Monday, July 29, 2019

Marathon dan Melawan Diri



Pertama kalinya saya mengikuti marathon kemarin (28/7) di event yang diadakan tahunan oleh Pocari Sweat. Ini adalah kali kedua saya mengikuti event lari tahun ini, setelah sebelumnya menjadi “pemain pengganti” untuk di Unity Run 6.2k pada 23 Juni lalu. Beberapa teman tidak percaya saya mengikuti marathon 42.195k karena memang saya terhitung jarang mengikuti event lari. Terakhir saya turut serta event lari paling jauh 10k di ITB Ultra Marathon tahun lalu. Saya belum pernah satupun ikut atau latihan lari half marathon (21k), saya latihan paling jauh 10k atau sekitar satu jam keliling lapangan GOR Saparua. Selebihnya saya jogging ringan sekitar 15 menit atau setengah jam. Itupun tidak rutin. Oleh karenanya keikutsertaan saya di marathon tersebut adalah aksi yang nekat.

Telat dan Kram

Jam 5.00 WIB start marathon dimulai. Saya berangkat dari kostan sekitar jam 4.30 WIB diantar oleh Gojek. Setibanya di Gedung Sate saya sempat lakukan pemanasan sendiri sembari menunggu waktu subuh. Semalam saya tidur kurang nyenyak, ketika bangun kepala pusing. Perut saya juga sakit namun saya sulit buang air. Beberapa menit menjelang azan subuh, saya ke masjid gedung Pakuan untuk sholat subuh jamaah. Setelah sholat, saya harus menitipkan barang saya di Baggage Drop. Sialnya saya harus ngantri panjang di belakang. Hasilnya saya telat untuk start sekitar 15 menit. Jadi saya start berbarengan dengan peserta half-marathon. Di belokan Pusdai, saya hampir salah rute karena ikut dengan peserta HM. Untungnya saya sempat tanya salah seorang peserta dan saya pun berbalik dan menuju rute marathon.

Di jalan saya lihat sedikit sekali yang start telat seperti saya. Banyak yang sudah jauh mendahului saya. Rute awal yang saya lewati adalah jalan AH Nasution dari Pusdai menuju Jalan Pastur dan kembali lagi ke Pusdai dan menuju Supratman dan Antapani. Karena saya telah 15 menit, saya bertekad tidak berhenti untuk sekedar minum di Hydration Point (saya lebih suka menyebut Water Station/WS seperti di ITB Ultra tahun lalu) sampai 20k. Namun, saya kuat sampai 11k, di WS depan Pusdai saya sempat minum segelas Pocari Sweat yang disediakan panitia. Di belokan Supratman menuju Antapani, saya sempat buang air kecil di sebuah POM bensin di sana. Setelah itu, saya lanjutkan perjalanan. Saya bertemu dengan alumni ITB 94, Pak Arif namanya. Saya barengan lari dengan beliau sampai daerah Kiaracondong. Di KM 21 kami sempat berfoto bersama.

Bersama Pak Arif (IF94)

Selanjutnya saya terkadang mendahului beliau atau beliau mendahului saya. Seringnya saya berada di belakang beliau. Ada juga Pak Arie (jika tidak salah), seorang Bapak mungkin berusia 50-an yang terkadang di depan/di belakang saya. Ada juga seorang perempuan cantik (jika tidak salah namanya Ingrid) dengan gaya larinya seperti jalan namun konstan yang saya tidak pernah sekalipun bisa mendahuluinya. Dia pernah di belakang saya karena cari pengganjal perut, namun setelah itu saya hampir tidak pernah melihatnya lagi, dia berada jauh di depan. Dari Kiaracondong, kami menuju Gatot Subroto dan kemudian Asia Afrika. Setelah KM 30, saya sempat cari pengganjal perut di salah satu minimarket. Saya saat itu lapar sekali. Panitia menyediakan pisang namun hanya di beberapa titik, jika tidak salah 4 titik saja. Pelayan di minimarket saat itu cantik sekali membuat saya menyesal tidak bicara basa-basi satu kalimatpun.

Setelah dua dari tiga coklat snickers habis dimakan, saya melanjutkan perjalanan. Saya bertekad dari KM 31 ke 37 untuk jarang-jarang jalan jauh. Realitanya, saya tetap seringkali jalan. Saya merencanakan untuk dengarkan musik yang playlist-nya sudah saya siapkan di 5k terakhir namun saya urungkan. Setelah melewati Jalan Kebon Kawung – Pajajaran -  Cihampelas – Riau – Merdeka - Jawa, saya sempat berhenti beberapa menit di WS. Saya meminta bantuan tim PMI untuk membantu melemaskan otot kaki saya yang sempat kram di KM 31. Saat terjadi kram, saya paksakan untuk terus berlari sampai pada akhirnya tidak merasakan lagi. Di lima kilometer terakhir, kaki sudah mulai berat sekali untuk sekedar jalan. Di WS tersebut, saya melihat jam di hape saya menunjukkan pukul 11.17 WIB, artinya waktu saya tinggal 43 menit sebelum Cut-Off Time (COT) atau batas waktu yang ditentukan panitia untuk katagori marathon.

Hitungan Detik

Tiba pada akhirnya di KM 41, artinya tinggal sekitar 1 kilometer garis finish. Sejak saat itu saya urungkan untuk jalan, saya terus berlari. Saya tidak peduli dengan waktu sampai pada akhirnya saya sampai jalan Diponegoro. Itu artinya tinggal beberapa meter lagi saya masuk garis finish. Banyak orang bersahutan menyemangati, saya abaikan semua. Saya fokus pada diri saya yang harus meningkatkan energi untuk mencapai garis akhir sebelum COT. Tepat di depan saya, ada rekan satu tim yang menyemangati kawan timnya dengan memberikan balon. Sementara saya, tidak ada satupun. Satu hal yang membuat saya harus finish di bawah COT hanyalah diri saya sendiri yang menargetkan finish di bawah COT meskipun telat start 15 menit. Jarak semakin dekat, saya melihat waktu menunjukkan kurang dari 2 menit menuju COT. Saya paksakan diri tidak peduli betapa sakitnya kaki saya untuk sekedar lari kecil. Tinggal satu menit lagi dan saya berhasil finish sekitar 40 detik sebelum COT. Alhamdulillahiroobil aa’lamiin.

Tepat habis finish

Monday, July 22, 2019

Energi Positif


Kita pasti pernah dikecewakan dengan suatu hal, entah di masalah pekerjaan atau kehidupan. Di situ kemudian kita luar biasa marah. Di kondisi demikian kemudian kita curhat ke banyak orang atas hal yang pernah kita rasakan ini. Di sana seolah kita mendapatkan "jawaban" atas keluhan tersebut. Alih-alih jawaban, justru orang-orang akan mendapatkan energi negatif dari kita atas curhatan tadi. Seberapa susah persoalan kita, satu hal yang perlu kita ambil yaitu "energi positif".

Menangkap "Energi Positif"

Semua orang pasti ada sisi hitam atau putihnya. Mungkin kita terkena sisi hitamnya yang menjadikan kita jengkel sama orang tertentu. Sisi hitam ini yang membuat perspektif kita akan dia menjadi jelek semua. Apalagi saat perasaan kita tersentuh, kita luar biasa marah. Energi negatif (marah) ini alih-alih membuat positif hidup kita, justru membuat stres dan menjadikan kita tidak produktif. Jika kondisi ini terjadi ke kita, tak ada solusi lain kecuali  kita alihkan "kemarahan" kita menjadi energi positif.

Memang tidak mudah untuk memiliki energi positif, perlu pembiasaan. Kita perlu berlatih sehingga tetap bisa terus positif apapun yang terjadi. Kita tidak lama terlarut pada kekecewaan, namun bisa segera beralih (move on) ke hal yang membuat kita senang. Anggap persoalan yang hadir itu sebagai hal kecil dan fokuskan diri kita ke hal besar yang kita tuju. Kita terkadang perlu sedikit egois untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Bersikap Bodo Amat

Kita terkadang mempersoalkan masalah yang sebetulnya kecil menjadi besar. Sebagai contoh, kita bermasalah pada seseorang karena satu pekerjaan. Kita yakin berada pada posisi benar sedang dia salah sehingga kita memperjuangkan bagaimana kita bisa menang atas dia. Meskipun langkah kita benar tapi belum tentu itu paling pas. Terkadang perlu kita mengalah terlebih dahulu untuk menang di hal besar di masa mendatang. Satu hal yang penting untuk kita asah adalah bersikap "Bodo Amat".

Entah kita bersikap positif atau negatif, pasti ada orang yang tidak senang. Maka, jangan terlalu jaga image (jaim) terlalu berlebihan. Fokus aja pada tujuan besar yang akan kita capai di masa mendatang dan ambil sisi positif pada setiap kejadian yang menimpa kita. Hal buruk yang menimpa kita itu bisa jadi tidak terkait langsung dengan cita-cita besar kita. Tegasnya masih ada jalan untuk mimpi kita dan itu yang harus kita kejar. Dengan demikian kita tetap akan berfikir positif yang pada akhirnya akan menjadikan hidup kita lebih produktif.

Tuesday, June 18, 2019

Menghidupkan Hobi

Tumblr saya

Saya coba mengingat-ingat masa S1 dulu kala "terjebak" di unit kajian dan media di mana saya sebagai ketua dituntut untuk hidupkan majalah dan web tentunya dengan menulis. Saya tidak punya background menulis yang baik, cuma punya blog yang isinya curhat dan juga medsos khususnya facebook yang isinya mirip. Sejak "terpaksa" menulis (kala itu berita dan opini), saya mulai belajar dan lama-lama suka. Kala itu saya suka gaya penulisan mengalir, makanya saya pengagum Dahlan Iskan.

Seiring berjalannya waktu, saya lulus S1 dan masuk jurusan sosial di S2. Di sana bahan tulisan saya semakin banyak dan mulai kenalan dengan namanya tulisan serius ala jurnal ilmiah. Peralihan dari menulis opini ke format jurnal membuat saya stres sampai saya berkali-kali harus merevisi draft tesis saya. Setelah lulus, saya bekerja sebagai asisten riset sampai sekarang. Di sana saya dah amat jarang nulis opini, blog saya sepi kecuali satu blog harian berbahasa Inggris. Semakin jauh berinteraksi dengan jurnal, saya nulis jurnal mulu, kali-kali buku tapi formatnya gak jauh. Seringkali saya stres, tapi jalan terus. Udah dua tahun saya jalani pola ini.

Hidupkan Hobi

Ada satu hal yang kurang ketika saya bergulat terus dengan jurnal, "Saya tidak Bebas !". Jurnal membuat tulisan saya tidak mengalir karena harus membaca paper-paper untuk menjustifikasi opini/ide saya tersebut, inilah bedanya dengan opini bebas ala saya dulu. Saya bebas ngomong bagaimanapun. Nah, melihat latarbelakang saya dulu yang suka menulis yang kini arsipnya masih ada (saya punya medium, blogger, wordpress, kompasiana, tumblr, dan quora yang semuanya aktif), saya melihatnya sayang kalo itu pada akhirnya tidak update. Ditambah lagi dengan saya punya akun berbagai media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan youtube. Dua tahun terakhir ini saya menggunakan hampir seluruh waktu saya untuk riset meskipun ada kerja profesional lainnya, tapi tetap riset utama. Saya berencana kembali menghidupi hobi saya sebagai blogger.

Meksipun di depan mata, saya dihadapkan dengan empat paper yang harus submit dan satu proposal PhD, tapi tetap saja hobi tidak terlaksana membuat hidup jadi tidak seimbang. Saya sempat hidupkan hobi lain yaitu lari dan badminton, tapi tetap masih ada yang tidak lengkap. Saya pada dasarnya tidak mau diatur, pengen ngatur, dan menulis adalah wujud dari ekspresi kebebasan versi saya. Menulis non-formal (baca jurnal ilmiah) yang coba akan kembali saya hidupkan berupa menulis diary, opini, dan buku. Ya, saya on the way menulis buku, baru kemarin saya mulai lagi. Menulis opini lain seperti di Kompas ini kelasnya mirip jurnal, mikirnya lama. Ini tidak jadi fokus, biarpun seringkali kebayangan ke sana.

Videografi

Di samping blogging kembali akan saya hidupkan, saya akan memulai aktif untuk nambah konten video di channel Youtube saya. Kamera dah saya beli setahun lalu, namun intensitas penggunaannya rendah. Aku dah bosan dengan weekend saya yang begitu-begitu saja. Saya mau isi dengan blogging, membaca, dan videografi. Semua itu dilakukan di luar kosan. Kosan punya magnet yang gede buat males atau lakukan kegiatan yang sama sekali tidak produktif.

Saturday, May 25, 2019

Mengenang Pak Wid

Pak Widyo (diambil dari Grup WA alumni SP)

Saat rapat di DSTI tadi pagi, beberapa grup WhatsApp saya ramai dengan notifikasi baru. Saya baru buka saat pembahasan rapat agak santai. Ternyata notif tersebut sama isinya terkait kabar bahwa dosen S2 saya dulu di Studi Pembangunan ITB, Prof. Dr. Ir. Widyo Nugroho SULASDI, meninggal dunia. Rapat berakhir, saya kontak beberapa teman dekat saya di SP dulu terkait situasi terakhir kemudian saya menuju gerbang depan ITB. Saya bertemu Pak Tono, rekan sesama dosen Pak Wid, yang sedang menyiapkan proses penyemayaman jenazah di Aula Barat. Kala itu beliau berbicara dengan Pak Rektor dan LK.

Tak lama setelah itu, saya turut Pak Tono menuju Rumah Sakit Boromeus dan di sana bertemu beberapa civitas ITB yang sebagaian besar dari Geodesi. Namun setibanya di lantai 3 Boromeus tempat Pak Wid biasa dirawat, ternyata jenazah sedang ditujukan menuju masjid Salman. Kami pun menuju ke sana. Di salman, jenazah dimandikan kemudian disholatkan. Selanjutnya disemayamkan di Aula Barat ITB dengan pidato pelepasan jenazah dari Rektor ITB. Terlihat tamu-tamu yang hadir saat itu yang sebagian besar adalah dosen senior ITB.

Pengalaman dengan Beliau

Saya sangat tertarik dengan mata kuliah yang dibawakan beliau saat S2, pembangunan wilayah pesisir. Dalam bayangan saya saat itu, saya dapat memahami bagaimana caranya mengelola laut sehingga datangkan ekonomi bagi negara, apalagi saat itu Pak Jokowi sedang mengangkat visi poros maritim dunia. Ternyata mata kuliah ini jauh lebih luas dari sekedar memandang laut dari sudut pandang ekonomi. Biarpun demikian, kuliah ini memberikan pondasi bagi saya untuk memahami ilmu sosial secara komprehensif. Pak Wid seringkali menekankan pada definisi dengan elaborasi unsur-unsur penyusun definisi tersebut. Saya suka pendekatan beliau karena masuk pola pikir saya sebagai lulusan Matematika.

Saya sempat dibimbing tesis beliau, namun akhirnya saya putuskan pindah setelah saya sulit memahami pendekatan beliau yang sangat makro, sementara saya lebih suka hal yang lebih mikro yang ada unsur manajerialnya. Beliau kemudian merekomendasikan saya untuk menemui salah satu profesor di SBM. Saya pada akhirnya memilih fokus pada penelitian di bidang inovasi, yang merupakan tema pilihan kedua. Tema inovasi inilah yang saya garap sampai sekarang setelah 2 tahun lulus dari SP. Saya juga sempat berkonflik dengan beliau yang mungkin membuat geger kampus kala itu. Namun konflik ini tak lama bisa selesai setelah saya meminta maaf secara langsung kepada beliau. Sejak saat itu tidak ada masalah antara saya dan beliau. Saya tetap menganggap beliau guru saya, dan beliau pun bersikap biasa pada saya seperti mahasiswa lainnya.

Pelajaran dari Beliau

Saya menganggap beliau adalah guru dimana dedikasinya pada pendidikan tidak terbantahkan. Pandangan-pandangan beliau yang tidak pernah saya lupakan diantaranya "bounded rationality" dan "from the whole to the part" yang sampai sekarang saya terapkan dalam proses meneliti dan juga me-manage projek. Selain itu, beliau mengajarkan untuk berfikir strategis. Saya masih ingat ketika beliau mengusulkan dibukanya S3 Studi Pembangunan dan kerjasama jurusan dengan Mendagri untuk menyebaar lulusan SP ke Pemda-Pemda di seluruh Indonesia. Selain itu, beliau seringkali menceritakan pandangan-pandangan beliau terkait ITB ke depan. Mungkin pas menyebut Pak Wid sebagai salah satu ideolog kampus dengan keberanian beliau untuk mengutarakan gagasan di depan Senat. Kala itu (2015-2016), beliau adalah ketua komisi A di Senat ITB.

Selamat jalan Pak Wid, moga saya sebagai generasi muda dapat mengikuti jejakmu untuk berdedikasi di dunia ilmu pengetahuan ...

Wednesday, May 01, 2019

Dua Pelajaran dari Ibuk

Bersama Ibuk saat beliau berlibur di Bandung dua tahun silam

Sudah sejak senin kemarin saya terserang demam. Badan saya panas, kepala saya pusing, dan beberapa bagian tubuh saya pegal-pegal. Saya sudah berobat ke dokter di Bumi Medika Ganesha (BMG) kemarin dan dites darah di sana. Alhamdulillah darah saya normal, tinggal kamis besok saya harus kontrol ke dokter yang memeriksa saya selasa lalu. Sepulang dari BMG, saya mendapatkan oleh-oleh banyak sekali obat yang harus saya telan. Di sini kemudian saya teringat betul pelajaran dari Ibuk saat saya SD dulu. 

Saya dulu tidak bisa menelan obat berbentuk pil. Kala itu, dibantu Ibuk obat dihaluskan kemudian dimasukkan dalam sendok dan diberi sedikit air sehingga encer. Kemudian obat yang encer ini saya telan secepat-cepatnya untuk mengindari rasa pahit yang lama. Setelah tertelan, saya diberikan minuman manis (biasanya teh manis) untuk menghilangkan rasa pahit. Umumnya rasa pahit ini tidak hilang bahkan saat sudah diberikan air manis sekalipun. Karena cara ini tidak efektif, siring bertambahnya usia, Ibuk mengajarkan saya untuk menelan pil dengan pisang. Awalnya susah, bahkan pernah daging pisang sudah ketelan, pilnya belum. Alhasil saya merasa kepahitan. Namun seiring berjalannya waktu, saya semakin mahir menelan pil dengan pisang, bahkan sudah bisa dengan medium lain seperti roti bahkan air putih. Namun tetap medium pisang tetap terbaik.

Pelajaran kedua ini tidak terkait obat, namun menjemur pakaian. Kala itu saya baru masuk pondok di Jogja. Di suatu pagi Ibuk mengajari saja bagaimana cara untuk mencuci pakaian dan menjemurnya. Baju yang sudah tercuci bersih, dibalik sehingga posisi bagian dalam baju menjadi di luar. Baju yang sudah dalam posisi tersebut siap untuk dijemur. Sampai sekarang apa yang Ibuk sampaikan, saya terapkan. Meskipun sebagian besar pakaian saya laundry-kan, saya tetap mencuci beberapa yang ringan seperti kaos dan daleman. Meskipun awalnya saya tidak tau alasan perlunya pembalikan baju ketika dijemur, seiring berjalannya waktu saya kemudian faham. Ini untuk menghindari kontak langsung sinar matahari. Jika baju tidak dibalik, kontak sinar matahari atas mengenai bagian depan baju sehingga warna baju menjadi pudar warnanya. 

Dua pelajaran ini kelihatannya ringan, namun dampaknya besar dalam kehidupan saya saat ini. Saya tidak bisa bayangkan jika saya harus menghaluskan pil-pil untuk kemudian saya telan. Atau juga pakaian-pakaian saya tampak kusam akibat salah jemur. 

Terima kasih Ibuk, love you ! 

Wednesday, April 03, 2019

Akademik x Profesional


Akademik dan profesional menurut banyak orang adalah dunia yang berbeda. Di akademik, seorang dituntut untuk mengajarkan pengetahuan (lama/baru) dan menciptakan pengetahuan baru (riset). Sementara di dunia profesional, seorang dituntut untuk menyelesaikan persoalan dengan tata-cara baru atau sama sekali baru dengan berbasiskan manajerial yang kuat. Konkretnya, di akademik performa Anda ditentukan dengan capaian di SKS yang Anda ajarkan dan publikasi Anda di jurnal ternama, sementara di profesional bagaimana perusahaan mendapatkan profit setelah kehadiran Anda. Lantas apakah dua hal ini bisa dijalankan secara beriringan dengan tentunya sama-sama menghasilkan output dan outcome yang positif untuk Anda dan instansi ?

Saya berkesimpulan bisa. Tentunya ada alasan mengapa saya berpendapat begini. Berikut saya akan jelaskan.

Dunia akademik dan profesional memiliki irisan yaitu pentingnya suatu yang baru atau istilahnya inovasi yang didapatkan melalui riset atau penelitian. Dalam meneliti pastinya Anda dituntut untuk menemukan suatu yang baru baik berupa pembuktian teori untuk konteks tertentu, menyelesaikan persoalan dengan teori tertentu, atau bahkan menemukan teori baru. Sementara di profesional, Anda dituntut untuk melakukan perbaikan (improvement) tertentu sehingga sistem organisasi perusahaan atau instansi menjadi baik sehingga profit. Irisan yang sama ini memang memiliki konsekuensi yang berbeda. Jika dalam riset, hasil sebagaimanapun tidak terlalu berpengaruh karena tidak musti akan dipakai di dunia rill, namun di perusahaan/instansi akan sangat berpengaruh langsung.

Menariknya, terlepas irisan ini berbeda dalam hal konsekuensinya namun memiliki kesalingterhubungan jika keilmuan Anda adalah ilmu manajemen. Menjadi ampibi dengan hidup di dua dunia (akademik dan profesional) memperkaya Anda akan pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Anda akan terlatih secara olah pikir (thinking) dan keterampilan (skill). Di riset seringkali ditumukan gap yang besar dengan dunia rill, karena di awal kita set kerangka (framework) dengan variabel yang terbatas tentunya. Sementara di dunia nyata, kita tidak bisa tentukan variabel itu. Terawangan (sense) riset kita akan menangkap bahwa temuan di dunia rill melalui kerja profesional dapat menjadi dugaan (hipotesis) kita untuk tema penelitian dan juga bahan ajar secara contoh kasus (case study). Begitu pula sebaliknya, jika kita memiliki kerangka dalam me-manage sebuah instansi/perusahaan sebelumnya itu akan memudahkan kita untuk menginisiasi program secara langsung tanpa membuang waktu lama untuk brainstorming. Kita bisa men-set perencanaan (planning) secara lebih matang.

Dalam praktiknya memang sangatlah tidak mudah. Namun, tidak bagi yang memiliki passion di sana. Dua hal ini akan dapat dikerjakan secara beriringan dengan porsi/takaran yang pas karena rumusan/formula untuk keduanya sudah jelas. Capaian (goal) juga sudah jelas. Tinggal jam terbang saja yang ditambah. Dengan demikian, seorang yang mampu bekerja di dua dunia ini dengan kriteria di atas, akan menjadikannya guru yang baik untuk universitas dan juga instansi/perusahaan yang dia bantu. 

Saturday, March 23, 2019

Kartini dan Pandangan Saya tentang Perempuan



Siang tadi saya menyelesaikan menonton film “Kartini” karya Hanung Bramantyo (2017) setelah semalam jeda karena kuota hampir habis. Film biografis ini mengeksplorasi bagaimana sosok Kartini kecil yang sudah kritis akan kakunya budaya bangsawan Jawa, mengenal karya-karya kritis orang Belanda dari kakaknya, dan menjadi penulis yang cukup produktif. Menariknya seorang Kartini adalah bagaimana Ia bisa memberikan pandangan melalui olah pikiran terus-menerus yang diekspresikan melalui tulisan dan aksi sosial yaitu pendidikan. Ia berfikir sebelum membaca dan buku-buku adalah stimulan dia untuk semakin kritis untuk mempertajam tulisan dan aksi sosialnya tersebut. Ia bukan pemuja Belanda namun dari Belanda-lah Ia mengenal arti dari kebebasan dan kesetaraan pria-wanita untuk mengeyam pendidikan. Kartini berujar bahwa wanita tidak boleh bodoh, namun Ia tetap menerima keadaan sebagai seorang Jawa yang harus menjunjung tinggi budayanya.

Kartini tidak lantas berujar bahwa pria-wanita setara dalam segala hal. Ia amat faham arti kesetaraan itu dan kesetaraan dalam segala hal tidaklah mungkin. Kartini dapat berdamai akan nasib seorang anak bangsawan (Bupati Rembang) yang harus diperistri oleh kaum bangsawan lain (Bupati Jepara) guna mempertahankan eksistensi kebangsawanan mereka. Berdamai di sini tidak lantas diartikan dengan pasrah. Beda sekali. Kartini mengajukan empat syarat kepada calon suaminya. Dua poin yang paling saya ingat yaitu saat nantinya Kartini resmi menjadi istri, keluarga harus memperlakukan ibu kandungnya dari sebagai pembantu menjadi layaknya keluarga bangsawan. Kedua, suaminya mengizinkan Kartini untuk membuka lembaga pendidikan untuk kaum perempuan. Pengajuan syarat seorang perempuan bangsawan pada masa itu adalah tabu dan Kartini menerobos ketabuhan itu dengan keyakinan. Terkabulnya syarat-syarat tersebut adalah wujud kesuksesan Kartini untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

Perempuan dan Karier

Kartini adalah sosok yang menjadi role model banyak perempuan modern di zaman ini. Namun amat disayangkan bahwa pemahaman banyak perempuan akan kesetaraan yang diperjuangkan Kartini tidak utuh. Ada yang mengatakan kesetaraan terwujud dalam bagaimana perempuan harus berkarier tinggi layaknya lelaki. Ada juga yang mengatakan perempuan bebas memilih pekerjaan apapun layaknya lelaki. Ada bahkan yang mengatakan dalam ranah kepemimpinan (bahkan di dalam keluarga), perempuan berhak memimpin layaknya laki-laki. Anggapan ini ada benarnya namun tidak cukup tepat jika kita benturkan dengan konteks Kartini pada masanya. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk menjalankan fitrahnya masing-masing. Fitrah laki-laki adalah pemimpin kaluarga yang memastikan keluarga berjalan secara harmonis, sedangkan perempuan adalah menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Begitu juga dengan fitrah-fitrah lainnya. Fitrah ini jika tidak dipatuhi berpotensi menciptakan ketidakstabilan dan berujung pada ketidakselarasan hidup dan memudarnya arti bahagia.

Lantas apakah perempuan tidak boleh berkarier tinggi ? Sangat boleh, namun harus tetap memegangteguh fitrahnya sebagai perempuan. Memang pada akhirnya perempuan sangat kompleks menjalaninya, laki-laki tidak ada apa-apanya. Namun itulah kelebihan perempuan yang ditakdirkan untuk menjadi manusia kuat. Di situlah perempuan membutuhkan asupan pengetahuan (knowledge) yang cukup di mana dengan itu Ia dapat menjalankan semua perannya secara bijak. Pengetahuan ini didapatkan tak sekedar membaca, melainkan juga dengan berdamai dengan realitas seperti yang dilakukan Kartini. Belajar terus-menerus akan mendorong perempuan untuk menjadi bijak dan kuat. Perempuan bukanlah pemuas lelaki, namun sebagai pelengkapnya. Dalam konteks berkeluarga perempuan tidak sekedar menjadi istri namun menjadi teman dan sahabat sekaligus bagi lelakinya. Di situlah letak kesetaraan itu ; menunaikan hak dan kewajiban sebagai istri, tidak merasa di bawah ketiak lalaki dengan menjunjung egaliter dalam memandang hidup, dan menjadi partner yang asik bagi lelakinya dengan tetap memperjuangkan tujuan hidup yang dipegangnya. 

Menunggu atau Menentukan

Perempuan yang meneladani Kartini sudah pasti tidak mengadopsi pandangan “jodoh sudah ditentukan” secara pasif namun mengartikannya dalam kerja aktif di mana istilah “ditentukan” adalah buah dari kerja. Di sini perempuan tidak menunggu seorang laki-laki yang pdkt kemudian memperistrinya namun Ia juga berjuang untuk mendapatkan suaminya kelak. Istilah “menembak” ini relevan tak hanya hanya untuk lelaki namun juga perempuan. Jika kamu perempuan dan suka akan lelaki tertentu sampaikanlah, jangan menunggu sampai lelaki itu menyampaikan. Bisa jadi itu tidak akan terjadi karena banyak juga lelaki yang cenderung “anget-anget tahi ayam” untuk memikirkan perempuan yang akan jadi istrinya kelak. Lelaki secara fitrah didominasi dengan logika, maka Ia akan mudah move-on saat perempuan pujaannya menolaknya. Berbeda halnya dengan perempuan yang lebih kepada perasaan.

Maka bagaimana sosok Kartini modern hari ini ?  

Kartini modern adalah seorang perempuan yang memiliki tujuan hidup dan berjuang untuk itu melalui pengasahan pikiran terus-menerus dengan  belajar sepanjang hajat  dan tetap berdamai pada realitasnya sebagai seorang perempuan.

Tuesday, January 01, 2019

Kenangan di Gedung Studi Pembangunan ITB


Januari 2015 adalah bulan pertama saya melanjutkan studi kembali setelah sebelumnya saya diwisuda pada Oktober 2014. Rangkaian seleksi administrasi sudah saya jalani di akhir tahun 2014 sehingga pada bulan itu saya langsung menjalani perkuliahan. Saat itu saya masuk di semester genap dengan hanya tiga orang termasuk saya. Saat itu ada dua kelas, satu kelas dari mayoritas beasiswa Bappenas, satu lagi dari Pekerjaan Umum (PU). Saya masuk di kelas Bappenas. Di sana saya mengenal banyak teman-teman baru yang hampir seluruhnya sudah bekerja. Di kelas, saya adalah mahasiswa termuda kedua.

Proses belajar di jurusan magister ini berbeda sekali dengan saat saya S1. Dosen-dosen di jurusan ini umumnya adalah dosen-dosen yang suka akan ngobrol. Setelah kelas berakhir biasanya kami tidak langsung pulang, namun duduk di lounge jurusan untuk mengobrol dengan Pak Sonny. Awalnya ngobrol seputar materi kuliah di kelas, namun kemudian berkembang ke topik-topik lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia perkuliahan. Ini saya jalani secara terus-menerus karena dasarnya saya memang suka ngobrol. Kami bahkan pernah ngobrol sampai jam 21 malam di gedung jurusan. Tak hanya dengan Pak Sonny, seringkali kami mendengarkan cerita Pak Indra di lounge. Bagi saya yang fresh graduate tentunya saya dapat "banjir" pengetahuan gratis.

Karena sistem kuliah adalah paketan, tidak ada libur bagi saya. Seingat saya selama 2015, libur terpanjang hanya saat lebaran. Saat kuliah semester genap selesai, saya sudah mulai masuk kuliah pilihan dengan Pak Wid untuk mata kuliah pesisir dan Pak Sonny untuk mata kuliah ANT. Kemudian masuk semester ganjil kembali kuliah. Saat itu kuliah padat sekali karena kuliah pilihan yang belum selesai masuk di semester tersebut. Kuliah favorit saya saat itu adalah kuliah Pak Wid tentang pembangunan pesisir dan kuliah PakTasrif tentang system dynamics karena pola pikir deterministik dalam kuliah ini sesuai dengan background saya sebagai lulusan matematika. Sementara di luar kelas, tentunya obrolan dengan Pak Sonny dan Pak Indra sangat berkesan. Istilah "milieu" saya dapatkan dari Pak Indra, sementara istilah "aktor" saya dapatkan dari Pak Sonny. "Bounded rationality" dan "fenomena" saya dapatkan masing-masing dari Pak Wid dan Pak Tasrif.

Rumah Kedua

Jika dulu saat S1 hampir sepanjang waktu saya habiskan di sekre unit, maka saat S2 saya habiskan banyak waktu di jurusan. Bahkan saya pernah nginep di jurusan saat bulan puasa. Kala itu saya nginep dengan Kang Dani yang jaga malam di jurusan. Saya tidur di lounge setelah sebelumnya saya berselancar internet di lab komputer jurusan yang biasa dijaga Pak Gun. Kala itu ITB dah sepi karena libur panjang, sementara kami masih ada kuliah beberapa. Dari pada saya berdiam di kosan, kala itu saya pilih untuk ke jurusan. Waktu lain saya biasanya ke sini adalah saat sore hari setelah kelas dan mengobrol dengan Pak Sonny sampai malam. Di tahun kedua saat mulai mengerjakan tesis, obrolan sampai malam berpindah ke warung bakso Mandeep. Teringat saya ngobrol dengan Pak Sonny enam jam non-stop secara empat mata membahas tesis dan topik-topik lain.

Selain akademis, saya dilibatkan dalam kegiatan lain. Belum lama masuk jurusan ini, saya terlibat dalam kepanitiaan seminar nasional, tak lama kemudian turut menghidupi kelompok diskusi di jurusan, penelitian dengan dosen, dan juga forum kolaborasi dengan Pikiran Rakyat. Biarpun di tahun kedua saya ambil kuliah di matematika dan magister di pertambangan (sit in), saya masih sering berkegiatan non-kuliah di jurusan. Diskusi di sana sangat hangat meskipun terkadang melebar ke kehidupan pribadi. Seringkali saya kena bully karena lama menjomblo. Satu hal legacy yang dulu pernah kami tinggalkan di jurusan ini yaitu dibentuknya kelompok diskusi yang bernama Agora Dialektika. Meskipun pada akhirnya tak lagi aktif seperti dulu tapi kelompok ini cukup bisa menggerakkan atmosfir keilmuan di jurusan ini. 

Tak hanya kenangan manis, jurusan ini juga meninggalkan kisah pahit bagi saya. Saya pernah berkonflik dengan seorang dosen di sini. Konflik melebar ke luar jurusan dan banyak orang tahu. Konflik pun meredam setelah saya bertemu dosen terkait dan saya ajukan permohonan maaf. Setelah kejadian ini, hubungan kami kembali baik seperti sedia kala. Dosen terkait memiliki jiwa besar karena memberikan maaf pada tindakan saya yang salah. Kejadian ini tidak akan terlupakan bagi saya dan mungkin orang-orang yang berada di lingkungan jurusan.

Setelah bergonta-ganti judul tesis, saya akhirnya mantab untuk ambil tesis terkait sistem inovasi dengan bimbingan Pak Sonny. Saya sidang tepat dua tahun pasca masuk jurusan ini dan diwisuda dua bulan setelahnya pada maret 2017. Setelah itu saya bekerja sebagai asisten riset di SBM dan juga turut serta membantu ITB membenahi sistem informasi publik kampus. Biarpun tak lagi di jurusan, namun saya seringkali mampir ke gedung kuliah saya ini untuk sekedar berdikusi atau mengobrol. Candaan saya ke salah seorang teman di jurusan Studi Pembangunan, "Saya ke sini biar pinter". Atmosfer diskusi di jurusan ini semakin kuat dan lebih terarah. Banyak dari mahasiswanya turut serta di berbagai konferensi dan tentunya menulis paper ilmiah.

30 Desember 2018

Lulus dari jurusan ini, saya tergabung di grup WhatsApp alumni. Di grup ini sangat ramai dengan aneka arus informasi yang terkadang terdapat debat antaralumni. Satu setengah tahun setelah lulus, jurusan ini merayakan 25 tahun usia pasca didirikan pada 1993 dengan mengadakan temu alumni. Saya yang baru pulih dari sakit demam, ikut acara ini di CRSC pada 8 Desember 2018. Rencananya bulan Maret 2019 akan diadakan seminar nasional industri 4.0 dengan mengundang beberapa petinggi negara. Saya kira perencanaannya sudah sangat matang. Namun siapa yang menyangka bahwa tanggal 30 Desember 2018 ada kejadian yang sama sekali tidak diduga. Gedung Studi Pembangunan ITB terbakar dan melenyapkan seluruh aset gedung termasuk perpustakaan, labolatorium komputer, dan ruang Tata Usaha (TU).

Sampai tulisan ini sampai pada pembaca sekalian, saya belum mendengar kabar dari tim INAFIS Polri terkait apa yang menjadi penyebab kebakaran ini. Dugaan kuat kebakaran terjadi karena arus pendek listrik di ruang Tata Usaha. Kebakaran ini membuat arsip penting jurusan hangus, buku-buku koleksi dan tesis ikut terbakar, dan juga website jurusan down. Pengembangan jurusan yang sudah berada pada track yang positif, terpaksa harus jeda beberapa saat untuk pemulihan (recovery). Kegiatan perkuliahan yang tinggal beberapa minggu akan aktif kembali pastinya harus dipikirkan, juga kegiatan bimbingan tesis mahasiswa, dan juga perekrutan mahasiswa baru. Penyelamatan data-data jurusan juga merupakan hal besar yang tentunya akan menguras energi. Saya kira data-data ini valuasinya jauh lebih besar dibandingkan dengan sekedar bangunan fisik gedung. Sebagai alumni yang dulu seringkali berada di gedung tersebut tentunya sangat sedih dengan kejadian ini.

Saya sangat yakin para dosen, mahasiswa, pegawai, asisten akademik, dan tentunya kaprodi legowo menerima kejadian ini. Semoga proses recovery jurusan berjalan dnegan baik dan jurusan Magister Studi Pembangunan akan bisa seperti sedia kala bahkan lebih baik.




Sunday, December 16, 2018

BELITONG

Dua minggu lalu (30 November – 2 Desember 2018), pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pulau Belitong. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau “Laskar Pelangi” ini memiliki keindahan alam khususnya pantai yang eksotis. Kala itu saya berkesempatan ke sana dengan rombongan dari Direktorat Administrasi Umum ITB, tempat di mana saya bekerja sekarang. Berangkat kamis malam (29/11) dari Rektorat ITB menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Banten untuk mengejar pesawat Sriwijaya Air yang take-off jam 6 pagi.

Hari Pertama

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan, kami dijemput oleh sebuah bus yang dikomandoi oleh Mas Don dari Arisha Tour and Travel. Bus mengantarkan kami ke kota Tanjung Pandan untuk menikmati Mie Atep yang legendaris. Sulit bagi saya untuk menggambarkan rasa  makanan ini, pokoknya mantab ! Selanjutnya kami diarahkan menuju Danau Kaolin yang merupakan danau bentukan dari penambangan kaolin.  Di sana kami ambil foto dan selanjutnya menuju Belitong Timur, ke kampung laskar pelangi. Di sini kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah Gantong. Saya baru tahu ternyata sekolah aslinya sudah tidak ada.
Di depan Replika SD Laskar Pelangi

Di sini saya ambil cukup banyak foto dengan berbagai pose sembari mengingat-ingat cerita Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Saat masa mondok dulu, saya adalah penggemar berat Laskar Pelangi, tetraloginya saya koleksi dan selesai saya baca kala itu. Jadi berkunjung ke sini punya kesan tersendiri bagi saya. Perjalanan selanjutnya adalah ke Rumah Keong Rotan, tepat di depan replika sekolah laskar pelangi ini. Tak lama di sini, kami disambut hujan. Kami pun lanjutkan perjalanan menuju museum kata Andrea Hirata. Sebelum ke sana kami break sholat jumat di masjid depan lokasi. 

Saya pun masuk lokasi museum dengan membayar 50 ribu dengan bonus sebuah buku tipis karangan Andrea Hirata. Dibantu dengan pemandu wisata, saya ambil banyak gambar di sini. Museum ini didesain inspiratif dengan mural, foto, dan karya seni lain yang “bercerita” terkait keharusan menggelorakan optimisme dalam hidup. Ada satu ruangan di bagian belakang dari suatu bangunan yang menyajikan tempat duduk di mana di sana kita dapat memesan kopi. Namun, di sana  saya membeli gantungan kunci untuk oleh-oleh. 

Di dalam Museum Kata Andrea Hirata
Ternyata hanya saya dan mas Tri yang masuk museum kata ini, rombongan lain menunggu di dalam bus. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke kediaman Ahok. Di sana selain ada rumah Ahok yang kini dihuni saudaranya, juga ada bangunan khusus yang menyediakan oleh-oleh dengan tema Ahok, namanya Rumah Batik Ahok. Di sana kami tidak lama. Kala hujan turun, kami coba menikmati pek-empek dan juga pisang goreng di warung tak jauh dari lokasi wisata ini. Ternyata pek-empek-nya berbeda dengan bahan dasar singkong. Disajikan secara hangat, mantab sekali. 

Ternyata kami belum makan siang, dibawalah kami ke rumah makan terkenal, Resto Seafood Sinar Laut, di pinggiran pantai. Mantab sekali masakannya terutama sayur asam dan ikan bakarnya. Selanjutnya kami menuju ke vihara Dewi Kwan Im dan pantai burung mandi. Di warung dekat pantai, saya menikmati es kelapa muda. Perjalanan berlanjut ke kota Tanjung Pandan untuk menuju hotel di mana kami tinggal. Sebelum sampai hotel, kami diarahkan ke rumah makan, Resto Belitung Tempo Dulu. Setibanya di hotel, kami istirahat sejenak. Saya sekamar dengan mas Tri dan Kang Jujun. Setelah beberes dan sholat, kami bertiga dengan Pak Sandi jalan-jalan untuk mencari kopi. Konon tidak lengkap rasanya ke Belitong tanpa berkunjung ke kedai kopi. Awalnya kami menyusuri pusat huburan di depan hotel, meskipun banyak kafe yang menyajikan kopi, kami kurang sreg. Kami pun kembali jalan ke arah pusat kota berbekal Google Map. Kami pun sampai di kedai kopi legendaris, Kong Tji. Kami pesan kopi susu dan mantab sekali rasanya. Saya pesan lagi satu gelas malam itu. Disambi dengan bebincang, tidak terasa sudah dua jam kami di sini. Tidak seperti saat berangkat, pulangnya kami naik Go-car.  

Hari Kedua

Belitong masih agak gelap, saya dan mas Tri ke pantai Tanjung Pendam. Saya mencoba mengelilingi kawasan pantai ini dengan jogging, sementara mas Tri mencari kerang laut. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan sarapan kemudian berkemas-kemas. Pagi itu di ruang tamu dekat lobby hotel, Bu Dyah dan keluarga baru datang dan segera setelah itu bergabung bersama kami. Hari ini seharian kami akan menyusuri pantai-pantai di pulau Belitong dari dermaga pantai Tanjung Kelayang. Kami menumpangi sebuah perahu yang mampu memuat 20 orang lebih.

Seingat saya ada tiga pantai yang dikunjungi. Pertama, pantai lengkuas. Setibanya di sana setelah menembus ombak besar laut lepas. Pantai ini identik dengan mercusuar yang kala itu tidak bisa dinaiki. Juga batu-batu besar yang bagus untuk menjadi objek foto. Setiba di pulau ini, kami disambut hujan namun untungnya tidak lama dan deras. Di pulau ini dilakukan outbound oleh pemandu wisata. Setelah itu baru kami diarahkan ke laut kembali untuk snorkeling. Mata minus menjadi kendala bagi saya untuk melihat dasar pantai yang indah dengan terumbu karang.

Berlatar Mercusuar di Pulau Lengkuas
Objek selanjutnya adalah pulau Kepayang. Di sana kami makan siang. Saya sempat sholat di mushola resto dan juga ambil foto di sekitar pantai. Perjalanan selanjutnya adalah pulau Kelayang. Seperti halnya di pulau Lengkuas, saya mencoba belajar berenang di pantainya yang sangat jernih. Di pantai ini juga sempat diambil video dengan drone. Objek pantai habis, kami diarahkan kembali ke Tanjung Kelayang. Kami berbilas dengan air bersih dan juga ganti baju, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi. Sebelum ke sana ambil foto dulu di depan dermaga Pantai Tanjung Kelayang.

Di Pantau Tanjung Tinggi atau Pantai Laskar Pelangi
Pantai tanjung tinggi ini pemandangannya bagus sekali. Bahkan lebih bagus dari pada pantai-pantai yang dikunjungi sebelumnya. Pemandangan batu besarnya sungguh sangat elok, ditambah dengan pantainya yang jernih. Sampai di pantai ini sudah sore menuju maghrib. Tidak bisa lama kami menikmati pantai ini karena harus segera menuju bus. Kami diarahkan menuju pusat oleh-oleh dan souvenir khas Belitong dan setelah itu kami makan malam di Resto Dapur Belitung. Lokasi dua tempat ini di kota jadi tidak jauh dari hotel. Sesampainya di hotel, kembali kami bebersih baru kemudian keluar untuk menyeduh kopi Kong Tji. Kali ini ada dua personel tambahan, Mbak Iyan dan Anisa. Perjalanan PP ke sana dengan Go-car dan Grab-car. 

Hari Ketiga

Pagi itu kami harus check-out. Keluar dari kamar, kami sudah siap untuk menuju bandara. Namun sebelumnya, kami sarapan dulu. Kami sempat ambil gambar depan hotel sebagai bukti rombongan kami telah menunaikan tugas di pulau ini. Kami berpamitan dengan Bu Dyah dan suaminya, sementara dua anaknya sedang bersepeda keliling kota. Jarak hotel ke bandara sekitar setengah jam, setelah tiba kami berpamitan dengan mas Don dan tim yang mengantarkan kami. Dengan Batik Air, kami take-off menuju bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 8.45 pagi.  

Tuesday, December 11, 2018

Bagaimana Memajukan Iptek Indonesia


Sudah rahasia umum iptek kita masih belum maju. Upaya untuk jadikan iptek kita unggul sudah dilakukan sejak Indonesia resmi menjadi Republik meskipun terlihat lebih gencar di zaman Orde Baru ketika BJ. Habibie menjabat sebagai Menristek RI. Orde baru jatuh pada 1998, diikuti dengan kejatuhan iptek nasional. Setelah itu pengembangan iptek dilakukan namun tidak sesistematis Orde Baru dan dengan reduksi-reduksi seperti dorongan untuk publikasi di jurnal internasional terindeks. Ditambah lagi dengan sikap responsif Pemerintah dalam upaya turut serta menjawab dunia yang tengah berubah. Terlihat dari kampanye serba 4.0 tanpa adanya upaya sistematis bagaimana kita ke sana.

Sialnya ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh tanpa penguasaan iptek. Iptek pun menjadi barang mewah di Indonesia, seperti halnya belum lama ini ada salah satu kampus nasional yang berhasil membuat prototipe motor listrik, publik heboh. Padahal jika kita mau "search", Elon Musk dengan Tesla-nya sudah dapat menjual mobil listrik sporty-nya ke berbagai negara dunia. China juga melakukan hal serupa, juga produsen mobil konvensional lain juga sedang berlomba-lomba kembangkan mobil listrik. Ini memperlihatkan bahwa motor listrik bukan barang baru, ada hal yang esensial di mesin listrik ini yaitu baterai. Lantas riset terkait baterai di Indonesia seberapa masif ? Jika motor listrik nantinya diproduksi massal, apakah sudah siap R&D-nya sehingga produknya nanti bisa kompetitif ?.

Mulai dari Mana

Kita seolah gegabah ketika bicara iptek. Sekarang heboh industri 4.0, nanti lagi bisa ganti. Kita tidak pernah berkaca bahwa kita pernah berhasil kembangkan teknologi tertentu di masa lampau. Selain BJ. Habibie, kita punya teknolog lain seperti Samaun Samadikun, Iskandar Alisjahbana, dll, tapi tidak pernah sedikitpun kita tahu peninggalan mereka di bidang teknologi apa. Tahunya Samaun adalah ketua LIPI dan Iskandar adalah Rektor ITB, tidak yang lain. Padahal jika kita bisa mengeksplorasi teknologi yang dikembangkan mereka, kita bisa mulai tidak dari nol sama sekali. Konkretnya jika bicara industri 4.0, Pemerintah harus bisa mapping periset-periset ML, IoT, dsb yang menjadi landasannya. Tanpa itu, mustahil kita bisa berperan lebih di industri 4.0. Kita tak lebih hanya sekedar konsumen para kooporasi besar dunia.

Lantas bagaimana jika kita belum punya SDM mumpuni di bidang-bidang di atas ? Kita bisa tidak bermain di riset basic, namun ke riset terapan. Tapi tetap ini dengan mapping para pelaku nasional. Mapping ini tidak dengan mengundang sekenanya unsur akademik dan perusahaan lantas berdiskusi tentang regulasi apa yang cocok. Tidak sekedar itu ! Regulasi hanya satu unsur, ada unsur lain. Saran saya, perlu kita perhatikan supply chain global. Shenzen bisa jadi kota metropolitan hanya dalam waktu 40 tahun (Silicon Valley China) karena sangat faham dengan supply chain global. Rantai distribusi dibangun betul di sini. Artinya tidak ada kemajuan tanpa perencanaan yang matang dari A-Z.

Kualitas hidup orang Indonesia sekarang memang naik jika dibandingkan dengan periode awal Indonesia merdeka, tapi apalah artinya kita bisa "makan enak" tapi kita tidak punya daya apapun atas diri kita. Iptek sejatinya adalah mengisi lubang yang kosong dari sisi ketidakberdayaan itu menjadi keberdayaan. Dengan begitu, kata merdeka menjadi hakiki.