis mengambil sampel sahabat Anas bin Malik RA dan Bilal bin Rabah RA disamping banyak sahabat-sahabat lainnya. Pada mulanya Anas adalah seorang pembantu Nabi SAW. Dia tidak punya rumah. Dia hanya tinggal di dekat raudloh masjid Nabawi dengan ratusan seorang yang tidak berpunya lainnya. Pada suatu waktu dia mengungkapkan cita-citanya kepada Rasulullah “Inni murofiquka fil jannah ya Rasulullah”, “ saya ingin menemanimu di syurga ya Rasulullah”. Kallimat tersebut telah mengubah keadaan dirinya di dunia dari seorang yang tidak berpunya menjadi seorang yang kaya raya di negerinya saat itu Syam. Selain itu dia juga mempunyai 120 anak yang sembilan puluh diantaranya adalah seorang hafidz qur’an. Disamping itu ia dikenal sebagai musnid hadits terbesar ketiga setelah Aisyah dan Abu Hurairah dan seorang yang dermawan. Contoh kedua adalah Bilal bin Rabah. Dia awalnya adalah budak belia yang dimerdekakan Abu bakar Ash-shiddiq. Tetapi kalimat syahadatnya di hadapan Nabi SAW memotivasi dirinya tuk berbuat lebih banyak untuk umat ini. Dia menjadi gubernur Syiria saat itu. Mungkin ketika kita membaca sejarah dua orang sahabat nabi tersebut, kita tidak akan percaya bagaimana dengan benar-benar memahami makna syahadat kita dapat termotivasi untuk menjadi seorang yang sukses di dunia ini. Kuncinya adalah satu “motivasi”. Apakah kita bekerja di dunia ini kita niatkan untuk mencari dunia atau akhirat. Perlu kita garis bawahi bersama, kalau seseorang berorientasi untuk akhirat, ia akan mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus dunia dan akhirat. Akan tetapi kalau seseorang berorientasi hanya untuk dunia, ia hanya akan mendapatkan dunia saja. Kita pilih mana ?

0 komentar: