Wednesday, April 18, 2012

GANESHA Tak Akan Go Public Sebelum Dibredel

GANESHA yang membawa tagline "Kritis dan Menggerakkan" adalah majalah kampus di ITB yang isinya menyoroti kebijakan pemerintah dan kampus secara mendalam. GANESHA memberikan pandangan tersendiri yang lugas dan berani akan suatu permasalahan. Keberanian GANESHA tak sekedar kritis namun GANESHA mampu memberikan solusi yang sesuai dengan keadaan saat ini. Headline majalah digodok dan dikaji secara total guna menghasilkan konten yang tak sekedar opini beberapa orang semata.

GANESHA saat ini baru dipandang kritis, namun belum mampu menggerakkan sesuai dengan motonya. GANESHA dinilai beberapa orang bahwa GANESHA masih digerakkan oleh beberapa orang yang kapabilitasnya kurang dikenal. Hal itu terlihat dengan postingan di web resmi unit yang sarat akan pendapat subjektif dan miskin data dan analisis.

Saya menilai hal itu tak akan berlangsung lama. GANESHA di edisi kedua penerbitan majalah (Maret 2012) sudah melakukan step mengkaji headline biarpun masih join dengan unit dan lembaga lain. GANESHA edisi selanjutnya akan jauh lebih mendekati motto majalah. GANESHA melakukan riset dan analisis sendiri tentang headline. Datangnya Kru baru GANESHA menambah semangat daya juang GANESHA untuk menyajikan konten-konten tajam dan berani serta dapat dipertanggungjawabkan.

GANESHA Akan Dibredel

Kekonsistenan GANESHA memegang motto "Kritis dan Menggerakkan" pastinya akan menyebabkan banyak pihak merasa terganggu dan dirugikan. Contoh serupa media yang mengalami hal ini adalah Tempo. Tempo pernah dibredel oleh Rezim Orba dua kali yaitu pada 12 April 1982 ketika Tempo berumur 12 tahun. Pemredelan dilakukan karena Tempo berani menyajikan berita kristis tentang kampanye Partai Golkar yang berakhir rusuh di Lapangan Banteng. Berita ini tidak disukai oleh Soeharto, presiden saat itu. Pembredelan yang lebih sadis terjadi pada Tempo pada 8 Maret 2003. Tempo diserang oleh sekumpulan pengunjuk rasa pendukung pengusaha terkenal, Tommy Winata. Saat itu Tempo berani menyajikan berita proposal renovasi Pasar Tanah Abang senilai 53 Milyar sebelum terbakar oleh Tommy Winata adalah penyebabnya. Peristiwa ini menyebabkan kanton Tempo dirusak, wartawan Tempo dipukuli, Bambang Harimurti (Pimpinan Tempo) dihina, kepalanya ditonjok, dan perutnya dijotos.

GANESHA belumlah sampai pada tahap seperti halnya dialami oleh Tempo. GANESHA baru berada dalam tahap "kritis'". Jika dua kata dalam motto GANESHA sudah dipenuhi dan dibarengi dengan konsistensi tuk terbit dan publishing, saya yakin GANESHA akan dibredel. Entah dibredel ama massa kampus atau pihak rektorat atau juga publik yang menikamati GANESHA.

Saya yakin sekali Kru GANESHA akan tetap bisa membaca celah dari suatu keadaan. Kru GANESHA adalah pihak yang ingin melakukan sesuatu yang terbaik. Ancaman akan bisa dihadapi. Akhirnya GANESHA akan menjadi majalah pegangan (khususnya mahasiswa) dan go public sama halnya Tempo yang saat ini bisa desejajarkan dengan Kompas dan Jawa Pos Group.

18 April 2012 3:43 PM

4 komentar:

Fikriyatul Falashifah said...

Paragraf 1 : menyoroti, atau mensoroti? hehe..

Tulisannya sudah kritis menurut saya, eksplanasinya mengalir. Udah enak dibaca kok..

Penilaian kualitatif memang terkadang subjektif. Santai saja, seperti arus angin. Halus tapi diam-diam mengerakkan :)

Uruqul Nadhif Dzakiy said...

ok sip, sah ku edit kata "mensoroti". Kamu suka sastra ya ?. Komentarmu terlihat demikian :)

Makasi Fa :)

Autofoccus said...

hehe.. makasih , bukan kritik lho ya itu. Cuma mempertanyakan aja ejaannya yg bener kayak gimana..

Sastra? Suka. Tapi lebih suka dibilang suka sesuatu yg membuat saya suka. Sastra, musik, jurnalistik, travelling, sesuatu yang 'baru' / unik, nggak ada dominasi atau fanatik suka sama sesuatu sih..
hahaha.. :D

fiki aja kak. Not 'fa'. Asing bacanya. haha :D

Uruqul Nadhif Dzakiy said...

ok sip Fiki, Thanks ya :D