Wednesday, February 05, 2014

Menangkap Inti Belajar Matematika

Menangkap Inti Belajar Matematika

Sejak usia pra sekolah, kita telah diperkenalkan dengan matematika melalui metode berhitung sederhana. Memasuki sekolah formal, kita tetap diajari oleh guru kita dengan disiplin ilmu matematika. Bahkan sampai Perguruan Tinggi, terutama bagi mahasiswa yang mengambil program studi matematika, kita tetap mempelajari matematika. Selain di bangku institusi formal, dalam kehidupan nyata, mau tidak mau, suka tidak suka, sadar tidak sadar, praktis kita menggunakan matematika dalam beraktivitas sehari-hari. Masyarakat awam menilai bahwa matematika identik dengan ilmu hitung. Mereka beranggapan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang seperti halnya seorang doktor Matematika, maka semakin canggih Ia dalam menghitung, setara bahkan melebihi kemampuan komputer dan kalkulator terkini. Benarkah matematika sekedar ilmu hitung ?

Berfikir Matematis

Menurut hasil penilaian Programme for International Student Assesment (PISA) pada 2012, sebuah lembaga internasional yang mengukur kecakapan siswa di kelas, menunjukkan bahwa kemampuan siswa di bidang matematika sangat menentukan keberhasilan dan kemajuan bangsa, baik itu dalam peningkatan kualitas pendidikan maupun politik. Ada satu istilah yang patut kita garis bawahi dari statement PISA yakni kecakapan. Kecakapan menurut Mason, Burton, dan Stacey (1982) tidak diartikan sebagai ahli atau pandai menghitung melainkan mampu berfikir matematis. Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa berfikir matematis adalah proses dinamis yang memperluas cakupan dan kedalaman pemahaman matematika. Matematika adalah alat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan secara deduktif dan logis. Orang yang mampu berfikir matematis akan memiliki kelenturan beraktivitas, ketekunan, minat, keingintahuan, dan keahlian untuk menemukan/menciptakan sesuatu yang baru. Ia memiliki kepercayaan diri dan watak untuk mencoba, mengevaluasi, dan membuat keputusan (NTCM,1991). Tegasnya ciri orang yang mampu berfikir matematis yaitu kritis, tegas, dan berintegritas.
 
http://en.wikipedia.org/wiki/File:Pure-mathematics-formul%C3%A6-blackboard.jpg
Kemamapuan berfikir matematis ini pada sekolah formal secara umum kurang ditekankan. Pendidikan matematika kita masih bertumpu pada tingkat berfikir rendah semata, seperti menghafal rumus dan memenuhi prosedur berhitung yang dirumit-rumitkan (Pranoto, 2013). Hal ini disebabkan karena guru-guru kita secara umum belum kasmaran terhadap matematika. Kasmaran menurut Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB, diartikan sebagai keadaan saat seseorang melakukan kegiatan yang melibatkan matematika secara total. Ego, lingkungan, dan waktu melebur luruh ke dalam kegiatannya. Khusus dalam bermatematika, keadaan ini ditandai tumbuhnya sikap "keusilan" matematika, ingin tahu, skeptis-gigih, dan juga memiliki tanggung jawab belajar. Guru yang kasmaran terhadap matematika akan menekankan proses penalaran dalam metode pengajaran matematika. Akibatnya siswa akan semakin cinta terhadap matematika. Matematika tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang kaku dan membosankan. Senada dengan Iwan Pranoto, George Poyla, Professor Matematika dari Stanford University, dalam tulisannnya yang berjudul The Goals of Mathematics Education yang dipublikasikan pada 1969 menegaskan bahwa mengajar matematika adalah mengembangkan kemampuan untuk berfikir, yakni menumbuhkan mental untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah. Memahami matematika berarti melakukan matematika (bermatematika) yakni mampu menyelesaikan masalah dengan pola pikir matematika.

Oleh karenanya guru memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya memahamkan siswanya akan matematika. Penekanan pada berfikir matematis menjadikan guru harus mampu berinovasi sedemikian hingga dalam menyajikan metode pengajaran kepada siswanya. George Poyla mencontohkan metode penemuan (discovery method) dalam mengatasi kebuntuan metode yang cocok untuk siswa. Metode tersebut menuntut kreativitas murid dalam menemukan suatu rumusan masalah dalam matematika. Guru hanya berperan sebagai fasilitator sedangkan siswa berperan sebagai subjek belajar. Guru memberikan kail kepada para siswanya kemudian siswalah yang menemukan ikannya.

Kemampuan Matematika Siswa Kita

Sebuah lembaga internasional yang meriset kualitas pendidikan matematika dan sains dari berbagai belahan negara yakni Trends in International Mathematics and Science Studies (TIMSS) pada 2011 merilis bahwa nilai rata-rata matematika kelas VIII kita hanya menempati urutan ke-38 dari 42 negara yang diriset. Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura berada di atas Indonesia. Penilaian TIMSS ini lebih menekankan pada penguasaan konsep. Sementara penilaian dari Programme for International Student Assesment (PISA) yang menekankan pada aspek penerapan dalam kehidupan sehari-hari pada 2012 merilis bahwa Indonesia menduduki peringkat-2 dari bawah di antara 65 negara peserta. Posisi Indonesia satu tingkat lebih baik dari Peru. Penilaian PISA ini lebih ditekankan pada penilaian di bidang matematika, membaca, dan sains. Penilaian internasional tersebut menunjukkan bahwa sejauh ini siswa-siswa kita belumlah menyenangi berbagai mata pelajaran khususnya matematika di kelas. Matematika masihlah menjadi beban bagi mereka. Hal ini tak luput dari peran guru dikelas yang masih jauh dari yang  kita harapkan bersama. Selaras dengan hasil Tes Kompetensi Awal Guru Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) pada 2012 yang menunjukkan bahwa secara nasional rata-rata kompetisi guru kita hanya 42.25, tidak sampai menyentuh angka 50. Hal ini mempertegas bahwa secara nasional kualitas guru kita masihlah sangat rendah.

Kurikulum 2013 sebagai pengganti dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidaklah menjawab permasalahan jika masalah kualitas guru tidak diperhatikan dengan serius. Sebagus apapun kurikulumnya namun peningkatan kualitas guru masih tidak menjadi prioritas, maka janganlah kita berharap banyak pada peningkatan peringkat Indonesia pada TIMSS dan PISA. Indonesia akan tetap menempati posisi buncit dan tertinggal jauh dengan posisi negara tetangga seperti  Vietnam yang behasil menyalip posisi Australia dan Inggris pada penilaian PISA 2012 dan Singapura yang berada diperingkat kedua terbaik. Penyiapan calon guru yang berkualitas adalah sebuah keharusan. Kurikulum jurusan pendidikan atau pengajaran matematika di kampus-kampus harus didesain sedemikian rupa sehingga menimbulkan kasmaran bermatematika bagi calon guru tersebut. Porsi pendalaman konsep harus dilipatgandakan. Pada akhirnya, calon guru tersebut diharapkan memiliki dua kecakapan yaitu menguasai matematika dan bergairah dalam mengajar.


Uruqul Nadhif Dzakiy
Mahasiswa Matematika ITB

0 komentar: