Wednesday, September 24, 2014

Menjadi Sarjana

Sebuah refleksi pasca lima tahun belajar di kampus ITB

Pada 18 Oktober 2014 nanti , jika tidak ada halang merintang saya akan disumpah sebagai alumni Institut Teknologi Bandung.

Saya berkesempatan mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 2009 silam. Ketika itu, saya diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Jalur tersebut merupakan jalur masuk PTN terakhir, setelah saya gagal lolos di tiga ujian mandiri ; SIMAK UI, UM UGM, dan USM Terpusat ITB. Pada tahun kedua, saya dijuruskan di Program Studi Sarjana Matematika, jurusan paling kompetitif saat itu.

Saya orang ketiga dari sekolah saya yang masuk ITB. Karena hal inilah saya relatif buta dengan kondisi ITB. Di tahun pertama saya relatif gamang dan cenderung gugup ketika berinteraksi dengan teman-teman lain yang sebagian besar berasal dari SMA favorit dari seluruh penjuru nusantara. Namun di tahun-tahun setelahnya saya cukup familier dengan kondisi kampus setelah terlibat akitif di berbagai organisasi. Saya mencoba memaksimalkan peran saya sebagai mahasiswa. Banyak pengalaman baru saya coba, mulai dari aktif di unit media dan kajian, mengikuti berbagai konferensi, berinteraksi dengan nama besar, berpolitik sampai dengan pengalaman cinta. Namun pengalaman berharga tersebut memang harus dibayar mahal dengan tidak fokusnya saya dalam menyelesaikan studi di Matematika. Sejak semester tiga sampai semester sembilan, minimal satu mata kuliah berbobot 4 SKS tidak lulus. Saya juga mencetak rekor di Matematika dengan menjalani seminar Tugas Akhir I & II masing-masing diulangi sebanyak dua kali.  

Pengalaman Organisasi

Berlatar belakang alumni pondok pesantren, awal mula di ITB saya terlibat aktif di Majelis Taklim Salman (Mata') ITB. Saya menjadi salah satu anggota muda yang rutin hadiri halaqah dan pengajian pekanan di kompleks Salman. Memang selain Mata', saya tercatat juga sebagai anggota Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA), anggota Majalah Ganesha ITB dan Staff dari Kementerian Pendidikan dan Kajian Keluarga Mahasiswa ITB. Namun sayangnya ketiganya tidak terlalu aktif. Saking aktifnya, saya di tahun kedua didaulat menjadi Koordinator Kesekretariatan Mata'. Seringkali saya menginap di sekre dan juga berinteraksi dengan Badan Pengurus (BP) lain yang didominasi angkatan 2008. Di akhir kepengurusan saya sebagai BP, saya ditawari oleh MPOPS (setingkat Majelis Syoro di Gamais) untuk menjadi kandidat Koordinator umum (Korum), tetapi saya menolak. Saya sadar diri bahwa saya belum layak untuk menduduki posisi puncak tersebut. Dua tahun berselang, saya tak lagi aktif di Mata' biarpun memang saya tercatat sebagai staff internal. Saya kembali terlibat aktif di organisasi yang bukan merupakan barang baru bagi saya "Majalah Ganesha- Kelompok Studi Ekonomi Politik (MG-KSSEP)".  Di organisasi tersebut saya memang pernah tercatat sebagai anggota, namun pernah juga kabur selama satu semester.

Tak lama kembali aktif di unit ini, saya diangkat sebagai ketua unit. Saat itu, anggota unit dari 2009 hanyalah saya. Saat menjabat ketua, saya berusaha adakan kajian rutin tiap jumat sore dengan mengundang pembicara dari berbagai pihak seperti Kabinet KM ITB dan alumni unit. Saat itu juga saya mulai menjalin hubungan harmonis dengan para politisi kampus. Majalah Ganesha pun semakin dikenal publik kampus. Namun, karena kajian bukanlah spesialisasi saya, saya mengandalkan senior untuk mengisi dan memandu kajian. Tiba saatnya pada semester kedua periode saya, saya menjadikan unit MG benar-benar berbeda dari sebelumnya. Majalah edisi Januari 2012 pun terbit setelah sembilan tahun vakum. Biarpun tanpa latar belakang jurnalistik, saya nekad untuk memberikan sajian terbaik pada edisi ini. Saya wawancara Jokowi pada 27 Desember 2011 di Balaikota Solo. Selain itu headline pada edisi kali ini adalah "SBY Turun !" dengan dibalut dengan cover majalah yang cukup sensual. Banyak pihak yang memuji terbitnya majalah ini namun juga banyak pula yang mencecar.
Pas foto buat wisuda (doc. Jonas)
Pola majalah memang belum terbentuk, namun saya mencoba di setiap edisi terdapat perubahan. Setelah edisi perdana ini berturut-turut dalam rentang sekitar dua bulan sekali majalah terbit. Edisi Maret 2012 berjudul "Tolak Kenaikan Harga BBM !", edisi Mei 2012 berjudul "Menarik Benang Kusut Dunia Pendidikan ", dan edisi khusus OHU pada Agustus 2012 berjudul " ITB, masihkah Terbaik?".  Sejak April 2012, saya melakukan open recruitment untuk menambah amunisi  redaksi.  Dua puluhan mahasiswa angkatan 2011 yang kala itu TPB mendaftar. Sejak awal 2012 sekitar Februari, saya membuat website baru dengan alamat majalahganesha.com. Aktivitas twitter dan facebook kembali digiatkan untuk mempromosikan karya-karya redaksi. Pada masa inilah MG lebih nge-pop. Unit ini seringkali diajak menjadi media partner berbagai kegiatan. Tak hanya ITB, bahkan kampus lain pun meminta.

Saat memimpin unit, saya tercatat sebagai peserta asrama kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri. Saya mulai aktif di asrama tersebut sejak tingkat dua. Kegiatan di asrama ini sungguh sangat padat. Bahkan di tiga bulan pertama, waktu tidur saya seharinya berkisar 3-5 jam. Begadang menjadi agenda harian. Liburan pun harus dipangkas. Tercatat dalam memori saya selama di asrama, biarpun liburan panjang, saya di rumah maksimal hanya dua minggu. Tidak lebih. Namun di sisi lain, dari asrama inilah saya untuk pertama kali ke luar negeri yakni mengunjungi Singapura dan Johor Malaysia pada bulan Puasa tahun 2011.

Selama di asrama, kesibukan menjadi hal yang sangat familier bagi saya. Minimal sekali setiap semester, saya harus ke Lenteng Agung untuk Latihan Gabungan dengan Regional dari UI dan IPB, dan setiap satu tahun sekali harus mengikuti National Leadership Camp (NLC) yang dihadiri oleh seluruh regional. Dari asrama lah saya mengenal banyak aktivis kampus lain selain dari regional saya seperti UI, IPB, UGM, Unair, dan ITS. Bahkan saat saya menjadi peserta, Ketua BEM ITB, UI, ITS, dan UGM dijabat oleh anak PPSDMS. Ketika menjadi peserta, saya tergolong peserta yang jauh dari keteladanan. Prestasi tidak ada, akademik amburadul. Konsekuensinya, di hampir setiap evaluasi pada akhir semester, saya mendapat predikat lulus bersyarat. Bahkan di evaluasi final, saya sangat yakin bahwa tidak akan menjadi alumni asrama. Namun takdir berkata lain. Saya lulus evaluasi. Saya tidak tahu mengapa pengurus pusat meluluskan saya.

Kesibukan di asrama memacu saya untuk menjadi pelopor di berbagai tempat. Pada 2012, saya beranikan diri menginiasi berdirinya Forum Mahasiswa Lamongan (Formala) biarpun kemudian vakum dan menjadi ketua Keluarga Mahasiswa Muslim Matematika (KM3) biarpun cuma sebulan. Saat menjadi ketua KM3, saya sedang menjabat juga sebagai ketua unit. Namun, saya mencoba menikmati itu semua biarpun sungguh sangat berat. Berkumpul dengan teman-teman asrama yang kebanyakan aktivis kampus menjadi semacam motivasi untuk menjadi orang yang tahan banting. "Menjadikan Indonesia Lebih Baik dan Bermartabat" adalah motto yang seringkali didengungkan di "Idealisme Kami" di hampir semua acara formal asrama. Motto tersebut menjadi semacam spirit di saat saya jatuh.

Oktober 2012, saya harus turun sebagai ketua MG. Saat itu, angkatan 2011 sudah tingkat dua. Sebagai konsekuensinya, mereka mengikuti osjur dan berbagai kegiatan himpunan. Irfan yang juga angkatan 2011 kemudian naik sebagai ketua gantikan saya. MG diarahkan kepada "kajian intelektual". Saya menilainya sebagai langkah maju biarpun memang unit ini kembali ke periode awal saya memimpin "relatif sepi peminat". Target-target pun dibangun oleh periode baru ini. Biarpun status saya kini tidak lagi menjadi ketua, namun saya seringkali berkunjung dan turut serta di acara yang diadakan unit. Pada masa-masa inilah, saya mengenal budaya baru "membaca" dan "menulis opini". Dari sini saya mulai belajar. Saat itu saya tingkat empat semester dua. Saya mulai mengkoleksi buku setiap bulannya. Seingat saya lebih dari satu buku saya beli setiap bulan.

Pada Mei 2013, saya memutuskan maju sebagai calon Ketua Dewan Majelis Wali Amanat (MWA-WM) ITB. Saya maju bukan di masa Pemira, melainkan pada saat proses referendum. Pendaftaran, hearing, sampai proses pencoblosan berlangsung sekitar dua minggu. Sangat padat. Majunya saya ini adalah sebagai respon atas gerakan gerbang belakang yang diinisiasi oleh Yudki dari Tiben ITB. Saat itu saya menjadi bagian dari tim inti di gerakan ini. Saya kecewa sekali dengan pihak rektorat yang menganggap angin lalu gerakan ini. Biarpun MWA-WM secara badan hukum belum disahkan, namun karena legalitas MWA-WM di kemahasiswaan terpusat diakui, saya sangat yakin jika saya terpilih maka saya akan dapat menciptakan gerakan yang lebih masif dan terarah. Namun, takdir berkata lain. Saat referendum digelar, saya kalah. Biarpun setelah itu saya masuk bagian dari Tim MWA-WM, namun kuasa saya di sana tidak besar. Saat itu saya diamanahi sebagai Ketua Urusan Media MWA-WM sampai akhirnya saya mengundurkan diri pada awal 2014.

Berbisnis, Mengkaji, dan Menjadi Jurnalis Kembali

Kuliah saja bagi saya membosankan. Saya mencari kesibukan di luar kuliah seperti menjadi pengajar privat dan juga menjadi Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA). Saya juga mulai merintis bisnis dengan Rivani, Teknik Industri 2009, teman unit sekaligus asrama saya. Saya menjual alat-alat tulis unik, kabel data unik, dompet unik, dan lain-lain yang didapatkan dari Hongkong. Saya menjualnya di Forum Jual Beli (FJB) ITB dan juga di Gasibu. Seingat saya di Gasibu hanya bertahan 2-3 kali saja. Selain bisnis itu, saya mencoba bisnis properti. Saya punya keinginan menjadi developer rumah seperti Ezra Karamoy, senior saya di Matematika, yang relatif berhasil membuat tiga perumahan. Saya mengikuti sekitar lima kali training gratis di S28 Jalan Sulanjana bersama beliau. Teori yang disampaikan beliau langsung saya praktikkan dengan menjualkan tiga rumah warga di kawasan Cikaso. Namun, pada akhirnya usaha saya ini gagal.

Berbisnis yang dapat dilakukan semua orang ini membuat saya bosan. Saya kembali ke aktivitas semula menjadi aktivis kampus. Setelah gagal menjadi Ketua Dewan MWA-WM, saya menambah wawasan saya dalam berfikir dan menanggapi fenomena yang ada dengan aktif berdiskusi dengan aktivis ITB lain dan juga para dosen ITB. Saya relatif dekat dengan Pak Iwan Pranoto, Pak Hendra Gunawan, dan Pak Acep Iwan Saidi. Forum yang mereka bentuk coba saya ikuti. Bacaan buku saya tambah. Saya mengunjungi Perpustakaan Batuapi di Jatinangor dan juga ikut serta di diskusi yang diadakan oleh LPPMD Unpad. Sejak saat itulah, saya mengenal dekat sosok Pramoedya Ananta Toer Lewat buku-bukunya terutama Tetralogi Buru. Saya juga mulai familier dengan pemikir-pemikir lain seperti Marx, Heagel, Chomsky, Nietszche, M. Iqbal dan lain-lainnya. Opini-opini para pakar dari media massa khususnya Kompas menjadi bacaan rutin saya, juga tulisan-tulisan anak MG maupun aktivis ITB lainnya. Saya juga mencoba menambah kapasitas dengan turut serta dalam konferensi internasional. Saya lolos di Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) di Dubai pada Agustus 2013 silam, namun pada akhirnya tidak jadi berangkat karena uang sponsor yang saya kumpulkan kurang. Namun biarpun begitu, saya pernah mengikuti International Microfinance Conference (IMC) pada Oktober 2012 di Yogyakarta. Konferensi tersebut dihadiri oleh banyak pakar microfinance dari berbagai negara termasuk halnya Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian pada 2006.

Selain itu, saya juga mencatatkan diri sebagai kontributor ITB Magz, majalah di bawah rektorat ITB. Pada masa ini, saya pernah wawancara dengan Pak Syoni Soeprianto, guru besar metalurgi ITB, dan juga Pak Sukhyar, kepala bidang geologi Kementerian ESDM. Saat itu, masalah yang diangkat dalam majalah adalah terkait Logam Tanah Jarang. Bagi saya, majalah ini jauh dari kata produktif. Targetan per tahun adalah dua kali, tetapi usaha untuk mewujudkannya kurang sekali. Rapat-rapat rutin sulit dilakukan. Mungkin karena sistemnya masih di bawah ITB maka geraknya sangat birokratis. Mimpi saya kedepannya bahwa majalah ini akan menjadi otonom dan bertransformasi menjadi majalah terdepan seputar science dan teknologi di Indonesia.  Jika MIT memiliki MIT Tech Review, maka ITB memiliki ITB Magz. Analogi tersebut bagai langit dan bumi, tetapi itu bisa kita wujudkan.

Jiwa jurnalis saya kembali muncul, tetapi sama sekali saya tidak ingin menjadi seorang jurnalis. Saya lebih tertarik sebagai penulis opini. Berbekal website uruqulnadhif.com sentuhan desain dari Tarjo (a.k.a Hifsan alias Senartogok), saya mencoba merutinkan menulis opini terkait berbagai permasalahan yang ada. Biarpun memang tulisan saya belum pernah dimuat di media cetak dari beberapa kali mengirim, namun pola tulisan saya lambat laun terlihat. Jalan cerita dalam tulisan coba saya bangun. Pada Agustus 2014 silam, saya mendapat juara ketiga dalam kompetisi essay nasional Soegeng Sarjadi School of Government (SSSG). Ini adalah pengalaman pertama saya. Semoga menjadi penunjuk langkah ke depannya.    

Dari Alam Sampai Pengalaman Suka

Tahun 2013 merupakan tahun awal saya mulai berinteraksi dengan alam. Di awal-awal tahun tersebut, saya menginjakkan kaki di gunung Papandayan, kemudian berlanjut di gunung Cikuray pada Oktober 2013. Di akhir tahun, saya mendaki puncak tertinggi pulau Jawa "Gunung Semeru". Disinilah awal mula saya berinteraksi lebih dekat dengan para pecinta alam. Mereka semua yang menjadi alumni pendakian semeru masuk dalam kelompok AKS. Entah apa filosofi nama ini saya tidak tahu. Awalnya YKS tetapi mungkin karena nama tersebut menyamai acara kontroversial di Trans TV jadinya diganti. Perjalanan berlanjut secara kontinu dan terjadwal pasca Semeru. Mulai dari gunung sampai pantai. Semua dijelajahi. Di tahun 2014 ini, saya baru ikut tiga kali perjalanan dengan para anggota AKS yakni Pantai Sawarna pada April, Gunung Guntur pada Juni, dan Pulau Semak Daun pada September. Agenda AKS selain wisata alam juga berolahraga bareng, karaokean, sampai makan-makan. Untuk yang kedua saya belum pernah ikutan.

Kampus benar-benar saya maksimalkan sebagai tempat melakukan eksperimen. Termasuk juga masalah cinta. Saya terakhir berteman sekelas dengan perempuan adalah saat SD. Selama SMP dan SMA hampir tidak pernah saya berinteraksi secara dekat dengan perempuan kecuali kakak dan adik saya. Di dua tahun pertama di ITB pun saya sukar untuk berinteraksi dengan perempuan. Organisasi yang saya masuki merupakan organisasi taklim dimana interaksi antara laki-laki dan perempuan sangat terbatas. Mulai tingkat tiga, saya mencoba belajar bagaimana bergaul dengan orang lain dari berbagai macam latar belakang termasuk di dalamnya perempuan.

Dari sinilah, saya mulai memberanikan diri untuk menyatakan sikap suka terhadap perempuan. Pertama ketika saya menjadi ketua unit. Kedua pasca gagalnya saya dalam pencalonan sebagai Ketua Dewan MWA-WM. Ketiga pasca mendaki Gunung Guntur. Namun cara/metode yang saya lalukan dari tiga pengalaman tersebut tidak langsung alias melalui perantara seperti halnya Blackberry Messager, Faceebook, dan Short Message Service (SMS). Karena ketiganya sekedar letupan "suka" secara instan, saya sekedar mengungkapkan saja. Tidak lebih. Untuk dua yang pertama saya terang-terangan ditolak sebab keduanya sudah memiliki pacar, sedangkan untuk yang ketiga masih didiamkan. Belum ada jawaban ketika saya mengajaknya untuk bertemu. Namun minimal saya pernah mencoba. Minimal saya cukup tahu bagaimana perasaan perempuan, tentang bagaimana memahami logika wanita.

Pengabdian Masyarakat

Selama menjadi peserta asrama PPSDMS, membuat acara yang bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar adalah suatu keharusan. Program asrama terkait hal ini bernama Community Development "Kampung Mandiri". Acaranya selain mengajar anak-anak sekitar asrama, juga menjadikan mereka mandiri dengan berikan bekal keterampilan ke mereka. Namun yang kedua tidak berjalan mulus. Gebyar di awal, tetapi akhirnya mati. Sisanya tinggal mengajar anak-anak di asrama dan juga turut serta menjadi penceramah subuh di masjid saat Ramadhan.

Setelah lulus dari asrama, saya dan teman kosan mencoba menginiasi rumah belajar matematika. Kami mengajar seminggu sekali yakni setiap minggu pagi jam sembilan. Kami mencoba menjadikan anak-anak yang sebagian besar usia Sekolah Dasar mencintai matematika. Kami memakai metode baru seperti halnya games, namun pada akhirnya kembali ke cara manual yakni "ceramah". Karena memang kami sangat kurang berpengalaman dalam mengajar. Kami juga susah mengkondisikan kelas. Sekolah kecil ini berjalan beberapa bulan saja, dan pada akhirnya mati. Anak-anak sudah malas hadir. Namun setidaknya, ini merupakan langkah mendekatkan diri dengan masyarakat.

Beberapa bulan setelah matinya sekolah ini, saya didaulat menjadi ketua panitia Ramadhan tahun 2013. Saya pun relatif dekat dengan berbagai tokoh masyarakat dan tentunya juga para pemuda yang kebanyakan SMA dan mahasiswa. Hal baru coba saya lakukan seperti halnya tadarusan setelah tarawih. Menjadi ketua panitia menjadikan saya harus berusaha stand by setiap hari di masjid. Seringkali saya menjadi MC tarawih dan dua kali saya menjadi penceramah subuh. Setahun berselang, saya didaulat kembali menjadi ketua panitia Ramadhan 2014. Namun, suasana pada tahun ini relatif berbeda. Para remaja mulai malas datang ke masjid. Biarpun demikian, anak-anak TPA cukup bersemangat ikuti agenda ramadhan. Sebelum ramadhan saya diamanahi menjadi pengajar TPA untuk mengajar bahasa Arab. Karena hal inilah, anak-anak relatif dekat dengan saya.

Peningkatan prestasi pada ramadhan tahun ini cukup signifikan. Anak-anak yang saya asuh menjadi juara I dan III dalam lomba menggambar di Universitas Padjararan. Selain itu di perlombaan yang berbeda, anak-anak mendapatkan juara azan, fashion show, dan menggambar di masjid Al hasanah, Titimplik, tidak jauh dengan Gedung Pusat Telkom Bandung. Di perlombaan lain yakni Persadin 2014 di kompleks Al Falah Cisitu minggu lalu (28/9/2014), empat anak di tiga cabang perlombaan berbeda ; mewarnai, kaligrafi, dan lari 100 meter, kalah semua. Sebagai guru, saya kecewa. Namun, melihat semangat dan kerja keras mereka, justu rasa bangga itu muncul. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus dididik dan diarahkan.

Epilog

Kampus ITB memberikan pelajaran sungguh berharga bagi saya. Kegagalan demi kegagalan yang saya dapatkan selama di ITB membuat saya lebih kuat menghadapi realita hidup. Selain itu, kesempatan bertemu dengan berbagai cendekia ITB, nasional, dan Internasional seperti Cedric Villani (Field Medals 2010), Muhammad Yunus (Nobel Prize in Peace 2006), Rizal Ramli, Budi Rahardjo, Yasraf Amir Piliang, dan masih banyak lagi membuat lebih terbuka pemikiran saya.  Rencana saya ke depan lebih jelas.  Aktivitas yang saya lakukan selama ITB seolah menjadi penunjuk jalan ke mana saya akan melangkah pasca lulus dari ITB. 

Terima kasih almamaterku. Sekali lagi terima kasih.  


2 komentar:

F.B. said...

...saya terang-terangan ditolak sebab keduanya sudah memiliki pacar...

Ora thok pengalaman Qul, tapi nekat iki jenenge, hoho.

Uruqul Nadhif Dzakiy said...

hahaha. Aku g terlalu lama mikir, yg penting aksi :)