Friday, February 26, 2010

Review temen lama


Sudah enam tahun lebih aku dah ninggalin sekolah MI-ku tercinta MIM 1 Sukodadi. Kalo nggak salah letaknya di Jl. Raden Wijaya tapi nomor berapa ya ?. Aku dah lupa. Pokoknya di kompleks perguruan Muhammadiyah Sukudadi. Madrasahku diapit oleh Masjid Darussalam dedepannya sehingga terlihat nggak luas paling sekitar 15x60 m2 . Namun pendidikan dasarku mulai dari sini. Di sini aku nemuin guru2 terbaikku Bu Lis, Pak Rahmad, Pak Handoko, Pak Mukit, Pak Abu Ali, Pak Musta’in (alm), Bu Faizah, Pak Sulkan, Bu Endang, Pak Muzari, Bu Mus, Mu Rahmawati (keduanya bibiku), Bu Ulfah, Pak Eko, Pak Hasan dan mungkin guru lain tapi aku lupa. Pemandangan tiap pagi tak lepas dari  bengkel kak Ghofur dengan bunyi motor tua tahun 70-annya.  
Selain para guru, temen2 lamaku juga wajib aku beri apresiasi. Mereka itu Sholahuddin Zuhri (sepupuku), Nakif Eko Wijayanto, Sultoni fajri (mereka semua sekampung), Zuliar Susanto (ketua gank), Adi Okta Saputra (pegelut sejati), Ahmad Yasin ( aku pernah gelut ama dia,tapi sama2 nagis, Wkwkwk), Ashari (kalo maen kelereng suka marah), Muhammad Andiansyah (sangat segan dengan aku), Mohammad Ma’in (gank lawon), Muhammad Nurul fadli (suka bilang, “sungkan aku”, kutiru sampe dimarahi Pak handoko), Fenita Shoviantari (rival prestasi), Evi Nurmawati (si centil tapi cerdas), Novia rahma (Pendiam kelas kakap), Desi Yusnita sari (suka tak ejek), Yulinda Kurnia dewi (pernah kukasih lem ke kerudungnya), Reni Ardila (Anak joyo yang sering juga tak ejek), Lia Anisatul (Pernah dicalonin ketua kelas tapi nangis, wkwkk) dan sapa lagi ya, dah lupa. Mereka semua temen baik yang pernah kumiliki. Namun sayangnya belum semuanya sampai sekarang yang kutemui. Yang pernah kutemui paling mas Zuri, Nakif, Sulton,Andik, Ma’in, Zuliar (kulihat dia ngamen dibus, tapi semoga nggak), Adi (dulu dia suka main bola dedepan markas sound Novita), Nita , Lia, Linda dan fadli, sedang yang lain belum pernah sekalipun lihat face to face apalagi ngobrol. Kecuali Ovi yang kuketemu via SMS dan facebook aja.
Angkatanku ini merupakan angkatan emas. Emas dengan jago gelut anak2nya ( Anak SMP saja sampe takut ama Zuliar) dan tentunya perstasi. Nggak sombong sich, anak2nya sekarang ada yang kuliah di ITB, UNAIR dan UNIBRAW. Tentunya ini semua karena pembentukan pribadi di sekolah kecil ini. Sekolah ini, kalo ditelusuri, murid2nya nggak banyak. Temen angkatan dulu aja Cuma 19 orang dan 100 orang dari kelas satu sampe kelas enam, terhitung saat aku duduk dikelas enam. Dulu sih pas aku kelas dua cukup banyak sih, ada 150-an orang, namun setelah ada SDN Merjoyo banyak yang pindah kesana. Kayak Ardi yang dulu dipanggil ‘Jembel’.
Pengalaman berkesan ketika aku bersekolah disini yaitu pas lagi berangkat sekolah. Aku yang berangkat pake sepeda harus bersaing keras dengan pengendara becak  SMAN Merjoyo. Tak ayal sampe aku ‘kegenjret’ lumpur lubangan di jalan. Tidak hanya itu sampe Mas Zuri tertabrak motor dan sepedanya masuk kali. Sebenarnya itu bisa aja nggak terjadi kalo berangkat pagi. Masalahnya aku hampir tiap pagi, berangkatnya ‘mripit’ mau masuk. Jadinya aku terburu2 dan telat lagi. Aku dihukum maju kedepan dan baca janji pelajar Muhammadiyah pas apel pagi. Aju juga sempat ditampar pak Hasan gara2 aku telat tapi nggak mau ambil sampah. Mas Zuri juga ikud dampaknya. Tragis!
Sebenarnya dulu mau diadain reuni. Aku dah ngobrol ama mas Zuri, Nita, Lia dan Linda. Namun gagal, gara2 kurang niat. Payah!. Tapi sebenarnya yang terpenting bukan reuninya namun kekuatan ukhuwah satu sama lain. Semoga kita ada upaya untuk kembali mempersatukan ukhuwah ini. Perlu kita ingat semua bahwa awal pendidikan dasar kita mulai dari sini dan teman2,  guru2 dan orang2 disamping kita dulu itulah yang mengantarkan kita menuju kepada keberhasilan.
Command dari teman2 sangatlah diperlukan :D

0 komentar: