Saturday, May 25, 2019

Mengenang Pak Wid

Pak Widyo (diambil dari Grup WA alumni SP)

Saat rapat di DSTI tadi pagi, beberapa grup WhatsApp saya ramai dengan notifikasi baru. Saya baru buka saat pembahasan rapat agak santai. Ternyata notif tersebut sama isinya terkait kabar bahwa dosen S2 saya dulu di Studi Pembangunan ITB, Prof. Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI, meninggal dunia. Rapat berakhir, saya kontak beberapa teman dekat saya di SP dulu terkait situasi terakhir kemudian saya menuju gerbang depan ITB. Saya bertemu Pak Tono, rekan sesama dosen Pak Wid, yang sedang menyiapkan proses penyemayaman jenazah di Aula Barat. Kala itu beliau berbicara dengan Pak Rektor dan LK.

Tak lama setelah itu, saya turut Pak Tono menuju Rumah Sakit Boromeus dan di sana bertemu beberapa civitas ITB yang sebagaian besar dari Geodesi. Namun setibanya di lantai 3 Boromeus tempat Pak Wid biasa dirawat, ternyata jenazah sedang ditujukan menuju masjid Salman. Kami pun menuju ke sana. Di salman, jenazah dimandikan kemudian disholatkan. Selanjutnya disemayamkan di Aula Barat ITB dengan pidato pelepasan jenazah dari Rektor ITB. Terlihat tamu-tamu yang hadir saat itu yang sebagian besar adalah dosen senior ITB.

Pengalaman dengan Beliau

Saya sangat tertarik dengan mata kuliah yang dibawakan beliau saat S2, pembangunan wilayah pesisir. Dalam bayangan saya saat itu, saya dapat memahami bagaimana caranya mengelola laut sehingga datangkan ekonomi bagi negara, apalagi saat itu Pak Jokowi sedang mengangkat visi poros maritim dunia. Ternyata mata kuliah ini jauh lebih luas dari sekedar memandang laut dari sudut pandang ekonomi. Biarpun demikian, kuliah ini memberikan pondasi bagi saya untuk memahami ilmu sosial secara komprehensif. Pak Wid seringkali menekankan pada definisi dengan elaborasi unsur-unsur penyusun definisi tersebut. Saya suka pendekatan beliau karena masuk pola pikir saya sebagai lulusan Matematika.

Saya sempat dibimbing tesis beliau, namun akhirnya saya putuskan pindah setelah saya sulit memahami pendekatan beliau yang sangat makro, sementara saya lebih suka hal yang lebih mikro yang ada unsur manajerialnya. Beliau kemudian merekomendasikan saya untuk menemui salah satu profesor di SBM. Saya pada akhirnya memilih fokus pada penelitian di bidang inovasi, yang merupakan tema pilihan kedua. Tema inovasi inilah yang saya garap sampai sekarang setelah 2 tahun lulus dari SP. Saya juga sempat berkonflik dengan beliau yang mungkin membuat geger kampus kala itu. Namun konflik ini tak lama bisa selesai setelah saya meminta maaf secara langsung kepada beliau. Sejak saat itu tidak ada masalah antara saya dan beliau. Saya tetap menganggap beliau guru saya, dan beliau pun bersikap biasa pada saya seperti mahasiswa lainnya.

Pelajaran dari Beliau

Saya menganggap beliau adalah guru dimana dedikasinya pada pendidikan tidak terbantahkan. Pandangan-pandangan beliau yang tidak pernah saya lupakan diantaranya "bounded rationality" dan "from the whole to the part" yang sampai sekarang saya terapkan dalam proses meneliti dan juga me-manage projek. Selain itu, beliau mengajarkan untuk berfikir strategis. Saya masih ingat ketika beliau mengusulkan dibukanya S3 Studi Pembangunan dan kerjasama jurusan dengan Mendagri untuk menyebaar lulusan SP ke Pemda-Pemda di seluruh Indonesia. Selain itu, beliau seringkali menceritakan pandangan-pandangan beliau terkait ITB ke depan. Mungkin pas menyebut Pak Wid sebagai salah satu ideolog kampus dengan keberanian beliau untuk mengutarakan gagasan di depan Senat. Kala itu (2015-2016), beliau adalah ketua komisi A di Senat ITB.

Selamat jalan Pak Wid, moga saya sebagai generasi muda dapat mengikuti jejakmu untuk berdedikasi di dunia ilmu pengetahuan ...

Wednesday, May 01, 2019

Dua Pelajaran dari Ibuk

Bersama Ibuk saat beliau berlibur di Bandung dua tahun silam

Sudah sejak senin kemarin saya terserang demam. Badan saya panas, kepala saya pusing, dan beberapa bagian tubuh saya pegal-pegal. Saya sudah berobat ke dokter di Bumi Medika Ganesha (BMG) kemarin dan dites darah di sana. Alhamdulillah darah saya normal, tinggal kamis besok saya harus kontrol ke dokter yang memeriksa saya selasa lalu. Sepulang dari BMG, saya mendapatkan oleh-oleh banyak sekali obat yang harus saya telan. Di sini kemudian saya teringat betul pelajaran dari Ibuk saat saya SD dulu. 

Saya dulu tidak bisa menelan obat berbentuk pil. Kala itu, dibantu Ibuk obat dihaluskan kemudian dimasukkan dalam sendok dan diberi sedikit air sehingga encer. Kemudian obat yang encer ini saya telan secepat-cepatnya untuk mengindari rasa pahit yang lama. Setelah tertelan, saya diberikan minuman manis (biasanya teh manis) untuk menghilangkan rasa pahit. Umumnya rasa pahit ini tidak hilang bahkan saat sudah diberikan air manis sekalipun. Karena cara ini tidak efektif, siring bertambahnya usia, Ibuk mengajarkan saya untuk menelan pil dengan pisang. Awalnya susah, bahkan pernah daging pisang sudah ketelan, pilnya belum. Alhasil saya merasa kepahitan. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin mahir menelan pil dengan pisang, bahkan sudah bisa dengan medium lain seperti roti bahkan air putih. Namun tetap medium pisang tetap terbaik.

Pelajaran kedua ini tidak terkait obat, namun menjemur pakaian. Kala itu saya baru masuk pondok di Jogja. Di suatu pagi Ibuk mengajari saja bagaimana cara untuk mencuci pakaian dan menjemurnya. Baju yang sudah tercuci bersih, dibalik sehingga posisi bagian dalam baju menjadi di luar. Baju yang sudah dalam posisi tersebut siap untuk dijemur. Sampai sekarang apa yang Ibuk sampaikan, saya terapkan. Meskipun sebagian besar pakaian saya laundry-kan, saya tetap mencuci beberapa yang ringan seperti kaos dan daleman. Meskipun awalnya saya tidak tau alasan perlunya pembalikan baju ketika dijemur, seiring berjalannya waktu saya kemudian faham. Ini untuk menghindari kontak langsung sinar matahari. Jika baju tidak dibalik, kontak sinar matahari atas mengenai bagian depan baju sehingga warna baju menjadi pudar warnanya. 

Dua pelajaran ini kelihatannya ringan, namun dampaknya besar dalam kehidupan saya saat ini. Saya tidak bisa bayangkan jika saya harus menghaluskan pil-pil untuk kemudian saya telan. Atau juga pakaian-pakaian saya tampak kusam akibat salah jemur. 

Terima kasih Ibuk, love you ! 

Wednesday, April 03, 2019

Akademik x Profesional


Akademik dan profesional menurut banyak orang adalah dunia yang berbeda. Di akademik, seorang dituntut untuk mengajarkan pengetahuan (lama/baru) dan menciptakan pengetahuan baru (riset). Sementara di dunia profesional, seorang dituntut untuk menyelesaikan persoalan dengan tata-cara baru atau sama sekali baru dengan berbasiskan manajerial yang kuat. Konkretnya, di akademik performa Anda ditentukan dengan capaian di SKS yang Anda ajarkan dan publikasi Anda di jurnal ternama, sementara di profesional bagaimana perusahaan mendapatkan profit setelah kehadiran Anda. Lantas apakah dua hal ini bisa dijalankan secara beriringan dengan tentunya sama-sama menghasilkan output dan outcome yang positif untuk Anda dan instansi ?

Saya berkesimpulan bisa. Tentunya ada alasan mengapa saya berpendapat begini. Berikut saya akan jelaskan.

Dunia akademik dan profesional memiliki irisan yaitu pentingnya suatu yang baru atau istilahnya inovasi yang didapatkan melalui riset atau penelitian. Dalam meneliti pastinya Anda dituntut untuk menemukan suatu yang baru baik berupa pembuktian teori untuk konteks tertentu, menyelesaikan persoalan dengan teori tertentu, atau bahkan menemukan teori baru. Sementara di profesional, Anda dituntut untuk melakukan perbaikan (improvement) tertentu sehingga sistem organisasi perusahaan atau instansi menjadi baik sehingga profit. Irisan yang sama ini memang memiliki konsekuensi yang berbeda. Jika dalam riset, hasil sebagaimanapun tidak terlalu berpengaruh karena tidak musti akan dipakai di dunia rill, namun di perusahaan/instansi akan sangat berpengaruh langsung.

Menariknya, terlepas irisan ini berbeda dalam hal konsekuensinya namun memiliki kesalingterhubungan jika keilmuan Anda adalah ilmu manajemen. Menjadi ampibi dengan hidup di dua dunia (akademik dan profesional) memperkaya Anda akan pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Anda akan terlatih secara olah pikir (thinking) dan keterampilan (skill). Di riset seringkali ditumukan gap yang besar dengan dunia rill, karena di awal kita set kerangka (framework) dengan variabel yang terbatas tentunya. Sementara di dunia nyata, kita tidak bisa tentukan variabel itu. Terawangan (sense) riset kita akan menangkap bahwa temuan di dunia rill melalui kerja profesional dapat menjadi dugaan (hipotesis) kita untuk tema penelitian dan juga bahan ajar secara contoh kasus (case study). Begitu pula sebaliknya, jika kita memiliki kerangka dalam me-manage sebuah instansi/perusahaan sebelumnya itu akan memudahkan kita untuk menginisiasi program secara langsung tanpa membuang waktu lama untuk brainstorming. Kita bisa men-set perencanaan (planning) secara lebih matang.

Dalam praktiknya memang sangatlah tidak mudah. Namun, tidak bagi yang memiliki passion di sana. Dua hal ini akan dapat dikerjakan secara beriringan dengan porsi/takaran yang pas karena rumusan/formula untuk keduanya sudah jelas. Capaian (goal) juga sudah jelas. Tinggal jam terbang saja yang ditambah. Dengan demikian, seorang yang mampu bekerja di dua dunia ini dengan kriteria di atas, akan menjadikannya guru yang baik untuk universitas dan juga instansi/perusahaan yang dia bantu. 

Saturday, March 23, 2019

Kartini dan Pandangan Saya tentang Perempuan



Siang tadi saya menyelesaikan menonton film “Kartini” karya Hanung Bramantyo (2017) setelah semalam jeda karena kuota hampir habis. Film biografis ini mengeksplorasi bagaimana sosok Kartini kecil yang sudah kritis akan kakunya budaya bangsawan Jawa, mengenal karya-karya kritis orang Belanda dari kakaknya, dan menjadi penulis yang cukup produktif. Menariknya seorang Kartini adalah bagaimana Ia bisa memberikan pandangan melalui olah pikiran terus-menerus yang diekspresikan melalui tulisan dan aksi sosial yaitu pendidikan. Ia berfikir sebelum membaca dan buku-buku adalah stimulan dia untuk semakin kritis untuk mempertajam tulisan dan aksi sosialnya tersebut. Ia bukan pemuja Belanda namun dari Belanda-lah Ia mengenal arti dari kebebasan dan kesetaraan pria-wanita untuk mengeyam pendidikan. Kartini berujar bahwa wanita tidak boleh bodoh, namun Ia tetap menerima keadaan sebagai seorang Jawa yang harus menjunjung tinggi budayanya.

Kartini tidak lantas berujar bahwa pria-wanita setara dalam segala hal. Ia amat faham arti kesetaraan itu dan kesetaraan dalam segala hal tidaklah mungkin. Kartini dapat berdamai akan nasib seorang anak bangsawan (Bupati Rembang) yang harus diperistri oleh kaum bangsawan lain (Bupati Jepara) guna mempertahankan eksistensi kebangsawanan mereka. Berdamai di sini tidak lantas diartikan dengan pasrah. Beda sekali. Kartini mengajukan empat syarat kepada calon suaminya. Dua poin yang paling saya ingat yaitu saat nantinya Kartini resmi menjadi istri, keluarga harus memperlakukan ibu kandungnya dari sebagai pembantu menjadi layaknya keluarga bangsawan. Kedua, suaminya mengizinkan Kartini untuk membuka lembaga pendidikan untuk kaum perempuan. Pengajuan syarat seorang perempuan bangsawan pada masa itu adalah tabu dan Kartini menerobos ketabuhan itu dengan keyakinan. Terkabulnya syarat-syarat tersebut adalah wujud kesuksesan Kartini untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

Perempuan dan Karier

Kartini adalah sosok yang menjadi role model banyak perempuan modern di zaman ini. Namun amat disayangkan bahwa pemahaman banyak perempuan akan kesetaraan yang diperjuangkan Kartini tidak utuh. Ada yang mengatakan kesetaraan terwujud dalam bagaimana perempuan harus berkarier tinggi layaknya lelaki. Ada juga yang mengatakan perempuan bebas memilih pekerjaan apapun layaknya lelaki. Ada bahkan yang mengatakan dalam ranah kepemimpinan (bahkan di dalam keluarga), perempuan berhak memimpin layaknya laki-laki. Anggapan ini ada benarnya namun tidak cukup tepat jika kita benturkan dengan konteks Kartini pada masanya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk menjalankan fitrahnya masing-masing. Fitrah laki-laki adalah pemimpin kaluarga yang memastikan keluarga berjalan secara harmonis, sedangkan perempuan adalah menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Begitu juga dengan fitrah-fitrah lainnya. Fitrah ini jika tidak dipatuhi berpotensi menciptakan ketidakstabilan dan berujung pada ketidakselarasan hidup dan memudarnya arti bahagia.

Lantas apakah perempuan tidak boleh berkarier tinggi ? Sangat boleh, namun harus tetap memegangteguh fitrahnya sebagai perempuan. Memang pada akhirnya perempuan sangat kompleks menjalaninya, laki-laki tidak ada apa-apanya. Namun itulah kelebihan perempuan yang ditakdirkan untuk menjadi manusia kuat. Di situlah perempuan membutuhkan asupan pengetahuan (knowledge) yang cukup di mana dengan itu Ia dapat menjalankan semua perannya secara bijak. Pengetahuan ini didapatkan tak sekedar membaca, melainkan juga dengan berdamai dengan realitas seperti yang dilakukan Kartini. Belajar terus-menerus akan mendorong perempuan untuk menjadi bijak dan kuat. Perempuan bukanlah pemuas lelaki, namun sebagai pelengkapnya. Dalam konteks berkeluarga perempuan tidak sekedar menjadi istri namun menjadi teman dan sahabat sekaligus bagi lelakinya. Di situlah letak kesetaraan itu ; menunaikan hak dan kewajiban sebagai istri, tidak merasa di bawah ketiak lalaki dengan menjunjung egaliter dalam memandang hidup, dan menjadi partner yang asik bagi lelakinya dengan tetap memperjuangkan tujuan hidup yang dipegangnya. 

Menunggu atau Menentukan

Perempuan yang meneladani Kartini sudah pasti tidak mengadopsi pandangan “jodoh sudah ditentukan” secara pasif namun mengartikannya dalam kerja aktif di mana istilah “ditentukan” adalah buah dari kerja. Di sini perempuan tidak menunggu seorang laki-laki yang pdkt kemudian memperistrinya namun Ia juga berjuang untuk mendapatkan suaminya kelak. Istilah “menembak” ini relevan tak hanya hanya untuk lelaki namun juga perempuan. Jika kamu perempuan dan suka akan lelaki tertentu sampaikanlah, jangan menunggu sampai lelaki itu menyampaikan. Bisa jadi itu tidak akan terjadi karena banyak juga lelaki yang cenderung “anget-anget tahi ayam” untuk memikirkan perempuan yang akan jadi istrinya kelak. Lelaki secara fitrah didominasi dengan logika, maka Ia akan mudah move-on saat perempuan pujaannya menolaknya. Berbeda halnya dengan perempuan yang lebih kepada perasaan.

Maka bagaimana sosok Kartini modern hari ini ?  

Kartini modern adalah seorang perempuan yang memiliki tujuan hidup dan berjuang untuk itu melalui pengasahan pikiran terus-menerus dengan  belajar sepanjang hajat  dan tetap berdamai pada realitasnya sebagai seorang perempuan.

Tuesday, January 01, 2019

Kenangan di Gedung Studi Pembangunan ITB


Januari 2015 adalah bulan pertama saya melanjutkan studi kembali setelah sebelumnya saya diwisuda pada Oktober 2014. Rangkaian seleksi administrasi sudah saya jalani di akhir tahun 2014 sehingga pada bulan itu saya langsung menjalani perkuliahan. Saat itu saya masuk di semester genap dengan hanya tiga orang termasuk saya. Saat itu ada dua kelas, satu kelas dari mayoritas beasiswa Bappenas, satu lagi dari Pekerjaan Umum (PU). Saya masuk di kelas Bappenas. Di sana saya mengenal banyak teman-teman baru yang hampir seluruhnya sudah bekerja. Di kelas, saya adalah mahasiswa termuda kedua.

Proses belajar di jurusan magister ini berbeda sekali dengan saat saya S1. Dosen-dosen di jurusan ini umumnya adalah dosen-dosen yang suka akan ngobrol. Setelah kelas berakhir biasanya kami tidak langsung pulang, namun duduk di lounge jurusan untuk mengobrol dengan Pak Sonny. Awalnya ngobrol seputar materi kuliah di kelas, namun kemudian berkembang ke topik-topik lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia perkuliahan. Ini saya jalani secara terus-menerus karena dasarnya saya memang suka ngobrol. Kami bahkan pernah ngobrol sampai jam 21 malam di gedung jurusan. Tak hanya dengan Pak Sonny, seringkali kami mendengarkan cerita Pak Indra di lounge. Bagi saya yang fresh graduate tentunya saya dapat "banjir" pengetahuan gratis.

Karena sistem kuliah adalah paketan, tidak ada libur bagi saya. Seingat saya selama 2015, libur terpanjang hanya saat lebaran. Saat kuliah semester genap selesai, saya sudah mulai masuk kuliah pilihan dengan Pak Wid untuk mata kuliah pesisir dan Pak Sonny untuk mata kuliah ANT. Kemudian masuk semester ganjil kembali kuliah. Saat itu kuliah padat sekali karena kuliah pilihan yang belum selesai masuk di semester tersebut. Kuliah favorit saya saat itu adalah kuliah Pak Wid tentang pembangunan pesisir dan kuliah PakTasrif tentang system dynamics karena pola pikir deterministik dalam kuliah ini sesuai dengan background saya sebagai lulusan matematika. Sementara di luar kelas, tentunya obrolan dengan Pak Sonny dan Pak Indra sangat berkesan. Istilah "milieu" saya dapatkan dari Pak Indra, sementara istilah "aktor" saya dapatkan dari Pak Sonny. "Bounded rationality" dan "fenomena" saya dapatkan masing-masing dari Pak Wid dan Pak Tasrif.

Rumah Kedua

Jika dulu saat S1 hampir sepanjang waktu saya habiskan di sekre unit, maka saat S2 saya habiskan banyak waktu di jurusan. Bahkan saya pernah nginep di jurusan saat bulan puasa. Kala itu saya nginep dengan Kang Dani yang jaga malam di jurusan. Saya tidur di lounge setelah sebelumnya saya berselancar internet di lab komputer jurusan yang biasa dijaga Pak Gun. Kala itu ITB dah sepi karena libur panjang, sementara kami masih ada kuliah beberapa. Dari pada saya berdiam di kosan, kala itu saya pilih untuk ke jurusan. Waktu lain saya biasanya ke sini adalah saat sore hari setelah kelas dan mengobrol dengan Pak Sonny sampai malam. Di tahun kedua saat mulai mengerjakan tesis, obrolan sampai malam berpindah ke warung bakso Mandeep. Teringat saya ngobrol dengan Pak Sonny enam jam non-stop secara empat mata membahas tesis dan topik-topik lain.

Selain akademis, saya dilibatkan dalam kegiatan lain. Belum lama masuk jurusan ini, saya terlibat dalam kepanitiaan seminar nasional, tak lama kemudian turut menghidupi kelompok diskusi di jurusan, penelitian dengan dosen, dan juga forum kolaborasi dengan Pikiran Rakyat. Biarpun di tahun kedua saya ambil kuliah di matematika dan magister di pertambangan (sit in), saya masih sering berkegiatan non-kuliah di jurusan. Diskusi di sana sangat hangat meskipun terkadang melebar ke kehidupan pribadi. Seringkali saya kena bully karena lama menjomblo. Satu hal legacy yang dulu pernah kami tinggalkan di jurusan ini yaitu dibentuknya kelompok diskusi yang bernama Agora Dialektika. Meskipun pada akhirnya tak lagi aktif seperti dulu tapi kelompok ini cukup bisa menggerakkan atmosfir keilmuan di jurusan ini. 

Tak hanya kenangan manis, jurusan ini juga meninggalkan kisah pahit bagi saya. Saya pernah berkonflik dengan seorang dosen di sini. Konflik melebar ke luar jurusan dan banyak orang tahu. Konflik pun meredam setelah saya bertemu dosen terkait dan saya ajukan permohonan maaf. Setelah kejadian ini, hubungan kami kembali baik seperti sedia kala. Dosen terkait memiliki jiwa besar karena memberikan maaf pada tindakan saya yang salah. Kejadian ini tidak akan terlupakan bagi saya dan mungkin orang-orang yang berada di lingkungan jurusan.

Setelah bergonta-ganti judul tesis, saya akhirnya mantab untuk ambil tesis terkait sistem inovasi dengan bimbingan Pak Sonny. Saya sidang tepat dua tahun pasca masuk jurusan ini dan diwisuda dua bulan setelahnya pada maret 2017. Setelah itu saya bekerja sebagai asisten riset di SBM dan juga turut serta membantu ITB membenahi sistem informasi publik kampus. Biarpun tak lagi di jurusan, namun saya seringkali mampir ke gedung kuliah saya ini untuk sekedar berdikusi atau mengobrol. Candaan saya ke salah seorang teman di jurusan Studi Pembangunan, "Saya ke sini biar pinter". Atmosfer diskusi di jurusan ini semakin kuat dan lebih terarah. Banyak dari mahasiswanya turut serta di berbagai konferensi dan tentunya menulis paper ilmiah.

30 Desember 2018

Lulus dari jurusan ini, saya tergabung di grup WhatsApp alumni. Di grup ini sangat ramai dengan aneka arus informasi yang terkadang terdapat debat antaralumni. Satu setengah tahun setelah lulus, jurusan ini merayakan 25 tahun usia pasca didirikan pada 1993 dengan mengadakan temu alumni. Saya yang baru pulih dari sakit demam, ikut acara ini di CRSC pada 8 Desember 2018. Rencananya bulan Maret 2019 akan diadakan seminar nasional industri 4.0 dengan mengundang beberapa petinggi negara. Saya kira perencanaannya sudah sangat matang. Namun siapa yang menyangka bahwa tanggal 30 Desember 2018 ada kejadian yang sama sekali tidak diduga. Gedung Studi Pembangunan ITB terbakar dan melenyapkan seluruh aset gedung termasuk perpustakaan, labolatorium komputer, dan ruang Tata Usaha (TU).

Sampai tulisan ini sampai pada pembaca sekalian, saya belum mendengar kabar dari tim INAFIS Polri terkait apa yang menjadi penyebab kebakaran ini. Dugaan kuat kebakaran terjadi karena arus pendek listrik di ruang Tata Usaha. Kebakaran ini membuat arsip penting jurusan hangus, buku-buku koleksi dan tesis ikut terbakar, dan juga website jurusan down. Pengembangan jurusan yang sudah berada pada track yang positif, terpaksa harus jeda beberapa saat untuk pemulihan (recovery). Kegiatan perkuliahan yang tinggal beberapa minggu akan aktif kembali pastinya harus dipikirkan, juga kegiatan bimbingan tesis mahasiswa, dan juga perekrutan mahasiswa baru. Penyelamatan data-data jurusan juga merupakan hal besar yang tentunya akan menguras energi. Saya kira data-data ini valuasinya jauh lebih besar dibandingkan dengan sekedar bangunan fisik gedung. Sebagai alumni yang dulu seringkali berada di gedung tersebut tentunya sangat sedih dengan kejadian ini.

Saya sangat yakin para dosen, mahasiswa, pegawai, asisten akademik, dan tentunya kaprodi legowo menerima kejadian ini. Semoga proses recovery jurusan berjalan dnegan baik dan jurusan Magister Studi Pembangunan akan bisa seperti sedia kala bahkan lebih baik.




Sunday, December 16, 2018

BELITONG

Dua minggu lalu (30 November – 2 Desember 2018), pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pulau Belitong. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau “Laskar Pelangi” ini memiliki keindahan alam khususnya pantai yang eksotis. Kala itu saya berkesempatan ke sana dengan rombongan dari Direktorat Administrasi Umum ITB, tempat di mana saya bekerja sekarang. Berangkat kamis malam (29/11) dari Rektorat ITB menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Banten untuk mengejar pesawat Sriwijaya Air yang take-off jam 6 pagi.

Hari Pertama

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan, kami dijemput oleh sebuah bus yang dikomandoi oleh Mas Don dari Arisha Tour and Travel. Bus mengantarkan kami ke kota Tanjung Pandan untuk menikmati Mie Atep yang legendaris. Sulit bagi saya untuk menggambarkan rasa  makanan ini, pokoknya mantab ! Selanjutnya kami diarahkan menuju Danau Kaolin yang merupakan danau bentukan dari penambangan kaolin.  Di sana kami ambil foto dan selanjutnya menuju Belitong Timur, ke kampung laskar pelangi. Di sini kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong. Saya baru tahu ternyata sekolah aslinya sudah tidak ada.
Di depan Replika SD Laskar Pelangi

Di sini saya ambil cukup banyak foto dengan berbagai pose sembari mengingat-ingat cerita Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Saat masa mondok dulu, saya adalah penggemar berat Laskar Pelangi, tetraloginya saya koleksi dan selesai saya baca kala itu. Jadi berkunjung ke sini punya kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan selanjutnya adalah ke Rumah Keong Rotan, tepat di depan replika sekolah laskar pelangi ini. Tak lama di sini, kami disambut hujan. Kami pun lanjutkan perjalanan menuju museum kata Andrea Hirata. Sebelum ke sana kami break sholat jumat di masjid depan lokasi. 

Saya pun masuk lokasi museum dengan membayar 50 ribu dengan bonus sebuah buku tipis karangan Andrea Hirata. Dibantu dengan pemandu wisata, saya ambil banyak gambar di sini. Museum ini didesain inspiratif dengan mural, foto, dan karya seni lain yang “bercerita” terkait keharusan menggelorakan optimisme dalam hidup. Ada satu ruangan di bagian belakang dari suatu bangunan yang menyajikan tempat duduk di mana di sana kita dapat memesan kopi. Namun, di sana  saya membeli gantungan kunci untuk oleh-oleh. 

Di dalam Museum Kata Andrea Hirata
Ternyata hanya saya dan mas Tri yang masuk museum kata ini, rombongan lain menunggu di dalam bus. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke kediaman Ahok. Di sana selain ada rumah Ahok yang kini dihuni saudaranya, juga ada bangunan khusus yang menyediakan oleh-oleh dengan tema Ahok, namanya Rumah Batik Ahok. Di sana kami tidak lama. Kala hujan turun, kami coba menikmati pek-empek dan juga pisang goreng di warung tak jauh dari lokasi wisata ini. Ternyata pek-empek-nya berbeda dengan bahan dasar singkong. Disajikan secara hangat, mantab sekali. 

Ternyata kami belum makan siang, dibawalah kami ke rumah makan terkenal, Resto Seafood Sinar Laut, di pinggiran pantai. Mantab sekali masakannya terutama sayur asam dan ikan bakarnya. Selanjutnya kami menuju ke vihara Dewi Kwan Im dan pantai burung mandi. Di warung dekat pantai, saya menikmati es kelapa muda. Perjalanan berlanjut ke kota Tanjung Pandan untuk menuju hotel di mana kami tinggal. Sebelum sampai hotel, kami diarahkan ke rumah makan, Resto Belitung Tempo Dulu. Setibanya di hotel, kami istirahat sejenak. Saya sekamar dengan mas Tri dan Kang Jujun. Setelah beberes dan sholat, kami bertiga dengan Pak Sandi jalan-jalan untuk mencari kopi. Konon tidak lengkap rasanya ke Belitong tanpa berkunjung ke kedai kopi. Awalnya kami menyusuri pusat huburan di depan hotel, meskipun banyak kafe yang menyajikan kopi, kami kurang sreg. Kami pun kembali jalan ke arah pusat kota berbekal Google Map. Kami pun sampai di kedai kopi legendaris, Kong Tji. Kami pesan kopi susu dan mantab sekali rasanya. Saya pesan lagi satu gelas malam itu. Disambi dengan bebincang, tidak terasa sudah dua jam kami di sini. Tidak seperti saat berangkat, pulangnya kami naik Go-car.  

Hari Kedua

Belitong masih agak gelap, saya dan mas Tri ke pantai Tanjung Pendam. Saya mencoba mengelilingi kawasan pantai ini dengan jogging, sementara mas Tri mencari kerang laut. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan sarapan kemudian berkemas-kemas. Pagi itu di ruang tamu dekat lobby hotel, Bu Dyah dan keluarga baru datang dan segera setelah itu bergabung bersama kami. Hari ini seharian kami akan menyusuri pantai-pantai di pulau Belitong dari dermaga pantai Tanjung Kelayang. Kami menumpangi sebuah perahu yang mampu memuat 20 orang lebih.

Seingat saya ada tiga pantai yang dikunjungi. Pertama, pantai lengkuas. Setibanya di sana setelah menembus ombak besar laut lepas. Pantai ini identik dengan mercusuar yang kala itu tidak bisa dinaiki. Juga batu-batu besar yang bagus untuk menjadi objek foto. Setiba di pulau ini, kami disambut hujan namun untungnya tidak lama dan deras. Di pulau ini dilakukan outbound oleh pemandu wisata. Setelah itu baru kami diarahkan ke laut kembali untuk snorkeling. Mata minus menjadi kendala bagi saya untuk melihat dasar pantai yang indah dengan terumbu karang.

Berlatar Mercusuar di Pulau Lengkuas
Objek selanjutnya adalah pulau Kepayang. Di sana kami makan siang. Saya sempat sholat di mushola resto dan juga ambil foto di sekitar pantai. Perjalanan selanjutnya adalah pulau Kelayang. Seperti halnya di pulau Lengkuas, saya mencoba belajar berenang di pantainya yang sangat jernih. Di pantai ini juga sempat diambil video dengan drone. Objek pantai habis, kami diarahkan kembali ke Tanjung Kelayang. Kami berbilas dengan air bersih dan juga ganti baju, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi. Sebelum ke sana ambil foto dulu di depan dermaga Pantai Tanjung Kelayang.

Di Pantau Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi
Pantai tanjung tinggi ini pemandangannya bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari pada pantai-pantai yang dikunjungi sebelumnya. Pemandangan batu besarnya sungguh sangat elok, ditambah dengan pantainya yang jernih. Sampai di pantai ini sudah sore menuju maghrib. Tidak bisa lama kami menikmati pantai ini karena harus segera menuju bus. Kami diarahkan menuju pusat oleh-oleh dan souvenir khas Belitong dan setelah itu kami makan malam di Resto Dapur Belitung. Lokasi dua tempat ini di kota jadi tidak jauh dari hotel. Sesampainya di hotel, kembali kami bebersih baru kemudian keluar untuk menyeduh kopi Kong Tji. Kali ini ada dua personel tambahan, Mbak Iyan dan Anisa. Perjalanan PP ke sana dengan Go-car dan Grab-car. 

Hari Ketiga

Pagi itu kami harus check-out. Keluar dari kamar, kami sudah siap untuk menuju bandara. Namun sebelumnya, kami sarapan dulu. Kami sempat ambil gambar depan hotel sebagai bukti rombongan kami telah menunaikan tugas di pulau ini. Kami berpamitan dengan Bu Dyah dan suaminya, sementara dua anaknya sedang bersepeda keliling kota. Jarak hotel ke bandara sekitar setengah jam, setelah tiba kami berpamitan dengan mas Don dan tim yang mengantarkan kami. Dengan Batik Air, kami take-off menuju bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 8.45 pagi.  

Tuesday, December 11, 2018

Bagaimana Memajukan Iptek Indonesia


Sudah rahasia umum iptek kita masih belum maju. Upaya untuk jadikan iptek kita unggul sudah dilakukan sejak Indonesia resmi menjadi Republik meskipun terlihat lebih gencar di zaman Orde Baru ketika BJ. Habibie menjabat sebagai Menristek RI. Orde baru jatuh pada 1998, diikuti dengan kejatuhan iptek nasional. Setelah itu pengembangan iptek dilakukan namun tidak sesistematis Orde Baru dan dengan reduksi-reduksi seperti dorongan untuk publikasi di jurnal internasional terindeks. Ditambah lagi dengan sikap responsif Pemerintah dalam upaya turut serta menjawab dunia yang tengah berubah. Terlihat dari kampanye serba 4.0 tanpa adanya upaya sistematis bagaimana kita ke sana.

Sialnya ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh tanpa penguasaan iptek. Iptek pun menjadi barang mewah di Indonesia, seperti halnya belum lama ini ada salah satu kampus nasional yang berhasil membuat prototipe motor listrik, publik heboh. Padahal jika kita mau "search", Elon Musk dengan Tesla-nya sudah dapat menjual mobil listrik sporty-nya ke berbagai negara dunia. China juga melakukan hal serupa, juga produsen mobil konvensional lain juga sedang berlomba-lomba kembangkan mobil listrik. Ini memperlihatkan bahwa motor listrik bukan barang baru, ada hal yang esensial di mesin listrik ini yaitu baterai. Lantas riset terkait baterai di Indonesia seberapa masif ? Jika motor listrik nantinya diproduksi massal, apakah sudah siap R&D-nya sehingga produknya nanti bisa kompetitif ?.

Mulai dari Mana

Kita seolah gegabah ketika bicara iptek. Sekarang heboh industri 4.0, nanti lagi bisa ganti. Kita tidak pernah berkaca bahwa kita pernah berhasil kembangkan teknologi tertentu di masa lampau. Selain BJ. Habibie, kita punya teknolog lain seperti Samaun Samadikun, Iskandar Alisjahbana, dll, tapi tidak pernah sedikitpun kita tahu peninggalan mereka di bidang teknologi apa. Tahunya Samaun adalah ketua LIPI dan Iskandar adalah Rektor ITB, tidak yang lain. Padahal jika kita bisa mengeksplorasi teknologi yang dikembangkan mereka, kita bisa mulai tidak dari nol sama sekali. Konkretnya jika bicara industri 4.0, Pemerintah harus bisa mapping periset-periset ML, IoT, dsb yang menjadi landasannya. Tanpa itu, mustahil kita bisa berperan lebih di industri 4.0. Kita tak lebih hanya sekedar konsumen para kooporasi besar dunia.

Lantas bagaimana jika kita belum punya SDM mumpuni di bidang-bidang di atas ? Kita bisa tidak bermain di riset basic, namun ke riset terapan. Tapi tetap ini dengan mapping para pelaku nasional. Mapping ini tidak dengan mengundang sekenanya unsur akademik dan perusahaan lantas berdiskusi tentang regulasi apa yang cocok. Tidak sekedar itu ! Regulasi hanya satu unsur, ada unsur lain. Saran saya, perlu kita perhatikan supply chain global. Shenzen bisa jadi kota metropolitan hanya dalam waktu 40 tahun (Silicon Valley China) karena sangat faham dengan supply chain global. Rantai distribusi dibangun betul di sini. Artinya tidak ada kemajuan tanpa perencanaan yang matang dari A-Z.

Kualitas hidup orang Indonesia sekarang memang naik jika dibandingkan dengan periode awal Indonesia merdeka, tapi apalah artinya kita bisa "makan enak" tapi kita tidak punya daya apapun atas diri kita. Iptek sejatinya adalah mengisi lubang yang kosong dari sisi ketidakberdayaan itu menjadi keberdayaan. Dengan begitu, kata merdeka menjadi hakiki.

Friday, December 07, 2018

Selamat Milad 1 Abad Madrasah Mu'allimin

Pekan ini adalah minggu peringatan milad 1 abad Madrasah Mu'allimin-Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, setelah kemarin (6/12) dihadiri Presiden Jokowi dilanjutkan dengan agenda lain sampai akhir pekan ini. Saya yang tidak bisa secara langsung datang ke Jogja, hanya bisa melihat dari berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram. Saya merasa bangga bahwa madrasah di mana saya pernah sekolah selama 6 tahun, peringatan miladnya sebegitu meriah. Dari jarak jauh, saya melihat optimisme untuk Mu'allimin ke depan untuk menjadi madrasah yang unggul di banyak hal khususnya kepemimpinan (leadership).

Gedung Mu'allimin Lama (sumber : Fanpage Mu'allimin)
Teringat pada 2006 silam saya dihadapkan pada realita untuk tetap bersekolah di Mu'allimin atau keluar. Kala itu saya mendapatkan nilai Ujian Nasional (UN) relatif tinggi dan masuk 10 besar di Mu'allimin di mana sebagian besar memilih untuk pindah ke beberapa SMAN favorit seperti halnya SMA Teladan Yogyakarta. Saya ikut apa kata Bapak. Bapak meminta saya untuk tetap sekolah di Mu'allimin dan berlajutlah saya mondok di sini dengan segala konsekuensinya. Kala itu gedung utama madrasah sedang dibangun pasca gempa 5.9 SR melanda Jogja pada Mei 2006, akibatnya ruang kelas harus berpindah-pindah. Kala itu atmosfer belajar sangat rendah, hampir setiap hari saya tidak pernah absen dari tidur di kelas. Bahkan sampai ada satu pelajaran di mana hampir semua siswa tidur di kelas, tinggal 1-3 orang yang tetap memperhatikan.

Kelas 4-5 (1-2 Aliyah/SMA) keseluruhan waktu habis untuk aktivitas non-akademik. Akademik hanya terfikirkan saat ujian akhir semester. Sebagian besar siswa termasuk saya menghabiskan waktu untuk organisasi. Kala itu saya aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) dengan menjadi staff Departemen Bahasa pada kelas 4 dan koordinator departemen yang sama pada kelas 5. Kegiatan non-organisasi yang pernah saya ikuti diantaranya tim debat bahasa Inggris dan tim olimpiade sains, namun saya tidak pernah sekalipun dapat juara. Saya lebih totalitas di organisasi dari yang lain. Apalagi saat menjadi Badan Pimpinan Harian (BPH) dengan menjadi koordinator departemen, saya mengetuai dua event besar ; Usbu'ul Lughoh (pekan bahasa se-Mu'allimin), dan Galaction (lomba bahasa se-DIY). Di samping itu ada event baru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu Mu'allimin Language Master (MLM). Pengalaman ini kemungkinan kecil saya dapatkan jika memilih pindah ke sekolah lain.

Gedung Mu'allimin Baru (sumber : fanpage Mu'allimin)
Euforia organisasi berakhir saat kelas 6 (3 Aliyah/SMA). Saya harus fokus akademik untuk mendapatkan peluang kecil masuk di PTN ternama nasional. Kala itu nilai UN tidak berpengaruh masuk-tidaknya siswa ke PTN. Kelulusan UN hanya sebatas tiket masuk. Karena nilai rapor saya tidak bagus-bagus amat, jalur satu-satunya yang bisa saya masuki adalah jalur Ujian Mandiri (UM) dan jalur seleksi nasional (SNMPTN). Karena jalur ini peminatnya luar biasa besar saya harus mati-matian belajar. Di samping bimbel di madrasah, saya ikut juga bimbel di luar sekolah. Hampir setiap sore saya ke bimbel. Tiba saatnya ujian seleksi masuk PTN, saya gagal di SIMAK UI, UM UGM, dan USM ITB. Tiba saatnya satu ujian pamungkas, SNMPTN. Jika saya gagal, saya tidak akan kuliah tahun tersebut dan menunggu sampai tahun depannya. Takdir berkata lain, alhamdulillah saya diterima di ITB. Saya pun menjadi lulusan Mu'allimin ketiga yang diterima di ITB.

Pesan Kyai Dahlan

Saya teringat betul pesan Buya Syafi'i Ma'arif yang dipampang di baligo besar depan madrasah menjelang kelulusan kami dulu, "Kader Bangsa, Ummat, dan Persyarikatan" sebagai tagline lulusan Mu'allimin. Pesan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa lulusan Mu'allimin dapat memilih ladang amal untuk berjuang di level manapun, tidak terbatas di organisasi Muhammadiyah. Biarpun demikian di manapun kita berada, kita akan tetap memikirkan masa depan Muhammadiyah dalam bentuk sekecil apapun. Saat ini mungkin kita belum bisa meyumbangkan sesuatu ke Muhammadiyah, mungkin di beberapa waktu ke depan. Mau tidak mau, lulusan Mu'allimin adalah kader Muhammadiyah, bukan ormas lain.

Pesan Buya senada dengan pesan Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang juga pendiri Mu'allimin :

"Muhammadiyah hari ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah Guru, kembalilah pada Muhammadiyah. Jadilah mester, insinyur, dan lain-lainnya dan kembalilah pada Muhammadiyah".

Selamat Milad 1 Abad (1918-2018) Madrasah Mu'allimin-Mu'allimat Muhammadiyah Yogyakarta !

Friday, November 23, 2018

Road Map Penelitian


Saat ini saya kerjakan topik penelitian yang sesuai bidang saya, inovasi dan entrepreneurship. Saya mengerjakan riset bersama salah seorang dosen di Management of Technology Labolatory (MoT Lab) SBM ITB. Output riset ini adalah jurnal yang siap untuk dipublikasi. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama saya menulis paper dengan intensitas diskusi yang padat. Karena pengalaman pertama pastinya berat, apalagi langsung dengan bahasa Inggris. Niatnya saat ini saya melengkapi drafting paper terkait ini, namun kurang begitu semangat. Saya teringat untuk menuliskan road map penelitian untuk setidaknya membuat saya semangat dan terarah. Saya mengambil topik penelitian terkait ini selain suka juga punya orientasi. Saya akan ceritakan.

Model Inovasi khas Indonesia

Sudah lebih dari 9 tahun saya hidup di ITB dengan interaksi dengan berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari mahasiswa, dosen, sampai tendik. Dari sana saya kemudian berfikir, ITB yang sudah hampir berusia 100 tahun (jika dihitung sejak TH Bandung) mengapa tidak memiliki kontribusi signifikan dalam proses pengembangan iptek di Indonesia ?. Ini pastinya ada sesuatu yang salah, entah di bagian mananya saya belum bisa memastikan. Padahal jika diperhatikan lebih dalam, ITB telah hasilkan aneka macam teknologi melalui civitas, lab, dan pusat-pusat yang jumlahnya amat banyak.

Saya mencoba menjawab kegelisahan saya tersebut dengan mengambil topik riset terkait inovasi dan entrepreneurship. Saya ingin memberikan pandangan yang berbeda terkait bagaimana kita bisa kembangkan iptek. Saya tidak percaya dengan kita adopsi cara-cara negara Barat secara mentah-mentah lantas iptek kita bisa maju. Kita butuh formulasi khas kita sendiri. Pendekatan yang saya pilih pun dari para pelaku yang berupa studi kasus. Jadi saya melakukan abstraksi dari berbagai contoh kasus, tidak sekedar comot teori.

Dalam skup yang lebih kecil, katakan ITB.  Hasil penelitian saya nantinya berkontribusi pada model inovasi ITB yang tentunya menguntungkan keluarga besar ITB, baik dosen maupun tendik. Memang hasil riset belum tentu memiliki korelasi positif pada tataran aplikatif pada dunia riil. Namun bagi saya itu adalah langkah lanjutan setelah kita menemukan hasil riset. Tulisan di jurnal reputatif, buku, dan artikel ilmiah adalah sarana untuk mengungkapkan gagasan ilmiah kita, namun itu tidak cukup. Kita perlu perjuangan politik meskipun kita tidak tergabung dalam partai politik.

Upgrade Kualitas

Saya baru menulis satu buku, namun belum untuk jurnal reputatif. Tulisan di media cetak ternama terkait topik penelitian juga belum. Saya saat ini masih di level ini, untuk upgrade kualitas. Saya masih harus mengasah diri untuk dapat melakukan riset dengan baik seperti standar lulusan PhD dari kampus ternama dunia. Saya juga masih harus terus spending waktu untuk mendalami bidang riset saya ini, sehingga saya bisa secara paripurna terkait inovasi dan entrepreneurship. Mungkin saya butuh waktu sekitar 10 tahun lagi untuk mendapatkan keahlian seperti itu. Jika saat ini saya berusia 27 tahun, maka di usia 37 tahun lah saya mungkin baru bisa dipanggil sebagai ahli atau expert. Semoga Allah SWT, Tuhan yang Mahaesa, memberikan saya kesehatan dan semangat untuk mewujudkan itu semua. Amiin

Saturday, November 17, 2018

Satu tahap lagi "Informatif"

PPID ITB (WRAAK) menerima penghargaan dari Komisi Informasi

Tidak terasa ternyata saya sudah lebih dari 1.5 tahun bekerja untuk PPID ITB. Awalnya saya tidak merencanakan untuk bekerja di sana selama ini. Awalnya saya pengen fokus riset untuk persiapan S3 saya, namun ternyata realitanya secara paralel saya lakukan, bekerja untuk PPID dan juga meriset di SBM. Di tahun pertama saya berasa berat soalnya di kedua pekerjaan tersebut saya adalah orang intinya. Tapi di tahun kedua, saya merasa biasa saja. Dua hal ini bisa saya lakukan dengan optimal. Target responden untuk 2 riset terpenuhi dengan masing-masing sekitar 130an dosen. Di tulisan ini saya tidak akan berbicara terkait pengalaman riset, saya akan menceritakan pengalaman saya di PPID.

Merencanakan Rencana

PPID adalah barang baru buat saya, namun tidak baru-baru amat karena pas S2 saya pernah ikut kelas Sekolah Politik Anggaran (Sepola) di FE Unpad. Salah satu misi dari sekolah ini adalah agar kami-kami kritis akan informasi publik yang seharusnya disediakan oleh badan publik. Pernah suatu ketika kita diminta untuk meminta data ke Pemkot Bandung, panjang juga prosesnya. Jika kita (pemohon) tidak bersabar pasti data tidak akan pernah kita dapatkan. Ok, I think this class will only become knowledge for me. Tak lama setelah mengikuti kelas, saya diminta salah satu direktur di Rektorat untuk kerjakan buku laporan. Sebulan setelah saya lulus S2, saya diminta kembali menangani PPID.

Dulu saya didorong untuk kritis pada badan publik di mana PPID yang paling bertanggung jawab di sana, namun sekarang saya harus menangani PPID itu sendiri supaya badan publik tersebut menjadi transparan khususnya terkait informasinya. Saya pun menyusun rencana, memlototi parameter informatif versi Komisi Informasi, studi banding ke UI dan Unpad, dan pada akhirnya mengisi Self Assesment Questionnaire (SAQ) dari Komisi Informasi. Di tahap-tahap awal ini saya dibantu oleh dua mahasiswa.

Banyak hal yang kami buat di tahap awal ini termasuk website dan pengumpulan sejumlah data. Proses penilaian dari Komisi Informasi pun kami jalani, semua menurut kami lengkap. Bahkan untuk persiapan visitasi, ruangan Information Centre kami pugar agar mencerminkan sebagai penyedia layanan informasi terstandar. Hasilnya sangat tidak terduga, kami percaya diri ITB dapat masuk tiga besar dalam pemeringkatan nasional oleh Komisi Informasi, namun ternyata menurun satu peringkat dari tahun sebelumnya biarpun secara poin naik. Saat itu (2017), ITB menduduki peringkat 9 dengan katagori "kurang informatif".

Belajar dari Pengalaman

Tak lama setelah pemeringkatan, kita coba kirimkan surat ke Komisi Informasi untuk memperlihatkan detail  penilaian. Namun sayang data yang diberikan tidak cukup memberikan penjelasan dari mana kami harus berbenah. Akhirnya kami utak-atik sendiri. Tahap awal yang dilakukan yaitu mengadakan uji konsekuensi untuk penentuan Daftar Informasi Publik dan Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIP-DIK) yang melibatkan lebih dari 30 perwakilan unit dan fakultas di ITB. Setelah enam kali rapat berantai, dokumen itu disahkan oleh PPID (WRAAK) beberapa hari sebelum deadline pengumpulan SAQ tahun 2018. Kriteria penilaian di tahun ini ternyata berbeda dengan tahun lalu di mana kami harus membuat media sosial dan juga aplikasi mobile. Website juga diperhatikan betul dan tidak ada visit di mana diganti dengan presentasi di Jakarta. Dibandingkan tahun lalu, tahun ini jelas jauh lebih ribet dan ketat.

Saya meminta pimpinan untuk merekrut orang arsip, alhamdulillah dikabulkan. Ada lima aplikan dan semuanya dari UGM. Dari lima orang itu diambil satu. Di samping itu saya ingin libatkan mahasiswa untuk tergabung dengan tim PPID. Ada sekitar 22 pendaftar di mana hanya 10 orang yang diambil. Seleksi didasarkan pada portofolio dan wawancara. Kesepuluh mahasiswa tersebut diminta untuk mengerjakan pekerjaan spesifik seperti halnya penulisan konten, videografis, infografis, web development, dan app development. Sebagian pekerjaan mahasiswa magang tersebut tidak terkait langsung dengan PPID seperti pengembangan portal satu layanan dan portal LLH, namun itu semua  pendukung PPID.

Saya selalu berfikir "from the whole to the part" mengutip ungkapan Pak Widyo di kelas. Saya selalu berfikir apa yang kita kerjaan ini memberikan benefit apa buat ITB. Saya tidak mau kita kerja keras kerjakan ternyata tidak memberikan manfaat yang berarti bagi institusi. Memang pada akhirnya ketika kita mengerjakan big thing-nya, pekerjaan kita tidak simpel lagi, bahkan sangat kompleks. Bagaimana tidak saya harus meyakinkan beberapa pimpinan di atas saya terkait rencana kami ini. Belum lagi ditambah dengan koordinasi dengan unit lain dan juga sisfo fakultas. Persetujuan pimpinan pun tidak cukup, kita butuh berkali-kali berkomunikasi dengan mereka untuk mem-follow up . Namun itulah seninya, kerja akan tidak menarik kalo tidak ada tantangan.

Senin, 5 November 2018, adalah hari penentuan untuk kerja keras kami selama beberapa bulan terakhir. Beberapa minggu sebelumnya saya mendampingi pimpinan untuk presentasi di depan penilai dari Komisi Informasi di Jakarta terkait proses assesment ini. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan, ITB menempati katagori "menuju informatif" satu kluster dengan kampus langganan tiga besar seperti UI dan UB. Hanya satu kampus yaitu IPB yang menempati katagori "informatif". Hasil ini menjadi bukti bahwa apa yang kita kerjakan on the right track. Tinggal langkah selanjutnya, yaitu bagaimana ITB menjadi kampus informatif. Berita terkait capaian ini dimuat di web official ITB [1].

"Informatif"

Tidak sesederhana kita memlototi kriteria dari Komisi Informasi lalu kita akan mendapatkan predikat "informatif" karena sangat mungkin itu dikerjakan perguruan tinggi lain. Yang lebih penting lagi, apa untungnya kita mendapat predikat tersebut namun civitas akademika ITB tidak mendapatkan manfaat dari predikat tersebut ? Maka yang selalu kami fikirkan adalah apa yang kita kembangkan haruslah memberikan benefit bagi internal ITB. Terkait "informatif" ini, setidaknya ada empat parameter yang setiap tahun menilai. Dalam lingkup internasional, webometrics akan selalu menilai kita, sementara di lingkup nasional selain Komisi Informasi, ada dua lagi lembaga yaitu Kemenristekdikti dan Kominfo. Lagi-lagi saya harus berfikir keras bagaimana memahami setiap parameter dari semuanya. Terkait hal ini kami sudah memulai di pertemuan dengan sisfo se-ITB kamis lalu (15/11), tinggal bagaimana follow up selanjutnya.

Secara pribadi, saya sangat yakin ide-ide yang kami rencanakan akan terlaksana di masa depan. Keyakinan tersebut yang membuat kami akan selalu bersemangat. Semoga di tahun 2019 nanti, ITB mendapatkan predikat "informatif" dengan berbagai inovasi penyajian data dan informasi di dalamnya.




[1] https://www.itb.ac.id/news/read/56874/home/itb-raih-penghargaan-keterbukaan-informasi-publik-sebagai-ptn-menuju-informatif