Friday, January 22, 2010

China-ASEAN Free Trade Agreement

Ditengah keadaan perekonomian nasional yang masih carut-marut, Indonesia menerapkan kebijakan yang dinilai banyak pihak akan melemahkan perekonomian nasional. Indonesia secara resmi per 1 Januari 2010 kemarin menerapkan perdagangan bebas ASEAN-China atau lebih dikenal China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Kebijakan tersebut merupakan implikasi dari pertemuan penting tanggal 6 November tahun 2001 antara delegasi-delegasi tiap negara anggota di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.
Kebijakan tersebut tidak lain adalah untuk meluaskan pasar negara-negara maju di wilayah negara berkembang. Ada tiga alasan utama mengapa Indonesia menerima kebijakan ini. Pertama, Penurunan dan penghapusan tarif serta hambatan nontarif di China membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan volume dan nilai perdagangan ke negara yang penduduknya terbesar dan memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia. Kedua, penciptaan rezim investasi yang kompetitif dan terbuka menbuka peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi dari China. Ketiga, peningkatan kerja sama ekonomi dalam lingkup yang luas membantu Indonesia melakukan peningkatan capacity building, technology transfer dan managerial capability.
Tujuan tersebut secara sepintas menguntungkan Indonesia, namun melihat fakta lapangan banyak manufuktur dan industri dalam negeri yang belum siap. Industri-industri dalam negeri diperkirakan akan colaps dan gulung tikar dikarenakan kinerjanya menurun. Itu tidak lain disebabkan oleh serbuan produk - produk China di hampir segala sektor perdagangan. Mulai dari barang-barang elektronik, mainan, pakaian dan lainnya. Akibatnya produksi industri-industri dalam negeri akan merosot dan puluh ribuan buruh akan di-PHK dan persentase kemiskinan akan naik drastis.
Wakil Menteri perdagangan China Yi Xiaozhun menyatakan penerapan free trade ini akan menyebabkan negara – negara anggota CAFTA akan menang bersama. Tidaklah salah, China telah mempersiapkan selama 18 tahun untuk menghadapi perdagangan bebas ini. Sementara Indonesia ?. Sejak kapan mempersiapkan ini ?.
Negara kita seolah-olah dibodohi saja. Sejak rezim Soeharto kapitalisme asing dengan mudah masuk ke wilayah kita Indonesia tentunya dengan embel-embel kebijakan ini akan dapat menstabilkan ekonomi kita dan berakibat rakyat menjadi makmur. Tapi apakah hasilnya seperti yang diharapkan ?. Tidak, justru dengan kapitalisme asing negara kita seolah dijajah tanpa henti. Kekayaan alam kita digerus tanpa ampun dan berakibat aktivitas perekonomian kita cenderung melemah. Rakyat dikorbankan dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang meningkat. Penguasa negara ini seolah menutup mata dengan dampak yang ditimbulkan dengan kapitalisme asing tersebut.
Pemerintah kita sampai sekarang masih berkiblat pada negara-negara maju. Akibatnya kapitalisme asing masih membayangi perekonomian kita. Tidak bisa dipungkiri negara-negara maju tersebut berkata apa, pemerintah kita tinggal mengamini dan menjalankan. Pemerintah kita belum mampu sebagai negara yang mandiri. Akibatnya masih saja dibodohi dan dibodohi.
Uruqul Nadhif Dzakiy/16009048

0 komentar: