Friday, October 02, 2015

Institut Kelautan Indonesia (IKI) Sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan tentang Lautan Nusantara

Wilayah Indonesia 2/3-nya adalah laut, namun mindset pembangunan masih terkonsentrasi pada daratan. Deklarasi Djuanda telah dilakukan, diikuti dengan aneka perundingan di PBB atau forum-forum setingkat, dan juga tentunya pembuatan Undang-Undang tentang kelautan, namun biarpun demikian laut masih belum mendapat perhatian lebih. Masyarakat pesisir merupakan entitas termelarat setelah petani, di sisi lain beberapa wilayah di kawasan pulau eksotis negeri ini dikapling oleh asing.

Manajemen kelautan tak pernah sukses. Badan pemerintah dibentuk, namun tetap saja. Bappenas merencanakan pembangunan laut secara komprehensif katanya namun dalam teknis pelaksanaannya  kacau bahkan tak jalan. Masalah investasi dikatakan pemerintah sebagai kendala utama pembangunan kelautan disamping infrastruktur. Padahal, selain itu Sumber Daya Manusia (human capital) yang berkecimpung di dunia pembangunan kelautan bisa dibilang sangat kecil. Hitung saja berapa banyak jurusan yang berkaitan dengan kelautan di universitas-universitas tanah air, jumlahnya jelas sangat kecil dibandingkan dengan jurusan mainstream seperti manajemen, ekonomi, hukum, Teknik Informatika, dan sebagainya. Tak hanya jurusan di kampus, SMK kelautan jumlahnya sangat kecil juga, kalah dengan SMK bidang otomotif. Saya tidak habis fikir pemerintah memiliki  visi luar bisa terhadap pembangunan kelautan namun sektor SDM tidak digarap dengan serius. Ini namanya mimpi kosong.

Membangun Institut Kelautan Indonesia (IKI)

Saya membaca di majalah GATRA tahun 2006 bahwa Intititut Kelautan Indonesia (IKI) sudah berdiri. Saya belum mengecek lebih jauh terkait sekolah tersebut. Pengelolaan kelautan yang masih berantakan menurut saya akan dapat diselesaikan dengan pendirian pusat ilmu pengetahuan yang fokus pada pembangunan kelautan. Saya menamainya Institut Kelautan indonesia (IKI). Universitas ini fokus pada pembangunan kelautan. Pembangunan jelas melibatkan multidisiplin ilmu yang menjadi fokus dan perhatian institut tersebut yaitu meliputi aneka disiplin ilmu yang berkaitan dengan pembangunan kelautan. Beberapa disiplin ilmu mencakup unsur-unsur ilmu dasar, teknik (engineering), sains, ekonomi, dan humaniora.
 
Institute of Marine Research di Norwegia sebagai contoh
Dalam bayangan saya, institut ini mencakup berbagai jurusan yang meliputi (1) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang mencakup matematika, fisika, kimia, dan biologi, (2) Fakultas Teknik (FT) yang mencakup Teknik Kelautan, Teknik Perkapalan, Teknik Perminyakan, Teknik Geologi, Teknik Pertambangan, Teknik Material, Teknik Industri, dan Teknik Metalurgi, (3) Fakultas Ilmu kelautan (FIK) yang mencakup Ilmu kelautan, Ilmu Pembangunan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan Oseanografi, (4) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang mencakup Ilmu Ekonomi dan Ilmu Manajemen, (5) Fakultas Humaniora (FHum) yang mencakup Ilmu antroplogi, Ilmu Budaya Laut, Ilmu Sosiologi, Ilmu Politik, Ilmu Hukum, dan Ilmu Kemasyarakatan. Fakultas-fakultas tersebut dibingkai dalam konsep pembangunan kelautan. Dalam kegiatan belajar, pendekatan yang digunakan adalah pengembangan dan aplikasi ilmu dalam konteks pembangunan kelautan. Oleh karenanya, keunggulan komparatif kampus ini adalah fokus pada pengembangan kelautan yang mencakup pembangunan ekonomi kelautan, pembangunan masyarakat pesisir, dan pengembangan budaya bahari.

Saya menginginkan kampus ini terletak di kota Batam, Kepulauan Riau. Selain karena lokasinya sebagai kota kepulauan, kota ini dulunya pernah di-setting untuk menjadi kota percontohan Indonesaia namun gagal, dan juga berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Pendirian kampus ini juga untuk mengimbangi kemajuan yang terpusat di pulau Jawa. Dengan lokasi di kawasan kepulauan, akselerasi pengembangan dan aplikasi ilmu lebih cepat karena berdekatan dengan objek materinya langsung yakni laut. Lokasi ini dipilih agar terjadi pemerataan perputaran ekonomi yang kini lebih tersentral di Pulau Jawa. Diharapkan Batam menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah disekitarnya.

Hadirnya kampus ini diharapkan mampu menebarkan virus kecintaan akan laut sehingga pembangunan kelautan dapat terlaksana dengan maksimal.  Paradigma laut sebagai halaman belakang rumah dapat diubah sebagai  teras rumah yang senantiasa dirawat dan dimanfaatkan secara bijak. Keluarannya kontribusi kelautan terhadap PDB nasional lebih dari 40 persen, masyarakat pesisir tersejahterakan, kebudayaan laut masuk dalam ranah kehidupan masyarakat secara luas, dan ilmu pengetahuan dan teknologi terkait laut berkembang. Laut tidak lagi dipersepsikan sebagai pemisah, namun sebagai pemersatu antarpulau. Indonesia merupakan lautan yang ditaburi dengan pulau-pulau di atasnya. 

0 komentar: